Virus Newcastle Disease sebagai Potensi Terapi Kanker pada Manusia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Alodokter.com

Kelemahan terbesar terapi kanker pada manusia selama ini, seperti kemoterapi, adalah metode ini juga membunuh sel-sel yang normal. Pengembangan terapi kanker dengan efektivitas dan selektivitas yang tinggi terhadap sel kanker, serta efek samping minimal terhadap sel normal sangat dibutuhkan. Begitu mematikannya kanker, secara global, sehingga hampir 1 dari 6 kematian disebabkan oleh kanker. Kini, dalam satu dekade terakhir, penelitian terbaru menemukan virus Newcastle disease (ND) yang secara alami menginfeksi unggas adalah salah satu agen terapi berbasis sistem kekebalan tubuh (imunoterapi) dan terapi berbasis virus (viroterapi) yang sangat potensial untuk terapi kanker pada manusia. Virus ini, yang dikenal sebagai virus onkolitik,, dapat membunuh sel kanker, tanpa merusak sel yang sehat.

Virus onkolitik adalah virus antikanker yang secara selektif akan menginfeksi dan merusak sel kanker tanpa menyebabkan kerusakan pada sel normal. Banyak peneliti telah menyelidiki efek onkolitik dari virus ND karena bereplikasi pada sel kanker manusia tapi tidak merusak pada sel normal. Virus antikanker ini sangat penting karena kanker adalah penyakit dengan morbiditas dan mortalitas tinggi yang menyebabkan kematian. Saat ini, menurut data terbaru WHO, kanker merupakan salah satu penyakit utama penyebab kematian di dunia. Pada 2015, terdapat 8,8 juta kematian pada akibat kanker. Sedangkan di Indonesia, data WHO pada 2014 menyebutkan 103.100 lak-laki dan 92.200 perempuan mati akibat kanker. Menurut WHO, pada 2030 akan terjadi lonjakan penderita kanker di Indonesia sampai tujuh kali lipat.

Newcastle disease  pertama kali dilaporkan oleh Profesor Kraneveld yang bekerja di Balai Besar Penelitian Veteriner (BBalitvet) di Bogor, Jawa Barat pada 1926. Tahun berikutnya, di Inggris terjadi wabah penyakit yang ganas pada unggas di daerah New Castle upon Tyne (Newcastle). Setelah 1935, nama ND baru digunakan oleh Doyle, merujuk pada nama kota di Inggris tersebut. Selanjutnya, ND menyebar dengan cepat ke berbagai belahan dunia. Penyakit juga dapat menyebabkan pembatasan perdagangan internasional pada produk unggas dan embargo pada area atau negara yang mengalami wabah. Walau virus pada unggas ini berbahaya bagi unggas, virus tersebut sangat potensial sebagai terobosan antikanker pada manusia.

Semua organ dalam tubuh manusia dapat menjadi kanker tanpa memandang usia, jenis kelamin, etnis, pola makan, dan lingkungan. Umumnya, kanker disebabkan oleh penurunan kematian sel atau peningkatan penyebaran sel. Karena itu, pengembangan terapi kanker yang efektif membunuh sel rusak dan di saat sama berefek negatif minimal terhadap sel sehat menjadi sangat penting. Efektivitas aplikasi virus ND didasarkan pada aktivitas onkolitik yang tinggi, dan keamanan penggunaannya didasarkan pada replikasi yang selektif menyerang sel kanker dan tidak merusak sel normal.

Baru-baru ini, kelompok peneliti di Malaysia menggunakan isolat virus ND dari wabah yang terjadi di Malaysia, yaitu galur AF2240. Hal ini telah mendapatkan perhatian yang signifikan, terlepas dari sifat toksiknya yang tinggi terhadap sel kanker (sitotoksik). Galur ini juga memberikan wawasan mendasar ke mekanisme terprogram (apoptosis) yang dimediasi oleh virus ND yang melibatkan protein Bax (BCL2-associated X) serta reseptor apoptosis.

Penulis: Arif Nur Muhammad Ansori, Alexander P. Nugraha
Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada: http://www.connectjournals.com/toc2.php?abstract=3180800H_2827A.pdf&&bookmark=CJ-033216&&issue_id=Supp-01%20&&yaer=2020

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).