Perubahan Lifestyle Pada Keluarga Migran Internasional

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kompas com

Arus pengiriman uang ke negara berkembang diperkirakan mencapai $436 miliar pada tahun 2014, dan menunjukkan peningkatan sebesar 4,4% dari tahun sebelumnya (Bank Dunia, 2015). Menurut Bank Dunia (2015), Asia Selatan dan Asia Timur & Pasifik adalah penerima arus masuk pengiriman uang terbesar. Masing-masing menerima sekitar 25% dari total pengiriman uang masuk ke negara berkembang. Studi-studi terdahulu menunjukkan  bahwa pengiriman uang dapat dimotivasi oleh perilaku altruistik, tujuan asuransi, pengembalian pinjaman, dan investasi (Agarwal & Horowitz, 2002; Lucas & Stark, 1985; Rapoport & Docquier, 2006, bab 17; Yang, 2011). Dengan menggunakan data dari berbagai negara, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pengiriman uang dan pendapatan bersifat countercyclical (Frankel, 2011; International Monetary Fund, 2005; Singh, Haacker, Lee, & Le Goff, 2010).

Realitas menunjukkan bahwa dampak ekonomi dari remitansijuga beragam. Beberapa menemukan hubungan positif antara remitansi dan pertumbuhan ekonomi (Faini, 2007; Ramirez & Sharma, 2008; Ziesemer, 2006) sementara yang lain menemukan hubungan negatif atau tidak ada hubungan (Barajas, Chami, Fullenkamp, ​​Gapen, & Montiel, 2009; Basnet & Upadhyaya , 2014; Chami, Fullenkamp, ​​& Jahjah, 2005; Gupta, 2005; IMF, 2005). Sementara banyak studi telah mengkaji hubungan ini dan beberapa penelitian telah melihat hubungan ini di berbagai kawasan. Nsiah dan Fayissa (2013) menunjukkan dampak positif jangka panjang remitansi terhadap pertumbuhan di Afrika, Asia, dan negara-negara Amerika Latin dan Karibia. Dengan cara serupa, Ramirez dan Sharma (2008) juga menemukan hubungan yang sama di negara-negara Amerika Latin dan Karibia, sementara Lim dan Simmons (2015) melakukan risetdi Karibia dan tidak menemukan hubungan jangka panjang antara pengiriman uang dan pendapatan. Mirip dengan yang terakhir, Donou-Adonsou dan Lim (2016) menemukan tidak ada hubungan jangka panjang di negara-negara Afrika Barat dan berpendapat bahwa remitansi tersebut digunakan untuk tujuan konsumsi.

Studi ini menemukan bahwa terjadi perubahan gaya hidup di kalangan keluarga migran di daerah asal. Remitansi membawa perubahan perekomonian keluarga, perubahan pola pikir, tindakan dan perubahan lifestyle keluarga migran di daerah asal. Studi ini menunjukkan adanya kontradiksi antara tujuan awal melakukan migrasi demi pemenuhan kebutuhan ekonomi dengan lifestyle di kalangan keluarga migran. Kemiskinan yang terjadi kaena tidak ketiadaan aset, modal dan rendahnya pendidikan dan ketrampilan yang dimiliki, didukung dengan tidak adanya lapangan pekerjaan yang tersedia, telah mendorong banyak penduduk di daerah pedesaan untuk melakukan migrasi internasional.

Mereka mengadu nasib dan mencari penghidupan demi masa depan keluarga yang lebih baik. Akan tetapi remitansi yang mereka kirimkan ke daerah asal tidak sejalan dengan tujuan semula. Lifestyle keluarga migran di daerah asal berubah, hal ini terlihat dari beragam jenis barang yang dikonsumsi dengan hanya melihat aspek nilai lebihnya saja, dan bukan pada use value (nilai guna). Dengan kata lain, remitansi yang dikirimkan kepada keluarga di daerah asal, belum teralokasi sebagai aset produktif untuk kehidupan jangka panjang mereka. Status symbol menjadi sangat penting bagi keluarga migran sebagai wujud dari keberhasilan migran bekerja di luar negeri.

Selain meningkatkan perekonomian keluarga, remitansi juga membawa pengaruh dalam banyak hal, diantaranya adalah perubahan struktur keluarga, perubahan di bidang ketenagakerjaan di mana makin banyak perempuan terlibat di dalamnya, pola hubungan sosial antar generasi, tingkat pendidikan dan perubahan gaya hidup yang mengarah pada perilaku konsumtif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa remitansi memberikan pengaruh terhadap berbagai transformasi sosial budaya yang terjadi di daerah asal.

Perubahan lifestyle di kalangan keluarga migran di daerah asal disebabkan oleh beberapa hal. Pengalaman sosial saat bekerja di luar negeri bagi migranbisa jadi tersimulasi kembali ketika mereka kembali ke daerah asal. Fenomena perilaku yang konsumtif berkaitan dengan dengan serapan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh di tempat kerja. Di samping itu, faktor di daerah asal berupa kultur kemiskinan menjadi keluarga migran mengalami cultureshock karena migran memperoleh uang yang sulit didapatkan jika hanya bekerja di daerah asal. Selain itu, jugaterdapat keinginan untuk menunjukan prestise dimasyarakat. Dengan demikian, fenomena perilaku konsumtif keluarga migran merupakan salah satu dampak dari adanya penetrasi modernitas yang selama ini dikampanyekan oleh berbagai agen kapitalis melalui berbagai media, terutama media televisi dan media sosial yang saat ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan.

Penulis: Siti Mas’udah

Link artikel:  https://www.scopus.com/inward/record.url?eid=2-s2.0-85064519013&partnerID=40&md5=acd301bd18bd42c9066703da018d1e1e

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).