Equator HIMAKUA UNAIR Banyuwangi Siapkan Mahasiswa Hadapi UAP

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Potret kegiatan E-Aquaculture Tutor (Equator) HIMAKUA PSDKU UNAIR Banyuwangi. (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS– Bagi bidang studi terapan, perkuliahan secara daring sejauh ini dinilai sangat tidak efektif. Bagaimana tidak, mereka yang dituntut untuk kompeten dalam hal praktis dilapangan, hanya mendapatkan teori serta video tutorial selama perkuliahan daring ini.

Menanggapi hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Aquakultur (HIMAKUA) PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi mengadakan E-Aquaculture Tutor (Equator) Sabtu (13/06) lalu. Kegiatan ini diadakan selain untuk memperdalam pemahaman para mahasiswa dari teori yang diajarkan dalam kelas, juga mempersiapkan mereka menghadapi Ujian Akhir Praktikum (UAP).

“Sasaranya untuk angkatan 2019 dan 2020 yang mana mereka masih akan melaksanakan ujian akhir praktikum, dengan media zoom,” ungkap Ijil Taqiy Arthur Archiles selaku PIC saat diwawancarai UNAIR NEWS Minggu (14/06) lalu.

Arthur menambahkan, untuk mata kuliah yang akan ditutorkan merupakan kesepakatan dari tiap angkatan. “Jadi kita sediakan ­G-form untuk diisi tiap angkatan untuk memilih mata kuliah dan asisten praktikumnya dipilih dengan voting melalui grup Whatsapp masing-masing,” tandasnya.

Rencananya Equator ini didakan pada tiap penghujung semester. Harapanya dengan adanya program ini mahasiswa lebih mampu dan siap menghadapi UAP sehingga mendapatkan nilai yang memuaskan.

“Tutor dilakukan selama 10 menit kemudian dilanjut diskusi dan tanya jawab selama 50 menit, dengan itu harapan kami mahasiswa yang masih bingung bisa menanyakan secara langsung,” tuturnya.

Sementara itu, Dewi Ambarwati yang merupakan mahasiswa angkatan 2019 merasa bahwa dengan adanya Equator ini, dirinya yang absen praktikum secara luring selama hampir 2 semester bisa lebih memahami materi praktikum.

“Yang awalnya buta praktikum, dapat memperdalam wawasan, namun waktunya kurang lama, mengingat antusiasme peserta yang luarbiasa,” ungkapnya.

Senada dengan Dewi, Shovia Finny Anggraeni, mahasiswa tahun 2020 yang sama sekali belum merasakan praktikum luring menjadi punya gambaran bagaimana ketika praktikum secara luring. Ia juga mengetahui garis besar materi apa saja yang harus dipelajari dan diperdalam.

“Saya harap program seperti ini bisa lebih dikembangkan dan intensitasnya lebih sering, supaya bisa membantu kita (angkatan 2020) khususnya dalam mempersiapkan ujian akhir praktikum,” harapnya.

Mengakhiri perjumpaan dengan UNAIR NEWS, Arthur berharap dengan adanya Equator ini bisa membantu mahasiswa yang terhambat selama perkuliahan luring untuk bisa memperdalam materi praktikum. Ia juga berharap adanya sebuah feedback dari para peserta sehingga kedepan Equator bisa dilaksanakan lebih maksimal.

“Kita menyadari, karena ini program baru masih banyak kekurangan, oleh karena itu kita akan adakan evaluasi dan mempertimbangkan masukan teman-teman untuk membuat equator ini lebih optimal,”pungkasnya.

Penulis: Ivan Syahrial Abidin

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp