Pengaruh Kombinasi Bahan Spirulina dan Kitosan pada Proses Penyembuhan Luka Pasca Pencabutan Gigi Penderita Diabetes Mellitus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sehatq.com

Indonesia merupakan negara dengan prevalensi diabetes mellitus (DM) urutan ketujuh di dunia dengan jumlah penderita sebanyak 10,3 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2045, penderita DM di Indonesia akan meningkat mencapai 16,7 juta jiwa . Pada keadaan DM yang terkontrol, pencabutan gigi dapat dilakukan dan kemudian dapat segera dilanjutkan dengan perawatan prostodontik untuk mengembalikan fungsi kunyah. Namun, pada keadaan DM yang tidak terkontrol, tingginya glukosa dalam darah dapat menyebabkan proses penyembuhan luka pasca pencabutan gigi menjadi terganggu, sehingga perawatan prostodontik tidak dapat segera dilakukan. 

Proses penyembuhan luka yang terganggu pada penderita DM tidak terkontrol dapat disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan antara sel–sel yang terlibat dalam proses keradangan, ketidakseimbangan ini dapat berdampak pada kerusakan jaringan yang tidak terkontrol. Pada umumnya, dalam mempercepat proses penyembuhan luka pasca pencabutan gigi, dapat diberikan bahan bone graft, namun bahan–bahan ini memiliki kekurangan seperti menyebabkan nyeri, mahal, dan dapat bereaksi dengan tubuh. Belakangan ini, banyak penelitian mengenai bahan dari alam yang berpotensi dalam mempercepat proses penyembuhan luka pasca pencabutan gigi, salah satu nya adalah spirulina dan kitosan.

Spirulina merupakan golongan alga berwarna biru kehijauan yang berasal dari familae Oscilatoriaceae, bahan alami initelah teruji tidak memiliki efek toksik pada organ tubuh manusia dan beberapa kandungan dari spirulina seperti C-phycocyanin & β-carotene telah terbukti memiliki beberapa keuntungan farmakologis yaitu sebagai anti-inflamasi. Kitosan sendiri merupakan derivatif dari kitin yang didapatkan dari komponen struktural pada cangkang kepiting, udang serta dinding sel fungi dan rugi. Bentuk terhidrolasi kitosan yaitu N-acetyl-Dglucosamine oligomers (NACOS) & D-glucosamine oligomers (COS) juga telah terbukti memiliki efek biologis seperti anti-inflamasi.

Tim peneliti yang berasal dari Departemen Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga tertarik untuk meneliti efek kombinasi spirulina  dan kitosan  dalam proses penyembuhan luka pasca pencabutan gigi pada penderita DM. Peneliti menggunakan subyek penelitian berupa 36 ekor tikus galur wistar (Rattus norvegicus) yang sengaja dibuat positif DM. Hewan coba positif DM ini kemudian dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan kemudian hewan coba dianestesi untuk dilakukan pencabutan gigi insisif kiri rahang bawah. Pada luka pasca pencabutan gigi hewan coba kelompok kontrol diberi gel kontrol dan pada luka pasca pencabutan gigi hewan coba kelompok perlakuan, diberi gel kombinasi spirulina dan kitosan. Pada hari ke-1, ke-3, dan ke-7 pasca pencabutan gigi, hewan coba dieuthanasia menggunakan ketamin kemudian dilakukan pengambilan spesimen untuk diperiksa di laboratorium.

Penyembuhan luka pada orang dengan Diabetes Melitus (DM) berlangsung lebih lama daripada penyembuhan luka pada orang sehat karena proses radang yang berlebihan. Pada penelitian ini terbukti keradangan pada luka pasca pencabutan gigi tanpa diberi gel spirulina dan kitosan penderita DM lebih lama daripada keradangan pada luka pasca pencabutan gigi penderita DM yang telah diberi gel kombinasi spirulina dan kitosan. Hal ini terjadi karena kandungan C-phycocyanins pada spirulina dan N-acetyl-D-glucosamine oligomers (COS)  pada kitosan yang mampu menghambat sel radang. Selain memiliki efek antiradang, spirulina melalui kandungannya yaitu β-carotene, C-phycocyanin dan allophycocyanin  dapat bersifat sebagai anti-oksidan sehingga oksidan yang biasanya banyak ditemukan pada keadaan gula darah tinggi dapat berkurang sehingga penyembuhan luka dapat terjadi lebih cepat. Kitosan juga telah terbukti memiliki berbagai efek biologis, termasuk antiinflamasi, imunostimulan, antitumor, antiobesitas, antihipertensi, antimikroba dan  antioksidan. Kombinasi spirulina dan kitosan terbukti bersifat antibakteri, antioksidan serta memiliki pH basa yang baik untuk mempercepat penyembuhan luka pasca pencabutan gigi.

Penulis: Prof. Dr. Nike Hendrijantini, drg., MKes., SpPros(K)

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/viewFile/1625/pdf

(The expression of TNF-α, IL-1β, and IL-10 in the diabetes mellitus condition induced by the combination of spirulina and chitosan)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).