Profil Resistensi Antibiotik pada Escherichia Coli yang Diisolasi dari Penjualan Daging Sapi di Beberapa Pasar di Sidoarjo, Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: liputan6

Pangan merupakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia, sehingga ketersediaan pangan perlu mendapat perhatian yang serius baik secara kuantitas maupun kualitas. Produk hewani merupakan sumber nutrisi utama bagi pertumbuhan dan kehidupan manusia. Setiap tahun dilaporkan bahwa daging sapi sebagai salah satu bahan pangan terpopuler di Indonesia terus meningkat, sehingga permintaan keamanan pangan dari produk tersebut juga meningkat. Pasar tradisional selama ini identik dengan daerah kumuh, kotor dan sembrono. Apalagi di bagian pasar yang menjual daging, banyak lalat dan kecoa yang beterbangan dengan lantai kotor dan kotor. Pasar sangat rentan dan risiko kontaminasi mikroba cukup tinggi. Sanitasi dan kebersihan lingkungan penjualan (pasar) perlu mendapat perhatian baik dari pedagang itu sendiri maupun pejabat terkait untuk meminimalisir tingkat pencemaran mikroba. Salah satu barang dagangan yang diperdagangkan pasarnya adalah daging.

Pencemaran mikroba pada makanan merupakan hasil pencemaran langsung maupun tidak langsung dengan sumber pencemaran mikroba seperti tanah, udara, air, debu, saluran pencernaan dan pernafasan manusia dan hewan. Escherichia coli merupakan kelompok bakteri coliform yang digunakan sebagai indikator pencemaran dan kondisi sanitasi yang buruk untuk air dan makanan. Escherichia coli merupakan tumbuhan normal pada saluran pencernaan hewan dan manusia sehingga sering menyebar melalui air minum atau makanan yang terkontaminasi kotoran manusia dan hewan serta pemasakan daging yang kurang matang.

Dalam penelitian ini menggunakan antibiotik Eritromisin, Ceftriakson, Gentamycin, Tetracycline, dan Meropenem. Antibiotik merupakan antibiotik yang cukup dominan digunakan di Indonesia. Seperti halnya di negara lain, pola penggunaan antibiotik banyak digunakan secara tidak tepat dan sudah mencapai kadar yang berlebihan. Perkembangan resistensi antibiotik sangat dipengaruhi oleh intensitas paparan antibiotik di suatu daerah, penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol cenderung meningkatkan daya tahan kuman yang awalnya sensitif. Hal ini ditunjukkan dengan pola resistensi antibiotik yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan hasil isolasi dan identifikasi bakteri Escherichia coli dari usapan daging sapi yang diambil di lima pasar tradisional di Sidoarjo, 19 dari 30 sampel atau 63% sampel teridentifikasi positif bakteri Escherichia coli. Hal tersebut dikarenakan penjualan daging di pasar tradisional umumnya dilakukan dalam keadaan terbuka dan daging disajikan di lokasi yang kurang terjamin kebersihannya dan suhu udara yang tinggi. Bakteri akan tumbuh optimal pada suhu kurang lebih 37 oC.

Penjualan daging terbuka juga dapat menyebabkan konsumen memilih daging dengan cara menahannya agar daging dapat tercemar dan tekstur yang menjadi empuk dapat menurunkan kualitas daging. Potongan kecil daging yang dijual di pasaran dapat meningkatkan jumlah mikroba pada permukaan potongan daging tersebut. Pemotongan ini akan memperluas area permukaan yang terbuka sehingga mikroba pada permukaan potongan lebih mudah mendapatkan makanan, air dan oksigen serta memperluas area penetrasi sehingga mikroba lebih mudah berkembang biak dan daging lebih mudah rusak.

Antibiotik yang ditemukan pada Escherichia coli 100% sensitif terhadap antibiotik Meropenem. 94,7% pada antibiotik Ceftriaxone, 89,4% pada antibiotik Gentamycin, 63,1% pada antibiotik eritromisin, dan 10,5% pada antibiotik Tertacycline. Isolat Escherichia coli yang menunjukkan interpretasi antara 5,2% terhadap antibiotik Eritromisin, Gentamisin, dan Tetrasiklin. Isolat Escherichia coli yang memiliki tingkat resistensi tertinggi terhadap antibiotik Tetrasiklin sebesar 84,2%, sebanyak 16 sampel (84,2%). Hasil uji resistensi juga menunjukkan adanya resistensi terhadap eritromisin sebanyak 6 isolat (31,5%) dan 1 isolat pada antibiotik Ceftriaxon dan Gentamycin. Mikroba yang sensitif terhadap antibiotik dapat menjadi resisten akibat kebiasaan penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat.

Penggunaan antibiotik yang monoton dan tanpa prosedur yang tepat dapat menyebabkan peningkatan resistensi antibiotik terhadap antibiotik dan kebiasaan pemberian antibiotik pada ternak menyebabkan ternak tumbuh lebih cepat tetapi juga menyebabkan peningkatan organisme usus yang resisten terhadap antibiotik. Berdasarkan terjadinya resistensi ini dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu resistensi alami pertama, dimana mikroba sejak awal tidak peka terhadap antibiotik.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terbukti adanya bakteri Escherichia coli sebesar 63% dari total sampel 30 daging sapi yang dijual di lima pasar tradisional di Sidoarjo. Hasil uji resistensi terhadap 19 isolat Escherichia coli didapatkan bahwa bakteri 100% sensitif terhadap antibiotik Meropenem, 94,7% terhadap antibiotik Ceftriaxone, 89,4% terhadap antibiotik Gentamycin, 63,1% terhadap antibiotik eritromisin, dan 10,5% terhadap antibiotik Tertacycline. Isolat Escherichia coli yang menunjukkan interpretasi antara 5,2% terhadap antibiotik Eritromisin, Gentamisin, dan Tetrasiklin. Isolat Escherichia coli yang memiliki tingkat resistensi tertinggi terhadap antibiotik Tetrasiklin sebanyak 84,2%, 16 sampel (84,2%), pada antibiotik eritromisin sebanyak 6 isolat (31,5%) dan 1 (5,2%) isolat pada antibiotik Ceftriaxon dan Gentamycin.

Penulis korespondensi: Mustofa Helmi Effendi

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.envirobiotechjournals.com/PR/v39i420/Poll%20Res-63.pdf

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp