Prof. Ramlan: Ideologi Penentu Arah Kebijakan

UNAIR NEWS – Kebijakan publik merupakan cermin ideologi. Setiap kebijakan yang diterapkan hendaknya berlandaskan ideologi yang seirama dengan cita-cita bangsa yang telah dibentuk oleh pendiri negara.

Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Ramlan Surbakti, M.A., Ph.D, dalam acara ‘Diskusi Reboan: Ideologi dan Kebijakan’ yang dilaksanakan di ruangan Adi Sukadana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Rabu (6/4). Diskusi reboan kali ini dihadiri oleh mahasiswa jenjang sarjana hingga doktoral, serta para dosen FISIP UNAIR.

Menurut Prof. Ramlan, pada negara yang paling makmur sekalipun, tuntutan publik memang lebih besar daripada penerimaan negara. Oleh karena itu, pemerintah harus membuat prioritas kebijakan yang akan dijalankan demi kesejahteraan rakyat. Prioritas kebijakan yang dijalankan oleh presiden dan bawahannya mencerminkan ideologi yang dianut.

Pada awal Februari 2016, Presiden RI Joko Widodo mengingatkan para menterinya untuk mengendalikan penggunaan anggaran dengan berpedoman pada tugas, pokok, dan fungsi masing-masing kementerian.

Menanggapi kebijakan itu, Prof. Ramlan mengatakan bahwa Jokowi sebagai kepala pemerintahan seharusnya mengingatkan bawahannya untuk mengendalikan penggunaan anggaran agar sesuai dengan Nawacita sebagaimana janji semasa kampanye.

Agar kebijakan bisa diimplementasikan dengan baik kepada masyarakat, maka kepala pemerintahan seharusnya menempatkan menteri berdasarkan pertimbangan ideologis, dan keahlian yang sesuai dengan pos kementerian yang diampu.

Landasan ideologi wajib pula tercermin dalam perumusan kebijakan. Prof. Ramlan mengambil contoh kebijakan penanggulangan kemiskinan yang diimplementasikan pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jokowi. Pada masa pemerintahan SBY, masyarakat yang tergolong miskin mendapatkan bantuan langsung tunai setiap bulannya. Sedangkan, pada masa Jokowi, ia berkampanye tentang Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

“Kebijakan-kebijakan itu tidak dituntun oleh ideologi yang jelas. Apa dasar mereka ketika membuat kebijakan seperti itu? Poin-poin seperti itulah yang harus diperjelas oleh partai politik (selaku partai pengusung). Memang ini kelemahan parpol kita. Parpol cenderung power-oriented daripada policy-oriented,” tutur Guru Besar bidang Perbandingan Politik, FISIP UNAIR.

Selain itu, implementasi kebijakan juga harus disertai dengan perencanaan operasional (operational planning) yang jelas. Prof. Ramlan menilai, seringkali pelaksana kebijakan melakukan implementasi dengan  gaya srimulat. Artinya, pelaksanaan kebijakan terlalu banyak dibumbui improvisasi.

“Ambil saja contoh kebijakan e-KTP (Kartu Tanda Penduduk elektronik). Begitu pemerintah mulai memberlakukan e-KTP, banyak daerah dan peralatan yang belum siap. Implementasi kebijakan publik ini diterapkan dengan menggunakan gaya srimulat karena operational planning belum jelas. Kenapa srimulat? Karena terlalu banyak improvisasi,” tegas Prof. Ramlan yang juga anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Penulis: Defrina Sukma S.




Sergio Santoso dan Ria Sandra, Dua Wisudawan Terbaik yang Punya Komitmen Tinggi

UNAIR NEWS – Di masyarakat, belimbing wuluh sering dimanfaatkan sebagai obat herbal yang berguna bagi tubuh, atau setidaknya khasiatnya mengurangi dampak pemakaian obat kimia.  Karena buah tropis Indonesia ini, konon bisa digunakan sebagai obat alternatif karena mengandung antioksidan, anti bakteri, dan anti inflamasi.

Sergio Santoso wisudawan terbaik S1 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) (Foto: Istimewa)
Sergio Santoso wisudawan terbaik S1 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) (Foto: Istimewa)

Penasaran dan ingin membuktikan seperti apa khasiat belimbing wuluh itu, maka Sergio Santoso melakukan penelitian terhadap ekstrak daun belimbing wuluh. Hasil penelitiannya kemudian sebagai bahan skripsinya. Jadilah skripsinya berjudul ”Uji Viabilitas Ekstrak Daun Belimbing Wuluh Terhadap Sel Firoblas BHK 21”, yang sekaligus turut mengantarkan Sergio terpilih sebagai wisudawan terbaik S1 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga dengan IPK 3,78.

“Yang melatari penelitian ini adalah banyaknya bahan kimia yang digunakan sebagai obat. Untuk mencari obat alami sebagai alternatif perawatan saluran akar, juga sebagai bahan herbal untuk mengurangi bahan kimia yang memungkinkan terjadinya iritasi di lingkungan rongga mulut,” kata pria kelahiran Malang 29 November 1994 ini.

Selama penelitian ia harus di laboratorium dan berkutat dengan ELISA reader menggunakan ekstrak daun belimbing wuluh dan sel firoblas BHK 21. Penelitiannya ini merupakan kolaborasi dengan dosen pembimbingnya, Nirawati Pribadi, drg., M.Kes., Sp.KG(K) dan Dr. Ira Widjiastuti drg., M.Kes, Sp. KG (K). Skripsinya ini juga dibimbing oleh Ari Subiyanto, drg.,MS., Sp.KG (K), dan mendapat bantuan dari Prof. Dr. Adioro Soetojo, drg., M.S., Sp. KG (K) dan Dr. Tamara Yuanita, drg., M.S., SpKG (K).

Penggemar futsal dan gym ini juga mendapatkan motivasi dan dukungan dari orang tua, kekasih, dan teman-temannya yang ikut berjuang bersamanya. Ia mengaku tidak memiliki kendala ketika melakukan penelitian, kecuali perasaan kurang mandiri lantaran jauh dari rumah. Namun setelah menemukan teman-teman baiknya, ia mampu membiasakan diri dengan lingkungan.

”Bagi saya, teman adalah segalanya. Tanpa kalian, saya bukan apa-apa,” katanya sebagai ucapan terima kasih pada kawan-kawannya yang ikut membantu dan menyemangatinya selama belajar di UNAIR. (*)

KOMITMEN TERHADAP PENYELAMATAN LINGKUNGAN

Ria Sandra Alimbudiono Wisudawan Terbaik S3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) (Foto: Istimewa)
Ria Sandra Alimbudiono Wisudawan Terbaik S3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) (Foto: Istimewa)

Sementara itu Ria Sandra Alimbudiono, yang dinyatakan sebagai Wisudawan Terbaik S3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR, punya komitmen tinggi terhadap lingkungan. Baginya, menjaga lingkungan hari ini merupakan bagian dari mencintai anak cucu, sebab merekalah kelak yang akan mewarisi bumi ini.

“Jangan mengatakan sayang KEpada anak cucu jika belum menjaga lingkungan, karena mereka tidak akan bisa hidup nyaman tanpa lingkungan yang nyaman,” ujarnya.

Berbekal kepedulian yang tinggi terhadap isu lingkungan itulah, maka dosen Universitas Surabaya (Ubaya) ini mengangkatnya isu lingkungan tersebut sebagai topik disertasinya. Ia meneliti pengaruh environmental management accounting knowledge terhadap timbulnya environmental intention pada mahasiswa.

“Hasilnya memang ada pengaruh pengetahuan yang dimiliki seseorang akan lingkungan dalam mendorong adanya niatan orang tersebut berperilaku ramah lingkungan,” katanya. Dengan mengangkat isu lingkungan agak terasa “beda” disertasi Ria ini, dibanding dengan disertasi kebanyakan.

“Saya terkejut dan tidak menyangka dipilih yang terbaik. Padahal saya hanya melakukan ‘I Do My Best’ ketika sekolah di UNAIR, ya karena saya sudah bukan lagi anak muda yang punya banyak waktu bebas. Karena itu saya tidak menyangka dapat predikat ini,” imbuhnya.

Dalam menempuh pendidikan S3 Ilmu Akuntansi ini ia akui banyak tantangannya. Pertama, katanya, faktor usianya yang bukan lagi usia untuk sekolah. Jadi harus berkorban banyak hal mulai waktu bersama keluarga, finansial, dsb. Namun disadari ini bagian dari konsekuensi yang harus dijalaninya.

“Menempuh pendidikan doktoral merupakan pilihan pribadi yang kita pilih secara sadar dan dewasa. Karena itu selesaikan segala sesuatu yang telah dimulai dengan indah dan diakhiri dengan indah pula,” tambahnya. (*)

Penulis : Lovita Marta Fabella & Yeano Dwi Handika
Editor    : Bambang Bes




Pentingnya Langkah Pengembangan Prodi Setelah Akreditasi

UNAIR NEWS – Pasca akreditasi oleh tim asesor Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang dilakukan di Program Studi Ilmu Komunikasi UNAIR, banyak hal yang ke depan akan terus ditiingkatan dan dikembangkan oleh prodi yang sebelumnya telah memiliki akreditasi A tersebut. Menurut ketua Departemen Ilmu Komunikasi, Dr. Yayan Sakti Suryandaru S.Sos. M.Si., akreditasi jurusan sebenarnya bukanlah ajang menilai untuk mencari yang benar dan salah, baik atau buruk.

“Akreditasi sebenarnya merupakan ajang membina sekaligus meninjau jurusan agar terus terkontrol dan selanjutnya bisa semakin meningkat kapasistasnya,” ujarnya.

Akreditasi yang berlangsung pada Rabu (6/4), diuji langsung oleh tim asesor Prihastiwi Utari, Ph.D., dari Universitas Negeri Solo dan Dr. M. Najib, M.Pd., M.lib., dari Universitas Hassanuddin. Bagi Yayan, yang menjadi titik penting pada akreditasi kali ini adalah upaya departemen Ilmu Komunikasi setelah akreditasi berlangsung. Ia juga memberikan penjelasan mengenai beberapa program yang akan diterapkan nantinya.

“Kita perlu melihat pentingnya pengembangan mahasiswa melalui laboratorium, majalah dinding, desain grafis, dan berbagai hal yang berkaitan dengan departemen perlu terus dikembangkan,” ujarnya.

Selanjutnya, Alumni S3 UGM tersebut juga menginginkan adanya Pusat Studi Komunikasi yang nantinya menjadi rujukan keilmuan komunikasi.

“Selain adanya pusat studi komunikasi, ke depan kami akan membuka jenjang S3, kehadiran Prof. Rachmah Ida dan Prof. Henri Subianto memungkinkan dibukanya program doktoral tersebut,” pungkasnya. (*)

Penulis : M. Ahalla Tsauro
Editor  : Nuri Hermawan




Surabaya Tempo Dulu Simpan Sejarah Diskriminasi

UNAIR NEWS – Pada permulaan abad 20, Surabaya bisa dikatakan sebagai kota yang maju. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya artikel seorang pelancong dari Makassar yang dipublikasikan di Surat Kabar Bintang Toedjoe pada tahun 1904. Pada artikel tersebut bertuliskan mengenai ungkapan kemegahan kota Surabaya dari si pelancong. Pernyataan itu dikemukakan oleh Dr. (Cand) Samidi, S.S., MA., dalam Seminar Internasional “On Urban History”.

Pada seminar yang dilaksanakan Selasa (5/4), Samidi menyampaikan tulisan disertasinya yang berjudul “Simbol Modernitas dan Gaya Hidup di Surabaya”. Kandidat doktor bidang sejarah tersebut juga mengatakan, bahwa saat itu Surabaya sudah menjadi kota industri, hal ini ditunjukkan karena sudah terdapat unsur hiburan, konsumsi yang mencakup food court, transportasi, serta komunikasi. Hal demikian yang menjadikan industrialisasi sebagai  simbol modernitas sebuah kota. Kondisi tersebut ia nilai sebagai penyebab terjadinya diskriminasi. Pasalnya, perbedaan gaya hidup yang dipraktikkan oleh golongan elit dan kelas bawah akan terlihat nyata. Beberapa faktor yang mencirikan gaya hidup golongan elit adalah distingtif, glamoritas, serta mahal.

