KKN UNAIR ke-58 Sasar Lima Kota

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga  terus berupaya turut ambil andil dalam memberikan sumbangsih untuk kemajuan bangsa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tidak hanya dilaksanakan di kota Surabaya saja, KKN ke-58 tersebut juga dilaksanakan di beberapa kabupaten di sekitar Kota Surabaya.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa sangat dinanti perannya untuk memberikan perubahan yang lebih baik bagi wajah dan peradaban bangsa. Dengan ilmu yang sudah didapat mahasiswa di perguruan tinggi, masyarakat percaya bahwa mahasiswa mampu untuk memajukan daerah-daerah tertinggal.

Data KKN tahun ini menunjukkan sekiranya ada lima kota/kabupaten yang akan menjadi tempat KKN bagi mahasiswa Universitas Airlangga. Daerah-daerah tersebut antara lain Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Banyuwangi.

Mengenai rincian jumlah mahasiswa di setiap daerah, sudah di tentukan oleh pihak universitas. Mahasiswa yang melakukan KKN di Kota Surabaya menjadi jumlah terbanyak yaitu 1050 mahasiswa dengan 20 dosen pembimbing. Di Kabupaten Gresik sekiranya ada 1020 mahasiswa dan 25 dosen pembimbing. Sedangkan di Kabupaten Lamongan terdapat 350 mahasiswa dan 9 dosen pembimbing. Di Kabupaten Jember ada 240 mahasiswa dan 7 dosen pembimbing serta di Kabupaten Banyuwangi terdapat 280 mahasiswa dan 7 pembimbing.

Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, M.Com., selaku ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) UNAIR menuturkan, pada KKN tahun ini kota yang dituju lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Prof. Jusuf menambahkan, jika tahun sebelumnya terdapat 10 kota yang dituju, tahun ini hanya sejumlah 5 kota saja. Hal itu dikarenakan banyak mahasiswa UNAIR yang diminta oleh Pemerintah Kota Surabaya.

“Jika tahun kemarin ada banyak kota dan kabupaten yang kami tuju, tahun ini hanya ada 5 kota. Ini karena banyak dari mahasiswa kami diminta oleh pemkot Surabaya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. Jusuf mengatakan KKN tahun ini terdapat beberapa program. Salah satunya ialah program KKN Back to Village. Program tersebut bertujuan untuk memberikan akses kepada mahasiswa dalam mengembangkan daerah asalnya.

“Kami juga ada beberapa program KKN yang kesemuanya bisa dilaksanakan di berbagai kota,” pungkasnya.

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan




1050 Mahasiswa UNAIR Siap Lakukan KKN di Surabaya

UNAIR NEWS – Untuk membenahi berbagai kekurangan yang ada di Kota Surabaya, pemerintah kota bersama masyarakat terus melakukan berbagai upaya. Salah satunya kerja sama pemerintah dengan institusi pendidikan tinggi melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN). KKN merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa atas ilmu yang sudah didapat mahasiswa selama menempuh kuliah.

Pada gelaran KKN ke-58 kali ini sebanyak 1050 mahasiswa Universitas Airlangga akan diterjunkan untuk melakukan kegiatan KKN di Surabaya. Hal tersebut dilakukan untuk membantu memajukan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dimiliki masyarakat Surabaya.

Setidaknya ada delapan kecamatan yang akan dijadikan tempat KKN oleh mahasiwa UNAIR kali ini. Antara lain Kecamatan Genteng, Simokerto, Tegalsari, Bubutan, Gubeng, Krembangan, Pabean Cantian, dan Semampir.

Di Kecamatan Genteng akan ada 12 kelurahan yang menjadi tempat KKN dengan diisi oleh 120 mahasiswa. Sedangkan di Kecamatan Simokerto dan Kecamatan Pabean Cantian masing-masing bertempat di enam kelurahan dengan jumlah mahasiswa sebanyak 60. Kecamatan Tegalsari akan ada 19 kelurahan yang diisi oleh 190 mahasiswa.

Kemudian, Kecamatan Bubutan sebanyak 11 kelurahan yang diisi 110 mahasiswa. Kecamatan Gubeng menjadi kecamatan dengan jumlah kelurahan terbanyak yaitu 26 kelurahan dengan 260 mahasiswa. Di Kecamatan Krembangan ada 16 kelurahan dengan 160 mahasiswa yang mengikuti KKN di sana. Terakhir, Kecamatan Semampir ada 9 kelurahan dengan jumlah peserta sebanyak 90 mahasiswa.

Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, M.Com., selaku ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) UNAIR mengatakan bahwa kegiatan KKN ini merupakan permintaan langsung Pemerintah Kota Surabaya. Pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan pemkot Surabaya melakukan kerja sama dengan UNAIR untuk melibatkan mahasiswa dalam menyukseskan dan meningkatkan UMKM di Kota Surabaya.

”Dalam kesempatan ini Disperindag pemkot Surabaya bekerja sama dengan kami untuk melibatkan mahasiswa dalam menyukseskan dan meningkatkan UMKM di Kota Surabaya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Yusuf menuturkan KKN ini sebagai upaya UNAIR untuk ikut serta memajukan Kota Surabaya. Oleh karena itu, UNAIR tidak tanggung-tanggung mengutus mahasiswa dengan jumlah terbanyak dibandingkan jumlah di kota/kabupaten lain untuk merealisasikan upaya tersebut.

“Jadi ini upaya kita untuk bersama memajukan Kota Surabaya,” terangnya.

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan




Lebaran Berkesan di Negeri Jepang

UNAIR NEWS – Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen untuk setiap muslim yang merantau kembali. Namun, tidak semua muslim bisa menikmati momen tersebut. Ada yang tetap di tanah rantau karena menjadi pelayanan masyarakat, lokasi kerja yang jauh dari kampung halaman, dan adapula yang sedang menempuh studi di luar negeri.

Muhammad Arbian salah satunya. Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, tidak bisa menikmati momen bahagia itu di tengah keluarga lantaran tengah menempuh studi di Negeri Sakura, Jepang.

‘’Saat Idul Fitri seperti ini tentunya rindu dengan keluraga, rindu makan bersama, dan sungkem sama kedua orang tua’’ tutur mahasiswa yang akrab disapa Arbian itu.

Meski demikian, ia mengatakan bahwa perayaan lebaran di Jepang terbilang cukup meriah. Perayaan lebaran dihiasi dengan ragam kebudayaan masyarakat Islam dari berbagai negara. Masyarakat Timur Tengah misalnya, Arbian mengatakan bahwa para wanita dari Timur Tengah berdandan dengan memakai kostum warna-warni.

“Tangan dan kaki mereka dihiasi henna, tak lupa memakai gelang yang panjangnya bila dipakai bisa sampai siku,” imbuhnya.

Perayaan lebaran, tambahnya, juga diwarnai dengan makan bersama selepas Salat Idul Fitri. Suguhan makanan terasa nikmat karena dihidangkan makanan khas dari berbagai negara.

‘’Variasi makanannya banyak, saya sampai bingung harus makan yang mana. Jadi saya cicip- cicip saja biar merata,’’ ujar Arbian.

Tak lupa, usai salat dan makan bersama, Arbian dan beberapa mahasiswa asal Indonesia lainnya juga melakukan silaturahmi ke orang-orang Indonesia, khususnya mengunjungi mereka yang sudah berkeluarga.

“Saya dan teman-teman bersepeda mengelilingi rumah-rumah, sembari silaturahmi juga ingin mendapatkan makanan, maklum kami mahasiswa yang tidak punya stock makanan di kos,’’ ungkap Arbian.

Pada akhir, Arbian juga menuturkan bahwa suasana Hari Raya Idul Fitri di Indonesia dan Jepang sangat bertolak belakang.

“Tidak seramai di Indonesia, Islam di Jepang termasuk dalam kategori minoritas. Jadi saya harus memahami itu,’’ papar Arbian. Satu kata penutup yang ia utarakan mengenai pengalaman lebaran di luar negeri. “Berkesan!,” pungkasnya.

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Nuri Hermawan




Pulau Menjangan dan Tabuhan Suguhkan Keindahan Bentang Alam

UNAIR NEWS – Datang ke Pulau Menjangan dan Tabuhan menjadi pilihan destinasi wisata yang tepat bagi mahasiswa Universitas Airlangga dalam mengisi libur kuliah semester ini. Pasalnya, dua pulau yang berada di Selat Bali itu termasuk bagian dari Taman Nasional Bali Barat (TMBB) yang terkenal melalui view (pemandangan) bawah laut yang indah dan nuansa alami pulau yang masih terjaga. Kedua pulau itu juga dapat dinikmati dengan mudah karena adanya transportasi yang mendukung dan secara langsung berhenti di tempat itu.

Reporter UNAIR NEWS berhasil menghimpun dan menuliskan beragam keindahan yang ada pada dua pulau tersebut. Berikut petikannya:

Pulau Menjangan

Pulau ini dinamakan Menjangan karena terdapat spesies Rusa yang hidup bebas di dalamnya. Menjangan adalah sebutan untuk rusa dari penduduk lokal. Hewan itu menjadi ciri khas di pulau ini sehingga mendapat foto atau berfoto dengannya merupakan sebuah kesenangan pribadi untuk wisatawan.

Ketika sampai di sana, suguhan pemandangan pulau yang masih sangat alami karena hanya terdapat sedikit bangunan bukan pemukiman dan tidak ada orang berjualan.

Tak hanya itu, disekitar pulau, juga terdapat terumbu karang yang dapat dilihat melalui snorkling atau selam dangkal atau diving jika ingin melihat pemandangan lebih. Sedikit himbauan selama melakukan snorkling atau diving, khususnya bagi pemula untuk tidak jauh dari rombongan dan tidak berenang sendiri.

Pulau Tabuhan

Pulau Tabuhan bisa dibilang merupakan pulau pelengkap. Hampir setiap wisatawan yang datang ke Pulau Menjangan akan mampir di Pulau ini. Biasanya wisatawan memanfaatkannya untuk tempat istirahat dan menyantap makanan selepas dari Pulau Menjangan serta aktifitas snorkling atau diving sebelumnya. Karena di tempat ini terdapat dua tempat penjual makanan kecil.

Meskipun begitu pulau ini masih sangat alami, untuk menikmatinya, pulau kecil ini dapat dikelilingi dengan menyusuri bibir pantainya dengan berjalan kaki. Selama mengelilingi pulau ini semilir angin, pasir pantai yang putih serta tampak warna laut yang menunjukkan warna biru muda, biru tua, dan hijau dapat dinikmati karena perbedaan kedalaman laut. Bagi wisatawan yang masih ingin snorkling terdapat juga tempat untukmelakukannya.

Transportasi dan Penginapan

Untuk mencapai Pulau Menjangan dan Tabuhan dapat melalui wisata Pantai Grand Watu Dodol (GWD) yang terletak di kabupaten Banyuwangi. Banyuwangi sendiri dapat dijangkau melalui banyak cara, wisatawan yang naik kereta dapat turun di Stasiun Banyuwangi Baru, bila naik bus bisa langsung turun di GWD atau Terminal Sri Tanjung, tempat tersebut juga dapat ditempuh dengan pesawat melalui Bandar Udara Blimbing Sari Banyuwangi. Di sekitar sana juga terdapat banyak homestay atau penginapan yang bisa disesuaikan dengan keuangan yang dimiliki.

Jika memang ingin datang ke kedua pulau itu serta menikmati keindahan pulaunya, mengetahui keadaan dan melakukan persiapan merupakan hal yang hatus dilakukan, sehingga liburan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan patut untuk dikenang. Selamat berlibur !!!

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Nuri Hermawan




Kata Mereka, Saat Lebaran Hari Pertama Tidak Bersama Keluarga

UNAIR NEWS – Bagi umat muslim, Hari Raya Idul Fitri menjadi momen untuk berkumpul dengan keluarga dan handai taulan. Terlebih dihari pertama, hal itu menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di tanah rantau, tak terkecuali mahasiswa.

Setiap tahun, selalu ada mahasiswa Universitas Airlangga yang tidak bisa berkumpul dengan keluarga di rumah saat lebaran hari pertama. Alasannya pun beragam, selain jarak yang terlalu jauh dengan tanah kelahiran, ongkos yang nipis untuk pulang, dan juga ada beberapa mahasiswa yang masih memiliki aktivitas dan kegiatan saat lebaran tiba.

Setelah sebulan melangsungkan ibadah puasa sekaligus menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) mahasiswa tentu sangat merindukan keluarga di rumah. Apalagi mahasiswa yang berasal dari luar kota Surabaya. Berikut telah UNAIR NEWS rangkum kesan mereka yang tidak bisa pulang saat lebaran hari pertama dikarenakan mendapatkan tanggung jawab dari kampus.

“Wah sangat seru. Bisa merasakan hidup sebagai anak perantau yang sesungguhnya. Bisa mandiri kan karena jauh dari orang tua. Walaupun ini bukan pengalaman yang pertama, tapi tetap sangat mengesankan bagi saya.”

  • Mohammad Saiful Bahri, Sampang Madura

“Sedih memang hari pertama tidak bareng keluarga. Apalagi pas salat Idul Fitri, yang harusnya bisa berangkat bareng keluarga ke masjid untuk sholat ied berjamaah tapi sekarang terpaksa tidak bisa. Namun dibalik itu semua tetap bersyukur alhamdulillah lebaran di Surabaya tetap terasa meriah.”

  • Rizqi Zumar, Kediri

“Sangat bahagia Insya Allah. Walaupun sudah biasa saya jalani sejak masih SMA dulu. Bedanya kalau SMA dulu malam takbiran masih bisa pulang ke rumah lalu kembali lagi untuk melaksanakan tanggung jawab. Masih sedikit sedih juga tidak bareng keluarga pas lebarannya.”

  • Diki Febrianto, Sampang Madura

 

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan




LPM UNAIR Dorong Dosen Pendamping KKN Maksimalkan Peran

UNAIR NEWS  – Guna mengoptimalkan peran dosen pendamping Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM), Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) Universitas Airlangga mengadakan pertemuan antara dosen dengan mitra. Pertemuan yang juga menghadirkan pihak mitra dari Dinas Perdagangan Kota Surabaya itu dilangsungkan di Aula LPM UNAIR pada Selasa (5/6).

Mengenai kegiatan itu, Ketua LPM UNAIR Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com., mengatakan bahwa peran dosen dalam kegiatan KKN-BBM memang sangat strategis. Selain sebagai pendamping, imbuhnya, dosen diharapkan mampu turut serta memberikan sumbangsih gagasan untuk kelancaran kegiatan.

“Peran dosen pendamping pada periode KKN-BBM kali ini memang harus dimaksimalkan. Karena mengingat banyaknya program baru yang akan dilakukan pada KKN-BBM kali ini,” jelasnya.

Di Surabaya, tandasnya, akan dilangsungkan KKN-BBM dengan menggandeng mitra dari Dinas Perdagangan. Menurutnya, hal itu merupakan permintaan pihak pemerintah kota yang mengandeng UNAIR untuk turut melakukan pembinaan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada di Surabaya.

“Oleh sebab itu kami hadirkan pihak Dinas Perdagangan untuk memberikan arahan kepada para dosen yang akan menjadi pendamping,” imbuh Prof. Jusuf.

Pentingnya memberikan bekal yang tepat untuk para dosen, menurutnya, menjadi bekal utama agar pelaksanaan KKN-BBM bisa lebih maksimal. Baginya, dengan gagasan serta inovasi dari dosen pendamping, nantinya mahasiswa bisa juga lebih terarah dalam melakukan pengabdian.

“Kalau informasi yang diberikan dosen salah, mahasiswa menerima juga salah, dan masyarakat yang diajari juga salah. Ini kan gawat. Makanya perlunya pembekalan seperti ini,” tandasnya.

Nantinya, imbuh Prof. Jusuf, sebanyak 1050 mahasiswa akan diterjunkan ke 15 kecamatan yang ada di Surabaya. Mahasiswa akan dibagi ke dalam beberapa kelompok UMKM yang ada di Kota Surabaya.

“Inilah sejatinya bentuk nyata pengabdian kita untuk Kota Surabaya,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan




Inovasi KKN, LPM UNAIR Siap Kerjasama dengan Berbagai Instansi

UNAIR NEWS – Berbagai gebrakkan pada program Kuliah Kerja Nyata (KKN) terus dilakukan oleh Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) Universitas Airlangga. Selain menyelenggarakan KKN-BBM Tematik dan meluncurkan program  KKN Luar Negeri, KKN Back to Village, KKN PKM, KKN Kebangsaan, dan KKN Ceria, LPM UNAIR juga menggagas KKN Lain-lain. KKN itu, menurut Ketua LPM UNAIR Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com., merupakan KKN yang dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai instansi.

Pada gelaran KKN-BBM ke-58 yang dilangsungkan setelah usai libur lebaran 2018 itu, LPM UNAIR telah mengantongi beberapa kerja sama. Salah satunya dengan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia.

“Dalam kerja sama antara LPM dan Kemenko PMK RI, kami melangsungkan KKN Tematik Revolusi Mental,” ungkapnya.

Selain dengan Kemenko PMK, pihak LPM UNAIR juga tengah melangsungkan kerja sama dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Perihal itu, tambahnya, mahasiswa akan dilibatkan langsung untuk menangani berbagai permasalahan TKI yang ada di beberapa wilayah yang menjadi kantong-kantong TKI di Jawa Timur.

“Kami juga mengandeng BNP2TKI untuk melangsungkan KKN Tematik tentang penanganan berbagai kasus TKI,” terangnya.

Kemudian, sebagai salah satu kampus yang ada di Surabaya, tambah Prof. Jusuf, UNAIR juga turut serta membangun kota dengan melibatkan mahasiswa untuk KKN di beberapa wilayah di Surabaya. KKN itu, tambahnya, merupakan upaya kerja sama LPM UNAIR dengan beberapa kantor dinas di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya.

“Pemkot Surabaya juga tidak mau dianaktirikan, mereka (pemkot, red) juga meminta LPM UNAIR untuk menerjunkan mahasiswa dibeberapa titik. Utamanya untuk pembinaan masyarakat pelaku Usaha Kecil Menengah,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan




KKN Ceria, Siap Libatkan Mahasiswa Manca

UNAIR NEWS – Hadirnya mahasiswa asing di Universitas Airlangga menjadi salah satu bukti adanya peran internasionalisasi dan pengakuan dunia dengan posisi serta reputasi UNAIR. Target menjadi kampus 500 besar dunia menjadi salah satu pemacu mahasiswa dari berbagai negara di dunia belajar di salah satu kampus terbaik di Indonesia itu.

Guna memberikan edukasi yang lengkap kepada mahasiswa asing, UNAIR melalui Airlangga Global Engagement (AGE) terus melakukan berbagai program kegiatan unggulan. Salah satunya dengan melibatkan mahasiswa asing untuk ikut serta dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Ketua LPM UNAIR Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com., mengatakan bahwa untuk hal itu, pihaknya melalui peraturan Rektor UNAIR, telah meluncurkan program KKN Community Outreach Program atau yang dikenal dengan KKN Ceria.

“Ini adalah program KKN yang kita kerjasamakan dengan AGE. Jadi pesertanya mahasiswa asing,” terangnya.

Mengenai penempatan lokasi, KKN Ceria, menurut Prof. Jusuf akan dilaksanakan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Nantinya, mahasiswa asing akan dibagi ke dalam lima desa dan kelurahan.

“Mereka juga akan kita sebar di beberapa wilayah yang sudah ditentukan,” imbuhnya.

Nantinya, tambah Prof. Jusuf, mahasiswa asing yang mengikuti KKN Ceria juga akan didampingi oleh mahasiswa lokal UNAIR. Hal itu bertujuan, agar antara mahasiswa lokal dengan asing bisa saling berinteraksi dan memberikan edukasi.

“Mereka (mahasiswa asing, red) juga akan didampingi oleh mahasiswa kita. Biar ada interaksi dan saling belajar,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan




KKN Kebangsaan, Siap Sambangi Pelosok Negeri

UNAIR NEWS – “Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia…” Itulah penggalan lagu yang menggambarkan Indonesia sebagai bangsa besar dan negara kepulauan terbesar di dunia.

Untuk memajukan berbagai daerah yang tertinggal, pemerintah bersama seluruh elemen bangsa terus melakukan berbagai upaya dan gebrakkan. Salah satunya kerja sama pemerintah dengan institusi pendidikan tinggi melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Universitas Airlangga pun juga turut ambil andil dalam memberikan sumbangsih untuk kemajuan bangsa melalui program KKN. Jika beberapa program KKN diluncurkan langsung oleh Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) UNAIR, lain dengan KKN Kebangsaan. KKN yang dilaksanakan di berbagai wilayah di Republik Indonesia itu merupakan prakarsa langsung dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

Mengenai pelaksanaan program KKN Kebangsaan, Ketua LPM UNAIR Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com., mengatakan bahwa setiap periode UNAIR terus mengirimkan beberapa mahasiswa untuk diterjukan dalam KKN tersebut.

“Pada kegiatan KKN Kebangsaan semeseter ini ada 5 mahasiswa kami akan diterjukan ke lokasi KKN,” tuturnya.

Perihal lokasi kegiatan KKN Kebangsaan, Prof. Jusuf mengatakan bahwa tahun ini akan dilaksanakan di Lampung. Untuk itu, LPM UNAIR juga turut memberikan dukungan kepada mahasiswa yang terlibat dalam KKN tersebut.

“Kami terus memberikan dukungan kepada mereka, meski KKN Kebangsaan ini merupakan gagasan dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia,” ungkapnya.

 

Penulis: Nuri Hermawan




KKN Back to Village, Ajak Mahasiswa Kembangkan Daerah Asal

UNAIR NEWS – Sebagai agen perubahan, mahasiswa sangat dinanti perannya untuk memberikan perubahan yang lebih baik bagi wajah dan peradaban bangsa. Terlebih, untuk memberikan perubahan dan sumbangsih yang nyata kepada daerah asal.

Untuk itu, melalui peraturan Rektor UNAIR, Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) UNAIR menyusun program KKN Back to Village. KKN yang akan dilaksanakan pada libur semester genap tahun ini tersebut, menurut  Ketua LPM UNAIR Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com., merupakan salah satu program baru yang bertujuan untuk memberikan akses kepada mahasiswa dalam mengembangkan daerah asalnya.

“Mereka (mahasiswa, red) yang dari daerah kami beri kesempatan untuk mengembangkan daerahnya melalui KKN Back to Village ini,” ungkapnya.

Guru Besar yang akrab disapa Prof. Jusuf itu juga mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaanya, KKN Back to Village tidak jauh beda dengan KKN-BBM seperti yang sudah dilaksanakan dari tahun ke tahun. Hanya saja, tambahnya, KKN Back to Village dilakukan oleh putra daerah dengan beberapa rekan satu angkatan yang memiliki satu tujuan.

“Jadi mereka (mahasiswa, red) juga berkelompok, tidak sendirian,” tandasnya.

Mengenai mekanisme pelaksanaan KKN Back to Village, Prof. Jusuf mengatakan bahwa mahasiswa harus mengajukan proposal terlebih dahulu ke LPM UNAIR. Dari proposal itu, tambahnya, mahasiswa akan diberikan beberapa bekal wawasan untuk mengembangkan daerah asal.

“Mahasiswa yang akan mengikuti KKN Back to Village, terlebih dahulu laporan ke LPM. Baru nanti kami beri arahan dan bekal agar KKN Back to Village bisa berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan