Strategi Selandia Baru menghadapi Wabah Covid-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Tribunnews.com

Esai ini mengulas keberhasilan Strategi Eliminasi yang dilaksanakan oleh Selandia Baru. Pengalaman Selandia Baru terbilang unik karena keberhasilan negara ini dalam menghadapi Covid-19 mungkin tidak bisa dilakukan oleh negara lain. Strategi yang diadopsi PM Jacinda Ardern ini merupakan respon reaktifnya atas memburuknya situasi kesehatan global yang menjadi ancaman bagi negaranya. Penulis berargumen, keberhasilan sebuah negara dalam menangani pandemi global ini, dan mungkin juga untuk berbagai bentuk krisis, ditentukan oleh dua faktor, yaitu ‘nurture’ dan ‘nature’. Faktor ‘nurture’ dalam esai ini adalah kesediaan semua pihak untuk bekerja sama: pemerintah, pihak oposisi, dan masyarakat. Pengalaman Selandia Baru mengungkapkan bahwa negara ini memiliki tingkat kohesi sosial yang relatif tinggi, yang dibangun selama ratusan tahun, walaupun kohesi sosial Selandia Baru bukan tanpa kekurangan. Faktor ‘nature’ ditentukan oleh kondisi yang melekat, bersifat alamiah dan relatif konstan, yaitu faktor geografi. Selandia Baru beruntung dengan lokasinya yang terpencil, membuatnya lebih percaya diri untuk menekan pandemi sampai tingkat maksimal dengan berbagai kontrol perbatasan. Sementara faktor ‘nature’ lebih merupakan ‘keberuntungan’, faktor ‘nurture’ dapat terjadi hanya melalui pembelajaran.

Selandia Baru adalah salah satu negara yang paling berhasil melawan Corona Virus Disease (selanjutnya disebut Covid-19) dengan menerapkan strategi eliminasi yang membawa hasil yang efektif. Perdana Menteri Jacinda Ardern menetapkan target melandaikan kurva akibat infeksi Covid-19 secara ambisius: menghapus virus tersebut secara menyeluruh dari negaranya. Negara yang berpenduduk sekitar 5 juta orang ini, terdapat 1.500 orang terinfeksi, 20 orang di antaranya meninggal dunia.

Elimination Strategy adalah nama yang diberikan untuk kebijakan politik dan target ambisius yang diambil oleh PM Ardern dalam melandaikan kurva korban Covid-19. Strategi Eliminasi dilakukan ketika pihak berwenang (pemerintah) intervensi yang kuat sejak dini untuk menghentikan transmisi penyakit. Strategi ini berbeda dengan strategi mitigasi, yaitu strategi yang meningkatkan respon ketika pandemi berlangsung, dan pemerintah melakukan intervensi yang lebih intensif untuk ‘meratakan kurva’ (CILT 2020). Selandia Baru menerapkan strategi eliminasi secara resmi pada 23 Maret 2020.

Strategi eliminasi tidaklah mudah karena keberhasilannya ditentukan oleh banyak faktor. Untuk memastikan keberhasilannya, elemen-elemen penting yang harus diperhatikan dari strategi eliminasi untuk COVID-19 meliputi: (1) Kontrol perbatasan dengan karantina [ketat, tetapi] berkualitas tinggi bagi wisatawan yang datang; (2) Deteksi kasus cepat dengan cara melakukan identifikasi melalui pengujian secara luas, diikuti oleh isolasi cepat, dengan pelacakan kontak individu secara cepat dan melakukan karantina; (3) Meningkatkan kebersihan secara intensif (seperti etiket batuk dan cuci tangan) dan penyediaan fasilitas kebersihan tangan di area publik; (4) Penjarakan fisik yang intensif, yang mencakup penutupan sekolah dan tempat kerja, pembatasan pergerakan dan perjalanan, dan langkah-langkah ketat untuk mengurangi kontak di ruang publik, dengan potensi untuk melonggarkan tindakan ini jika eliminasi berhasil; (5) Strategi komunikasi yang terkoordinasi dengan baik. Akhirnya pada 8 Juni 2020 Selandia Baru menyatakan kemenangannya melawan wabah virus Corona dengan melonggarkan jarak sosial dan fisik, sampai pada level 1 (The Conversation, 2020).

Faktor ‘nature’, yaitu letak geografi, berkontribusi besar dalam membantu kesuksesan Selandia Baru. Dalam beberapa hal, faktor geografi membawa keuntungan dan ketidakuntungan pada saat yang sama. Dukungan faktor lain seperti kepadatan populasi yang rendah, posisi geografis Selandia Baru yang relatif terisolasi merupakan kunci penting yang terdapat di negara ini (Baker, dalam Gunia, 2020), yang memberikan keuntungan pada Selandia Baru, yang tidak selalu dimiliki oleh negara lain.

Beberapa hal yang ditunjukkan PM Ardern dalam kepemimpinannya dalam “perang” melawan Covid-19, di antaranya, (1) mendesak warganya untuk “Bersatu Melawan Covid-19,” dengan berulang kali menyebut negaranya sebagai sebuah “tim yang terdiri dari lima juta (our five million team).” Cara ini telah membantu memenangkan dukungan publik untuk penutupan Selandia Baru. (2) PM Ardern telah membuktikan bahwa untuk mengatasi krisis, pemimpin harus mengindahkan saran ilmuwan. PM Ardern berkomunikasi dengan warganya secara jelas dan konsisten dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan ilmuwan. Kemampuan PM Ardern dalam melawan pandemi mendapat apresiasi dari masyarakat global dengan menyebutnya sebagai “the Most Effective Leader on the Planet”.

Hubungan pemerintah-rakyat yang harmonis dan tata kelolanya yang baik mampu membuat rakyat bekerja mendukung kebijakan pemerintah dalam melakukan penguncian dan pembatasan sosial dan fisik selama beberapa minggu. Penguncian Selandia Baru dari arus masuk manusia selama wabah membawa konsekuensi sosial ekonomi yang cukup tinggi. Selama masa penguncian, hampir semua kegiatan sosial dan ekonomi dihentikan. Kondisi ini tidak mudah bagi kebanyakan Kiwi karena mereka mengalami hal-hal yang sulit, seperti kehilangan pekerjaan, isolasi sosial, dan sebagainya. Tetapi masing-masing Kiwi berkontribusi dalam memutus rantai transmisi Covid-19.

Penulis: Baiq Wardhani

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://e-journal.unair.ac.id/JGS

The Kiwi Way: Strategi Eliminasi Covid-19 Selandia Baru

Global Strategis, Vol 14, No 2 (2020).

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).