Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

Camp Pengabdian Bidik Misi Masih Terima Donasi

UNAIR NEWS – Menjelang hari-H keberangkatan, berbagai persiapan untuk Camp Pengabdian 2019 masih terus dilakukan. Panitia menargetkan seluruh kebutuhan maupun barang-barang perlengkapan untuk acara dan kegiatan selama satu pekan dapat terkumpul H-2 keberangkatan, yakni pada Jumat (12/1).

Hingga saat ini, panitia Camp Pengabdian masih membuka donasi bagi siapapun yang berkenan untuk menyumbang. Donasi yang masih dibutuhkan oleh panitia berupa uang, buku bacaan anak-anak, dan alat tulis. Sedangkan donasi berupa pakaian sudah ditutup menjelang libur semester bulan lalu.

Muhammad Topan Ramadhan, Ketua Pelaksana Camp Pengabdian Bidikmisi 2019 mengatakan masih memerlukan donasi buku bacaan untuk pembuatan Sudut Baca di Suwaluh. Sebab, donasi buku yang terkumpul hingga saat ini dirasa masih kurang dari target yang direncanakan. Ia berharap, di sisa waktu jelang keberangkatan, masih ada donatur yang bersedia menyumbangkan buku-buku bacaan bekas maupun baru.

“Untuk donasi baju sudah kami tutup. Untuk donasi buku dan uang masih kita buka hingga sekarang. Tapi memang tidak terlalu digencarkan, karena bertepatan dengan adanya musibah di Banten beberapa waktu lalu,” jelasnya.

Donasi berupa uang tunai akan digunakan untuk membeli berbagai perlengkapan dan barang-barang yang akan diberikan kepada masyarakat Dusun Suwaluh. Sebagian dana juga akan digunakan untuk menunjang kebutuhan Camp Pengabdian selama di lokasi pengabdian.

Ilustrasi oleh Panitia Camp Pengabdian Bidik Misi
Ilustrasi oleh Panitia Camp Pengabdian Bidik Misi

Bukan hanya itu, donatur juga dapat menyumbangkan barang-barang kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, dan lain-lain.

Bagi donatur yang ingin menyisihkan sebagian rezekinya berupa uang tunai dapat dikirim melalui rekening Mandiri 142 00 15978827, BRI 0557 01 014725 502, BNI 064 751 8416, atas nama Fitri Ayu Nurcahyani. Camp Pengabdian juga membuka link donasi di website Kitabisa.com. Donatur dapat membuka link https://kitabisa.com/pengabdiansuwaloh untuk mengirimkan bantuan.

Sementara donasi dalam bentuk lain dapat disalurkan melalui CP atas nama Dewi Karwona, dengan nomor telepon : 082331725294. Pengiriman donasi dapat dilakukan sampai dengan tanggal 12 Januari 2019.

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Nuri Hermawan




Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

Pengmas AUBMO Siap Gelar Camp Pengabdian Bidik Misi 2019 di Suwaluh Lamongan

UNAIR NEWS – “Dari hati, siap mengabdi”. Sebuah tagline yang menjadi penyulut semangat sejumlah mahasiswa Bidikmisi UNAIR untuk terus berbagi kebaikan melalui kegiatan pengabdian bertajuk “Camp Pengabdian Bidik Misi”. Camp Pengabdian merupakan salah satu program kerja utama Kementerian Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Organisasi Bidikmisi Universitas Airlangga (AUBMO) yang digelar tiap awal tahun.

Memasuki tahun keempat, Camp Pengabdian 2019 kembali bersiap untuk menyapa masyarakat mitra desa. Kegiatan ini sekaligus menjadi cara mahasiswa Bidikmisi UNAIR dalam mengisi momen libur akhir semester. Selama Camp berlangsung, para peserta akan merealisasikan proker dan melakukan berbagai kegiatan bersama masyarakat setempat selama tujuh hari.

Sama seperti tahun lalu, Camp Pengabdian Bidik Misi 2019 akan kembali dilaksanakan di Dusun Suwaluh, Desa Talunrejo Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan pada tanggal 13 hingga 20 Januari mendatang.Berbagai persiapan mulai dilakukan sejak tiga bulan sebelum keberangkatan. Mulai dari rapat internal divisi hingga rapat pleno  panitia, penyaluran donasi serta perlengkapan kian gencar dimatangkan, mengingat jadwal keberangkatan menuju lokasi tinggal menghitung hari.

“Alhamdulillah, sejauh ini persiapan Camp bisa dikatakan dalam tahap finishing dan sedang mematangkan apa-apa yang dirasa kurang agar segera diatasi bersama. Prosentasenya persiapannya sekitar 80%,” ujar Muhammad Topan Ramadhan selaku Ketua Pelaksana Camp Pengabdian Bidik Misi 2019.

Berbeda dengan sebelumnya, Camp Pengabdian kali ini lebih berfokus pada bidang kewirausahaan. Upaya pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan program pembinaan pembuatan produk kerajinan merajut dan kerajinan bunga.

“Selain itu, kita juga membuat sudut baca di sana,supaya adik-adik dan warga bisa mendapatkan literasi yang baik dan menumbuhkan minat baca,” imbuh mahasiswa Ekonomi islam 2017 tersebut.

Meski beberapa panitia masih berhalangan hadir di Surabaya untuk membantu banyak persiapan, namun Topan mengaku hal tersebut tak menjadi kendala untuk bisa terus berkoordinasi dan berkomunikasi.

Topan berharap Camp Pengabdian dapat menjadi kegiatan yang menuai kebermanfaatan bagi warga Suwaluh dan seluruh panitia.

“Semoga program kerja yang kita canangkan bisa berlanjut dan ke depan bisa benar-benar mewujudkan Suwaluh sebagai desa kreatif dan mandiri sebagaimana tema yang diangkat dalam Camp kali ini. Serta nilai-nilai yang ada bisa menjadi salah satu bekal bagi kita semua sebagai mahasiswa untuk lebih dekat dengan masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Nuri Hermawan




Ilustrasi oleh Feri Fenoria Rifa'i

Tim KKN 59 Siap Lanjutkan Berbagai Program Pengabdian

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga  terus meningkatkan berbagai gebrakan untuk memberikan sumbangsih yang nyata demi kemajuan bangsa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Seperti KKN periode sebelumnya, tidak hanya dilaksanakan di kota Surabaya saja, KKN ke-59 UNAIR juga dilaksanakan di beberapa kabupaten di sekitar Kota Surabaya.

Tercatat, seperti pada periode sebelumnya, ada lima kota/kabupaten yang akan menjadi tempat KKN bagi mahasiswa Universitas Airlangga. Daerah-daerah tersebut antara lain Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Banyuwangi.

Ditemui di ruang kerjanya (3/1), Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, M.Com., selaku ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) UNAIR menuturkan,  pada KKN tahun ini fokus kegiatan mahasiswa ditekankan pada melanjutkan berbagai program-program yang telah dilaksanakan pada KKN sebelumnya.

“Di Surabaya misalnya, untuk KKN tahun ini difokuskan pada peningkatkan berbagai UMKM yang dulu telah dikembangkan oleh tim KKN sebelumnya,” ujarnya.

Mengenai hal itu, Prof. Jusuf menegaskan bahwa hal tersebut memang menjadi salah satu fungsi KKN yang berkelanjutan. Pasalnya, sistem berkelanjutan menjadi salah satu upaya bersama untuk fungsi KKN yang benar-benar bisa memberikan perubahan yang nyata bagi masyarakat.

“Jadi, dengan KKN ini mahasiswa memang memberikan dampak dan perubahan yang nyata bagi masyarakat,” tandasnya.

Selanjutnya, Guru Besar FISIP UNAIR itu juga mengatakan bahwa berbagai program KKN yang semester lalu ditetapkan oleh rektor juga telah berjalan dengan baik. KKN Back to Village misalnya, menurut Prof. Jusuf, KKN tersebut pada tahun ini telah berhasil dilaksanakan di berbagai daerah asal mahasiswa.

