Manajemen Risiko pada Research Center

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Dari 5 aktivitas kerja yang dilakukan di Research Center, terdapat 20 potensi bahaya dengan 20 risiko yang dapat terjadi. Potensi bahaya yang diidentifikasi meliputi bahaya fisik, bahaya kimia, bahaya biologis, dan bahaya ergonomi. Risiko pada setiap potensi bahaya dapat terjadi mulai risiko rendah hingga risiko ekstrem.

Hasil observasi dan wawancara pada penilaian dan penentuan tingkat risiko, diketahui dari 5 aktivitas kerja yang dilakukan di Research Center, terdapat 20 risiko yang terdiri atas 7 jenis risiko dengan kategori risiko rendah (35 persen), 11 jenis risiko dengan kategori risiko sedang (55 persen), 1 jenis risiko dengan kategori risiko tinggi (5 persen), dan 1 jenis risiko dengan kategori risiko ekstrem (5 persen).

Tingkatan pengendalian risiko terdiri atas eliminasi, substitusi, rekayasa teknis, administratif, dan alat pelindung diri. Berdasar hasil penilaian dan penentuan tingkat risiko, selanjutnya ditentukan pengendalian risiko yang disesuaikan dengan tingkat risiko yang telah dianalisis. Terdapat 15 upaya pengendalian telah diterapkan pada setiap risiko yang ada, namun masih terdapat 5 upaya pengendalian yang belum diterapkan pada setiap aktivitas yang dilakukan di Research Center.

Identifikasi bahaya dilakukan melalui observasi secara langsung dan wawancara dengan seorang laboran di Research Center untuk mengetahui aktivitas kerja beserta potensi bahayanya. Metode identifikasi bahaya yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode proaktif, yaitu metode yang mencari bahaya sebelum bahaya tersebut menimbulkan akibat atau dampak yang merugikan. Terdapat 5 aktivitas kerja yang diidentifikasi di Research Center, meliputi penelitian di laboratorium imunologi dan histologi, penelitian di laboratorium mikrobiologi, penelitian di laboratorium biologi molekuler, penelitian di laboratorium stem cell, dan pembersihan bekas medium penelitian.

Setiap pekerjaan yang dilakukan pasti terdapat berbagai macam potensi bahaya yang tergantung pada jenis produksi, mesin dan peralatan yang digunakan, bahan yang dipakai, lingkungan, serta kualitas manajemen dan pekerja. Bahaya merupakan segala sesuatu termasuk situasi atau tindakan yang berpotensi menyebabkan terjadinya kecelakaan atau cidera pada manusia, kerusakan atau gangguan lainnya.

Bahaya di tempat kerja dapat terjadi apabila ada interaksi antara unsur-unsur produksi, yaitu manusia, peralatan, material, proses, maupun metode kerja. Apabila bahaya dihubungkan dengan besar kemungkinan dapat menimbulkan kecelakaan dan besar keparahan yang diakibatkannya, maka menjadi suatu risiko. Risiko yang tidak terkendali dan tidak dikelola dengan efektif dan tepat sasaran, maka berpotensi menyebabkan terjadinya kecelakaan.

Risiko harus dihindari atau dikendalikan seminimal mungkin untuk mencegah terjadinya kejadian yang tidak diinginkan. Pengendalian risiko dapat dilakukan dengan menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja pada setiap jenis pekerjaan dengan tujuan untuk mengurangi bahkan menghilangkan berbagai bahaya yang ada dan berpotensi mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja. Salah satu tempat kerja yang harus menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja adalah laboratorium.

Laboratorium merupakan suatu tempat berupa gedung tertutup atau ruangan yang terdapat sejumlah alat dan bahan di dalamnya yang digunakan untuk melakukan suatu penelitian, pengujian, praktikum atau percobaan, dan lain-lain. Pada kegiatan tersebut tentunya menggunakan berbagai jenis alat, bahan kimia, dan fasilitas pendukung lain seperti air, listrik, dan gas. Laboratorium termasuk salah satu tempat kerja yang memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja. Berbagai sumber potensial bahaya terdapat di laboratorium, seperti bahaya faktor fisik, faktor kimia, faktor biologis, faktor ergonomi, dan faktor psikologis. Penggunaan berbagai macam bahan kimia, spesimen, dan peralatan khusus di laboratorium berpotensi menimbulkan risiko terjadinya kecelakaan maupun gangguan kesehatan atau penyakit.

Aktivitas kerja yang dilakukan di Research Center sangat banyak dan berpotensi menimbulkan berbagai risiko yang dapat mengancam pekerja, aset, hingga lingkungan. Penggunaan berbagai bahan kimia maupun peralatan di Research Center juga berpotensi menyebabkan terjadinya peledakan, kebakaran, kecelakaan kerja seperti terpotong, tersayat, terkena percikan bahan kimia, keracunan, hingga penyakit akibat kerja seperti dermatitis kontak, infertilitas, dan kanker. Selain itu, banyak faktor lain yang perlu diperhatikan untuk menunjang kegiatan yang dilakukan dalam Research Center. Oleh karena itu, setiap bahaya dalam Research Center yang berpotensi menimbulkan risiko negatif seperti cidera, kerusakan maupun kerugian harus dicegah atau dikendalikan. Untuk mencegah setiap bahaya yang ada, dapat dilakukan suatu manajemen risiko melalui proses identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko atau yang dapat dikenal dengan Hazard Identification, Risk Assessment and Determinant Control (HIRADC). HIRADC merupakan sebuah sistem untuk melakukan analisis risiko yang terdiri dari 3 (tiga) tahapan, meliputi identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko. Tujuan dilakukannya HIRADC adalah untuk mengidentifikasi risiko bahaya di tempat kerja yang mengaitkan antara pekerja, tugas, peralatan dan lingkungan kerja.

Penulis: Putri Ayuni Alayyannur

Judul Artikel: Risk Management by Implementing Hazard Identification, Risk Assessment and Determinant Control (HIRADC) Method in the Research Center of the University in Surabaya, Indonesia

Link Artikel: http://ijfmt.com/issues.html 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).