Gandeng Mitra, FF UNAIR Siap Tingkatkan Hilirisasi Produk

UNAIR NEWS – Upaya Universitas Airlangga untuk menjadi World Class University (WCU) telah dilakukan oleh berbagai pihak, diantaranya dilakukan oleh Fakultas Farmasi UNAIR. Untuk hal itu FF UNAIR mengandeng salah satu industri ternama dalam bidang kosmetik serta mendatangkan staff dari Direktorat Jendral Penguatan Inovasi Kemenristek Dikti. Kerja sama tersebut dilangsungkan dengan acara  sosialisasi yang berlangsung di Ruang Sidang lantai I FF (08/03). Acara tersebut juga menjadi bentuk tindak lanjut dari pencapaian Research Excellence dan menjadi pertemuan tiga bidang yang berbeda, yakni Instansi Pemerintahan, Perguruan Tinggi, dan juga Industri.

“Dari pertemuan ini kami juga mengambil manfaat dengan melakukan kerja sama. Pihak pemerintahan dalam hal ini membawa dua misi, yakni sebagai jembatan penghubung perguruan tinggi dengan industri dan juga penilaian terhadap produk-produk yang layak diproduksi,” ujar Dewi Melani Hariyadi, S.Si., M.Phil., Ph.D., Apt., selaku Wakil Dekan III FF UNAIR.

Dewi juga menambahkan bahwa dari pihak FF UNAIR sebenarnya sudah memiliki produk-produk yang layak untuk dipublikasikan. Pihaknya berharap bahwa di pihak industri bisa terus menjadi pendamping agar produk-produk FF UNAIR layak produksi dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Kita sendiri sudah menghasilkan produk yang siap hilirisasi. Misalnya, kosmetik yang berbahan dasar alam maupun sintesis, seperti lulur Sumenep,” jelasnya. “Kami juga sudah melakukan penelitan untuk menghasilkan obat tradisional, namun dalam pertemuan ini pihak industri masih berfokus pada kosmetik,” imbuhnya.

Turut pula hadir pada acara tersebut ketua Lembaga Pengembangan Produk Akademik & Hak Kekayaan Intelektual (LPPA-HAKI) Prof. Dr. Sukardiman, Apt., MS. Dalam acara tersebut ketua LPPA-HKI mempresentasikan produk-produk UNAIR yang sudah terdata.

 

Penulis: Akhmad Janni

Editor: Nuri Hermawan




IKA FKG 2002: Revolusi Dokter Gigi di Era Generasi Baru

UNAIR NEWS – Kegiatan Stovit Weekend Market and Seminar dengan tema “Revolusi Dokter Gigi di Era Generasi Baru” telah disiapkan matang-matang sejak bulan Juli tahun lalu. Acara yang diketuai oleh Dr. Taufan Bramantoro, drg., M.Kes., ini berlangsung selama dua hari, yakni pada hari Sabtu dan Minggu (04-05) Maret 2017.

Taufan yang juga Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa tujuan dari rangkaian acara ini untuk memberikan wawasan luas terkait dibutuhkannya kesadaran bagi teman-teman sejawat dokter gigi.

“Kita perlu menyadari bahwa di masyarakat telah terjadi dinamika kebutuhan yang berkembang semakin pesat mengenai pelayanan kesehatan dan juga mengenai perilaku dan karakteristik masyarakat,” jelasnya.

Di hari pertama, kegiatan ini di isi dengan bazaar, seminar alumni serta acara reuni alumni angkatan 2002 di malam harinya. Selanjutnya, di hari kedua dilaksanakan seminar nasional untuk dokter gigi.

Banyak dokter gigi yang berkesempatan menjadi pembicara dalam acara tersebut dengan judul dan topik yang berbeda. Dekan FKG UNAIR Dr. R. Darmawan Setijanto, drg., M.Kes., juga membawakan sebuah topik yang tidak kalah menarik, yakni Dentalpreneur. Darmawan menjelaskan mengenai pentingnya kesanggupan dokter gigi untuk bisa menguasai ilmu Integrity Profesionalisme and Enterpreneur (IPE).

“Apabila terdapat dokter gigi yang tidak dapat menguasai IPE maka dipastikan dokter tersebut akan menjadi dokter gigi yang tidak beruntung,” terangnya.

Di akhir wawancara, Taufan kembali menegaskan bahwa harapan dari acara tersebut nantinya dapat berlanjut di tahun-tahun mendatang. Selain itu, ia juga berharap bahwa kegiatan mendatang bisa dikembangkan dengan beragam tema yang berbeda.

“Dan pastinya terdapat peningkatan kepedulian dari dokter gigi untuk masyarakat agar berubah lebih maju dan mulai menyesuaikan dengan kondisi pasien di zaman serba canggih ini,” pungkasnya mengakhiri.

Penulis : Ainul Fitriyah

Editor    : Nuri Hermawan




FKG UNAIR Periksa Keadaan Gigi dan Mulut Masyarakat Bali

UNAIR NEWS – Pengabdian terhadap masyarakat memang tak pandang jarak. Buktinya, para dokter gigi Departemen Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga telah melaksanakan acara bertajuk “Bakti Sosial Kesehatan Gigi Berbasis Penelitian di Desa Banjarangkan, Klungkung, Bali”. Kegiatan yang dilangsungkan pada Sabtu (25/2) tersebut juga melibatkan Ikatan Periodonsia Indonesia Komisariat Surabaya.

Humas FKG UNAIR Shafira Kurnia Supandi, drg., Sp.Perio (K) yang turut serta dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa tujuan pelaksanaan bakti sosial tersebut adalah untuk meningkatkan mutu dan cakupan status kesehatan gigi dan mulut agar optimal. Melalui kegiatan bakti sosial itu, masyarakat juga diharapkan mampu memelihara kesehatan gigi dan mulut secara mandiri.

“Kita harapkan, dengan adanya bakti sosial semacam ini, masyarakat secara mandiri bisa mengetahui kelainan-kelainan penyakit gigi dan mulut serta mampu mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasinya secara darurat,” tutur Shafira.

Dalam bakti sosial tersebut, masyarakat diajak untuk menyerap pengetahuan dengan rangkaian kegiatan seperti penyuluhan kesehatan gigi dan mulut untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan gigi sederhana, pembersihan karang gigi, serta cek gula darah dan tekanan darah.

Menurut Shafira, bakti sosial diikuti oleh pengajar dan 32 mahasiswa yang tengah menempuh Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis FKG UNAIR. Kegiatan ini menyasar seluruh warga desa setempat beserta ibu hamil. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 200 orang.

Acara dibuka oleh ketua panitia Made Deby Artika, drg., MM., Ketua Departemen Periodonsia Dr. Chiquita Prahasanti, drg., Sp.Perio (K), dan Kepala Dinas Pemerintah Kabupaten Klungkung dr. Adi Swapatni.

“Kami berharap agar acara bakti sosial ini dapat menjadi acara rutin tahunan sebagai bentuk pengabdian terhadap masyarakat dalam upaya menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tutur Shafira.

Penulis: Defrina Sukma S

 




Ngobrol Bareng tentang UNAIR di SMAN 1 Denpasar

UNAIR NEWS – Pendaftaran jalur SNMPTN resmi berakhir Selasa, 7 Maret 2017. Hal tersebut tidak menghentikan langkah tim Pusat Informasi dan Humas (PIH) untuk terus mensosialisasikan Universitas Airlanga (UNAIR) di salah satu SMAN favorit di Pulau Dewata, yaitu SMAN 1 Denpasar.

Dalam kesempatan ini, tim PIH memberikan informasi yang lebih detail perihal jalur masuk ke UNAIR melalui jalur SBMPTN dan MANDIRI di kelas IPA dan IPS. Setelah pelaksanaan sosialisasi materi selesai, tim PIH secara personal memulai melakukan sharing dalam bentuk ngobrol bareng secara lebih mendekat kepada siswa untuk mendengar pertanyaan dan menjawab secara jelas dengan suasana yang lebih santai.

Tim PIH I Wayan Putra Radityawan (kanan) bersama salah satu siswa di Denpasar. Para siswa terlihat antusias mengikuti sosialisasi.

Harapannya, dengan ngobrol bareng ini siswa lebih merasa yakin terhadap pilihan di Universitas Airlangga. Tim PIH juga mengupayakan dengan ngobrol bareng ini siswa lebih paham dan mengetahui strategi yang dapat digunakan dan dipersiapkan untuk dapat mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru di Universitas Airlangga (UNAIR).

Salah satu siswa yang bernama Dedy Mahendra bertanya perihal UKT (Uang Kuliah Tunggal) di Fakultas Kedoktern Gigi. Tim PIH menjawab dengan detail perihal UKT dan berusaha meyakinkan siswa agar tidak terlalu mempermasalahkan perihal pembiayaan di UNAIR nantinya. Karena, UNAIR merupakan salah satu PTN yang menawarkan beasiswa terbanyak di Indonesia, Pihak Rektorat UNAIR sendiri selalu menekankan bahwa persoalan finansial bukan penghambat siswa untuk berkuliah di Universitas Airlangga.

Tim PIH Hedy Diah Syahputri (kiri) bersama para pengajar di SMAN 1 Denpasar

Siswa lainnya yang bernama Melinda bertanya perihal peluang yang dimiliki untuk dapat masuk Fakultas Kedokteran, Tim PIH menjawabnya dengan menampilkan angka keketatan dari tahun-tahun sebelumnya dan kuota yang ditetapkan UNAIR tahun ini.

“Ngobrol bareng ini penting untuk memberi gambaran tentang UNAIR pada para siswa,” kata Guru BK SMAN 1 Denpasar Dra. Pande Nyoman Supeni.

Salah satu sudut SMAN 1 Denpasar yang menjadi salah satu sekolah favorit di Ibu Kota Bali itu.

Dia menyatakan, banyak siswa yang melakukan konsultasi di BK, akan tetapi sebagian siswa masih belum banyak yang yakin dengan pilihannya. Harapannya, dengan ngobrol bareng ini, semakin memantapkan siswa dalam memilih PTN khususnya, UNAIR. Mengingat, alumni dari SMAN 1 Denpasar banyak yang merupakan bagian dari civitas akademika kampus Airlangga.

Penulis dan Fotografer     : I Wayan Putra Radityawan dan Hedy Diah Syahputri

Editor                             : Rio F. Rachman




IOP Gelar Sharing Session dengan Erasmus+

UNAIR NEWS – International Office and Partnership (IOP) Universitas Airlangga bekerja sama dengan Universitas Masaryk, Ceko, menyelenggarakan sharing session (sesi informasi) tentang program pertukaran mahasiswa Erasmus+ yang dihadiri sekitar 65 orang dari berbagai fakultas. Acara tersebut dilangsungkan pada Selasa (28/2) di Aula Kahuripan 301, Kampus C UNAIR.

Acara yang berlangsung selama dua jam dihadiri oleh dua pembicara. Yakni, Astria Okta selaku pengurus divisi Outbond Mobility IOP UNAIR, dan Zuzana Pelankova selaku peserta program Erasmus+ dari Universitas Masaryk. Dalam acara tersebut, Astria menyebutkan ada beberapa keuntungan dan jenis program pertukaran mahasiswa yang bisa diikuti oleh mahasiswa UNAIR. Para mahasiswa bisa mengikuti program pertukaran mahasiswa ke universitas tujuan baik yang sedang memiliki kerja sama maupun tidak dengan UNAIR.

“Bila di sini ada teman-teman mahasiswa yang ingin mendapatkan informasi dan membutuhkan bantuan terkait program pertukaran mahasiswa, kami di IOP akan siap memfasilitasi apa yang dibutuhkan,” tutur Astria.

Sementara itu, Zuzana membagikan kisah dan informasi umum mengenai Universitas Masaryk dan kehidupan mahasiswa di Brno, suatu kota di Ceko. Zuzana mengatakan, bahwa ia mendapatkan banyak pengalaman ketika ia mengikuti pertukaran saat studi sarjana dan master. Ia lantas mendorong para mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman dengan mengikuti berbagai program pertukaran mahasiswa. Menurutnya, pengalaman yang didapat saat mengikuti pertukaran mahasiswa adalah sebuah cerita yang tak terlupakan.

Setelah pemaparan, ada pula sesi tanya jawab dan kuis antara pemateri dan peserta. Para peserta cukup antusias dalam menjawab kuis yang diberikan Zuzana, apalagi pemateri Erasmus+ itu membawa banyak hadiah bagi peserta yang bisa memberikan jawaban dengan benar.

Salah satu peserta yang juga mahasiswa asal Fakultas Hukum, Hach Dini, menyampaikan respon positifnya terkait acara sesi berbagi. Dini menginginkan agar IOP lebih banyak menggelar acara serupa yang menghadirkan pemateri dari berbagai universitas.

“Saya berharap agar IOP bisa menyelenggarakan lebih banyak lagi acara serupa dan dilaksanakan di kampus B,” tutur Dini.

Penulis: Astria Okta

Editor: Defrina Sukma S

 




FKG Inisiasi Ketersediaan Data Kesehatan Gigi untuk WHO

UNAIR NEWS – “Di Asia Tenggara ini cuma data Indonesia saja yang tidak ada di WHO. Kita melihat China yang lebih besar dan lebih banyak etnisnya, ternyata dapat memiki data. Itu yang menjadi salah satu dorongan untuk kami,” ungkap Dr. R. Darmawan Setijanto, drg., M.Kes. Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Universitas Airlangga dalam sambutannya pada acara penandatanganan nota kesepahaman antara FKG UNAIR dengan Faculty of Dentistry, Thammasat University, Thailand, Senin (6/3).

Tidak adanya data mengenai kesehatan gigi masyarakat Indonesia di WHO, berdampak pada sulitnya dukungan yang akan didapat Indonesia. Melihat realita ini, akademisi FKG UNAIR terdorong untuk menyediakan data tersebut. Upaya itu dilakukan dengan membentuk kerjasama dengan Faculty of Dentistry, Thammasat University, Thailand.

MoU antara FKG UNAIR dan Thammasat Universiry memuat beberapa kesepakatan, seperti perjanjian student exchange, staff exchange, dan riset collaboration bagi kedua belah pihak. Pada kesempatan MoU itu, Thammasat University diwakili oleh Prof. Prathip Phantumvait DDS, Ph.D.

“Yang paling penting adalah riset collaboration. Kita ingin menyediakan data untuk kebutuhan WHO. Karena kebutuhan data di WHO tidak tampil, khususnya kedokteran gigi. Rencananya, kami juga akan berkolaborasi dengan FKG di Nigata. Nantinya alokasi dana ini digunakan untuk riset kolaborasi dengan fakultas-fakultas di Korea dan Jepang yang memiliki banyak publikasi. Sehingga, kualitas publikasi dosen kita semakin baik. Ini selaras dengan arahan Pak Rektor,” tutur Darmawan.

Kementerian Kesehatan yang turut datang dalam acara menyambut baik kerjasama antar kedua belah pihak. Pasalnya, Kedokteran Gigi se-Indonesia tidak memiliki data di WHO yang merupakan suatu kebutuhan dari Kementerian Kesehatan.

“Harapannya adalah kita memiliki data dunia. Dengan kerjasama ini kita akan mengadvokasi fakultas-fakultas lain untuk kerjasama, kualitas penelitian dan publikasi menjadi lebih baik. Saat ini kita memiliki kerjasama dengan FKG dengan berbagai universitas seperti Universitas Hang Tuah (UHT), Universitas Indonesia (UI), dan lainya. Kita memiliki asosiasi Dekan Fakultas Kedokteran Gigi. Fungsinya untuk mengikat satu gerakan agar lebih efisien dan efektif,” imbuh Darmawan.

Kerjasama semacam ini sering dilakukan oleh FKG. Sebelumnya, FKG pernah bekerjasama dengan fakultas-fakultas ternama yang ada di Jepang, Malaysia, dan Korea. (*)

Penulis: Pradita Desyanti
Editor: Binti Q. Masruroh




“SINAU 12” Inisiasi Pemuda untuk Cerdaskan Bangsa

UNAIR NEWS – Menjadi mahasiswa merupakan waktu yang tepat untuk melakukan banyak hal yang bermanfaat. Selain ditempa dengan ilmu pengetahuan dan kegiatan akademis lainnya, masih banyak mahasiswa yang meniyisihkan waktunya untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Ditengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Maulana Satria Aji bersama rekan-rekannya menyisihkan waktu untuk melalukan kegiatan pengabdian masyarakat berbasis literasi di kampung yang mereka beri nama “Sinau 12”.

Berlokasi di Balai RW 12, Sidotopo Jaya 2A, Surabaya, mahasiswa FKM UNAIR tersebut setiap hari Rabu dan Sabtu, mulai pukul 19.00 hingga 20.00 memimpin kegiatan “Sinau 12”. Peserta dari kegiatan tersebut adalah anak-anak sekolah dasar kelas 1-6 di kampung tempatnya tinggal. Kegiatan “Sinau 12” meliputi kegiatan belajar bersama tentang materi-materi pelajaran di sekolah. Namun, ada hal yang menarik dari kegiatan “Sinau 12” ini yaitu menggunakan pendekatan moral. Aji bersama timnya memilih menggunakan pendekatan moral tersebut agar anak-anak peserta “Sinau 12” tidak hanya pintar dalam materi pelajaran tetapi juga agar mengenal softskill sejak dini.

“Dalam setiap kegiatannya, “Sinau 12” menggunakan pendekatan moral kepada adik-adik seperti mengajarkan sopan santun dan menyertakan doa pada setiap kegiatan. Tujuannya agar softskill mereka terasah sejak dini,” jelas mahasiswa semester IV tersebut.

Aji mengatakan bahwa kegiatan “Sinau 12” awalnya bermula dari kegiatan Pelajar Mengajar dengan fokus literasi yang diikutinya. Dari pengalaman tersebut Aji berinisiasi untuk melakukan program serupa di kampungnya yang notabene memiliki banyak anak-anak yang dinilai kurang dalam hal literasi. Selain Aji dan tim kegiatan ini juga melibatkan karang taruna setempat serta dukungan dari masyarakat sekitar.

Antusiasme anak-anak peserta “Sinau 12” sangat tampak dari awal hingga akhir kegiatan. Ada anak-anak yang mengerjakan tugas sekolah, ada yang menghafal pancasila, dan ada yang belajar tentang kebersihan. Rio, salah satu peserta “Sinau 12” menjelaskan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat bagi dirinya, karena bisa belajar dalam kondisi yang menyenangkan dengan didampingi pengajar kegiatan “Sinau 12”.

“Kegiatan disini menyenangkan untuk belajar, selain itu kakak-kakaknya juga baik,” jelasnya.

Di akhir wawancara, Aji menjelaskan bahwa dengan dilaksanakanya kegiatan ini, ia berharap agar mahasiswa mampu untuk mengabdi bagi masyarakat dan mampu untuk memberi perubahan di masyarakat.

“Fungsi “Sinau 12” ini sebagai kegiatan mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmunya pada masyarakat, sehingga ilmu yang didapat dari perkuliahan tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa sendiri tetapi dapat juga bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Penulis : Rizky Yanuar Rahmadan

Editor    : Nuri Hermawan




Pakar Antropologi Belanda Menyarankan Agar Masyarakat Cintai Lingkungan

UNAIR NEWS – Era globalisasi memberi kesempatan mobilitas yang tinggi bagi seluruh manusia tanpa batas. Namun, paradigma mobilitas memiliki dampak terhadap lingkungan.  Berangkat dari hal tersebut, Departemen Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga mengadakan kuliah umum bertema “New Mobility Paradigm Applied to Surabaya Particular Kali Brantas, Jumat (3/3). Pakar antropologi Dr. Freek Colombijn, Associate Professor, Faculty of Social Cultural Anthrophology, Vrije Universieit Amsterdam, memberikan kuliah umum tentang globalisasi.

Kuliah umum bertempat di Ruang Siti Parwati FIB ini mengulas makna globalisasi. “Globalisasi bukan hanya tentang McDonalds, KFC, CocaCola, atau kepadatan penduduk di wilayah urban (perkotaan). Tetapi, tentang bagaimana dampaknya terhadap masyarakat,” tutur Freek.

Sedangkan aspek globalisasi meliputi berbagai lingkup, yaitu etnoscapes, landscapes, technoscapes, mediascapes, dan ideoscapes. Lingkup etnoscapes meliputi proses perpindahan manusia dari wilayah satu ke wilayah lainnya, misalnya perjalanan wisata yang saat ini didukung infrastuktur yang memadai. Di sisi lain, landscapes ialah apa yang terlihat bergantung pada posisi. Sebagaimana studi lingkungan erat kaitannya dengan gaya hidup atau perilaku seseorang dalam lingkungannya. Misalnya, seorang petani memiliki selera pakaian kaos oblong dan celana pendek. Berbeda dengan petani, artis lebih berselera mengenakan gaun dan baju-baju mahal.

Technoscape dan mediascape mengarah pada perkembangan teknologi yang mutakhir dewasa ini. Kecanggihan teknologi mampu mempermudah komunikasi dan distribusi atar wilayah, bahkan antar negara sehingga mobilitas tidak terhambat akses biaya. Sedangkan, ideoscape merujuk pada ideologi dan paham-paham setiap bangsa yang mulai bergerak menyesuaikan tuntunan zaman.

“Menurut Cresswell terdapat tiga pergerakan, yaitu mobilitas fisik, representasi mobilitas atau bagaimana kita memperlihatkan sebuah mobilitas kepada orang lain, dan praktik mobilitas atau ketika kita mengalami perpindahan itu sendiri.’ imbunya.

Perpindahan atau mobilitas memiliki batasan dan hambatan. Contohnya, hambatan karena kebijakan pemerintah seperti kebijakan proteksionisme Donald Trump. Pelarangan imigran dan muslim dari Meksiko dan beberapa wilayah membatasi mobilitas ke Amerika Serikat. Konflik jalur Gaza pun menjadi salah satu fenomena hambatan mobilitas. Masyarakat terpaksa melewati lubang bawah tanah untuk mobilitas antar wilayah.

Selain mobilitas, Freek juga membahas studi lingkungan. Cakupan penelitiannya adalah Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Ia melakukan penelitian di Surabaya. Freek mencoba menelusuri aliran sampah dari rumah tangga hingga tempat pembuangan air. Ia menemukan pola menyerupai kaktus sebagai direction of waste (arah sampah).

Arah tersebut berawal dari petugas pengambilan sampah di tiap rumah dan dipilah sesuai dengan jenisnya. Sampah dipilah antara bernilai jual dengan tidak. Sampah yang tak bernilai jual, akan dialirkan ke tempat pembuangan sementara (TPS). Beberapa sampah masih dipilah lagi kemudian dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA).

“Awalnya saya menilai kota-kota di Indonesia termasuk dalam jenis kota kotor. Namun, setelah saya dalami situasinya ternyata hanya pada tempat-tempat tertentu saja yang kotor salah satunya, yaitu sungai. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk mengontrol jumlah sampah di rumah masing-masing sehingga tidak menyumbang sampah semakin banyak,” jelas Freek.

 

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Defrina Sukma S




UNAIR Akselerasi Penelitian di bidang Ilmu Sosial

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga kedatangan dua tamu dari lembaga pemeringkatan perguruan tinggi dunia Quacquarelli Symonds (QS), Senin (6/3). Mereka adalah CEO QS Asia’s University Ranking (AUR) Mandy Mok, dan senior konsultan QS AUR Samuel Wong.

Kedatangan mereka sejalan dengan target yang ditetapkan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi kepada UNAIR untuk menjadi 500 top perguruan tinggi dunia pada tahun 2020. Untuk menunjang sinergi, pertemuan ini juga mengundang pimpinan seluruh fakultas, unit, badan, dan lembaga di lingkungan UNAIR.

Tahun 2016 lalu, ada indikator penilaian yang bertambah dari tahun-tahun sebelumnya, yakni persentase dosen bergelar doktor sebanyak lima persen. “Untuk itu, kita coba tingkatkan proporsi jumlah dosen yang S-3, termasuk sitasi,” ujar Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) sekaligus koordinator program WCU UNAIR Badri Munir Sukoco, Ph.D.

Dalam presentasinya, Samuel Wong mengatakan, UNAIR memiliki nilai plus di bidang ilmu kedokteran dan ilmu hayati. Wong berpendapat, UNAIR perlu mengakselerasi publikasi dan penelitian di bidang ilmu sosial.

Melihat kondisi tersebut, Badri mengatakan bahwa BPP sudah menjalani kontrak kinerja dengan masing-masing dekan di fakultas. “Kita juga sudah standarisasi. Jadi kalau semua dosen S-3, minimal 50 persen sudah ada publikasi. Sebelumnya gak ada aturan begitu. Sehingga para dekan juga akan mencoba mendorong teman-teman masing-masing fakultas, khususnya sosial sciences,” tambahnya.

Sementara itu, dalam kesempatan wawancara, Mandy Mok berharap agar sivitas akademika UNAIR lebih banyak muncul di kancah internasional. Caranya, adalah memperbanyak publikasi di jurnal bereputasi dan aktif mengikuti konferensi internasional.

“Untuk menuju WCU, harus berusaha untuk muncul dan didengar di kancah internasional, memperbanyak publikasi, menyelenggarakan lebih banyak kegiatan tentang riset dan publikasi internasional, lebih kreatif, dan mengikuti perkembangan,” ujarnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S




Bahas Program KKN, Direktur Kemahasiswaan ITS Kunjungi UNAIR

UNAIR NEWS – Program Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM) yang telah lama dilakukan oleh Universitas Airlangga, menjadi acuan dari berbagai perguruan tinggi. Direktur Kemahasiswaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Dr. Darmaji, S.Si, MT., mengunjungi UNAIR guna menggali informasi tentang pelaksanaan program KKN-BBM.

“Sekarang di ITS memang tidak ada KKN, tapi dulu pernah ada. Oleh karena itu, kami ingin menghidupkan kembali program tersebut,” jelas Darmaji di sela kunjungan. “Karena UNAIR secara konsisten sudah melakukan program ini, maka kami menggali informasi di sini,” imbuhnya.

Kunjungan delegasi ITS diterima langsung oleh Ketua Lembaga Pengabdian, Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Masyarakat (LP4M) UNAIR Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com. Yusuf menjelaskan berbagai gambaran mengenai KKN yang telah dilakukan UNAIR.

“Di UNAIR, program KKN memang sudah menjadi bagian dari kurikulum, tidak sekadar program. Oleh karena itu, KKN kami memiliki satuan kredit semester dan bagian dari mata kuliah,” terang Yusuf.

Selain itu, Guru Besar FISIP UNAIR tersebut juga menegaskan bahwa KKN di UNAIR tidak ditangani oleh direktorat kemahasiswaan, melainkan direktorat pendidikan. “Karena KKN bagian dari kurikulum, maka seluruh wewenang ada di direktorat pendidikan, dan kami ada didalamnya,” imbuhnya.

Pakar manajemen sumber daya manusia itu menambahkan, pihaknya memang mengalokasikan dana untuk mendukung program KKN-BBM mahasiswa. Dukungan itu berupa fasilitas penuh mulai dari transportasi pemberangkatan hingga penarikan mahasiswa dari lokasi penerjunan.

“Mahasiswa sudah kami fasilitasi dengan bus, jadi tidak boleh bawa motor saat ke lokasi KKN. Ini demi keamanan juga,” paparnya.

Di akhir acara, Yusuf menjelaskan berbagai model kegiatan yang dilakukan selama KKN. Selain KKN Tematik, KKN kebangsaan, dan padat karya.

“Kalau KKN ini kan memadukan beragam mahasiswa dari lintas program studi. Jadi, keterampilan hidup bersama dengan rekan yang beda keilmuan akan terasah,” pungkasnya.

 

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Defrina Sukma S