Mengenal Lebih Dekat Sindroma Neuroleptik Maligna

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto oleh Dreamstime

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan terdiri dari kumpulan sindrom kognitif dan perilaku yang kompleks, heterogen, yang kemungkinan berasal dari gangguan perkembangan otak yang disebabkan oleh faktor genetik atau lingkungan, atau keduanya. Skizofrenia terjadi di seluruh dunia dengan angka prevalensi terjadinya skizofrenia mendekati 1 persen secara internasional. Pasien-pasien yang mengalami episode skizofrenia, cenderung memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk berespon terhadap terapi farmakologi dengan cara melalui pemberian obat antipsikotik.

Kasus terjadinya Sindroma Neuroleptik Maligna dilaporkan paling banyak terjadi pada orang dengan Skizofrenia, Skizoafektif dan gangguan psikotik lainnya. Penghentian agen-agen pereduksi dopamin secara mendadak ternyata juga mempengaruhi dalam mekanisme molekuler dalam penyebab terjadinya Sindroma Neuroleptik Maligna.

Sindroma Neuroleptik Maligna (SNM) adalah suatu kedaruratan neuropsikiatri yang mengancam jiwa yang terkait dengan penggunaan obat-obatan antipsikotik (neuroleptik) dan ditandai oleh sindrom klinis yang khas yaitu perubahan status mental, kekakuan, demam, dan disotonomia. Sindroma Neuroleptik Maligna dapat terjadi akibat penipisan dopamin sentral secara akut atau timbulnya suatu keadaan defisiensi dopamin fungsional dari blokade reseptor dopamin.

Angka kematian dilaporkan mencapai sekitar 10-20% ketika Sindroma Neuroleptik Maligna tidak teridentifikasi dan periode pemulihan rata-rata Sindroma Neuroleptik Maligna adalah 7-10 hari setelah dilakukan penghentian pengobatan.(9) Sindrom Neuroleptik Maligna dapat terjadi pada seluruh usia dan seluruh jenis kelamin baik laki-laki maupun wanita namun dapat terjadi lebih tinggi pada pasien wanita dengan postpartum. Pasien dengan usia lanjut yang memiliki komorbiditas dan faktor resiko lainnya lebih rentan terjadi Sindroma Neuroleptik Maligna.

PENATALAKSANAAN SINDROMA NEUROLEPTIK MALIGNA

Gejala-gejala dan tanda klinis yang muncul di awal kasus Sindroma Neuroleptik Maligna dapat dijadikan suatu prediksi akan seperti apa prognosa dari suatu kejadian itu. Sehingga sangat penting bagi para klinisi untuk dapat memahami dari sejak dini gejala awal yang timbul. Tetapi manifestasi klinis dari setiap Sindroma Neuroleptik Maligna yang akan muncul akan sangat bervariasi dan membutuhkan keahlian tenaga medis dalam penanganannya. Setelah dugaan diagnosis dapat ditegakkan, maka strategi awal yang paling penting dalam manajemen terapi Sindroma Neuroleptik Maligna adalah untuk menghentikan segala jenis pengobatan farmakologis yang dicurigai sebagai pencetus timbulnya Sindroma Neuroleptik Maligna. Penting untuk selalu diingat oleh klinisi bahwa tidak perlu menunggu hasil laboratorium tentang adanya temuan peningkatan serum CPK pada pasien tersebut yang mengalami gejala Sindroma Neuroleptik Maligna.

Penanganan Sindroma Neuroleptik Maligna dianggap penanganan kasus gawat darurat karena kemungkinan terjadinya morbiditas dan kematian sangat tinggi. Langkah awal yang paling penting dalam penanganan Sindroma Neuroleptik Maligna adalah dengan menghentikan agen neuroleptik yang diduga menyebabkan gejala-gejala tersebut timbul. Setelah menghentikan obat-obatan, sebaiknya pasien harus dipindahkan menuju ruang rawat ICU dan kemudian mulai dilakukan perawatan terapi suportif. Jika tekanan darah meningkat tajam, pemberian obat antihipertensi dapat dimulai. Setelah itu, manajemen farmakologis lini pertama yang dapat diberikan pada pasien dengan Sindroma Neuroleptik Maligna adalah pemberian obat antikolinergik seperti Dantrolene, Bromocriptine dan Biperiden.

Terapi ECT bersifat kontroversial dan seringkali mendapat stigma oleh masyarakat dikarenakan edukasi yang kurang tepat tentang bagaimana terapi ini bekerja dan dilakukan kepada pasien. Efek farmakoterapi diperkirakan muncul biasanya dalam beberapa hari pertama, setelah pemberian pengobatan, dan jika tidak, maka obat tersebut kemungkinan tidak efektif. Di titik ini terapi ECT akan dapat dijadikan suatu pilihan alternatif karena dinilai efektif dalam  menunjukkan penurunan angka kematian. Terlepas dari adanya penolakan terhadap penggunaan ECT, terdapat cukup data saat ini untuk menjadikan terapi ECT dijadikan sebagai pengobatan lini kedua dalam penatalaksanaan kasus Sindroma Neuroleptik Maligna. Penggunaan terapi elektro konvulsi pada pasien dengan Sindroma Neuroleptik Maligna juga tidak luput dari bahaya. Bahaya yang ditimbulkan adalah komplikasi kardiovaskular oleh karena terapi ECT, Hipertermia maligna oleh karena proses anestesinya dan hiperkalemia. Respons pengobatan terapi ECT ini biasanya terlihat pada umumnya setelah terapi berjalan sebanyak 6 sesi. Pada umumnya, sesi terapi ECT yang direkomendasikan pada pasien dengan Sindroma Neuroleptik Maligna adalah sebanyak 6 hingga 10 sesi terapi setiap hari dengan minimum dilakukan 6 sesi dengan tujuan untuk meminimalkan risiko kekambuhan.

Keberhasilan dalam Sindroma Neuroleptik Maligna akan sangat tergantung pada diagnosis dini dan intervensi aktif tanpa penundaan pemindahan pasien ke ruang ICU. Meskipun sebagian besar kasus dapat ditangani dengan sukses, namun masih harus disadari bahwa sekitar 10% dari kasus dapat berakibat fatal, terlepas dari diagnosis dan pengobatan dini. Hiperpireksia, rhabdomiolisis, dan kerusakan saraf dapat menyebabkan amnesia (gangguan memori), yang bisa bersifat sementara atau persisten dalam kasus-kasus tertentu. Pada pasien dengan usia lanjut dengan yang mempunyai riwayat gagal pernapasan akut, gagal ginjal akut, infeksi (syok septik), dan gagal jantung kongestif yang hidup berdampingan adalah prediktor signifikan mortalitas pada sindrom ini.

Penulis:  Dr. dr. Yunias Setiawati, Sp.KJ(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Patria Yudha Putra and Yunias Setiawati (2021). Neuroleptic Malignant Syndrome: A Review of diagnosis and treatment. Journal of Indian Society of Toxicology, 16(2):32-38; https://doi.org/10.31736/2020v16i2/32-38

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp