Lima Program Studi di UNAIR yang Paling Diminati

UNAIR NEWS – Bagi siswa SMA sederajat yang akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, mempertimbangkan dengan baik dan matang-matang dalam memilih program studi merupakan hal yang wajib. Tidak sekadar bermodal pada kemampuan dan kemauan saja, dalam memilih program studi, melihat peluang dan persaingan juga menjadi pertimbangan tersendiri. Pasalnya, dengan melihat jumlah pesaing pada program studi yang akan dipilih, siswa diharapkan bisa mempersiapkan banyak hal. Terlebih jika program studi yang dipilih menjadi impian dan rebutan banyak orang.

Kali ini UNAIR NEWS akan menyajikan data lima program studi di Universitas Airlangga dengan peminat paling banyak pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun lalu, 2017. Berdasar data yang didapat dari Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) UNAIR, rata-rata peminat dari lima program studi itu menembus pada angka ribuan.

Pada kelompok saintek (Sains dan teknologi), Pendidikan Dokter UNAIR menjadi program studi pertama yang paling tinggi peminatnya, yakni 1775 orang. Sementara itu, pada kelompok soshum (sosial dan humaniora), Manajemen UNAIR tercatat sebagai program studi yang mampu memikat peserta hingga 2219 peminat. Berikut adalah grafis lima program studi di UNAIR yang paling banyak diminati pada SNMPTN tahun 2017.

Grafis: Feri Fenoria

Penulis: Nuri Hermawan

 




Kata Mereka, Saat Kembali Mengabdi dan Kenalkan UNAIR di SMA

UNAIR NEWS – Musim liburan menjadi ajang bagi Ksatria Airlangga untuk kembali ke almamater lama. Melakukan pengabdian dengan mengenalkan Universitas Airlangga dan memberikan arahan adik angkatan untuk menatap masa depan. Berikut adalah kesan mereka, Ksatria Airlangga saat kembali menengok almamater yang selama 3 tahun menjadi tempat menempa diri.

“Berbagi tidak harus dengan harta tetapi bisa juga dengan ilmu dan pengalaman. Saya merasa sangat senang bisa berbagi sedikit ilmu dan pengalaman saya kepada adik angkatan agar mereka bisa lebih bersemangat dan menjadi orang yang sukses.”

  • Cindra Andini, Bojonegoro

“Bertemu dengan adik-adik SMA dan bisa berbagi pengalaman yang kita punya merupakan kesenangan tersendiri, karena dengan begitu kita dapat menjadi motivator tak langsung untuk mereka agar tetap berusaha mencapai apa yang mereka inginkan.”

  • Ristiana Wira Hariyanti, Kebumen

“Sosialisasi merupakan wadah untuk memberikan informasi kepada siswa/siswi SMA sederajat yang tidak tahu menahu tentang UNAIR atau Bidikmisi. Terutama sekolah-sekolah terpencil yang jauh akan informasi yang bisa didapat oleh siswa yang ingin melanjutkan pendidikannya dan tidak mampu secara ekonomi. Hal tersebut kita lakukan sebagai cara pengabdian kita kepada UNAIR dan Bidikmisi.”

  • Elma Yuliana, Tuban

“Menjadi bagian dari perantara harapan penerus bangsa adalah sebuah kehormatan. Dari sederet aktivitas dan tanggung jawab yang saya emban ini saat ini, rasanya tidak adil jika tidak meluangkan waktu untuk mereka. Seakan-akan kita hanya memikirkan diri sendiri dan acuh dengan orang lain. Jangan pernah lelah mengabdi untuk masa depan yang lebih baik. Salam meraih asa!”

  • Shamsul Arif, Jombang

“Berkunjung kembali ke almamater yang mendidikku selama 3 tahun membuatku mengerti apa arti berbagi ilmu dan bagaimana capeknya perjuangan ngomong dari pagi sampai sore. Tapi bagiku itu suatu hal yang indah dan menyenangkan karena aku bisa berbagi ilmu dan pengalamanku.”

  • Isna Sari, Jepara

 

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan




Prof. Pudji: SDM Kunci Melangkah Ke Kancah Dunia

UNAIR NEWS – Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Universitas Airlangga, Prof. Dr. Pudji Srianto, drh., M.Kes., menjadi dekan berikutnya yang UNAIR NEWS tampilkan dalam liputan khusus “Dekan Kita” kali ini. Ditemui pada Senin (15/1), dekan yang akrab disapa Prof. Pudji itu menceritakan berbagai kiat dan strategi untuk membawa FKH UNAIR ke kancah dunia.

Sebelum membeberkan berbagai kiat dan strategi, Prof. Pudji terlebih dahulu mengutarakan bahwa tekadnya menjadi dekan merupakan keinginan pribadi. Hal itu dilandasi dari tanggung jawab yang perlu dilanjutkan usai menjabat menjadi Wakil Dekan II FKH UNAIR selama dua periode.

“Saat menjabat sebagai wakil dekan, saya merasa ada tanggung jawab yang harus dilanjutkan,” jelasnya.

Perihal strategi, Prof. Pudji mengatakan bahwa langkah untuk internasionalisasi FKH UNAIR sudah dilakukan lebih awal. Bahkan, sebelum pencanangan UNAIR menuju kampus kelas dunia, FKH UNAIR telah mencanangkan hal itu terlebih dahulu. Hal ini, tambah Prof. Pudji, bisa dilihat dari kegiatan visiting professor serta kegiatan mahasiswa yang inbound dan outbound.

“Untuk langkah internasionalisasi selanjutnya, FKH UNAIR tinggal memperluas jaringan saja,” imbuhnya.

Perihal itu, berbagai langkah terus ditingkatkan, utamanya dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Selain itu, tambah Prof. Pudji, FKH UNAIR terus berupaya mendorong civitas akademika agar kuliah di luar negeri serta meningkatkan publikasi jurnal internasional terindeks scopus. Hal itulah yang tidak luput dari strategi nyata yang terus dilakukan FKH UNAIR.

“Untuk turut menyukseskan program yang kita susun bersama, kami meminta dosen dan mahasiswa untuk aktif dalam riset. Dan tentunya, luaran yang dihasilkan adalah jurnal internasional ataupun prosiding yang di seminarkan,” paparnya.

Pada akhir, Prof. Pudji juga mengatakan berbagai tantangan yang dihadapi. Tantangan terbesar yang dihadapi ialah teknologi di bidang peternakan dan kedokteran hewan untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja di lapangan.

“Oleh karena itu kita membuka kelompok peminatan serta magang di mitra fakultas, alumni ataupun stakeholder. Hal itu sudah disiapkan dengan harapan mencetak lulusan yang percaya diri dan mampu menangani masalah secara umum,”  tambahnya.

Kemudian, ke depan dengan kualitas SDM yang mumpuni, Prof. Pujdi terus bertekad untuk menjadikan FKH UNAIR semakin memiliki andil lebih dalam menjadi solusi permasalah baik di kancah nasional maupun internasional.

“Ini yang kita kejar dengan kemampuan yang kita punyai,” pungkasnya.

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Nuri Hermawan




Menggerakkan Minat Baca dengan “Perpustakaan Ontel”

UNAIR NEWS – Berawal dari keresahan saat melihat kurangnya minat baca yang terjadi pada masyarakat saat ini, sosok Yunaz Ali Akbar Karaman, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakulltas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga mencoba mengurai permasalahan tersebut dengan cara menginisiasi adanya media membaca lewat perpustakaan keliling.

Yunaz memilih menggunakan sepeda lantaran dirasa lebih memiliki mobilitas dan dekat dengan masyarakat, bahkan anak-anak muda di warung kopi (warkop). Selain itu, saat ini ia juga fokus pada anak-anak kecil dengan mengajak membaca dan menulis banyak hal seputar dunia anak yang disebar secara gratis.

“Saya mencoba menjemput bola dengan langsung mendatangi masyarakat dari satu tempat ke tempat lain,” kata Yunaz.

Kepada UNAIR NEWS, mahasiswa kelahiran Malang, 24 April 1997 itu mengatakan bahwa perpustakaan keliling yang dinamai Perpustakaan Onthel Prasojo itu dimulai sejak bulan Agustus 2017. Untuk jangkauannya, Yunaz mengatakan bahwa lingkupnya masih di dalam Surabaya dengan berkeliling dari warkop ke warkop dan Car Free Day di kawasan Darmo. Namun pada bulan November yang lalu, perpustakaan keliling itu sempat menjangkau daerah Mojokerto.

“Nantinya, dalam jangka panjang saya akan memulai lebih jauh lagi sekaligus touring mengajak masyarakat untuk membaca,” terangnya.

Untuk melakukan program mulia itu, Yunaz juga menggandeng teman-teman relawan. Menurutnya, antusiasme kawan-kawan sukarela sangat tinggi, mereka pun memakai sepeda yang diberi kotak dari kayu untuk membawa buku-buku. Selain itu, relawan juga ada yang melakukan publikasi kegiatan tersebut lewat media sosial.

Perpus ontel
Perpustakaan Ontel siap beraksi. (Dok. Pribadi)

Selanjutnya, perihal konten bacaan, Yunaz dan tim tidak hanya menyediakan buku tentang sejarah, aksi massa, majalah, dan ensiklopedia, melainkan juga menerbitkan karyanya sendiri diantaranya, Cerita Rakyat dan Budaya Tradisi Nusantara, Berbagai Cahaya, Disastra, dan Janji Seekor Tikus dan Semut.

“Sebagian besar  buku kami memang masih berasal dari milik pribadi dan donasi dari masyarakat,” jelasnya.

Dalam mempelopori gerakan membaca di tengah kurangnya minat baca masyarakat, Yunaz merasakan berbagai kendala. Utamanya, kendala yang berasal dari diri sendiri, terlebih ketika semangat sudah melemah sehingga terkadang urung jalan.

“Semoga ke depan melek baca masyarakat lebih meningkat lagi dan pasti akan muncul ide-ide baru terkait solusi permasalahan bangsa ini atau gagasan masyarakat.” Harap peraih beasiswa Rumah Kepemimpinan yang saat ini menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB UNAIR.

 

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Nuri Hermawan




Menemukan Jati Diri Melalui Organisasi

UNAIR NEWS – Mahasiswa dan organisasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Berbagai pilihan organisasi yang ada menjadi alternatif untuk mahasiswa mengembangkan potensinya. Untuk itu, pada Liputan Khusus “Ketua BEM Kita” kali ini, UNAIR NEWS berhasil menemui Miftahul Firdaus selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Airlangga.

Mahasiswa asal Banyuwangi itu mengatakan bahwa organisasi merupakan sesuatu yang sangat penting. Selain itu, baginya, banyak sekali hal yang diperoleh dari organisasi, utamanya pengalaman dan ilmu untuk bekal terjun di tengah masyarakat nantinya.

“Menurutku organisasi itu sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan mahasiswa yang menimba ilmu di kampus, karena organisasi itu wadah belajar, berkarya, berinovasi buat teman-teman mahasiswa. Organisasi  sangat penting untuk kebaikan kita sebagai mahasiswa, dengan berorganisasi kita mampu menemukan jati diri kita sesungguhnya sebagai kaum intelektual,” tuturnya.

Selama di bangku perkuliahan, laki-laki yang akrab disapa Daus ini mengikuti berbagai organisasi diantaranya BEM FST 2016,  HIMATIKA (Himpunan Mahasiswa Matematika), serta BEM FST 2018.  Berbekal pengalaman organisasi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan di Sekolah Menengah Atas (SMA), Daus merasa bahwa tidak ada kesulitan terkait manajemen waktu antara kuliah dan organisasi.

Perihal amanah menjadi Ketua BEM FST 2018, Daus mengatakan bahwa kedua orang tuanya sangat mendukung kegiatannya. Meski demikian, orang tua Daus awalnya juga mengkhawatirkan kegiatan akademiknya.

“Orang tua sempat takut akan kegiatan akademik dan sempat hampir tidak diperbolehkan lagi untuk ikut organisasi. Dengan pendekatan maksimal dan meyakinkan, akhirnya di restui juga. Tapi pesan orang tua, kuliah jangan sampai dilupakan,” tutur mahasiswa yang hobi bermain badminton itu.

Aktif dalam berorganisasi memang sebuah pilihan. Terkadang, beberapa mahasiswa masih merasakan keraguan apakah organisasi memiliki dampak yang cukup positif bagi dirinya. Ketika diminta memberikan tanggapan tekait mahasiswa yang demikian, laki-laki kelahiran 3 Mei 1997 ini mengatakan bahwa terlibat dalam organisasi membuat seseorang lebih berkembang.

“Justru dengan terlibat dalam organisasi kita bisa lebih berkembang. Jangan melihat capeknya ketika kita berorganisasi. Capek pasti, tapi akan ada banyak manfaat yang bisa di ambil ketika kita berorganisasi, bukannya kita sedang beinvestasi untuk masa depan? Salah satu investasi yang bisa kita lakukan adalah dengan berorganisasi. Pentingnya organisasi memang tidak mampu kita ukur secara formal, namun bisa kita rasakan dengan perasaan,” pungkasnya.

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Nuri Hermawan




KKN-BBM UNAIR, Menata Desa Membangun Indonesia

UNAIR NEWS – “Membangun Indonesia dari desa”. Itulah yang menjadi salah satu landasan terselenggaranya kegiatan Kuliah Kerja Nyata – Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM) Universitas Airlangga. Selain sebagai bentuk pengamalan tridharma perguruan tinggi, KKN-BBM UNAIR yang pada semester ini memasuki angkatan ke-57 itu ditargetkan mampu menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus mengabdi.

Sebagai pihak yang membawahi program KKN-BBM, Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) UNAIR Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com., saat ditemui pada sela kesibukannya menyatakan, untuk mengoptimalkan peran KKN-BBM, pihaknya terus melakukan berbagai gebrakkan. Salah satunya dengan mendesain ulang berbagai subtansi dan teknis pelaksanaan KKN-BBM.

Re-desain KKN ini merupakan upaya untuk efektifitas progam KKN-BBM agar dampaknya lebih maksimal. Terutama, hal-hal yang berkaitan dengan subtansi KKN-BBM dan penyelenggaraan secara teknis,” jelasnya.

Dalam hal subtansi, Prof. Jusuf menyatakan bahwa UNAIR ingin memberikan sumbangan yang signifikan dalam pembangunan di Jawa Timur dan Indonesia. Salah satunya dengan melakukan pengembangan masyarakat melalui KKN-BBM yang bersifat tematik. Karena itu, tambah Prof. Jusuf, program tersebut harus disesuasikan dengan kebutuhan masyarakat.

“Jadi, dalam KKN-BBM yang tematik ini, bukan lagi kita bisa melakukan apa, tapi masyarakat butuh apa,” terangnya.

Selanjutnya, Prof. Jusuf juga menegaskan bahwa penyelenggaraannya KKN-BBM yang bersifat tematik itu dilakukan dengan berkala dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena itu, Prof. Jusuf mencontohkan, dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN-BBM angkatan ke-56 bertugas untuk melakukan survei dan mengumpulkan data. Kemudian, data yang terkumpul digunakan mahasiswa KKN-BBM angkatan ke-57 untuk menyusun program.

“Ini kita awali pada semester kemarin sehingga dalam lima semester ke depan, bisa kita lihat hasilnya. Dengan melakukan kegiatan yang berkala seperti ini, nantinya kita memiliki desa binaan dan desa mitra startegis,” imbuhnya.

Data yang dikumpulkan tersebut, tambah dia, tidak hanya digunakan oleh mahasiswa angkatan 57, tapi dosen dan pemerintah setempat bisa menggunakan data yang telah dihasilkan oleh mahasiswa.

“Data-data inilah yang menjadi landasan pembangunan dan pengembangan desa terkait,” jelasnya.

Pada akhir, Prof. Jusuf juga kembali menegaskan bahwa untuk melakukan perubahan tidaklah mudah. Ada beberapa pihak yang terlihat canggung dan bahkan tidak sedikit yang merasa bingung dengan model KKN-BBM yang baru saja diterapkan. Karena itu, Prof. Jusuf dan tim sebelum mengeksekusi kegiatan terus melakukan sosialiasasi dan pendekatan kepada dosen serta mahasiswa.

“Namanya perubahan tidak serta langsung diikuti pihak lain. Awalnya memang beberapa pihak kaget, kok banyak yang berubah. Mahasiswa juga demikian, dulu tidak begini kok sekarang. Nah itu solusinya kita sosulasisasi dan jelaskan,” paparnya. “Jangan berhenti untuk perubahan, terbukti, semester ini tidak ada banyak protes seperti semester sebelumnya,” imbuhnya.

Untuk mengetahui jumlah sebaran mahasiswa yang mengikuti KKN-BBM di sembilan kabupaten dan kota, UNAIR NEWS  berhasil merangkumnya dalam info grafis berikut:

Ilustrasi
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

 

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria




Peran Strategis Relawan untuk Pembangunan Berkelanjutan

UNAIR NEWS – Relawan memiliki peran yang sangat penting dalam membantu pemerintah guna menjalankan misi pembangunan. Terutama dalam melakukan pembangunan berkelanjutan. Mengenai peran relawan, UNAIR NEWS berhasil menemui salah seorang Ksatria Airlangga yang turut berperan aktif dalam dunia kerelawanan. Ialah Wachidatul Qomariah, mahasiswa S1 Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

Mahasiswa yang akrab disapa Icha itu menyatakan bahwa dalam menjalankan peran sebagai  relawan, kerja sama menjadi modal utama. Sebab, dengan kerja sama yang baik, tambah Icha, fungsi kerelawanan untuk turut serta menyukseskan program pembangunan berkelanjutan bisa terlaksana dengan baik.

Mengenai peran penting relawan dalam pembangunan berkelanjutan itu, Icha menyatakan bahwa hasil dari upaya yang dilakukan memang tidak bisa dilihat dalam waktu dekat. Mahasiswa yang turut menggagas lahirnya komunitas Urban Care tersebut juga menegaskan bahwa perubahan yang perlahan bisa dilihat dari peran relawan, yakni adanya perubahan mental anak didik.

“Kegiatan volunter itu adalah kegiatan jangka panjang, bukan jangka pendek. Kadang kita merasa kok belum ada hasilnya. Memang sekarang belum terlihat, tapi nanti kita bisa merasakannya,” terang Icha.

Kerelawanan
Wachidatul Qomariah saat memberikan materi seputar kerelawanan dalam sebuah acara beberapa pekan lalu. (Foto: Nuri Hermawan)

Untuk mengoptimalkan peran relawan, tentu banyak tantangan dan hambatan. Menurut Icha, tantangan terberat yang dirasakan saat menjadi relawan adalah mempertahankan komunitas. Hal itu biasanya muncul dari rasa kurang kompak dari internal pengurus atau anggota komunitas.

“Jadi, dari internal harus dibangun lebih solid lagi agar seluruh relawan punya rasa memiliki terhadap organisasi. Jadi, muncul rasa kepedulian untuk mempertahankan komunitas bersama-sama,” katanya.

Selanjutnya, untuk menyiasati tantangan tersebut, Icha mengakui bahwa salah satu solusinya bisa dengan mengoptimalkan peran media sosial di tengah kemajuan zaman. Bagi dia, kehadiran media sosial bisa membantu dalam mengoptimalkan peran kerelawanan.

“Jadi, jenis relawan itu juga ada dua. Ada offline ada online. Sebagian mereka, ada yang bisa meluangkan waktu hadir. Ada pula yang aktif dalam menyumbangkan gagasan di media sosial,” imbuhnya.

Pada akhir, Icha menjelaskan bahwa peran media sosial juga bisa dirasakan saat komunitas mengadakan sebuah kegiatan atau menggalang dana. ”Jadi, seperti mengumpulkan buku buat anak-anak, kami menggunakan fungsi media sosial. Dengan begitu, kami pernah mendapatkan donasi buku dari berbagai wilayah di Indonesia,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria




Prof. Win Dorong Fakultas yang Unggul dan Berkelas Internasional

UNAIR  NEWS – “Dekan Kita” merupakan sajian baru yang menjadi bagian dari liputan khusus UNAIR NEWS. Liputan khusus “Dekan Kita” bakal menggali berbagai informasi tentang kiprah dan langkah-langkah startegis 14 dekan di lingkungan Universitas Airlangga. Kali ini, UNAIR NEWS berhasil  mengulas berbagai informasi dari Prof. Win Darmanto, drs., M.Si., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknolog (FST), UNAIR.

Ditemui di ruang kerjanya pada Senin (8/1), dekan yang akrab disapa Prof. Win itu menyampaikan bahwa menjadi dekan bukan merupakan impiannya. Hal itu dikarenakan, ketertarikan yang ia tekuni selama ini adalah fokus pada bidang penelitian.

“Ya sudah, semua seperti air mengalir,” tandasnya. “Dorongan dan dukungan lingkungan sekitarlah yang sebenarnya membuat saya terpilih menjadi dekan hingga 2020 mendatang,” paparnya menambahkan.

Perihal amanah menjadi dekan, Prof. Win memiliki segudang strategi, utamanya dalam mengembangkan iklim riset yang kondusif. Dosen Departemen Biologi itu berkomitmen bahwa saat diawal menjabat, ia selalu berkeinginan untuk membawa fakultas yang dipimpinnya unggul di bidang penelitian dan kolaborasi dengan pihak luar.

“Entah bagaimana caranya, kami terus berupaya membawa iklim penelitian di FST UNAIR  bisa hidup,” ungkap Prof. Win dengan semangat.

Selanjutnya, Prof. Win juga menyatakan bahwa tantangan FST UNAIR untuk penelitian sampai saat ini ada pada laboratorium. Di FST UNAIR, laboratorium pendidikan untuk praktikum yang tersedia dengan baik, sedangkan laboratorium untuk riset masih dalam proses pengembangan.

“Kami selalu mengupayakan adanya penunjang riset yang memadai. Semua sudah mulai ada tambal dan proses,” jelasnya.

Tekad untuk mengembangkan fasilitas penunjang riset dinilai sangat penitng. Pasalnya, bagi Prof. Win, jika sarana laboratorium tersebut tersedia dengan baik, ke depan secara tidak langsung seluruh civitas akademika FST UNAIR dapat tergerak untuk menggenjot kualitas dan kauntitas riset.

Capai Target

Menjadi bagian dari UNAIR, FST UNAIR juga turut serta ikut andil dalam mengantarkan UNAIR menjadi kampus 500 dunia, salah satunya dengan capaian hasil penelitian. Untuk itu, Prof. Win menunjukkan berbagai hasil capaian riset yang selama ini sudah dilakukan. Tercatat pada tahun 2016 dan 2017 target untuk memenuhi jumlah jurnal yang terindeks Scopus dapat terlampaui semua.

“Kita sudah mencapai hampir 3 kali lipat dari target jurnal di 2017. Dan tahun 2018 ini kami dapat target untuk bisa menembus angka 450 jurnal terindeks Scopus,” tambahnya.

Tidak hanya dalam bidang penelitian, capaian lain yang diraih oleh FST UNAIR adalah akreditasi empat program studi oleh ASIIN (Accreditation Agency for Degree Programs in Engineering, Informatics/Computer Science, the Natural Sciences and Mathematics). Meski hasil akreditasi oleh lembaga akreditasi yang berkedudukan di Jerman itu belum keluar, Prof. Win merasa bangga bahwa FST UNAIR bisa terus berbenah dan bergerak ke jenjang internasional.

Selanjutnya, saat ditanya perihal pandangan terhadap mahasiswa sekarang, Prof. Win mengatakan bahwa terdapat penurunan produktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa. Hal ini ditengarai karena dampak media sosial.

“Waktunya lebih banyak digunakan untuk membuka HP dari pada belajar. Kadang saya berfikir bagaimana kalau belajar itu lewat HP,” terangnya.

Pada akhir, Prof. Win berharap bahwa ke depan dorongan untuk meningkatkan produktivitas FST UNAIR semakin tinggi lagi, baik di bidang penelitian, pengajaran, dan kerja sama.

“Bangsa Indonesia ini perlu tenaga teknologi baik terapan maupun dasar yang menjadi tumpuan bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang jumlah engineer dan scientist-nya tinggi dan kualitasnya bagus,” ujarnya. “Tapi semua kerja itu harus ikhlas,” pungkas dekan yang mengelola 11 program studi itu.

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Nuri Hermawan




Ikuti Organisasi untuk Belajar dan Mengabdi

UNAIR NEWS – “Ketua BEM Kita” bakal menjadi liputan khusus dari UNAIR NEWS. Liputan khusus ini akan mengulas seputar berbagai hal dari Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) masa bakti 2018 yang tersebar di  14 Fakultas di Universitas Airlangga. Untuk kesempatan pertama yang tampil dalam liputan khusus ini, UNAIR NEWS berhasil menggali informasi dari Ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNAIR) Rizky Ananda Putra.

Saat diwawancarai UNAIR NEWS melalui whatsapp pada Selasa (2/1), mahasiswa semester enam itu mengaku bahwa pentingnya sebuah organisasi bagi seorang mahasiswa. Baginya, pengalaman dan ilmu yang didapat di organisasi tidak bisa didapatkan ketika belajar di dalam kelas.

Menurut mahasiswa yang akrab disapa Ape tersebut, perubahan tidak akan dapat dilakukan sendiri, perlu adanya sebuah komunitas yang mendukung. Untuk itu, bagi Ape, harus ada sekelompok orang yang memiliki visi yang sama untuk mencapai perubahan tersebut.

“Selain itu, alasan terbesar saya bergabung organisasi agar bisa memberi kebermanfaatan lebih untuk orang-orang sekitar. Karena prinsip saya, sebaik-baik umat adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” ujar alumnus SMAN 4 Surabaya tersebut.

Hingga saat ini, tercatat organisasi yang pernah diikuti oleh Ape semasa duduk di bangku kuliah ialah Sobat BEM FEB UNAIR Staf PSDM (2015) , Staf PSDM BEM FEB UNAIR (2016), Deputi Hubungan Luar BEM FEB UNAIR (2017), Dewan Pengawas HIMA Manajemen UNAIR (2017), serta kini ia menjabat sebagai Ketua BEM FEB UNAIR (2018).

Semenjak mengikuti berbagai organisasi tersebut, Ape mengaku tidak begitu kesulitan membagi waktu. Hal ini dikarenakan tekad dari awal yang sudah ia bangun bahwa untuk mengikuti berbagai organisasi harus lihai dalam mengatur waktu.

“Hanya saja kadang waktu istirahat menjadi tidak teratur lagi karena tidak jarang saya harus mengikuti rapat hingga tengah malam,” terangnya.

Meski berbagai kesibukan menumpuk, Ape memiliki prinsip bahwa segala kesulitan yang ia hadapi merupakan konsekuensi logis dari jalan yang ia pilih. Untuk itu, saat ada hambatan ia tetap semangat dan terus aktif dalam berorganisasi.

“Tipsnya main prioritas saja sebenarnya. Mana yang penting dan mendesak, penting dan tidak mendesak, tidak penting dan mendesak, serta tidak penting dan tidak mendesak. Kuadran ini yang sering saya pakai untuk mengurangi kegiatan yang sia-sia,” tuturnya saat ditanya tips membagi waktu.

Pada akhir, Ape mengaku bahwa sejauh ini, kedua orang tuanya tetap mendukung berbagai kesibukan dan kegiatannya. Selain itu, kepada mahasiswa yang aktif dalam organisasi Ape berpesan, jangan pernah merasa lelah dengan kesibukan dan perjuangan yang sudah dilakukan.

Insya Allah apa yang kita tanam saat ini mampu menjadi pertanggungjawaban atas hidup yang kita jalani sekarang ini dihadapan-Nya kelak,” pungkasnya.

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Nuri Hermawan




Bangga diajar Dosen Berwawasan Global

UNAIR NEWS – Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh Fakultas Keperawatan (FKp) adalah keberadaan dosen-dosen yang berwawasan global. Para pengajar itu tak pernah pelit membagi ilmu pada mahasiswa di sana.

Demikian yang diungkapkan oleh Qurrata A’yuni Rasyidah, salah satu mahasiswi angkatan 2015. “Banyak dosen yang punya pengalaman belajar di luar negeri. Kami ikut bangga dan kagum. Para pengajar di sini bukan orang sembarangan,” papar dia.

Para dosen juga memiliki sikap kekeluargaan. Sehingga, membuat nyaman suasana perkuliahan. Apalagi, selama ini banyak pula dosen yang secara khusus turun tangan dalam membantu kegiatan mahasiswa. Baik di organisasi, maupun di komunitas minat dan bakat.

“Pembimbing Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) memiliki kepedulian pada kegiatan akademik maupu  non akademik yang kami lakukan,” tandas dia.

Misalnya, dengan cara mencarikan peluang dan wadah bagi mahasiswa untuk mengikuti even-even positif. Ketika mahasiswa terkendala dalam masalah biaya di bagian keuangan, pembimbing akan memberi saran serta mencarikan solusi.

Pembimbing juga ikut terjun langsung membantu kegiatan. Contohnya, tatkala ada mahasiswa FKp mengikuti lomba poster dan membutuhkan voting “like” di instagram untuk bisa masuk ke babak berikutnya, pembimbing turut menyebarluaskan informasi guna pengumpulan massa voting. Pembimbing selalu bersemangat memompa motivasi mahasiswa. Perannya pun kongkret sehingga dampaknya bisa langsung dirasakan.

Kuliah di FKp memberi banyak manfaat bagi para mahasiswanya. Termasuk, manfaat di aspek mental atau keseimbangan kejiwaan. Maksudnya, para mahasiswa digembleng untuk lihai merawat orang lain yang sedang sakit. Di waktu yang sama, rasa syukur karena diberi kesehatan ikut terpupuk.

“Kami jadi lebih menghargai kesehatan, dan tidak mau menyakiti orang lain, baik fisik maupun psikis. Karena sakit itu tidak enak,” ungkapnya. “Rasa kepekaan sosial terus terasah,” imbuhnya.

Ditambahkan Emha Rafi Pratama, salah satu mahasiswa, dekanat selalu memberi ruang para mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam ajang internasional. Dengan demikian, pengalaman berharga dapat diraih para mahasiswa tersebut. “Kegiatan organisasi kami, bahkan program kerja besar sekalipun, pasti didukung penuh,” ungkap dia. (*)