Via Telepon Dampingi Anak Belajar saat Ujian

UNAIR NEWS – Menjadi Wisudawan Terbaik S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) kian menyempurnakan capaian Ita Kusuma merengkuh gelar sarjananya. Ia mengakhiri kuliah S1-nya dengan IPK (indeks prestasi komulatif) cumlaude, yakni 3.93.

Mengenai resep capaian positifnya itu, Ita mengaku tak memiliki hal yang khusus, tapi hanya tiga hal. Yakni, belajar, belajar, dan belajar. Itulah alasan, Ita aktif keluar dan masuk perpustakaan serta ruang baca fakultas. Tak lain, ia memperdalam materi yang dipelajari di kelas, juga aktif meng-upgrade pengetahuan.

”Saya mahasiswa alih jenjang dan perkuliahannya dilaksanakan siang sampai malam. Jadi, ada cukup waktu pagi, saya berkunjung ke sana (perpustakaan dan ruang baca, Red),” sebutnya.

Saat menjadi mahasiswa dan menempuh pendidikan, cerita Ita, dirinya sempat mengalami kekhawatiran. Ia mengaku sangat berat meninggalkan putra dan putrinya selama seminggu.

”Apalagi jika mereka sedang kurang enak badan atau sedang masa ujian sekolah,” kenangnya.

”Saya juga membantu belajar mereka by phone. Alhamdulillah, meskipun saya tinggal kuliah, prestasi mereka tetap membanggakan,” imbuhnya.

Ita mengangkat judul skripsi Determinan Unmet Need Keluarga Berencana pada Pasangan Usia Subur dengan Penyakit Kronik di Kabupaten Bojonegoro sesuai dengan problem di kota asalnya. Faktanya di Bojonegoro, angka kasus kematian ibu meningkat dari tahun ke tahun. Tepatnya diawali dengan kehamilan dengan penyakit kronik.

”Kehamilan pada Pasangan Usia Subur (PUS) dengan penyakit kronik akan meningkatkan terjadinya morbiditas dan bahkan mortalitas ibu,” katanya.

Salah satu penyebab kehamilan ini, lanjut Ita, adalah tidak terpenuhinya kebutuhan akan KB (unmet need KB). Faktor (determinan) penyebab Unmet Need KB juga banyak. Karena itu, penelitiannya berfokus pada determinan Unmet Need KB, khususnya pada PUS dengan penyakit kronik.

Usai diwisuda, Ita berencana kembali kepada pekerjaan yang ditinggalkannya selama 2.5 tahun  untuk mengamalkan ilmunya. Kepada mahasiswa lain, ia berpesan pandai mengisi waktu dengan hal yang positif.

”Juga berdoa dan selalu tanamkan bahwa saya harus berusaha untuk bisa jadi yang terbaik,” tuturnya. (*)

Penulis: Feri Fenoria Rifai

Editor: Nuri Hermawan




Soroti SDM untuk Pembangunan Organisasi

UNAIR NEWS – “Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik dan non Fisik Terhadap Kinerja Pegawai Melalui Kepuasan Kerja sebagai Variabel Intervening pada Kantor Manajemen Universitas Airlangga” menjadi judul tesis yang mengantarkan Hendro Gunarto menjadi wisudawan terbaik S2 Sekolah Pascasarjana pada periode Maret 2019.

Wisudawan kelahiran Surabaya, 05 Pebruari 1980 mengambil topik itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, status Universitas Airlangga yang merupakan PTN Badan Hukum dan mempunyai target masuk ke dalam 500 universitas terbaik di dunia pada tahun 2020, membuatnya ingin mengetahui serta menganalisis tentang besarnya pengaruh lingkungan kerja yang ada di UNAIR, khususnya di kantor manajemen.

“Karena saya juga berstatus sebagai pegawai pada Direktorat Sumber Daya Manusia, jadi saya perlu untuk meniliti serta menganalisis tentang besarnya pengaruh lingkungan kerja yang ada di UNAIR baik lingkungan kerja fisik maupun non fisik,” jelasnya.

Faktor fisik, jelasnya, merupakan beberapa hal yang menyangkut sarana prasarana dalam pelaksanaan pekerjaan maupun lingkungan kerja. Sedangkan faktor non fisik merupakan beberapa hal  yang menyangkut hubungan antar pegawai terhadap kinerja pegawai melalui kepuasan kerja.

“Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat diketahui langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja dari para pegawai sehingga semua target dan tujuan yang menjadi cita-cita Universitas dapat tercapai,” imbuh wisudawan yang hobi olahraga tersebut.

Mengenai tips menjadi wisudawan terbaik, anak kedua dari lima bersaudara itu mengatakan bahwa selama studi harus mempunyai rencana dan target yang akan dicapai selama perkuliahan, mengaplikasikan materi perkuliahan dengan situasi sebenarnya didunia kerja, dan membangun jaringan yang luas, baik dengan rekan kuliah, senior, alumni dan dosen

“Dan yang tidak kalah penting adalah mempunyai keinginan dan kemauan yang kuat untuk menjadi yang terbaik,” pungkas wisudawan yang menyabet IPK 3,85 tersebut. (*)

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria Rifai




Berkarya Lewat Film

UNAIR NEWS –  Sabtu 9 Maret 2019 menjadi hari paling bekesan di hidup Rizky Kurniawan. Sebab, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan tahun 2014 itu resmi berpisah dengan Universitas Airlangga. Setelah kurang dari 5 tahun berjuang menempuh pendidikan, Rizky berhasil lulus dengan menyandang gelar sebagai wisudawan berprestasi Fakultas Ilmu Budaya dan meraih IPK sebesar 3,61.

“Saya merasa senang sekali. Sungguh tidak menyangka saya terpilih sebagai wisudawan berprestasi,” jelas Rizky sambil tersenyum.

Ditanya perihal prestasi, Rizky agaknya sedikit tersipu. Ia mengatakan prestasi yang diraih hanya seputar bidang perfilman. Hal itu mengingat Rizky aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sinematografi sejak menjadi mahasiswa baru. Selama kurang lebih 4 tahun itulah Rizky terus menorehkan karya dan prestasi di bidang perfilman.

Beberapa prestasi yang sudah diraih antara lain, Juara 2 Lomba Short Movie Information and Communication Contest (ICON) 2018, Film Inspirasi Terbaik pada Festival Film Pendek Pemuda Kreatif Indonesia 2016 dengan judul Setetes Koin, Video Terbaik pada kegiatan Indonesia Conference on Water and Envireronmental Resilience (ICWER) di Fakultas Geografi UGM, pemenang lomba kreatif “Creative Cultural Forum” 2016 di FIB UI.

Pernah menjadi juri lomba videogram pada acara Gebyar Kependudukan Airlangga 3.0 (GPA 3.0), dan masih banyak lagi.

Laki-laki 22 tahun tersebut menganggap bahwa sejumlah prestasi yang didapat merupakan kado istimewa yang telah Allah SWT berikan. Hal itu turut menjadi penanda bahwa rangkaian perjuangan yang ia lakukan berhasil.

“Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau. Jangan berhenti berusaha untuk menggapai tujuan yang didamba,” tutur Rizky.

Motto Rizky ialah terus bermanfaat untuk orang lain. Rizky menjelaskan motto tersebut menjadi sarang motivasi dikala ia sudah penat menjalani aktivitas sehari-hari.

Bila hidup terus diisi dengan menolong orang lain, maka kehidupan akan menjadi lebih bermakna. Laki-laki yang mengidolakan Pramudya Ananta Toer itu mengingatkan kepada para mahasiswa agar tidak sekalipun berhenti berkarya.

“Satu-satunya jalan untuk terus dikenang ialah dengan tidak berhenti menghasilkan karya,” pungkas Rizky. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh




10 tahun Geluti Dunia Pencak Silat

UNAIR NEWS – Kontribusi Erma Purnawanti dalam mengharumkan nama UNAIR memang patut diapresiasi. Pasalnya, mahasiswa Teknik Lingkungan angkatan 2014 itu telah menorehkan segudang prestasi membanggakan di bidang pencak silat.

Sejumlah prestasi tingkat nasional maupun internasional sudah berhasil Erma taklukan. Tak ayal, perempuan 23 tahun itu mendapat penghargaan sebagai wisudawan berprestasi pada wisuda periode Maret 2019.

Beberapa prestasi Erma di antaranya Juara 1 Seni Ganda Tangan Kosong Bersenjata Putri dalam Airlangga Tapak suci University Open International Championship, Juara 1 Seni Berguru Category of Dewasa Putri dalam Tapak Suci Jember University 2nd Open Championship, Juara 1 Kategori Seni Ganda IPSI Putri Dewasa dalam 7th Airlangga Championship Tapak Suci National Open 2016, serta Juara 1 Seni Ganda Bersenjata Putri dalam Kejuaraan Tapak Suci IPB Open 2018.

“Saya akui saya bukan tipe mahasiswa yang rajin belajar. Motivasi saya semasa kuliah ialah membahagiakan orang tua saya melalui pencak silat Tapak Suci,” papar Erma.

Erma bercerita, pada awalnya ia bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan. Selama 2 semester berkecimpung dalam organisasi prodi, Erma baru menyadari bahwa passionnya tidak berada di sana.

Memasuki semester 3 Erma akhirnya memutuskan mendaftar Unit Kegiatan Mahasiswa Tapak Suci. Keputusan tersebut ditunjang dari hobi Erma dengan dunia pencak silat. Ia mengaku ingin memperdalam hobi yang sudah ditekuni sejak SMP.

Sejak semester 1 Erma menerapkan kedisiplinan tinggi dengan membuat daftar pencapaian diri. Hal tersebut terus ia terapkan hingga memasuki semester akhir.

“Ketika merasa jenuh dengan perkuliahan yang saya jalani, pencak silat selalu jadi tempat terbaik untuk berlari,” lanjut Erma.

Selepas wisuda, Erma mengaku tidak ingin terburu-buru melangkah. Ia mengatakan masih ingin menikmati udara segar setelah melewati proses panjang menempuh S1 Teknik Lingkungan. Kemungkinan besar Erma akan mempersiapkan bahan tempur untuk kehidupan selanjutnya yaitu bekerja.

“Saya berencana untuk melamar pekerjaan di bidang pemberdayaan masyarakat. Di samping itu, saya ingin menularkan ilmu pencak silat kepada anak-anak kecil, khususnya kepada siswa sekolah dasar,” pungkasnya. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh




Teliti Pernikahan Jarak Jauh Anggota TNI-AL

UNAIR NEWS – Tertarik dengan topik pernikahan jarak jauh para anggota TNI-AL yang terbiasa meninggalkan keluarga untuk tugas negara dan berlayar dalam hitungan tahun, Umi Inayah mengangkat hal itu menjadi topik skripsi. Skripsi itu lantas a beri judul ‘Peran Dukungan Sosial Suami terhadap Kesepian pada Istri TNI-AL yang Menjalani Pernikahan Jarak Jauh (Long Distance Marriage)’.

“Nah dari situ aku mikir, apakah istri pelaut (TNI-AL, Red) kesepian? Terus, apakah dukungan sosial suami berperan sekalipun pernikahannya jarak jauh? Akhirnya aku angkat tema ini,” ujar Umi Inayah, wisudawan terbaik S1 Fakultas Psikologi periode Maret 2019 yang meraih IPK sebesar 3,70.

Selain kuliah, di Fakultas Psikologi UNAIR, perempuan kelahiran Samarinda, 10 Januari 1998 itu aktif mengikuti berbagai kompetisi dan lomba. Menjadi delegasi Fakultas Psikologi untuk olimpiade maupun cerdas cermat. Dari semua kompetisi yang pernah diikuti, yang paling berkesan menurut Umi adalah ketika meraih juara III Olimpiade Psikologi Indonesia di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan menjadi finalis lomba cerdas cermat di Universitas Diponegoro (UNDIP).

“Sekalipun nggak selalu juara, yang penting kan, mencoba ya. Dapet pengalaman juga yang penting,” ujar alumnus SMAN 8 Surabaya itu.

Diakui Umi, perjuangan selama menempuh studi S1 adalah perihal mengatur waktu. Dirinya mengaku adalah tipe pencemas. Merasa cemas berlebih saat deadline sudah mepet.

Mengisi waktu, saat ini Umi sedang magang di biro psikologi Unit Pelayaan Psikologi UNAIR. Ia mengaku ingin melanjutkan kuliah psikologi profesi, namun masih mencari lowongan beasiswa. Kepada mahasiswa S1, Umi berpesan agar tidak pernah takut untuk mencoba, dalam hal apapun itu.

