Yuk-nya Sidoarjo Hingga Raki-nya Jatim Jadi Wisudawan Terbaik S1 FISIP

UNAIR NEWS – Predikat wisudawan terbaik menyempurnakan catatan prestasi Vany Fitria selama menempuh pendidikan di Universitas Airlangga. Tercatat Indeks Prestasi Kumulatif 3,89 mampu dibukukannya.

Skripsi Elite Politik Dalam Pengimplementasian Kebijakan Denpasar Sewerage Development Project di Suwung Denpasar memberikan tantangan tersendiri bagi perempuan kelahiran Jakarta, 12 Maret 1996, itu. Bagiamana tidak, ketika turun lapangan di Bali, ia melakukan penelitian dan pengambilan data sendiri dengan mbolang keliling Denpasar berbekal motor pinjaman dari kerabat.

Dalam penelitian tersebut, Vany mengulas bagaimana elite politik, khususnya lokal di Suwung Denpasar, berhasil mengupayakan propaganda kepada masyarakat dan menyukseskan pengimplementasian kebijakan Denpasar Sewerage Development Project yang dicanangkan pemerintah di Denpasar.

”Senang sekali bisa mengimplementasikan ilmu yang didapat selama kuliah. Dan, melakukan penelitian secara independen di tanah orang (Bali, Red),” kenangnya.

Selain akademik, Vany aktif terlibat di berbagai organisasi. Misalnya, unit kegiatan mahsiswa bidang karawitan, himpunan mahasiswa, serta Paguyuban duta wisata di Sidoarjo dan Jawa Timur. Bukan hanya itu, beragam prestasi mampu dibukukan Vany sejak SMA.

Terbukti dengan catatan Juara I Lomba Modeschau, Deutsche Woche XVII Universitas Negeri Surabaya (2013), Siswa Berprestasi Bidang Non-Akademik di SMAN 1 Gedangan (2014), Tim Debat Terbaik dalam School of Mawapres Universitas Airlngga (2014), Runner-up 1 Duta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (2015). Termasuk terbaru jadi Yuk Sidoarjo (Duta Wisata Kabupaten Sidoarjo) 2015; Delegates for ASEAN Youth Friendship Network–ASEAN Adventure Camp in Hanoi, Vietnam (2016); Juara III Lomba Debat Nasional Kampung Komunikasi–Universitas Islam Indonesia (2016); Raki Jawa Timur (Duta Wisata Provinsi Jawa Timur) 2017, Favorit Duta Wisata Indonesia 2017, dan Mahasiswa Inspiratif FISIP UNAIR 2018.

”Selalu teringat, dosen favorit saya di departemen politik yang berpesan bahwa semester awal kuliah harus dijadikan momen untuk menciptakan fondasi akademik yang kuat lebih dulu. Terjemahan sederhananya ‘kalau bisa IP dan basic pengetahuan di semester awal harus memiliki fondasi yang kuat,” katanya.

”Ini sebagai bentuk antisipasi ketika mahasiswa nanti terjebak dalam berbagai kesibukan dan lupa dengan tanggung jawab akademiknya,” Kenang peraih Juara I Politics and Governance Days National Debate Competition Universitas Gadjah Mada (2015) itu.

Kepada teman mahasiswa, Vany berpesan melatih kemampuan soft skill melalui wadah organisasi. Sebab, baik akademik maupun non-akademik sama-sama penting. Dan, idealnya seimbang.




Terinspirasi dari Sang Guru Besar, Annise Raih Predikat Wisudawan Terbaik S2 FKH

UNAIR NEWS – ”Jiwa saya tergugah ingin mengeksplor lebih banyak hal di bidang penelitian. Tentu hal ini tidak akan terwujud bila saya tidak melanjutkan studi S2 saya,” terang Annise Proboningrat.

Gelar wisudawan terbaik pantas didapat Annise dalam wisuda periode ini. Pasalnya, ia berhasil menyelesaikan studi S2 dalam kurun waktu 1 tahun dengan indeks prestasi komulatif cum laude 3,94. Mengangkat judul tesis Aktivitas Antikanker Nanopartikel Ekstrak Kulit Pohon Pinus (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) terhadap Sel Kanker Serviks (HeLa Cell Line) secara in Vitro.

”Saya mengambil studi ilmu vaksinologi dan imunoterapiteka. Program studi ini merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia,” ucap perempuan pehobi catur itu.

Bagi Annise, untuk bisa melanjutkan studi S2, rasanya seperti mimpi. Sejak kecil, Annise bercita-cita untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya,

Dengan ilmu itu, ia berharap mampu membawa kebermanfaatan bagi sesama. Berawal dari kebimbangan Annise lepas menyelesaikan studi S1, melanjutkan pendidikan atau mulai bekerja?, hati Annise dilemma. Sebab, saat bersamaan, adik-adiknta perlu biaya sekolah.

”Semua berkat pertolongan Allah SWT, saya mendapat tawaran beasiswa untuk lanjut studi S2,” ungkapnya.

Ketertarikan Annise di bidang penelitian didapat dari seorang dosen kala dirinya menempuh kuliah S1. Dosen itu merupakan seorang guru besar yang menginspirasinya.

Menurut dia, dosen tersebut tidak hanya menebarkan manfaat dalam dunia pendidikan. Namun, beliau juga menghasilkan produk yang dapat menolong banyak jiwa dari penyakit degeneratif.

Hal itulah yang memotivasi Annise untuk melanjutkan studi S3 sambil melakukan penelitian. Perempuan yang mahir bahasa Jepang itu juga berencana mengikuti program Sandwich di Jepang.

Soal kunci suksesnya, Annise berpesan mahasiswa mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan rajin dan tepat waktu. Isi waktu luang dengan mengikuti kegiatan-kegiatan seperti kuliah umum, seminar, atau pelatihan- pelatihan di laboratorium.

”Ini untuk menambah skill dan ilmu. Jika memungkinkan, persiapkan proposal tesis sejak semester I. Dan, segera lakukan seminar proposal dan penelitian di semester II,” ujarnya. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria Rifai




Sering Kerja Lembur dan Pulang Malam, Daniswara Jadi Wisudawan Terbaik S1 FKH

UNAIR NEWS – ”Tidak ada orang pandai. Yang ada orang tersebut mau berusaha atau tidak,” tutur Daniswara, mahasiswa FKH angkatan 2014.

Bagi Danis, kerja lembur dan pulang larut malam sudah menjadi makanan sehari-harinya. Berbekal kegigihan dan kemauannya mencapai kesuksesan, pemilik nama lengkap Daniswara Irwanza Akbar ini berhasil meraih predikat wisudawan terbaik pada wisuda periode September 2018 dengan Indeks prestasi komulatif (IPK) 3,72. Laki-laki kelahiran Madiun itu membandingkan reaksi antigenisitas yang diperoleh dari optical density antar perlakuan Whole Virus dan protein S Virus Infectious Bronchitis Strain Lokal dan Massachusetts dengan Indirect ELISA sebagai topik penelitian.

”Perjuangan saya tatkala menggarap penelitian adalah mondar-mandir ke Tropical Disease Center dan Fakultas Sains dan Teknologi mulai pagi menjelang sore. Hingga waktu weekend tetap produktif,” kenang Daniswara.

Meski begitu, dia tak pernah mengeluh. Menurut dia, mahasiswa harus mempunyai semangat yang berdarah-darah untuk mencapai puncak. Terutama hal itu menyangkut tugas akhir. Sebab, kelulusan seorang mahasiswa bergantung pada skripsi. Mahasiswa juga harus menggunakan waktu sebaik mungkin.

”Belajar dengan giat diiringi hati yang ikhlas. Penting sekali bagi mahasiswa untuk mengatur pola belajar secara tepat,” lanjutnya.

Kendala yang dialami Daniswara selama proses kuliah adalah jarak antara tempat tinggal dan kampus yang lumayan jauh. Dia mengaku selalu berangkat satu jam lebih awal sebelum kuliah.

Hal itu membuatnya harus mampu mengatur waktu dengan baik. Terkadang, Daniswara yang sudah pulang ke rumah harus kembali lagi ke kampus karena ada acara mendadak.

”Tempat tinggal saya di Kedurus, Karangpilang. Jaraknya sekitar 16 km,” tuturnya.

Kesibukan Danis selepas ini adalah melanjutkan studi profesi dokter hewan. Lulusan Sarjana Kedokteran Hewan itu dapat meraih gelar dokter hewan setelah menyelesaikan profesi.

Setelah itu, barulah dokter hewan disumpah dan tergabung dalam organisasi profesi. Hal itu juga menentukan apakah seorang dokter hewan layak praktik atau tidak. Ke depan, Daniswara berencana melanjutkan studi program magister di UNAIR jurusan vaksinologi dan imnoterapetika. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria Rifai




Sempat Jadi Asisten Dosen, Dwi Jadi Wisudawan Terbaik S1 FF

UNAIR NEWS – Berkat tekun menuntut ilmu, Dwi Nurul Arizka berhasil menyabet gelar wisudawan terbaik S1 Fakultas Farmasi periode September dengan raihan indeks prestasi komulatif (IPK) 3,81. Ia mengaku tak pernah menyangka memperoleh predikat itu.

Dwi sempat merasa sama sekali tidak pandai. Namun, berkat dukungan dari orang tua, saudara, teman, juga Tuhan Yang Maha Esa, sejumlah capaian prestasi mampu diraihnya.

”Saya cukup terkejut mendapati terpilih menjadi wisudawan terbaik. Tak ada henti saya mengucap syukur kepada Tuhan,” tutur perempuan kelahiran Mojokerto itu.

Mahasiswa yang pernah menjadi asisten dosen mata kuliah farmasetika sediaan solida praktikum tersebut mengambil disertasi berjudul Pengaruh Kadar Detilftalat sebagai Plasticizer terhadap Viabilitas dan Daya Proteksi Mikropartikel Lactobacillus casei FNCC 0090 pada Kondisi Asam. Skripsi itu membahas mikropartikel dengan matriks kopolimer asam metakrilat tipe L dan dikombinasikan dengan dietilftalat.

Bahan aktif yang digunakan berupa probiotik. Yakni, Lactobacillus casei FNCC 0090. Kemudian dilakukan pengujian viabilitas Lactobacillus casei dalam mikropartikel dan pengujian daya proteksi mikropartikel terhadap Lactobacillus casei pada kondisi asam.

”Kendala selama skripsi pasti ada. Tidak bisa saya sebut satu-satu. Berkat Tuhan, semuanya bisa terselesaikan,” tuturnya.

Dwi mengakui selama perkuliahan sering mengikuti organisasi kerohanian Islam, juga kegiatan keilmuan. Yakni, bergabung di Divisi Kerohanian Islam Fakultas Farmasi UNAIR selama dua periode, 2014–2015 dan 2015–2016.

Selain itu, Dwi mengikuti latihan kepemimpinan terpadu, seminar inspiratif, talkshow, dan workshop. Beberapa kali, ia mengikuti kompetisi farmasi. Tercatat Dwi pernah menjadi peserta Pharmacy Quiz Competition BEM FF UI pada 2016 dan masuk perempat finalis Kompetisi Farmasi Seluruh Indonesia 2018 BEM FF UNAIR.

”Mengambil studi Farmasi berarti harus siap berkutat dengan laporan dan praktikum setiap hari,” ujarnya.

Dwi mengaku memang tidak mudah membagi waktu dengan padatnya jadwal organisasi. Hal itu, menurut dia, memang menjadi konsekuensinya. ”Silahkan mengeluh, namun cukup sekali saja. Selanjutnya terus berusaha sebaik-baiknya,” pungkas Dwi. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria Rifai




Turut Bawa Paduan Suara UNAIR Juara di Austria, Catellya Jadi Wisudawan Terbaik S1 FEB

UNAIR NEWS – ”Alhamdulillah saya berkesempatan mengharumkan nama UNAIR di tingkat internasional bersama PSM UNAIR. Pada 2017 lalu, kami meraih 1st prize 3rd International Choral Competition-Ave Verum di Baden, Austria,” ucap Catellya Wina Firdausya dengan penuh bangga. Bersama Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UNAIR, Catellya berhasil mengalahkan beberapa negara seperti Rusia, Republik Ceko, Sweden, Hungaria, Estonia, dan Filipina.

Saat ini mahasiswa kelahiran Surabaya, 14 Juli 1998, tersebut berhasil meraih predikat wisudawan terbaik S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga. Mahasiswa jurusan Akuntansi itu berhasil membukukan IPK nyaris sempurna, yaitu 3,95.

”Alhamdulillah, tidak ada hambatan yang berarti selama saya menempuh kuliah S1,” tambahnya.

Sebelum lulus, Catellya menulis skripsi dengan mengangkat topik akuntansi manajemen. Judul skripsinya adalah Pengaruh Inovasi Perusahaan dan Earnings Management terhadap Nilai Perusahaan dengan Kinerja Perusahaan sebagai Variabel Intervening (Studi pada Perusahaan Manufaktur di BEI tahun 2012-2016).

Semasa kuliah, selain disibukkan dengan kegiatan akademis, Catellya aktif dalam unit kegiatan mahasiswa (UKM) paduan Suara. Tak jarang, bersama rekannya, Catellya tampil di beberapa kegiatan. Baik event, konser, maupun kompetisi.

Dukungan, baik keluarga maupun dari pihak universitas, sangat membantu kesuksesannya meraih wisudawan terbaik. Catellya mengaku sering mendapat bimbingan maupun nasihat dari para dosen saat dirinya menghadapi permasalahan studi.

”Terima kasih kepada bapak/ibu dosen di FEB yang sangat supportif. Terutama dosen wali saya, Pak Suyunus dan dosen pembimbing saya, Bu Dian Agustia,” tambahnya.

Dalam waktu dekat, Catellya akan mulai bekerja untuk salah satu KAP (kanto akuntansi publik) di Jakarta. Dia mengaku tengah mempersiapkan yang terbaik untuk memulai karirnya. Selain itu, saat ini Catellya masih aktif bernyanyi bersama PSM UNAIR.

“Cintai apa yang sedang dipelajari. Dengan begitu, kita akan mampu memberikan yang terbaik tanpa adanya perasaan tertekan atau terpaksa. Selain itu, menyeimbangkan aktivitas akademik dan non-akademik membantu menghilangkan kejenuhan belajar,” pungkasnya. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Feri Fenoria Rifai




Hindari Menunda-nunda Pekerjaan, Maruti Jadi Wisudawan Terbaik S2 FF

UNAIR NEWS – Padatnya kuliah membuat Maruti Widihadiningtyas bertekad untuk fokus pada akademiknya. Tak sia-sia, mahasiswa S2 farmasi klinik tersebut berhasil lulus ber-IPK yang sangat membanggakan, yakni 3,87. Ia berhasil dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S2 Fakultas Farmasi UNAIR, periode September 2018.

”Perkuliahan saya di semester I sistemnya adalah blok. Diselesaikan semua terlebih dahulu, baru ujian. Lalu, dilanjutkan PKL (praktik kerja lapangan, Red) enam stase selama setahun yang lumayan menyita waktu saya. Jadi, saya memilih fokus untuk kuliah dan PKL,” jelas mahasiswa asal Probolinggo tersebut.

Perempuan kelahiran 16 Juni 1993 itu mengungkapkan, waktu merupakan masalah utama yang harus dihadapinya. Jadwal kuliah yang begitu padat membuatnya sangat sulit untuk membagi waktu.

”Kendala yang paling berarti adalah waktu. Saya merasa 24 jam itu kurang,” tambahnya.

Mengenai tugas akhirnya, Maruti menulis tesis berjudul Korelasi Perubahan Kadar Tumor Necrosis Factor- α (TNF-α) Sebagai Prediktor dan Enzim Hati sebagai Parameter Kejadian Efek Samping Drug Induced Liver Injury (DILI) pada Pasien Epilepsi yang Mendapatkan Monoterapi Fenitoin. Penelitiannya itu dilakukan di dua tempat, yaitu Poliklinik Saraf Instalasi Rawat Jalan RSUD Dr Soetomo Surabaya dan RS Imanuel Bandar Lampung.

”Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menganalisis korelasi peningkatan kadar TNF-α dalam darah sebelum terjadi kejadian efek samping hepatotoksik akibat penggunaan obat anti epilepsi fenitoin,” sebutnya.

Menurut Maruti, umumnya yang digunakan sebagai penanda terjadinya DILI (kerusakan hati) akibat penggunaan obat adalah peningkatan kadar enzim hati. Namun, bila terjadi peningkatan, itu tandanya hati sudah rusak.

“Maka di sini, saya ingin mengetahui marker apa yang terlibat dalam proses terjadinya kerusakan hati akibat penggunaan fenitoin sehingga dapat digunakan untuk marker pendeteksi dini sebelum terjadi DILI,” jelasnya.

Maruti memilih fenitoin karena tergolong obat antiepilepsi generasi awal. Namun, fenitoin masih umum digunakan untuk mengatasi kejang atau epilepsi. Efektivitas dari fenition juga baik dan harganya terjangkau.

Maruti menuturkan, sela-sela waktunya seusai S2-nya diluangkan untuk mencari pekerjaan. Dia ingin jadi apoteker klinis di rumah sakit. Juga tidak tertutup kemungkinan berprofesi sebagai dosen.

Kepada mahasiswa, Maruti berpesan sebisa mungkin membuat list yang akan dicapai. Selain itu, jangan pernah menunda-nunda pekerjaan karena merasa memiliki banyak waktu.

“Mengerjakan dekat deadline akan membuat kita terburu-buru. Sering pula kurang maksimal. Jangan lupa juga selalu berdoa, meminta restu orang tua, bersyukur, serta berusaha maksimal,” pungkasnya. (*)

Penulis: Najib M. Rahman

Editor: Feri Fenoria Rifai




Periah Juara I Young Management Researcher Award Jadi Wisudawan Terbaik S2 FEB

UNAIR NEWS – ”Tahun 2016, saya berhasil menjadi 1st Place-Young Management Researcher Award.” Begitulah cerita pengalaman Erika Sefila Putri. Erika berhasil mengakhiri masa studinya dengan total Indeks Presytasi Komulatif yang sangat membanggakan 3,86. Ia berhasil dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.

Di samping itu, Erika membukukan prestasi di bidang lain. Juara I lomba karya tulis bagi peneliti muda yang diadakan di Surabaya menjadi deretan prestasi Erika lainnya.

Erika menulis tesis berjudul Konsentrasi Pasar Perbankan, Modal, Ukuran, dan Pengambilan Risiko Bank. Topik itu dililih karena peran perbankan sangat penting sebagai lembaga intermediasi bagi suatu negara. Menurut Erika, perbankan yang sehat akan mampu menunjang perekonomian dengan lebih baik.

”Topik ini berisi bagaimana kondisi pasar perbankan di Indonesia mampu memengaruhi perilaku pengambilan risiko bank dengan memasukkan peran modal dan ukuran bank,” tambah mahasiswa kelahiran Pasuruan, 14 Juli 1994, tersebut.

Di tengah kesibukan kuliah S2, Erika juga menyempatkan diri menulis paper untuk University Network for Indonesia Infrastructure Development-Simposium I. Selain itu menjadi tutor untuk mahasiswa S1 dengan memberikan pembelajaran ekstra di luar kuliah.

”Perjuangan studi S2 tentu tidak selalu mulus. Saya harus membagi waktu dengan efektif dan efisien untuk tetap menyeimbangkan proses antara belajar dan kegiatan di luar kuliah. Terutama ketika menyusun tesis,” tambahnya.

Namun, terlepas dari semua hambatan itu, Erika tetap menikmati proses perkuliaan S2-nya. Ia dapat belajar dan memperoleh ilmu dengan lebih mendalam. Termasuk bertemu dengan orang-orang baru yang selama perkuliahan memberikan semangat positif dan motivasi.

Terbiasa menjadi tutor saat kuliah, saat ini Erika diminta menjadi asisten dosen di FEB UNAIR. Ke depan, mahasiswa yang pernah menjadi sepuluh wisudawan S1 terbaik FEB UNAIR tersebut berencana melanjutkan karir menjadi dosen. Dan mengambil program-program pengembangan diri.

Perihal tips untuk mahasiswa, kata Erika, tahap penyelesaian perkuliahan adalah belajar dengan ikhlas dan sabar sembari berdoa. Teruslah meminta doa orang tua serta perbanyaklah berbuat baik.

Miaslnya, berbagi ilmu. Sebab, itu tidak akan mengurangi ilmu, tapi justru menambah dan memperbanyak. ”Jangan pernah menyerah untuk menyelesaikan studi. Meski, banyak halangan yang menghadang. Percayalah selalu ada jalan kemudahan setelah melalui banyak kesulitan,” pungkasnya




Kuliah Magister Kenotariatan Sembari Bekerja, Dhita Jadi Wisudawan Terbaik S2 FH

UNAIR NEWS – Dhita Atrisia, perempuan kelahiran 12 Maret 1994 ini, berhasil menjadi wisudawan terbaik pada program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Airlangga dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,76. Dhita menulis tesis yang berjudul ”Pendaftaran Tanah Ulayat Masyarakat Hukum Adat”.

Judul itu dipilih karena melihat kenyataan di masyarakat seperti hak-hak masyarakat yang tidak terlindungi. Topik yang dibahas, yakni mengenai terbitnya ketentuan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI Nomor 10 Tahun 2016.

”Dalam ketentuan Pasal 18 ayat (2) Permen Agraria No 10 Tahun 2016, Kepala Kantor Pertanahan atau Kepala Kantor Wilayah BPN berwenang menetapkan dan mendaftarkan hak komunal atas tanah yang dimiliki masyarakat hukum adat pada Kantor Pertanahan Setempat,” ujarnya.

”Munculnya istilah hak komunal yang seolah-olah menggantikan kedudukan dari hak ulayat. Inkonsistensi pengaturan pendaftaran hak ulayat dalam peraturan perundang-undangan inilah yang menjadi faktor terbesar perlindungan masyarakat hukum adat terhadap tanah ulayat yang mereka miliki semakin lama semakin memudar,” tambahnya.

Dhita mengikuti kuliah pada malam. Saat pagi, Dhita bekerja sebagai pegawai tidak tetap di Bagian Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Surabaya (Datun Kejari Surabaya).

“Hambatan yang besar yang saya alami mungkin dari diri saya sendiri. Terutama untuk fokus dan membagi waktu antara urusan pekerjaan dan kuliah. Di sisi lain, saya sebagai mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas dan tesis. Juga, memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas di kantor. Jadi, kadang agak susah juga untuk mengatur waktunya,” ucapnya.

“Tapi, Alhamdulillah dengan usaha, niat, doa, dan keyakinan, saya tetap bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu. Demi membahagiakan orang tua juga tentunya,” imbuhnya.

Setelah lulus, Dhita berencana fokus mengikuti prosedur untuk menjadi notaris. Termasuk magang di kantor notaris atau Kantor Pertanahan Kota Surabaya. Selain itu, untuk melanjutkan cita-citanya tersebut, dia memilih fokus pada profesi yang ingin ditekuni sehingga bersamaan dengan kelulusannya Dhita mengundurkan diri dari Kejari Surabaya.

”Bahwasanya kuliah sambil bekerja itu agak gampang-gampang susah. Harus pandai

mengatur manajemen waktu dan yang terpenting harus fokus dan memiliki niat untuk

menyelesaikan kuliah,” sebutnya.

”Keduanya harus berjalan seimbang. Selain itu, bila ada waktu luang, sebaiknya digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah atau belajar materi-materi yang telah

diajarkan,” tambahnya. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Binti Q. Masruroh




Sempat Sakit dan Bersikukuh Tetap Kuliah, Jennifer Jadi Wisudawan Terbaik S1 FH

UNAIR NEWS – Jennifer Goldie, mahasiswa fakultas hukum ini patut berbangga lantaran telah menjadi wisudawan terbaik dengan torehan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,92 selama menempuh kuliah delapan semester. Meski, sempat terkena penyakit autoimun 3 menjelang UTS semester VI dan baru sembuh menjelang UAS. Namun, Jennifer tetap memilih melanjutkan kuliah meski harus menahan sakit.

”Bagian ankle kaki kanan saya bengkak. Dan, saya berjalan dengan tertatih-tatih seperti orang keseleo, atau pincang. Saya tidak bisa turun tangga, untung ada lift di kampus,” ujarnya.

Yang lebih tidak beruntung lagi, ungkap Jennifer, ketika bengkak tersebut terkadang ditambahi dengan nyeri. Saking anehnya dia berjalan, beberapa orang-orang sekitar sampai iba dan menanyainya ”Kenapa Mbak?.

”Jadi, tiap saya melangkah, pedih sekali rasanya. Seperti sedang menginjak duri,” ucapnya.

”Penyakit ini tidak boleh menjadi halangan saya untuk kuliah. Saya sangat sadar. Tidak mungkin saya meninggalkan kuliah (cuti, Red). Akhirnya, saya tegar menjalani hari-hari perkuliahan, lalu ditambah dengan kerja kelompok. Meski saya dalam kondisi yang tidak ideal,” imbuhnya.

Jennifer juga kerap mengikuti acara kepanitiaan dan berhasil mewakili universitas dalam kegiatan student exchange. Salah satunya di Universiti Teknologi MARA Malaysia.

Mengangkat topik penolakan terhadap penggusuran akibat adanya pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA), Jennifer membuat skripsi yang berjudul “Pihak Yang Berhak dalam Ganti Kerugian dalam Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum di Atas Tanah Paku Alam”.

”Yang menarik, ternyata sebagian warga yang terdampak itu tidak mempunyai sertifikat tanah atau tanda bukti yang mencukupi. Biasanya, di daerah lain, hal itu memang sudah lazim terjadi. Yang lebih menarik dalam kasus ini ialah ternyata Kesultanan maupun Kadipaten (Gubernur dan Wakil Gubernur DIY) punya tanah berstatus hak milik yang tersebar hingga pelosok desa,” sebutnya.

Padahal, di Undang-Undang NO 5/1960 tentang Agraria, yang berhak punya tanah status hak milik itu hanya perseorangan lho. Itulah mengapa saya mencoba menjawab secara normatif mengenai nasib warga yang menempati tanah Kadipaten,” tambahnya.

Setelah lulus, Jennifer ingin bekerja di bagian legal sembari menunggu tahun akademik berikutnya untuk pendidikan S-2. Di samping itu, dia ingin mengembangkan potensi dan bakat-bakatnya. Misalnya, mengikuti kegiatan yang berhungan dengan public spaking seperti master of ceremony (MC) dan host.

”Jangan lupa ikut serta dalam berbagai organisasi maupun kompetisi. Manfaatkan waktu yang ada selagi kamu menjadi mahasiswa. Sebab, nanti setelah lulus, kesempatan yang datang sudah tidak banyak lagi. Pantang menyerah. Tidak ada kata terlambat untuk belajar,” tutur Jennifer. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Feri Fenoria Rifai




Aktif Berkegiatan dan Melakukan Penelitian, Rahadi Jadi Wisudawan Terbaik S3 FH

UNAIR NEWS – Rahadi Wasi Bintoro, rupanya, tidak pernah setengah-setengah dalam menjalani pendidikannya. Selama kuliah S3, ayah dari dua orang anak itu kerap membuat artikel ilmiah, mengikuti seminar, baik nasional maupun internasional, serta aktif melakukan penelitian.

Dua penelitian terbarunya berjudul Bantuan Hukum untuk Rakyat Miskin (Studi tentang Pengembangan Model pembiayaan bantuan Hukum Bagi Rakyat Miskin di Jawa Tengah). Penelitian tersebut didanai Kemristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi). Termasuk Model Peradilan Sederhana di Peradilan Agama dalam Perkara Ekonomi Syariah yang didanai DRPM (Direktur Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat) Dikti.

”Setelah sempat tidak lolos, Alhamdulillah Pada 2017 akhirnya lolos. Penelitian disertasi doktor yang didanai DRPM Dikti dan dapat menyelesaikan penelitian. Juga, kuliah sesuai target waktu yang saya rencanakan,” ujarnya.

Dengan indeks predikat kumulatif (IPK) 3,83, Rahadi sukses menjadi wisudawan berprestasi melalui disertasinya yang berjudul Hukum Acara Peradilan Agama dalam Bidang Ekonomi Syariah Berlandas Prinsip Peradilan Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan. Judul itu diangkat karena Rahadi menganggap bahwa sampai saat ini masih terdapat ketidakpastian berkaitan dengan hukum acara yang berlaku di Peradilan Agama.

Khususnya mengenai kompetensi absolut peradilan agama untuk memeriksa perkara ekonomi syariah sebagai akibat semakin luasya kompetensi yang dimiliki peradilan agama. Jadi, dimungkinkan berbenturan dengan kompetensi lembaga peradilan lainnya.

”Disertasi saya juga membahas mengenai pengaturan prinsip peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan dalam pemeriksaan perkara ekonomi syariah. Telaah kedua topik tersebut diharapkan dapat memberikan tambahan masukan bagi khasanah ilmu hukum acara perdata di peradilan agama dan masukan bagi pemegang peran. Khususnya pemangku kekuasaan kehakiman di Indonesia dalam rangka mewujudkan peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan,” tutur alumnus Universitas Jenderal Soedirman tersebut.

Meski kerap melakukan berbagai kegiatan, Rahadi mengaku tidak menemukan kendala yang berarti lantaran dukungan dari berbagai pihak. Menurut dia, menajemen waktu yang baik dan fisik yang prima sangat dibutuhkan untuk menjalani kegiatan. Terutama dalam menyelesaikan tugas akhir. Setelah lulus, Rahadi ingin menulis buku yang bersumber dari disertasinya.

”Setiap kegiatan, pasti ada hambatan, termasuk melaksanakan studi S3. Hambatan terbesar dalam melaksanakan studi adalah dari intern, pada diri-sendiri, berupa mudah putus asa, malas, yang bisa mengakibatkan rencana dan target tidak dapat diselesaikan dengan baik,” ujarnya.

”Karena itu, manajemen waktu, kemauan yang keras atau kesungguhan sangat dibutuhkan. Tentu disertai dengan doa yang sungguh-sungguh pula,” pungkasnya. (*)

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Feri Fenoria Rifai