Belajar dari “Kitab Tib” Manuskrip Wabah dan Dunia Obat Masa Lampau

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Bertepatan dengan Hari Pahlawan Ke-75 dan HUT UNAIR ke-66 pada Selasa (10/10/2020) Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR menggelar webinar daring. Dengan mengusung tema besar “Wabah dan Obat dalam Tradisi Lisan Dan Tradisi Tulis Nusantara”.

Dr. Junaini Kasdan, salah seorang pembicara, dalam webinar menyoal pemanfaatan bumbu dapur dalam pengobatan Melayu. Dia menyinggung perihal efektifitas dan kreatifitas masyarakat zaman dahulu dalam penggunaan rempah-rempah yang tersedia di dapur untuk pengobatan.

“Dari zaman ke zaman, penduduk kita pasti ada yang sakit, namun selalu ada jalan penyelesaiannya. Bahkan, dalam Hadits riwayat Tarrmidzi juga disebutkan bahwa Allah selalu memberikan penawar pada penyakit, kecuali kematian,” ungkapnya.

Sebelum ada perobatan modern, dahulu dilakukan dengan tradisional dan sederhana. Lalu, berlangsungnya era, resep obat tradisional dalam tradisi lisan diwariskan pada orang terpilih, dan seiring berjalannya waktu sampailah pada tradisi tulis.

Menurut Junaini, terdapat manuskrip beraksara Jawi yang membahas perobatan tradisional, yakni Kitab Tib. Secara umum, manuskrip itu membahas perihal khazanah pengobatan tradisional Melayu, jenis penyakit, ramuan, dan tatacara pembuatan hingga konsumsi.

“Dengan ilmu filologi kita dapat membaca dan menerjemahkan jenis obat-obatan tradisional dalam Kitab Tib,” ujar Junaini yang merupakan alumnus Sasindo UNAIR itu.

Dari hasil penelitian Junaini pada Kitab Tib, ditemukan enam perkara utama yang dibahas. Mulai cara menentukan penyakit, menghindari penyakit, bilangan edaran tahun arab, ilmu siam, obat-obatan, dan hal-hal sejenis.

Selain itu, terdapat 34 jenis penyakit yang dideskripsikan secara teperinci. Seperti sakit mata yang dijelaskan menjadi 12 jenis dengan obat yang berbeda. Menurutnya, aturan pengobatan yang digunakan dokter saat ini juga mirip dengan petuah dalam Kitab Tib.

“Ketika demam kita akan diberikan obat generik, namun dahulu kala orang tua akan memberikan obat dari bumbu dapur yang tidak berefek samping,” ungkapnya.

“Dalam Kitab Tib, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan untuk obat, yaitu akar, daun, batang, bunga, buah, biji, kulit, dan isi. Sedangkan cara penggunaannya bervariasi, yakni diminum, makan, mandi, kunyah, telan, usap, tempel, sembur, hingga kumur,” imbuh dosen Universitas Kebangsaan Malaysia itu.

Mungkin, sambung Junaini, ada tumbuhan yang beracun, namun dapat dimanfaatkan tanpa memakannya. Yakni, dengan menempel atau mengusap karena racun itu dapat melawan penyakit dari luar.

Junaini juga menjelaskan bahwa dahulu pemanfaatan kunyit sebagai obat ukurannya disesuaikan jempol tangan yang mengidap penyakit. Menurutnya, hal itu sebagai batasan atau dosis.

“Bahan tradisional dalam Kitab Tib telah dikaji secara scientific dan sistematik oleh ahli farmasi dan terbukti manfaatnya. Perobatan Melayu masih relevan dengan kehidupan modern karena berasal dari sumber alami,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).