“Bahkan, tahun ini ada mahasiswa yang berasal dari daerah Toraja melakukan KKN ini. Meraka (mahasiswa, red) mengajak teman-teman yang lain untuk turut membangun daerahnya,” ungkap Prof. Jusuf.

Tidak hanya itu, KKN Luar Negeri menurutnya juga telah berjalan dengan baik. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa UNAIR yang pernah ke luar negeri untuk studi, konferensi, ataupun mengikuti berbagai program yang ditawarkan oleh kampus luar negeri.

“Dan KKN Luar Negeri pesertanya juga semakin meningkat. Ini menunjukkan kalau berbagai program KKN yang kami gagas memberikan dampak bagi semua,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan




Melalui Perjuangan Menulis di Jurnal Scopus, Yeni Jadi Wisudawan Terbaik S3 FST

UNAIR NEWS – Kesulitan dalam membagi waktu antara keluarga dan kuliah S3 tidak membuat Yeni Kustiyahningsih, patah semangat. Hal tersebut dibuktikan Yeni meraih predikat wisudawan terbaik S3 Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga dengan IPK 3,87.

Dalam tugas akhirnya, mahasiswa kelahiran Sidoarjo, 21 September 1977 tersebut mengangkat judul “Model Pengambilan Keputusan Grup Multi Kriteria Dengan Adaptive Interval Value Fuzzy Untuk Rekomendasi Sistem E-Learning. Dalam disertasi itu ia membahas mengenai pembuatan framework model pengambilan keputusan grup multi kriteria dengan konsep adaptive interval value fuzzy dan mengkonstruksi model hybrid metode Adaptive Interval Value Fuzzy Analytic Hierarchy Process (AIVFAHP) dengan Adaptive Interval Value Fuzzy Technique for Order Preference of Similarity Ideal Solution (AIVFTOPSIS). Juga mengimplementasikan model keputusan untuk pengukuran dan rekomendasi sistem e-learning.

“Artikel penelitian/disertasi saya diterima di jurnal bereputasi dan terindeks Scopus,” ucapnya.

Yeni menuturkan, bukan hal yang mudah agar disertasi tersebut diterima di jurnal bereputasi dan terindeks Scopus. Kesulitan dalam menentukan topik dan judul disertasi sampai menemukan benang merah penelitian S3 pun pernah dihadapinya. Ditambah, akses jurnal internasional yang berbayar sangat terbatas sehingga informasi yang didapat tidak optimal.

“Belum lengkapnya informasi mengenai jurnal yang terindeks Scopus, jurnal predator dan jurnal yang abal-abal juga sedikit menyulitkan saya untuk submit jurnal,” tambahnya.

Namun, banyaknya kendala yang dihadapi tidak membuat Yeni menyerah begitu saja. Prinsipnya, tidak menunda tugas dari dosen serta membuat planning apa yang akan dilakukan ke depannya. Juga, tidak pernah lupa untuk berdoa dan selalu berusaha. Alhasil, disertasinya diterima di jurnal bereputasi dan terindeks Scopus.

“Baca jurnal sebanyak-banyaknya dan segera submit jurnal jika proposal sudah diambil,” tambahnya.

Ke depan, selain kembali mengabdi menjadi dosen di Universitas Trunojoyo Madura, Yeni berencana mengembangkan bidang penelitian S3 dengan banyak menulis publikasi baik nasional maupun internasional. Selain itu, ia juga akan mengembangkan penelitian S3 yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kearifan lokal di Madura. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh




Asik Berkarir Hingga Sempat Tak Ingin Kuliah, Zakky Jadi Wisudawan Berprestasi FKM

UNAIR NEWS – Ahmad Zakky Multazam atau yang akrab dipanggil Zakky, mahasiswa dengan jiwa bisnis yang besar ditunjang softskill bidang desain grafis, sempat tidak ingin melanjutkan kuliah selepas SMA. Terlebih ketika dirinya telah mendapat banyak permintaan desain baik dari dalam maupun luar negeri.

Tuntutan orang tua untuk melanjutkan kuliah membawa Zakky menjadi wisudawan berprestasi Fakultas Kesehatan Masyarakat PSKU UNAIR di Banyuwangi. Zakky berhasil lulus dengan perolehan IPK 3.41 dan SKP sebesar 1.130. Tidak hanya berkuliah saja, Zakky juga mengelola beberapa bisnis kecil-kecilan untuk menambah pemasukan dan mengasah kemampuan.

“Di samping kuliah, saya juga memiliki usaha percetakan kecil-kecilan, menjadi juragan cetak, serta membina bisnis kripik mbote kepada adik binaan,” ucap mahasiswa asal Kediri itu.

Meskipun sibuk berkuliah dan berbisnis, Zakky terus mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai organisasi. Ia dipilih menjadi ketua Keluarga Mahasiswa (KM) PSDKU UNAIR di Banyuwangi (2014), menjadi bagian dari B-PHA (Banyuwangi Public Health Association) dan koordinator Broadcasting Class Sinematografi (2016), serta koordinator Advokasi INSAN GENRE Banyuwangi (2017).

Prestasi yang diperoleh Zakky tidak kalah membanggakan. Tahun 2014 ia berhasil menjadi juara I Kumite Kelas Remaja Putra Piala PANGKOSTRAD Karate Full Body Contact Tingkat Nasional di Semarang dan juara II Logo dan Maskot Contest in ASEAN Tourism Forum di Manila (2016). Selain itu, pada semester lima Zakky mengikuti program pertukaran mahasiswa Permata di Univesitas Sumatera Utara selama satu semester.

Untuk adik-adik yang kini masih menjalani perkuliahan, Zakky berpesan agar mereka tidak terlalu asik menjalani rutinitas kuliah saja. Menurut Zakky, perbedaan mahasiswa dengan siswa biasa adalah pada pola pikirnya. Untuk itu, mahasiswa juga harus memperbanyak organisasi dan berdiskusi.

“Jika hanya fokus dengan kuliah, maka kita tidak akan bisa berkembang. Perlu untuk mengasah skill dan pola pikir dengan organisasi dan berdiskusi,” pungkas Zakky. (*)

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Binti Q. Masruroh




Tiga Tahun Berturut-turut Jadi Juara Debat Ilmiah Nasional

UNAIR NEWS – Amadea Zulfiah Azmi alumnus S1 Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini memiliki segudang pencapaian yang membuat dirinya dinobatkan menjadi wisudawan berprestasi periode Desember 2018. Di antaranya, berhasil mengharumkan nama prodi Pendidikan Bidan UNAIR di ajang lomba kebidanan bergengsi pada bidang debat ilmiah nasional bertajuk Scientific Debate in National Camp Midwifery Student Competition (NCMSC).

Tak tanggung-tanggung, Amadea sukses menjadi jawara nasional selama tiga tahun berturut – turut sejak 2015 – 2017. Yakni, menjadi juara I pada tahun 2015, juara III pada tahun 2016, dan kembali merebut juara I pada 2016.

“Jujur saja, saya berawal tidak ingin sama sekali bersekolah di kebidanan. Sebagai anak yang berusaha mengejar ridha bapak ibu, saya berusaha mencoba dan struggling. As I go long, saya merasakan bahwa ilmu kebidanan yang saya pelajari ini insyaAllah bermanfaat untuk saya pribadi maupun orang-orang sekitar saya,” ungkap gadis kelahiran Surabaya itu.

Dirinya mengutarakan, tidak pernah memasang target tertentu untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Hal yang senantiasa dilakukannya ialah berusaha semaksimal mungkin dan tak henti memanjatkan doa.

“Singkatnya, melakukan hal terbaik itu tujuan, sedangkan mendapat apresiasi adalah dampak,” imbuhnya.

Perjuangan Amadea selama menempuh pendidikan tinggi rupanya bukan tanpa hambatan. Di pertengahan kuliah, ia mengaku sempat menghadapi masa sulit akibat faktor finansial. Ia pun harus memutar otak untuk mengatasi masalahnya agar dapat terus melanjutkan pendidikan tanpa membebani kedua orangtuanya. Alhasil, kegigihan Amadea pun mengantarkan dirinya menjadi salah satu mahasiswa penerima beasiswa PPA.

“Berinteraksi dan bermanfaat untuk sekitar. Disamping kegiatan non akademis di kampus, semenjak semester 2 akhir, saya memutuskan untuk mengambil kesempatan menjadi tentor Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) bagi adik-adik SD dan SMP, hingga semester 7. Alhamdulillah mendapat rezeki untuk kebutuhan kuliah sehari-hari,” terangnya.

Kini, dirinya tengah fokus menjalani studi pendidikan profesi bidan serta menekuni bisnis kreasi hijab yang dirintisnya, Eluria.id. (*)

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh




Banggakan UNAIR Hingga Kancah Internasional, Dewi Jadi Wisudawan Berprestasi FST

UNAIR NEWS – Berasal dari desa kecil di Lamongan, fokus menuntut ilmu di madrasah dan pondok pesantren membuat Dia Kurnia Dewi merasa minder dan ragu untuk dapat beradaptasi. Namun, pemikiran tersebut mulai terkikis ketika pertama kali dirinya dikukuhkan dan melihat para mahasiswa berprestasi UNAIR naik ke atas podium.

“Sejak saat itu, saya berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya tidak boleh minder belajar di sini dan suatu saat saya harus menjadi bagian kesatria Airlangga yang bukan hanya bangga menjadi bagian dari UNAIR tapi juga harus bisa membanggakan nama UNAIR,” jelas Dewi, mahasiswa biologi yang berhasil menjadi wisudawan berprestasi Fakultas Sains dan Teknologi.

Dewi berhasi lulus dari UNAIR dengan IPK sebesar 3,37 dan SKP 1.397. Pretasi tersebut tentu tidak didapatkan Dewi dengan instan. Sejak tahun pertama perkuliahan, Dewi telah mengikuti berbagai organisasi dan perlombaan.

Berbagai prestasi telah diraih oleh Dewi. Tahun 2016 ia menjadi finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Nasional SELF Udayana, Universitas Udayana; juara harapan I MTQM Regional cabang Fahmil Quran Universitas Trunojoyo; dan juara II Archipelago Essay Competition Universitas Pattimura.

Tahun 2017 Dewi berhasil menjadi finalis LKTI MIPA Open and Exposition Universitas Negeri Makassar, finalis Call for Paper LOGIKA Universitas Indonesia, juara III MTQM Nasional cabang Fahmil Quran, Universitas Negeri Malang – Universitas Brawijaya, dan memperoleh medali perak di ajang World Young Inventor and Exhibition Malaysia.

Tidak hanya itu, pada tahun 2018 Dewi memperoleh Gold Award on International Invention and Innovative Competition Malaysia.

“Bagi saya prestasi yang paling berkesan yaitu ketika menjadi Juara III cabang Fahmil Quran diajang MTQ Mahasiswa Nasional dan ketika mengikuti World Young Inventor and Exhibition yang mengantarkan saya dan tim memperoleh Silver Medal,” terang Dewi.

Setelah menyelesaikan studi S1, ke depannya Dewi ingin bekerja dan mengikuti kegiatan volunteer di waktu luang. Dewi merasa berkewajiban untuk terlibat dalam pengabdian masyarakat karena semasa kuliah dirinya merupakan mahasiswa Bidikmisi. (*)

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Binti Q. Masruroh




Juara 1 LKTI di Solo, Egy Jadi Wisudawan Berprestasi Vakultas Vokasi

UNAIR NEWS – “Sebenarnya saya orang yang tidak terlalu menonjol di akademik maupun non akademik. Bahkan saya orangnya humoris. Tetapi ketika saya sudah menentukan pilihan, saya akan berusaha untuk melakukannya semaksimal mungkin.” Itulah ungkapan dari Egy Ramandhani, wisudawan berprestasi Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) periode Desember 2018.

Wisudawan kelahiran Sidoarjo, 8 Februari 1997 itu mengaku, selama kuliah di prodi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (Hiperkes) Fakultas Vokasi UNAIR, dirinya diajari arti tanggungjawab, komunikasi, kekeluargaan serta kerja sama yang dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja.

Perjuangan menuntaskan kuliah tak selalu berjalan mudah. Awalnya, Egy terkendala ketika merasakan pengalaman praktik kerja lapangan (PKL). Egy mengakui dirinya merasa gugup saat pertama kali memberikan pengarahan mengenai keselamatan kerja kepada pekerja.

“Tetapi saya tidak menyerah dan saya belajar untuk berkomunikasi di depan pekerja. Lama kelamaan saya sudah bisa dan terbiasa untuk berkomunikasi di depan orang,” terang wisudawan yang pernah aktif di HIMA Hiperkes itu.

Pengalaman PKL itu diangkat Egy dalam kompetisi lomba karya tulis ilmiah (LKTI) IOSH Summit Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Competition 2017 dan menjadi juara satu dalam kompetisi tersebut. Dia mengambil tema tentang penerapan budaya kerja sehat, dan menamainya dengan aplikasi SEGOMIMIK atau senam ergonomis dan musik. KTI itulah yang kemudian mengantarkannya menjadi wisudawan berprestasi.

“Jadi itu (SEGOMIMIK, Red) dilakukan sesaat sebelum pekerja istirahat. Gerakan senamnya sederhana. Seperti gerakan salat, tetapi manfaatnya akan sangat baik bagi tubuh jika dilaksanakan secara berkelanjutan,” terang wisudawan yang sedang bekerja di PT Wilmar Gresik tersebut.

Tak lupa, Egy berpesan untuk mahasiswa UNAIR yang sedang menempuh kuliah. “Jangan sia-siakan waktu anda di kuliah hanya belajar atau bermain saja, jika ada kesempatan atau kegiatan yang sekiranya positif untuk dilakukan entah itu HIMA, BEM, UKM atau kegiatan di luar kampus yang diminati sebaiknya coba untuk dilakukan. Karena waktu kuliah ini menentukan kehidupan anda selanjutnya saat masuk ke masyarakat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Binti Q. Masruroh




Konsisten Tekuni Renang, Hezby Jadi Wisudawan Berprestasi Fakultas Psikologi

UNAIR NEWS “Perjuangan saya selama menempuh studi S-1 adalah memprioritaskan pendidikan. Walaupun saya sebagai atlet dituntut untuk latihan rutin setiap hari, namun saya berusaha untuk dapat mengimbanginya.” Begitulah ungkapan semangat dari Hezby Vierdausytha, wisudawan berprestasi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga periode Desember 2018.

Wisudawan kelahiran Surabaya, 24 Januari 1997 tersebut menambakan, selama perkuliahan ia lebih banyak menghabiskan kegiatan di luar kampus. Seperti mengikuti kejuaraan pada event tingkat provinsi dan nasional cabang olahraga renang, dan berlatih di club renang Suryanaga Surabaya.

“Selain itu, saya juga ikut mendirikan UKM Airlangga Aquatic pada tahun 2016 dan menjadi sekretaris UKM tersebut. Selain menjadi pengurus, saya juga menjadi pelatihnya tahun 2016-2017. Dari situ, saya bisa berlatih dan mengikuti berbagai kejuaraan antar mahasiswa untuk mengharumkan UNAIR pada cabang olahraga renang,” terangnya.

Tak tanggung-tanggung, wisudawan yang akrab dipanggil Hezby ini mempunyai sederetan gelar juara renang yang cukup banyak. Prestasi terbesar yang pernah diperolehnya adalah mendapatkan 3 medali pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIV di Aceh pada tahun 2015, terdiri dari juara II renang gaya dada 50 meter, juara III renang gaya dada 100 meter, dan juara III renang estafet gaya ganti 4×100 meter.