“Setelah kita mencoba, yang penting kan, usaha. Nah, hasilnya itu biar Allah yang menentukan. Pokoknya kita usaha aja, deh. Lebih baik kalah dalam peperangan dari pada kalah sebelum berperang. Iya kan?,” paparnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh




Beberapa Bulan Kerjakan Skripsi di Rumah Sakit

UNAIR NEWS – Dwinita Ayuni Larasati menjadi salah satu wisudawan yang berbahagia pada wisuda Universitas Airlangga periode Maret 2019. Bagaimana tidak, gadis yang menempuh studi Ilmu Komunikasi itu berhasil dinobatkan sebagai wisudawan berprestasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Salah satu prestasi yang mengantarkan Dwinita meraih predikat sebagai wisudawan berprestasi adalah tahun 2016 ia meraih Juara 1 Youth Excursion Innovation and Creativity from ASEAN Youth Leader to the World, yang diselenggarakan di Korea. Dwinita mengatakan, nilai adaptasi, toleransi, ketahanan diri, dan keteguhan hati yang ia pelajari dari program itu adalah yang paling berkesan baginya semasa kuliah di UNAIR.

Mengharukan. Di tahun terakhir perkuliahan, saat sedang fokus menyelesaikan tugas akhir, Dwinita dihadapkan dengan prioritas menjaga anggota keluarga yang sedang tidak dalam kondisi stabil. Meski sejak awal tahun perkuliahan ia sudah menjalani rutinitas kuliah sembari berbagi tugas menjaga anggota keluarga yang sakit.

“Karena keadaan, saya mengerjakan skripsi selama beberapa bulan di rumah sakit, dan berusaha menyelesaikan studi dengan tepat waktu,” ujar gadis kelahiran 30 Januari 1996 itu.

Setelah studi S1 selesai, sesuai cita-cita yang ia ukir sejak SMP, Dwinita berkeinginan untuk studi di luar negeri.

“Hingga detik ini, saya masih berkeinginan dan bercita-cita melanjutkan studi lanjut di luar negeri, dan harapan saya adalah dapat menempuhnya dengan beasiswa, meski tentu saya tidak mudah, saya akan coba hadapi tantangan apapun yang diberikan,” terangnya.

Untuk teman-teman yang saat ini sedang menempuh studi S1, Dwinita memberikan tips untuk memanfaatkan sebaik mungkin waktu, kesempatan, dan juga tantangan. Sebab menurutnya, banyak dari teman sebaya yang belum tentu memiliki jalan dan kesempatan serupa. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh




Temukan Cara Hadapi Technostress

UNAIR NEWS – “Hambatan terbesar menurut saya ialah diri sendiri, apapun itu” ucap Retno Pusalia usai menceritakan perjuangannya selama menempuh studi. Mahasiswa asal Banyuwangi itu berhasil mengakhiri studi S2-nya dengan predikat wisudawan terbaik S2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga. Retno membukukan IPK dengan hasil yang memuaskan yaitu 3,91.

Dalam tugas akhirnya, Retno membuat Tesis dengan judul Coping Strategy terhadap Technostress pada Karyawan IT. Topik technostress yaitu stres yang dikarenakan tekhnologi misalnya ICTs (Information and Communication Technologies).

“Technostress itu simplenya merupakan stress yang dirasakan individu karena teknologi,khususnya teknologi komputer,” jelasnya.

Mahasiswa Sains Manajemen itu menambahkan, saat ini hampir semua perusahaan menggunakan ICTs dalam aspek proses bisnisnya. Terlebih para profesional IT perusahaan. Para profesional IT bergulat penuh dengan ICTs dalam kesehariannya dan cenderung terindikasi mengalami technostress.

Berdasarkan penelitiannya itu, Retno menemukan dua strategi yang dilakukan profesional IT dalam mengatasi technostress. Yaitu fokus pada pengelolaan perilaku dan fokus pada pengelolaan emosi.

”Sebenarnya klasifikasi untuk mengatasi technostress tergantung sumbernya, yaitu techno uncertainty, techno complexity, tehcno overload, dan techno invasion,” tambahnya.

Pada pengelolaan perilaku, lanjut Retno, mereka akan cenderung melakukan hal-hal yang bisa mengubah atau meminimalisir technostress. Sedangkan fokus ke emosi, mereka cenderung menerima saja dan menganggap kalau masalah itu akan selesai dengan sendirinya.

Retno menuturkan, ada hal yang harus diperhatikan ketika menempuh studi S2 yakni memperkuat motivasi dari diri sendiri untuk menyelesaikan setiap hal yang telah dimulai. Karena jika sudah termotivasi maka rencana-rencana akan diusahakan untuk direalisasikan.

Retno mengaku bnyak hal yang diperoleh selama berkuliah. Bukan hanya terkait akademik namun juga bagi kehidupan yang pada akhirnya membuat dirinya dapat mengatakan bahwa motivasi terbaik berasal dari diri sendiri.

“Segala pencapaian atau keputusasaan yang telah dilalui pada akhirnya akan menjadi masa lalu, rasa bahagia, kecewa, dan segala rasa adalah bagian dari cerita kehidupan kita, tetap berprasangka baik pada Tuhan, Tuhan Maha baik kepada kita,” pungkasnya. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan




Kaji Timbulan Sampah Serta Cara Kelola Sampah Berkelanjutan

UNAIR NEWS – Rasa bosan dan jenuh kadang timbul dan menjadi tantangan ketika menempuh studi. Namun rasa bosan tersebut bisa dijadikan motivasi untuk segera menyelesaikan studi secepatnya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Dr. Hastarini Dwi Atmanti, SE, M. Si.

Selain menyelesaikan studi lebih cepat, Dr. Hastarini juga berhasil menjadi wisudawan terbaik S3 Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga. Perempuan kelahiran Semarang, 21 Agustus 1975 itu berhasil mengakhiri kuliahnya dengan IPK 3,93.

Mengenai disertasinya, Dr. Hastarini mengangkat judul Kajian Timbulan Sampah dan Strategi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Provinsi Jawa Tengah. Dalam disertasinya itu, topik yang dibahas ialah mengenai timbulan sampah padat yang meningkat volumenya seiring dengan kenaikan jumlah penduduk.

Maka dari itu, pengendalian sampah bisa dengan upaya mengurangi kepadatan penduduk melalui program Keluarga Berencana (KB). Upaya pengurangan timbulan sampah, lanjutnya, yaitu dengan kegiatan pilah sampah antara sampah organik dan sampah anorganik, mengingkatkan kepedulian untuk mengelola sampah dari sumber sampah, serta meningkatkan layanan persampahan secara merata di semua wilayah.

“Jika hidup bersih, akan meningkatkan kesehatan sehingga produktivitas masyarakat meningkat. Produktivitas meningkat maka pada akhirnya kesejahteraan masyarakat meningkat,” tambahnya.

Selain kuliah, Dr. Hastarini juga kerap mengikuti seminar maupun workshop sebagai bekal untuk proses belajar mengajar. Mengingat saat ini kesibukannya ialah mengajar di institusi asal yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro.

“Rencananya, ke depan saya akan menulis buku dan karya ilmiah yang lain untuk memperkaya khasanah keilmuan,” tambahnya.

Menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan dengan baik merupakan suatu prestasi bagi dirinya. Namun menyelesaikan studi terlebih dahulu dibanding teman-temannya bukan berarti dirinya lebih unggul dari yang lain. Dr. Hastarini menambahkan, tips untuk mahasiswa yang menempuh studi S3 adalah rajin untuk membaca, diskusi dengan teman maupun dosen, serta memohon petunjuk pada Allah SWT untuk senantiasa dimudahkan dalam menempuh studi, juga dukungan dari keluarga. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan




Ikuti Program Fast Track, Organisator, sampai Jadi Selebgram

UNAIR NEWS – Mengikuti program Fast Track, aktif dalam organisasi, dan menjadi selebgram/influencer dengan lebih dari 33 ribu follower tak menjadikan Rana Adelisa meninggalkan studinya. Rana mampu menyeimbangkan kegiatan di kampus yaitu belajar dengan kegiatan di luar seperti organisasi dan aktif di instagram.

“Dengan waktu yang ada kita harus mampu menyelesaikan kegiatan mana dulu yang harus kita laksanakan dan ini berkaitan dengan skala prioritas,” tambahnya.

Rana berhasil meraih predikat wisudawan terbaik S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR dengan IPK yang membanggakan yaitu 3,93. Capaiannya tersebut tentu tidak datang begitu saja. Rana harus pintar-pintar mengatur waktu serta selalu belajar dengan bersungguh-sungguh.

“Jangan lelah untuk belajar karena dengan belajar kita akan mengetahui segala hal,” tambahnya.

Mahasiswa yang mengangkat judul skripsi  “Corporate Governance, Masa Jabatan CEO, dan Struktur Modal” itu kini tengah sibuk kuliah di S2 Magister Sains Manajemen UNAIR dengan konsentrasi keuangan. Ketika masih semester 7, Rana juga mulai menempuh semester 1 di jenjang S2 dalam program Fast Track.

Rana menuturkan, dirinya kini aktif sebagai Sekretaris Forum Ilmuwan Manajemen S2 Magister Sains Manajemen. Ia juga pernah menjadi bendahara himpunan mahasiswa S1 Manajemen UNAIR serta bendahara penerima Djarum Beasiswa Plus.

Selain kuliah, Rana juga aktif dalam media sosial Instagram. Dengan nama akun @ranaadelisa, ia fokus tentang fashion dan beauty dan sering membagikan tentang tutorial make up dan hijab. Di samping menerima banyak tawaran endorse serta paid promote, Rana juga bekerjasama dengan brand-brand besar. Ia juga sering menjadi pembicara di beberapa talkshow di berbagai universitas.

Duta Lingkungan Favorit FEB UANIR 2016 itu menambahkan, kunci suksesnya selama ini ialah terus mengingat tujuannya agar selalu bersemangat. Membahagiakan orang tua juga menjadi faktor penting dalam kesuksesannya.

“Perlu diingat man jadda wa jada, barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil,” pungkas  mahasiswa kelahiran Surabaya, 2 Juli 1997 itu. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan




Sempat Kaget dengan Dunia Perkuliahan

UNAIR NEWS – Menjadi mahasiswa baru (maba) sempat membuat Amelia Virismanda Vantri merasa kaget dengan dunia perkuliahan yang berbeda dengan masa sekolah. Namun, mahasiswa S1 Ilmu Hukum itu berhasil lulus dengan IPK yang membanggakan yaitu 3,93. Mahasiswa kelahiran Surabaya, 7 Januari 1997 itu berhasil dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S1 Fakultas Hukum UNAIR periode Maret 2019.

“Di awal menjadi seorang mahasiswa saya cukup bekerja keras untuk memahami setiap mata kuliah,” tutur peraih IPK 3,93 itu.

Namun, lanjut Amelia, seiring berjalannya waktu ia mengikuti salah satu badan semi otonom di FH yaitu KOMAHI. Dalam organisasi itu, terdapat program kadiksu (kakak didik asuh) yang memberinya kesempatan untuk berdiskusi oleh kakak tingkat.

Di akhir perkuliahannya, Amelia menulis skripsi yang berjudul “Pembatasan Hak Mantan Terpidana Korupsi Sebagai Calon Anggota Legislatif melalui Peraturan Komisi Pemilihan Umum”. Topik yang dibahas berkaitan dengan Hukum Pemilu dan Hak Asasi Manusia.

Di samping perkuliahannya, Amelia juga turut aktif dalam beberapa kepanitiaan serta lomba. Beberapa lomba yang telah diikuti Amelia antara lain kompetisi debat hukum nasional di UB , UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Univ Parahyangan Bandung, dan Nasional Moot Court Competition (NMCC) di Universitas Udayana. Tak hanya itu, ia juga mengikuti beberapa kegiatan Pengabdian Masyarakat baik dari BEM UNAIR, Dosen FH UNAIR, dan Pengmas dari komunitas luar kampus.

“Saat kuliah saya pernah menjadi tim riset untuk delegasi UNAIR dalam kompetisi debat hukum nasional di Universitas Parahyangan Bandung dan mendapat juara 2,” tambahnya.

Saat ini, Amelia menjadi salah satu koordinator daerah Surabaya untuk kegiatan pengabdian masyarakat. Ia juga berencana untuk melanjutkan S2 serta bekerja. Tipsnya menjadi wisudawan terbaik bahwa belajar saja tidak cukup, harus dibarengi dengan doa dan restu dari orang tua. Teman pun sangat berpengaruh dalam perkuliahan.

“Dan sesekali mengikuti kegiatan lomba diluar kampus karena kita bakalan memiliki pengalaman lebih dan juga menambah banyak teman dari luar kampus,” pungkasnya. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh