Abdi Desa BEM FEB: Ekonomi Penunjang Kesejahteraan Rakyat

UNAIR NEWS – Hadirnya kegiatan Abdi Desa yang dilakukan oleh BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)  tersebut disambut baik oleh warga setempat. Salah satunya disambut baik oleh Widji selaku Kepala Dusun Kedungdendeng. Baginya, acara itu sangat bermanfaat bagi warga Dusun Kedungdendeng, Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang.

Dalam bidang ekonomi sendiri, masyarakat di daerah tersebut hanya berpenghasilan dari sektor pertanian. Pada survei pertama di bulan Mei, tim Abdi Desa BEM FEB telah mengadakan budidaya tumbuhan hydroponic seperti pepaya dan jeruk yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Dengan adanya bimbingan dari mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini kami telah menjadi terarah dan kedepan hasilnya akan bisa dirasakan,” terangnya.

Abdi Desa
Salah satu warga tengah melakukan kegiatan pertanian. (Foto: Istimewa)

Malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan tentang cara penanam tanaman hidroponik di rumah Widji. Kegiatan tersebut merupakan salah satu antusias warga dalam meningkatkan perekonomian dan berbagi informasi tentang pertanian. Karena perekonomian menjadi hal utama untuk melanjutkan kehidupan yang semakin layak mengikuti zamannya.

“Program ini diharapkan dapat menjadi sarana pengembangan sumber daya, baik alam maupun manusia. Dengan adanya pemberdayaan pada sektor pertanian diharapkan bisa mendapatkan feedback yang bermanfaat bagi masyarakat. Terutama, dalam meningkatkan perekonomian dan mengurangi pengangguran,” ujar Agil selaku ketua Departemen Pengabdian Masyarakat BEM FEB.

Dalam pengabdian bidang ekonomi, jelasnya bertujuan untuk mengembangkan potensi yang ada, tetapi tidak hanya menggali sumber daya manusia. Kegiatan itu juga diharapkan bisa mengembangkan sumber daya alam. Terutama dalam sektor pertanian itu sendiri.

“Meski demikian, program ini juga mengalami beberapa permasalahan tentunya. Salah satu permasalahan yang dialami yaitu akses jalan yang sulit. Utamanya cara menurunkan hasil panen ke dusun bawah atau keluar Dusun Kedungdendeng,” imbuhnya.

Kendala yang dialami masih ada lagi yang dianggap berat. Kurang pengetahuan masyarakat disana mengenai cara menanam dan merawat tanaman jeruk atau pepaya yang telah panitia Abdi Desa berikan dengan baik dan benar.

“Untuk itu, pihak Abdi Desa sendiri rencananya akan membawa rencana pembangunan jalan ke DPRD setempat. Karena dengan akses jalan yang yang layak akan meningkatkan perekonomian juga,” pungkasnya.

Penulis: Rolista Dwi Oktaviani

Editor: Nuri Hermawan




Abdi Desa BEM FEB: Sehatku Wujudkan Cita-citaku

UNAIR NEWS – Keterbatasan, sekali lagi, tidak menghalangi naluri untuk senantiasa berbagi dan mengabdi kepada sesama. Selain pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada survei pertama oleh BEM FEB dalam bidang pendidikan, kini kembali dengan bidang kesehatan. Tujuan utama pengabdian masyarakat ini yakni untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada masyarakat, khususnya dalam masalah kesehatan masyarakat, contohnya dalam penggunaan bahan penyedap dan mengelola makanan cepat saji.

Sosialisasi dan cek kesehatan yang akan datang dilakukan dengan menggandeng pihak Puskesmas, Akupuntur dan Batra dari Universitas Airlangga.

“Antusiasme warga sangat tampak dari setiap kegiatan yang dilakukan, terutama pada sosialisasi dan pencarian data untuk pengajuan BPJS. Mereka dengan senang hati menghadiri dan mengikuti kegiatan. Kegiatan yang dilakukan warga waktu survei yaitu imunisasi anak usia dini,” ujar Firda Taufani selaku koordinator kesehatan.

Sikap ramah tamah yang dilakukan oleh panitia juga menambah kehangatan saat bercengkrama dengan warga. Kegiatan itu, tambahnya, mendapatkan respon positif dari warga dan warga sangat senang dengan adaanya kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini sangat ditunggu oleh warga karena banyaknya warga yang mengidap penyakit asam urat. Penyakit ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi anak SD juga mulai mengidap. Penyakit ini terjadi karena asam urat menjadi salah satu kelompok penyakit turunan atau penyakit genetik,” ungkap mahasiswa yang akrab disapa Firda itu.

Abdes
Salah seorang anak kecil yang tengah melakukan cek kesehatan. (Foto: Istimewa)

Selanjutnya, Firda juga mengatakan bahwa survei yang telah dilaksanakan itu bertujuan untuk mengumpulkan data yang valid agar bisa diajukan kepada tenaga medis di daerah tersebut. Dengan pengajuan tenaga medis, ia berharap bisa bekerja sama dalam mencapai tujuan dalam acara Bina Abdi Desa, yakni bisa berjalan dengan lancar seperti penyuluhan, imunisasi, cek kesehatan, pembuatan obat tradisional, dan sebagainya.

“Ada kendala yang harus diterima yaitu kurangnya tenaga medis terutama dalam Dusun Kedungdendeng karena masyarakat mengalami kesusahan apabila berobat atau dalam keadaan darurat harus pergi ke desa bawah dengan akses jalan yang tidak memungkinkan,” Imbuh Derry selaku pembina kegiatan.

Penulis: Rolista Dwi Oktavia

Editor: Nuri Hermawan




Abdi Desa BEM FEB: Pendidikan Dari dan untuk Semua

UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitras Airlangga pada awal Mei telah melakukan survei pertama ke desa binaan yang merupakan salah satu program kerja berkelanjutan bernama “Abdi Desa”. Program kerja itu menjadi wujud implementasi BEM FEB dalam mengamalkan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu dalam departemen pengabdian masyarakat.

Selain itu, tujuan Abdi Desa yang dilakukan di Dusun Kedungdendeng, Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, jelas Yusril Erlangga selaku ketua pelaksana, Abdi Desa FEB 2018  lebih mengarah ke pemberdayaan masyarakat dan 4 fokus lainnya, yaitu pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan kesehatan.

“Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan demi masa depan yang lebih baik. Tetapi, pendidikan yang berlangsung di desa binaan tersebut mengalami banyak kendala. Kendala utama yaitu buku untuk meningkatkan literasi siswa karena setiap siswa tidak selalu mendapatkan buku. Kendala dalam guru yang sangat minim dan berpendidikan akhir SMA. Siswa yang tidak terbiasa berbicara menggunakan bahasa indonesia sehingga sukar untuk menerima pelajaran,” ujarnya.

Kemudian, menurut Wondo selaku guru SD Jipurapah 2, guru pegawai negeri sipil yang telah ditetapkan di daerah tersebut sering mengalami kendala dalam pengajaran yang efektif. Karena akses jalan yang begitu sulit dan siswa yang masih berpikiran untuk berhenti sekolah dan memilih kerja di kota. Selain itu, imbuhnya, siswa merasa kesulitan dalam mengikuti sistem pendidikan yang berganta – ganti seperti kurikulum 13.

Abdes
Tim Abdi Desa BEM FEB bersama anak-anak desa setempat (Foto: Istimewa)

Keadaan SD Jipurapah 2 sangat memprihantikan. Ruang kelas yang terdiri dari 5 ruangan. 3 ruang digunakan untuk ruang kelas dan dalam satu ruangan diisi dua kelas. Satu ruang digunakan untuk ruang guru dan satu lagi digunakan untuk UKS dan Perpustakaan. Dalam satu kelas hanya berisi 6 sampai 10 anak.

“Apabila mengikuti Ujian Nasional harus turun ke desa bawah degan akses jalan yang tidak memadahi. Mereka yanag kelas 6 diwajibkan untuk menginap di desa bawah selama Ujian Nasional berlangsung,” tutur Johannes siswa SD Jipurapah 2.

Beberapa kegiatan yang dilakukan selama survei berlangsung dalam bidang pendidikan yaitu, Happy Learning, mengaji, banjari, keterampilan, motiasi agar siswa berani melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, dan sebagainya. Kegiatan tersebut awal dari tercapinya tujuan awal pencapaian program kerja yang telah direncanakan untuk mengenal satu sama lain sebelum hari-H berlangsung.

“Program kerja yang direncanakan untuk meningkatkan literasi siswa di desa tersebut adalah pembuatan taman baca atau perpustakaan. Tetapi, program ini masih mengalami kendala dalam dana, buku, dan sebagainaya untuk merealisasikannya. Selain itu, ada program penyuluhan untuk orang tua dan anak,” imbuh Rolista salah satu tim Abdi Desa.

Penulis: Rolista Dwi Oktavia

Editor: Nuri Hermawan




Terapkan “Honest, Humble, Helpful” dalam Capai Kesuksesan

UNAIR NEWS – Menjadi salah satu professor pertama dalam dunia keperawatan di Indonesia, tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Ialah Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons), yang merupakan Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. Kali ini, dalam “Liputan Khusus Dekan Kita”, UNAIR NEWS  akan mengulas berbagai kiprah dan peran dekan yang tengah berusia 51 tahun itu.

Tercatat, dalam perjalanan karirnya, Prof. Nursalam pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Timur, Wakil Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) tingkat Nasional, Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia tingkat Jawa Timur, Wakil Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia tingkat Nasional, dan Ketua Qualifium Manajemen di Jakarta.

Pengalaman di bidang akademik, Prof. Nursalam pernah menempuh pendidikan Diploma 3 Akper Sutomo Surabaya; kemudian melanjutkan program sarjana di Lambton College, Sarnia Ontario 1988-1991; Program Sarjana University of Wolllongong, NSW 1997-1998; terakhir Prof. Nursalam mengenyam pendidikan program doktor di Universitas Airlangga pada tahun 2002-2006.

Ditanya mengenai capaian itu, dekan kelahiran Kediri, 25 Desember 1966 mengaku bahwa semua pencapaiannya itu tidak lain adalah karena kerja keras, disiplin, dan tanggung jawab.

“Karena sukses menurut saya adalah ketika kehadiran kita diharapkan oleh orang lain,’’ tuturnya.

Sementara itu, dalam capaian kerja di FKp UNAIR, Prof. Nursalam membagi ke dalam 3 kategori yakni academic excellent, riset excellent, dan sumber daya manusia. Di bidang akademik FKp UNAIR telah mengantongi akreditasi A serta akreditasi sertifikasi yang sudah own dan tinggal menunggu hasilnya.

“Tahun ini FKp UNAIR menyiapkan akreditasi tingkat internasional dan semoga dapat disetujui tahun depan,’’ ujar Prof. Nursalam.

Selain itu, imbuhnya, kriteria lain seperti Angka Efisiensi Edukasi dan ketepatan kelulusan sudah sesuai standar. Selanjutnya, untuk bidang riset akademik, tercatat Scopus sudah mencapai index angka 6.

“Lalu untuk Scopus Internasional ditargetkan mencapai angka 50 namun nyatanya mampu melampaui angka minimal  yaitu mencapai angka 70. Hal ini sungguh membanggakan,” tandasnya.

Dalam bidang sumber daya manusia, terangnya, FKp UNAIR telah meluluskan 13 doktor dari total keseluruhan 49 dosen dan akan meluluskan 4 doktor lagi tahun ini. Program inbond dan outbond yang diselenggarakan juga berjalan dengan lancar. Terbukti, dari banyaknya mahasiswa asing seperti Thailand dan Jepang yang datang ke sini.

“Saya menyadari tidak memiliki kelebihan apa-apa melainkan ridhlo dari Allah SWT,’’ ungkap Prof. Nursalam.

Pada akhir, Prof. Nursalam menambahkan bahwa sosok pemimpin menurutnya harus memiliki visi agar staff bisa bekerja dengan senang hati, tidak ada otoriter jabatan dan diskriminasi, memiliki komitmen yang harus dibangun.

“Figur pemimpin harus bisa menjadi role model. Seperti yang Ki Hajar Dewantara katakan Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,” pungkasnya.

Penulis: Tunjung Senja

Editor: Nuri Hermawan




Pahami Anggota dan Masalah yang Ada

UNAIR NEWS – ‘’Saya memang bukan siapa-siapa, namun saya peka terhadap permasalahan yang ada’’ itulah tutur Ketua BEM FKM UNAIR yang memiliki nama lengkap Ahmad Luqmanul Hakim. Pada Liputan Khusus “Ketua BEM Kita” kali ini, UNAIR NEWS akan mengulas kiprah mahasiswa yang lahir di Bengkulu, 9 Juni 1997 dalam memimpin BEM FKM UNAIR periode 2018-2019.

Abin begitu sapaan akrabnya, sudah menekuni dunia organisasi sejak berada di bangku SMA. Tercatat, Abin pernah menjabat sebagai Divisi Keamanan Pramuka Ambalan sewaktu SMA di Amanatul Ummah.

Pengalaman organisasi secara lengkap didapatkan Abin di bangku kuliah dari mulai Staff Kaderisasi BEM FKM UNAIR 2016, Staff Divisi Syiar BEM FKM UNAIR 2016, Kadiv kaderisasi BEM FKM UNAIR 2017, dan Ketua BEM FKM UNAIR periode 2018-2019. Selain itu, ia juga sosok yang menjunjung tinggi nilai islam. Ini tampak pada riwayat pendidikan yang ditempuh. Abin menamatkan pendidikan dari SMP hingga SMA di Amanatul Ummah yang merupakan sekolah modern berbasis Islam.

Abin juga mengungkapkan bahwa seorang pemimpin harus pandai mengayomi bawahannya minimal kepada wakilnya dan tahu ranah kerja serta rencana strategi apa yang ingin dicapai. Dalam ranah BEM sendiri, baginya, seorang pemimpin dituntut mengenal semua anggota departemen juga tupoksi dari masing-masing departemen.

“Membangun relasi dengan dekanat dan kemahasiswaan menjadi salah satu kunci keberhasilan organisasi,” tandasnya.

Selanjutnya, semangat yang menyala demi tujuan yaitu terciptanya mahasiswa FKM yang proaktif , tanggung jawab, dan memiliki aksi nyata positif menjadi hal utama yang ia lakukan. Hal itu, tambahnya, merupakan prinsip yang Abin pegang saat menjabat sebagai ketua sebuah organisasi.

“Pengalaman menjadi ketua BEM cukup menarik dan menantang karena memang hal baru bagi saya,  juga terjalin relasi baru dengan kesamaan organisasi,’’ lanjut Abin.

Meski demikian, kinerja mahasiswa 20 tahun itu patut diacungi jempol. Ia memfokuskan kabinetnya kepada 3 departemen sebagai ujung tombak yakni Departemen Rispres, Kastrat, dan Pengmas. Gabungan 3 departemen itu, terangnya, menjadi paket komplit untuk terciptanya mahasiswa FKM yang tidak hanya academic oriented namun juga peka teradap permasalahan sosial.

“Untuk menumbuhkan jiwa sosial memang perlu dipupuk. Departemen Pengmas mewadahi mahasiswa melalui  kegiatan-kegiatan berbau sosial. Ada pelatiahan paper juga pengkajian tentang suatu masalah dari Departemen Rispres dan Kastrat. Namun demikian departemen lain tetap diperhatikan supaya goal tercapai,” tandas Abin.

 

Penulis: Tunjung Senja

Editor: Nuri Hermawan




Gagas Program Oprec Akbar dan FKp Award

UNAIR NEWS – Liputan khusus mengenai “Ketua BEM Kita” terus berlanjut. Pada kesempatan kali, UNAIR NEWS berhasil menggali lebih dalam informasi kepemimpinan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keperawatan (FKp), Universitas Airlangga, Nopen Trijatmiko.

Nopen, sapaan akrabnya, mahasiswa angkatan 2015 itu menjelaskan bahwa sebelumnya ia bukanlah orang seaktif sekarang. Pasalnya, diawal perkuliahan sempat kesulitan dengan perkuliahan karena jurusan keperawatan bukanlah pilihan utamanya di SNMPTN dan SBMPTN.

Hal itu tidak berlangsung lama, menurut Nopen, rasa betah dan nyaman ia dapatkan dari BEM FKp yang sudah dianggapnya rumah kedua. Rasa nyaman dan keinginan untuk memberikan aksi lebih serta dorongan dari lingkungan, membuatnya pada tahun ketiga di BEM untuk mencalonkan diri sebagai ketua.

“Hati ini merasa ingin membuat BEM menjadi lebih baik lagi. Sehingga setelah terpilihnya menjadi ketua, tujuan atau visi BEM FKp 2018 adalah menjadikan BEM FKp UNAIR yang SAKTI (nama kabinet, red) atau bersinergis, adil, dan aktif,” tutur Nopen.

Merujuk pada evaluasi tahun lalu, keadilan atau pemerataan hak setiap mahasiswa menjadi salah satu fokus yang diambil. Hal tersebut disebabkan sempat terjadi ketidakmerataaan kepanitiaan dari mahasiswa FKp karena banyaknya close recruitment. Untuk itu, ia dan tim memberikan solusi yang dilakukan ditahun ini dengan ‘Open Recruitment (Oprec) Akbar’.

“Adanya Oprec Akbar dapat memberikan kesempatan semua mahasiswa FKp untuk memperoleh pengalaman di FKp karena semua yang mendaftar akan mendapatkan kesempatan menjadi panitia di FKp UNAIR,” jelas Nopen.

Tak hanya itu, BEM FKp memfasilitasi untuk mahasiswa FKp yang aktif mengikuti kegiatan dan perlombaan baik nasional maupun internasional. Penghargaan juga akan mereka dapatkan ketika memperoleh prestasi pada acara FKp Award. FKp Award, terangnya, merupakan kegiatan baru yang bertujuan untuk meningkatkan iklim prestatif.

Dalam menyukseskan segala program kerja, Nopen menjelaskan bahwa terdapat nilai-nilai yang ingin ditanamkan untuk BEM FKp. Ialah rasa kekeluargaan, keadilan, dan keaktifan pengurus dalam setiap event. Cara yang digunakan oleh Nopen dituangkan dengan gaya kepemimpinan yang demokratis.

“kepemimpinan yang saya terapkan berorientasi pada mahasiswa dan memberi bimbingan kepada mereka. Tentunya menghargai potensi tiap individu, mau mendengarkan nasehat, dan sugesti dari tiap anggota,” ungkap Nopen.

Pada akhir, saat ditanya mengenai harapannya kepada BEM FKp, ia mengatakan bahwa semoga BEM FKp UNAIR dapat meningkatkan prestasi, pemerataan kepanitiaan, dan meningkatkan output pendidikan dan ners melalui adanya try out ujian kompetisi ners bagi mahasiswa profesi.

 

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Nuri Hermawan




Garuda Sakti PSDKU di Banyuwangi Dorong Mahasiswa Berprestasi

UNAIR NEWS – Meski berada jauh dari kampus utama, tidak menjadi penghalang bagi Badan Semi Otonom (BSO) Garuda Sakti (GS) Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Airlangga di Banyuwangi untuk turut mendorong mahasiswa berprestasi. Tercatat, meski terbilang muda, BSO GS PSDKU UNAIR di Banyuwangi pernah mengirimkan timnya untuk mengikuti ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang dihelat tahun lalu di Makassar, Sulawesi Selatan.

Untuk mengetahui beragam gebrakan yang telah dilakukan oleh BSO yang identik dengan jaket berwarna merah itu, UNAIR NEWS berhasil menemui Winda Kusuma Dewi selaku Wakil Ketua GS PSDKU UNAIR di Banyuwangi, Maret lalu. Kepada UNAIR NEWS, mahasiswa jurusan Pendidikan Dokter Hewan angkatan 2016 itu mengatakan, sebenarnya potensi yang dimiliki oleh mahasiswa PSDKU UNAIR di Banyuwangi sama dengan mahasiswa UNAIR Surabaya. Hal itu, menurutnya, bisa dilihat dari jumlah PKM yang lolos pada tahap pendanaan.

“Di Banyuwangi ini masih banyak daerah yang belum terjamah untuk objek PKM kami. Jadi sangat menarik, apalagi didukung dengan gagasan yang segar,” ungkap mahasiswa yang akrab disapa Winda itu. “Dan waktu kami dimonitoring dan dievaluasi oleh dosen di Surabaya, mereka kaget kalau ternyata banyak mahasiswa PSDKU yang lolos,” imbuhnya.

Selain membidangi urusan PKM, tambah Winda, GS PSDKU juga mengurusi urusan prestasi mahasiswa. Menurutnya, urusan yang dibidangi oleh divisi prestasi GS PSDKU itu tidak ada dikepengurusan BSO GS di kampus Surabaya. Baginya, adanya divisi prestasi di GS PSDKU dimaksudkan untuk menciptakan iklim kompetisi di tengah mahasiswa PSDKU.

“Divisi prestasi ini yang membedakan kami dengan GS di kampus Surabaya. Tujuan adanya divisi ini sebenarnya untuk mendorong mahasiswa agar tertarik mengikuti berbagai kompetisi dan perlombaan,” terangnya.

Selanjutnya, mahasiswa penerima beasiswa dari PT. Pokphand itu menegaskan bahwa dasar dari adanya BSO GS PSDKU adalah keilmuan. Untuk itu, selain mendorong mahasiswa lain untuk berprestasi, sudah menjadi suatu kewajiban bagi seluruh anggota GS PSDKU juga bisa berprestasi.

“Kami selalu menekankan ke anggota GS, sebelum mengajak dan mendorong yang lain berprestasi, anggota GS juga harus berprestasi. Dan dengan prestasi-prestasi kita, semoga nama UNAIR semakin baik,” ujar Winda.

Sementara itu, pada kesempatan yang berbeda, UNAIR NEWS juga berhasil menggali informasi dari Ketua GS PSDKU UNAIR di Banyuwangi Anjani Marisa Kartikasari. Melalui whatsapp, mahasiswa yang akrab disapa Anjani itu menuturkan bahwa selain mengurusi PKM dan prestasi mahasiswa, GS PSDKU juga turut mengurus proses seleksi Mahasiswa Berprestasi (mawapres).

Mengenai mawapres, mahasiswa asli Yogjakarta itu menjelaskan bahwa selama ini proses seleksi mawapres PSDKU masih berhenti di tingkat kampus. Hal itu, tambahnya, menjadikan mawapres PSDKU belum bisa mengikuti kompetisi ke tingkat selanjutnya.

“Oleh karena itu, tahun ini kami ingin mawapres kami bisa sejajar untuk mewakili fakultas di kampus induk. Tujuannya agar bisa lolos ke jenjang selanjutnya,” ujar Anjani.

Selanjutnya, saat ditanyai perihal berbagai tantangan yang ia dan tim hadapi dalam mengelola GS PSDKU, Anjani mengatakan bahwa selama ini, koordinasi kadang terganggu dengan letak kampus yang tidak satu lokasi.

“Karena letak kampus yang berjauhan kadang membuat kami sulit berkoordinasi,” tegasnya.

Perihal cara mengelola potensi yang dimiliki oleh anggotanya, Anjani menuturkan bahwa untuk menggali kreatifitas dan ide-ide segar, ia dan tim kerap mengisi diskusi dengan bercanda. Hal itu, menurutnya, sangat efektif untuk memunculkan ide dan kreatifitas.

“Karena GS itu fokus ke kelimuan, jadi biasanya kalau rapat kami selingi dengan bercanda. Tidak terus-terusan serius. Tujuannya agar kreatifitas ataupun ide-ide itu muncul,” terangnya.

Selain itu, Anjani juga memetakan potensi yang dimiliki anggotanya. Bagi anggota yang cekatan, Anjani akan melibatkan dalam divisi PKM. Pasalnya, di divisi PKM dituntut serta ditarget dengan batas waktu yang sempit.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria




Pengabdian Tambah Pengalaman dan Pengetahuan

UNAIR NEWS – Bantuan pendidikan bidikmisi yang digagas oleh pemerintah era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2010 mulai menunjukkan hasil. Banyak alumni lulusan perguruan tinggi yang telah berkiprah di masing-masing bidang keilmuan. Salah satunya, mahasiswa lulusan di bidang kedokteran.

Universitas Airlangga sebagai salah satu kampus yang memiliki fakultas kedokteran terbaik di Indonesia tiap tahunnya juga menerima mahasiswa penerima bidikmisi. Kini, untuk kali kedua, UNAIR NEWS akan menghadirkan profil dan kisah pengabdian dokter jebolan UNAIR yang menjalani kuliah dengan bantuan pendidikan bidikmisi. Ialah dr. Yafi Rushan Rusli yang kini melakukan pengabdian di salah satu rumah sakit milik pemerintah di tanah kelahirannya, Blitar, Jawa Timur.

Ditemui UNAIR NEWS seusai melakukan tugas, dokter yang menempuh studi pendidikan dokter pada tahun 2011 itu merasa sangat bersyukur bisa menempuh pendidikan kedokteran dengan bantuan bidikmisi.

“Yang jelas bersyukur bisa kuliah di kampus besar dengan bidikmsi. Sekarang tinggal mengabdikan ilmu serta membalas jasa bangsa dan negara,” ungkap dokter yang akrab disapa Yafi itu.

Ditanya perihal pengalaman selama melakukan pengabdian, Yafi menuturkan bahwa selama ini dirinya merasa banyak belajar, pengalaman, dan menambah ilmu pengetahuan. Hal itu, tambahnya, mengingat kondisi rumah sakit di daerah sangat berbeda jauh dengan RSUD dr. Soetomo sebagai rumah sakit tempatnya belajar selama ini.

“Yang jelas aplikasi ilmu semakin meningkat dan di sini (RS daerah, Red) kami memiliki tanggung jawab yang lebih,” ungkapnya.

Selanjutnya, mengenai rencananya ke depan, Yafi mengatakan bahwa dirinya bertekad akan melanjutkan studi ke pendidikan spesialis. Meski, imbuh dia, hal itu belum tergambar dalam waktu dekat. Pasalnya, bagi Yafi, untuk menempuh pendidikan spesialis, diperlukan persiapan yang matang.

“Ingin memang lanjut ke spesialis, tapi belum tahu nanti. Usai pengabdian ini ingin kerja dulu dan nabung lah,” terangnya.

Pada akhir, Yafi berpesan kepada mahasiswa bidikmisi yang masih menempuh pendidikan dokter di UNAIR agar menjalani kuliah dengan baik. Perihal uang saku yang didapat dari pemerintah tiap bulannya, Yafi berpesan agar selama kuliah. Mahasiswa harus pandai dalam memanajemen keuangan.

“Semua tergantung kita, dibilang cukup ya cukup, tergantung manajemen kita sendiri. Untuk yang masih S1, saya kira agar jalani kuliah dengan baik. Kalau DM baru bisa sambil bimbel,” terangnya. “Dan, jangan lupa jaga solidaritas dengan teman sesama bidikmisi,” pungkasnya.

 

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria




Tahun Ini, Aturan SBMPTN Sedikit Berbeda

UNAIR NEWS – Tata cara pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2018 dapat dilihat melalui video yang bisa diunduh mulai 29 Maret lalu. Perihal cara pendafataran SBMPTN tahun 2018 ada beberapa perbedaan dengan tahun lalu. Hal itu diungkapkan Dr. Imron Mawardi selaku Sekretaris Pusat Informasi dan Humas (PIH) Univesitas Airlangga seusai menghadiri rapat dengan panitia pusat di Jakarta.

Saat di temui disela kesibukannya pada Senin (2/4), Imron mengatakan bahwa pada tahun ini beberapa perbedaannya terletak pada penamaan ujian dan waktu pendaftaran. Jika tahun lalu, tambah Imron, penamaan SBMPTN dibagi menjadi paper based test (PBT) dan computer based test (CBT). Pada tahun ini, penamaan SBMPTN dibagi menjadi Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) dan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

“Tahun ini memang terjadi perbedaan dalam penamaan ujian SBMPTN,” ungkapnya.

Selain penamaan ujian, jadwal pendaftaran keduanya juga berbeda. Imron mengungkapkan bahwa pendaftaran UTBC akan dimulai pada 5 April mendatang. Sementara itu, untuk UTBK, pendaftarannya baru dibuka pada 18 April mendatang.

“Kalau tahun lalu, kan pendaftarannya bersamaan. Tahun ini dibedakan,” jelasnya.

Mengenai pendaftaran yang dibedakan, Imron menambahkan bahwa hal itu ditujukan untuk memberikan akses kepada peserta yang tahun ini mendaftar SNMPTN. Mereka bisa memiliki kesempatan yang sama untuk mendaftar UTBK.

“Kalau UTBK ini, dibuka bersama dengan UTBC.  Kasihan mereka yang tahun ini masih menunggu informasi hasil SNMPTN yang akan diumumkan pada 17 April. Selain itu, peserta yang mengikuti SNMPTN tahun ini tengah mengikuti UAN,” imbuh Imron.

Untuk mempermudah pembaca memahami alur informasi pendaftaran SBMPTN 2018, UNAIR NEWS menyajikan informasi dalam bentuk grafis seperti berikut:

Grafis SBMPTN
Grafis oleh Feri Fenoria

Penulis: Nuri Hermawan

Editor dan Grafis: Feri Fenoria




Sinergi untuk Perkuat Branding dan Internalisasi

UNAIR NEWS – Liputan khusus yang menggali berbagai hal tentang Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) masih berlanjut. Kesempatan kali ini, UNAIR NEWS akan mengulas sosok Nanda Danu Lukita. Danu panggilan akrab mahasiswa asal Magetan itu, pada tahun 2018 dipercaya menjadi ketua BEM Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR.

Perihal organisasi, Danu memang sudah memiliki banyak pengalaman. Tercatat, sewaktu menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ia sudah aktif berorganisasi. Hal itu terbukti saat di tahun pertama sekolah, Danu didapuk menjadi ketua 1 OSIS. Bahkan, di tahun kedua, ia diamanahi menjadi Ketua Umum OSIS.

Tidak puas begitu saja, dunia organisasi nampaknya terus ia tekuni hingga bangku kuliah. Hal itu dapat dilihat dari alasan saat ditanya keinginan mendaftar menjadi Ketua BEM FPK. Bagi Danu, dua tahun pertama yang ia lakoni di BEM FPK sebagai staf harus terus dilanjutkan.

“Dua tahun sebelumnya di BEM FPK saya sudah menjadi staff dan kepala departemen. Di tahun ketiga ini meskipun ada dorongan untuk berkiprah di organisasi yang lebih besar lagi, tapi karena rasa sayang saya ke FPK, jadi saya memilih untuk mengabdikan diri di BEM FPK,” ungkap Danu.

Mengenai program kerja unggulan yang akan dikerjakan pada masa kepemimpinanya, Danu menuturkan bahwa BEM FPK mempunyai dua fokus besar yang dipilih. Kedua hal itu ialah branding dan internalisasi. Menurut Danu, branding akan dilakukan dengan memunculkan program kerja baru seperti Kompetisi Futsal antar SMA dan Seminar Internasional Tahunan yang bekerja sama dengan dosen.

“Sedangkan fokus internalisasi ini diperlukan karena kami ingin menumbuhkan sense of belonging  BEM bagi semua anggota. Selain itu, kami juga ingin menyisipkan nilai-nilai kaderisasi agar dalam menjalankan roda organisasi bisa semakin mudah,” tutur Danu.

Untuk itulah, Danu dan tim memberikan nama Kabinet BEM FPK dengan sebutan Kabinet Sinergisitas. Menurut Danu, pemilihan nama sinergisitas diambil karena sesuai dengan tujuan BEM FPK. Yakni ingin memperkuat rasa percaya semua komponen di FPK sehingga bisa berkolaborasi dan bersinergi dengan baik.

“Apasih BEM tanpa dukungan kalian semua (civitas FPK, red). Karena itu mari kita membangun FPK bersama-sama,” ajak Danu kesemua civitas FPK UNAIR.

Pada akhir perbincangan, Danu memberikan sedikit celetukannya yang sering ia gunakan untuk mendorong dan membangkitan semangat teman-teman disekitarnya.

“Saya yang dari SMK saja bisa, tentu kamu juga bisa,” pungkasnya.

 

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Nuri Hermawan