Setelah lulus dari UNAIR, Hezby berkeinginan untuk kembali menekuni dunia renang. Selain itu, ia juga berharap dapat melanjutkan S-2 profesi psikologi di UNAIR dengan konsentrasi pengembangan bidang keolahragaan renang di Indonesia.

Tak lupa, wisudawan yang mengagumi sosok Giorgio Chiellini pemain Juventus tersebut berpesan kepada seluruh mahasiswa UNAIR. Pesannya, agar mahasiswa selalu mengasah kemampuan dengan selalu bersifat gigih dan bertanggung jawab terhadap apapun yang sedang ditekuni.

“Karena kesempatan menjadi mahasiswa tidak datang dua kali. Oleh karenanya harus dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan memprioritaskan mana yang lebih menjadi kewajiban utama,” pungkasnya. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Binti Q. Masruroh




Catatkan IPK Sempurna 4,00, Ika Jadi Wisudawan Terbaik S2 FKH

UNAIR NEWS – Mengangkat judul thesis Analisis Usaha Pengaruh Ekstrak Meniran (Phyllanthus niruni Linn) sebagai Pengganti Antibiotik Growth Promoter (AGP) pada Ayam Petelur yang Diinfeksi APEC (Avian Pathogenic Escherichia coli)” membawa Ika Anes Ajiardiana menjadi wisudawan terbaik S2 Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR periode Desember 2018 dengan indeks prestasi kumulatif sempurna, 4,00.

Wisudawan kelahiran Malang, 30 Oktober 1991, tersebut mengulas tentang pengaruh penambahan ekstrak meniran (Phyllanthus niruni Linn) sebagai pengganti Antibiotic Growth Promoter (AGP) pada pakan terhadap analisis usaha ayam petelur yang diinfeksi atau tidak diinfeksi oleh Escherichia coli.

Ika mengatakan terdapat tiga alasan mengapa dirinya meneliti topik tersebut; pertama dirinya berharap penelitian ini dapat menggantikan cara kerja AGP (Antibiotic Growth Promoter) yang penggunaannya sudah dilarang oleh pemerintah. Sebab, itu menimbulkan residu obat pada ternak, gangguan kesehatan pada manusia, timbulnya resistensi mikroba pathogen, dan tidak ramah lingkungan.

Kedua, mengetahui berapa jumlah atau dosis ekstrak meniran yang diberikan sebagai pengganti AGP pada pakan ayam yang diinfeksi dan yang tidak diinfeksi bakteri Escherichia coli. Dan yang ketiga, untuk mengetahui besar keuntungan dan kerugian peternakan ayam petelur yang diinfeksi dan yang tidak diinfeksi bakteri Escherichia coli dengan penambahan ekstrak meniran pada pakannya.

”Biasanya ayam petelur terinfeksi bakteri Escherichia coli dapat memproduksi telur dengan optimal setelah diberi penambahan ekstrak meniran pada pakannya dengan konsentrasi 30 persen dan tentunya itu tidak menimbulkan kerugian pada peternakan,” jelasnya.

Perempuan yang pernah praktek kerja di Dinas Peternakan Kota Denpasar tersebut, bahkan pernah memublikasikan penelitiannya dalam jurnal internasional dengan judul Effect of Meniran Extract (Phyllanthus Niruni Linn) to Alternate Antibiotik Growth Promoter (AGP) on Egg Quality and Economic Analysis of Layer that Infected By Eschericia Coli.

Untuk merealisasikan penelitiaannya itu, Ika ingin memulainya dari hal kecil. Misalnya, bercita-cita membuat usaha peternakan untuk masyarakat di desanya.

”Saya berkeinginan kuat membuat peternakan ayam atau sapi untuk memberdayakan masyarakat desa. Saya ingin membangun pola pikir masyarakat, terutama dalam hal etos kerja di bidang peternakan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria Rifai