“Golongan elit pasti akan memilih lingkungan sosialnya, masyarakat yang tergolong kelas bawah dilarang bergabung dengan mereka,”  ujarnya.

Dalam seminar yang berlangsung di Auditorium Siti Parwati FIB UNAIR tersebut, dijelaskan tentang keberadaan Societet di zaman kolonial. Baginya hal ini tersebut menjadi bukti awal dari bentuk diskriminasi di kota Surabaya.

Societet merupakan sebuah lembaga yang beranggotakan kaum elit eropa di Surabaya yang dianggap membedakan diri dari masyarakat kelas bawah. Pikiran mereka cuma senang-senang, terbebas dari beban, karena fokus mereka adalah materi duniawi,” imbuh dosen Ilmu Sejarah UNAIR.

Selain Societet, juga ditemukan Schouwburg yaitu gedung kesenian atau rumah komedi yang biasa digunakan untuk mementaskan kesenian eropa di kota Surabaya. Pengunjungnya juga di dominasi oleh orang eropa yang tergolong elit, sehingga akan ada pelarangan bagi non eropa. Memang di awal pembentukannya sempat ada perlawanan dari masyarakat setempat yang sudah memperkirakan bahwa akan terjadi diskriminasi. Namun organisasi tersebut masih tetap terbentuk.

“Walapun ada unsur-unsur penolakan ketika pembentukan organisasi, namun nyatanya tetap berlangsung,” paparnya.

Di akhir penjelasannya, Samidi mengungkapkan bahwa diskriminasi akan selalu ditemui hingga sekarang. Walaupun bentuknya yang tersamar, namun batas yang membedakan antar golongan elit dan kelas menengah bawah akan selalu terasa. (*)

Penulis: Dilan Salsabila
Editor: Nuri Hermawan




Mangrove, Kunci Penyelamatan Kawasan Pesisir dari Perubahan Iklim

UNAIR NEWS – Isu lingkungan yang sedang mengemuka selama beberapa dekade terakhir adalah perubahan iklim yang mengakibatkan tinggi air laut mengalami kenaikan. Kenaikan muka laut global pada tahun 2010 mencapai 1,14 meter. Lingkungan dan masyarakat pesisir adalah salah satu kelompok yang paling merasakan dampak kenaikan air laut.

Sejumlah wilayah di Indonesia yang berbatasan dengan laut mengalami banjir rob ketika air laut sedang pasang sehingga warga setempat harus dievakuasi. Sejumlah wilayah itu seperti Jakarta dan Semarang. Kenaikan air laut tak hanya menyebabkan banjir rob, melainkan juga intrusi air laut (adanya celah air laut yang masuk ke daratan).

Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu ada kesadaran dari gabungan elemen yang terdiri dari pemerintah, swasta, masyarakat, dan perguruan tinggi untuk menjaga atau memperbaiki wilayah sabuk hijau (green belt) di area pesisir. Pernyataan itu diungkapkan oleh Sapto Andriyono, S.Pi., M.T., selaku staf pengajar Departemen Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga.

Secara alami, tanaman yang tumbuh di wilayah sabuk hijau adalah hutan bakau atau biasa disebut mangrove. Keberadaan mangrove bisa dimanfaatkan untuk menahan pasang surut air laut, tempat hidup biota-biota pesisir, dan penyerap emisi karbon yang berdampak pada pemanasan global serta perubahan iklim.

“Secara ekologis, keberadaan mangrove akan membuat keanekaragaman hayati bertahan dan berkembang. Kalau berkaitan dengan global warming, maka tanaman yang berada di wilayah green belt bisa menyerap emisi karbon, khususnya di Surabaya sebagai kota besar,” tutur Sapto.

Sayangnya, di Surabaya, wilayah mangrove ‘berhadapan’ dengan industri-industri seperti pelabuhan dan peti kemas sehingga keberadaan wilayah sabuk hijau menjadi terancam. Dampak perubahan lingkungan tidaklah sederhana. Sapto mengatakan bahwa intrusi air laut bisa mengakibatkan rasa air laut semakin asin dan hewan-hewan akan mati.

Green belt bisa menghambat intrusi air laut. Selama ini, yang tidak kita sadari adalah intrusi air laut yang semakin cepat. Dampaknya juga luar biasa. Begitu air laut masuk ke daratan, itu akan mengakibatkan biota-biota yang ada di habitatnya yang tidak mampu bertahan akan mati. Ada informasi bahwa salinitas air laut sudah merembes ke wilayah Jagir atau Wonokromo. Jadi, cukup jauh. Mengapa sudah sampai ke sana? Karena di sana sudah ditemukan biota yang mampu bertahan di air asin, sehingga ada indikasi bahwa di wilayah itu sudah terintrusi air laut. ini juga seharusnya menjadi perhatian,” tegas Sapto.

Intrusi air laut akan menimbulkan multiplier effect yang lain. Masyarakat akan kesulitan dalam mengakses air bersih untuk kehidupan sehari-hari, seperti minum, mandi, dan mencuci baju.

Sadar pesisir

Mengingat peran mangrove yang begitu penting demi keberlangsungan ekosistem pesisir, maka sivitas akademika perguruan tinggi ikut serta melakukan penanaman mangrove. Sapto dan sejumlah dosen lainnya di FPK UNAIR yang tergabung dalam Kelompok Kerja Mangrove Daerah Provinsi Jawa Timur, mendukung seluruh kabupaten/kota di Jatim untuk melestarikan mangrove.

Selain itu, kurikulum pembelajaran di FPK UNAIR tak hanya menekankan masalah perikanan, mahasiswa juga diajak untuk belajar tentang biologi kelautan, seperti manajemen pesisir, flora dan fauna, dan pengabdian masyarakat. Sehingga calon lulusan FPK UNAIR kedepan diharapkan mampu memahami permasalahan tersebut secara luas. (*)

Penulis : Defrina Sukma S
Editor    : Dilan Salsabila




Donor Darah Hingga Bazar Buku Warnai HUT ke-61 Perpustakaan UNAIR

UNAIR NEWS – Bulan April ini, Perpustakaan Universitas Airlangga (PUA) genap berusia 61 tahun. Untuk merayakan itu, PUA menggelar beragam acara yang akan dilangsungkan mulai April hingga Mei mendatang. Pada Jumat (1/4) lalu, PUA membagikan cokelat gratis kepada peminjam buku paling awal di PUA kampus B. Acara serupa juga dilakukan di PUA kampus A dan C pada Rabu (5/4). Pemberian cokelat ini adalah sebagai bentuk apresiasi kepada kepada para mahasiswa yang senang menggunakan fasilitas yang diberikan perpustakaan.

Selanjutnya PUA menggelar donor darah yang berpusat di PUA kampus B, Selasa (5/4). Donor darah yang bekerjasama dengan PMI cabang Surabaya ini membuka sebanyak 75 orang yang ingin mendonorkan darahnya. Selain diikuti oleh mahasiswa UNAIR, karyawan, dan dosen, kegiatan sosial tersebut juga diikuti oleh beberapa pensiunan PUA.

Ruang Baca Satria Airlangga

Masih dalam rangka HUT PUA ke 61, pada pertengahan April nanti, akan diresmikan fasilitas baru “Satria Airlangga”. “Satria Airlangga” merupakan ruang baca yang menyediakan buku-buku khusus karya civitas UNAIR. Pada peresmian ini nanti akan diadakan meet and great dengan kepala perpustakaan dan 3 peminjam buku terbanyak dalam satu tahun. Ruang baca khusus ini sedang dalam penyelesaian desain, tepatnya berada di lt 2 perpustakaan UNAIR kampus B.

“Peresmian “Satria Airlangga” ini nanti semoga bisa menginspirasi para dosen yang punya buku supaya diserahkan ke “Satria Airlangga”,” ujar Agung K. Kristiawan, pustakawan di PUA.

Pada peresmian “Satria Airlangga”, nantinya juga akan diselenggarakan bedah buku dari salah satu dosen di lingkungan UNAIR. Selain itu, pada 29 Apil nanti akan diadakan talkshow ecopreneurship. Talkshow ini dimaksudkan untuk menginspirasi anak-anak muda menjadi wirausahawan dalam bidang lingkungan. Tepat sehari setelahnya, diadakan karyawisata ke Kelurahan Jambangan.

“Jambangan sebagai kampung green and clean terbaik se-Indonesia. Kita belajar dari sana, menjadi entrepreneur di bank sampah, belajar tentang daur ulang dan memanfaatkan urban framing,” ujar Agung.

Puncaknya, pada 8 Mei nanti akan diadakan seminar, kemudian disusul dengan bazzar dan jambore buku. Ada sekitar 80-100 tenant yang akan digelar di depan perpustakaan kampus B.

“Dengan diadakannya jambore buku harapannya supaya buku-buku dapat terjangkau untuk mahasiswa. Selain itu agar anak-anak muda juga kreatif untuk mengisi stan-stan nanti. Dengan diadakan seluruh rangkaian kegiatan HUT PUA, supaya mahasiswa lebih banyak yang tertarik untuk mengunjungi perpus,” kata Agung. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor    : Nuri Hermawan




Soroti Penderita Kusta, Nur Maziyya Jadi Wisudawan Terbaik Keperawatan

UNAIR NEWS – Stigma masyarakat terhadap penderita kusta masih negatif. Ada yang merasa miris saja, menghindar, bahkan mengucilkannya. Menjadikan penderitanya sangat kasihan. Tetapi sebagai seorang perawat (ners), Nur Maziyya membuang jauh-jauh stigma buruk tersebut, kemudian melakukan penelitian terhadap kehidupan para penderita kusta.

Hasil penelitiannya kemudian ia tuangkan ke dalam skripsinya. Jadilah karya tulis ilmiah bertajuk “Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Hidup Penderita Kusta Berbasis Teori Health Belief Model (HBM) di Puskesmas Surabaya Utara”, yang sekaligus ikut mengantarkan Nur Maziyya meraih predikat membanggakan, yakni wisudawan terbaik S1 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga dalam wisuda edisi Maret 2016. Ia membukukan IPK 3,91.

Anak nomer tiga dari lima bersaudara ini memutuskan untuk meneliti kehidupan penderita kusta karena angka kejadian kusta di Provinsi Jawa Timur masih cukup tinggi. Nur meneliti tentang kualitas hidup penderita kusta, yang kebetulan juga masih relatif sedikit yang menelitinya.

”Itulah alasan mengapa saya tertarik mengambil penelitian tentang pehidupan penderita kusta,” kata mahasiswa yang berasal dari alih jenis kelahiran Kota Surabaya, 17 Maret 1993 ini.

Selain menekuni kuliah, Nur Maziyya juga banyak mengoleksi prestasi. Antara lain pernah meraih peringkat I (pertama) dalam evaluasi belajar tahap I tahun 2014. Kemudian sempat juga mengikuti student exchange di Thailand. Prestasinya di bidang non-akademik juga tergolong bagus, antara lain turut mengantarkan tim basketnya menjadi Juara II kejuaraan basket putri Dekan Cup 2014.

”Kalau perlombaan-perlombaan saya jarang ikut, bahkan hampir tidak pernah ikut. Ya maklum karena program B, jadi saya fokusnya kuliah dan kuliah,” tambah Nur.

Ditanya mengenai resepnya untuk menjadi wisudawan terbaik, mahasiswa yang memiliki kelompok belajar bernama “Funt4stic” ini, mengaku selama menempuh studi di Fakultas Keperawatan UNAIR, selama ini hanya berusaha melakukan yang terbaik. Tetapi tidak pernah berpikir untuk menjadi yang terbaik.

“Selain itu kami berusaha semaksimal mungkin, berdoa, selalu minta restu kepada kedua orang tua. Tidak hanya untuk belajar tetapi juga dalam segala urusan,” kata Nur Maziyya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor    : Bambang Bes




Teliti Korban KDRT, Dwika Jadi Wisudawan Terbaik Fakultas Psikologi

UNAIR NEWS – Maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berdampak buruk pada kondisi psikologis anggota keluarga, rupanya menarik perhatian I Dewa Ayu Dwika Puspita Dewi untuk melakukan penelitian lebih jauh.

Hasil penelitian itu kemudian ditulis menjadi skripsinya yang berjudul “Dinamika Forgiveness pada Istri yang Mengalami Kekerasan dalam Rumah Tangga”. Skripsi itulah yang turut mengantarkan Dwika menjadi wisudawan terbaik jenjang S-1 Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan perolehan IPK 3.72.

”Subjek saya merupakan korban KDRT yang masih bertahan dalam perkawinan. Namun ketika saya mendatangi beberapa yayasan, mereka memberikan saran agar saya mengubah subjek penelitian, yaitu korban KDRT yang sudah bercerai. Pertimbangannya, orang yang mengalami KDRT dan bertahan dalam perkawinan, itu akan sulit ditemui, karena faktor suami yang masih mendominasi istri dan membatasi ruang gerak istri. Berbeda dengan korban yang sudah bercerai,” kata dara kelahiran Gianyar, 11 Juli 1994 ini.

Setelah melalui berbagai kendala, perempuan penggemar berorganisasi dan berdebat ini akhirnya mendapatkan akses untuk berkenalan dengan orang-orang yang dipilihnya sebagai subjek. Ini pun berkat bantuan temannya. Awalnya subjek yang dipilih enggan bercerita. Juga menolak karena takut pada suami. Namun Dwika berhasil meyakinkan subjek lain sehingga bersedia membantu menyelesaikan penelitiannya.

Gadis yang berencana mengajar di Rumah Pintar Matahari ini mengaku senang mendapatkan dukungan dari keluarga, kekasih, dan teman-teman yang menyemangatinya di saat ia mengalami fase membosankan. Ia jadikan orangtuanya sebagai tempat curahan hati. Bahkan adik dan kakaknya pun turut andil mengingatkan dan membantunya ketika menuju presentasi.

“Belajarlah dengan antusiasme dan terus berusaha. Semua hal pasti memungkinkan terjadi, termasuk untuk mencapai harapan yang teman-teman inginkan. Teruslah belajar untuk mengembangkan diri dan nikmatilah prosesnya,” tutur Dwika ketika ditanya tentang pesan apa yang bisa disampaikan kepada mahasiswa adik kelasnya. (*)

Penulis : Lovita Marta Fabella
Editor    : Binti Q. Masruroh




Peringatan Sewindu Formara, Gelar “Goes to School” ke 70 SMA se-Madura

UNAIR NEWS – Organisasi Forum Mahasiswa Universitas Airlangga asal Madura atau Formara dideklarasikan pada 25 Januari 2008. Meski sudah berumur delapan tahun, namun baru empat tahun terakhir ini Dies Natalis Formara diperingati dengan berbagai kegiatan di empat daerah berbeda di “Pulau garam”. Terbaru, dalam peringatan Sewindu Formara 2016 ini puncaknya diperingati di Kabupaten Sampang.

Ketua Formara, Muhammad Fahmi Abdilah, ketika bertandang ke UNAIR NEWS, Senin (4/4) mengatakan dalam Dies Natalis Formara tahun 2016 adalah serangkaian kegiatan. Yaitu Formara Goes to School (serentak semadura), Try out SBMPTN (serentak se Madura), Abdi Desa (Kabupaten Bangkalan), Formara Menginspirasi (Kabupaten Pamekasan), Formara Expo dan Malem Puncak Dies Natalis Formara Unair 2016 (Kabupaten Sampang).

”Alhamdulillah empat tahun terakhir ini kami mampu menyukseskan serangkaian Dies Natalis Formara dengan sangat meriah,” kata Fahmi, mahasiswa Fakultas Hukum UNAIR angkatan 2013.

Atikah Syafik, pengurus Humas Formara, dalam press release-nya menerangkan, Dies Natalis Formara 2016 ini diketuai Muhammad Fadhilah Budipradika (FISIP 2013) dan melaksanakan berbagai kegiatan yang puncaknya digelar di Sampang. Kegiatan itu antara lain “Goes to School”, pengabdian masyarakat tentang kesehatan, dan pentas hiburan.

Diawali dengan ”Formara Goes to School”, 18 Januari lalu, serentak di empat kabupaten di Madura. Dalam aksi ini anggota Formara berbagi tugas untuk mendatangi 70 SMA se-Madura, baik SMA yang ada di kota kabupaten, yang berlatar pondok pesantren, dan yang berada di pelosok pedesaan.

Usaha ini ditempuh sebagai upaya keras Formara untuk memotivasi mereka. Sebab masih banyak diantara mereka yang kurang peduli terhadap kelanjutan pendidikannya ke perguruan tinggi. Sebanyak mungkin pengalaman anggota Formara dicurahkan untuk mengubah mindset ketidakpedulian mereka terhadap kelanjutan studinya.
”Kami memberi arahan untuk berpikir kedepan bahwa betapa pentingnya meraih pendidikan setinggi mungkin, agar kelak bisa memajukan pesantren, memajukan dan mensejahterakan masyarakat di desanya, dan sebagainya,” kata Atikah, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional FISIP UNAIR tahun2014 ini.

Selain itu juga disosialisasikan kepada siswa kelas XII seputar dunia kampus, terutama UNAIR. Materinya antara lain berbagai jalur yang bisa dilalui siswa untuk melanjutkan studinya, termasuk beasiswa yang ada dan cara meraihnya. Sehingga sebagai senior, tim Formara memberikan motivasi kepada siswa kelas XII tentang wahana pendidikan di perguruan tinggi. Tak ketinggalan juga memberikan semangat kepada siswa yang akan menghadapi UNAS ini.

Problem siswa-siswi itu rata-rata masalah ekonomi. Sehingga tim Formara menjelaskan beragam cara dan fasilitas pendidikan, misalnya beasiswa Bidikmisi dan cara meraihnya agar bisa kuliah secara gratis. Alternatif lain bekerja paruh waktu, berbisnis atau wiraswasta, juga bisa sebagai cara mengatasi keterbatasan biaya itu.

Dalam “Formara Goes to School” juga diadakan Tryout SBMPTN secara serentak pada 31 Januari, diikuti 1.200 siswa-siswi kelas XII SMA. Disini dilakukan pembahasan pola soal-soal SBMPTN agar siswa juga siap menghadapi UNAS dan dapat mengukur kemampuan masing-masing. Para siswa juga dilatih tentang ketenangan dan kejujuran dalam mengerjakan soal-soal test/ujian. (*)

Penulis : Humas Formara.
Editor : Bambang Bes




Mahasiswa Banjiri Lomba MTQ UNAIR 2016

UNAIR NEWS – Jumlah peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) UNAIR 2016 meningkat dari tahun sebelumnya. Jika pada tahun lalu hanya diikuti peserta yang kurang dari 200 mahasiswa, lomba yang digelar pada Sabtu (2/4), diikuti oleh 324 mahasiswa UNAIR. Antusias mahasiswa yang turut serta pada lomba tersebut  tidak lain dimotori oleh tim kreatif dari Kafilah (delegasi, -red) MTQ UNAIR dan UKM Seni Religi. Publikasi yang intens melalui berbagai media sosial hingga technical meeting menjadi faktor pendukung ramainya kegiatan ini.

“Data ini menunjukkan antusias mahasiswa pada perlombaan keilmuan Islam dan alquran yang ada di MTQ, semoga syiar alquran di UNAIR ini tetap terjaga,” ujar Afri Andiarto selaku pembina MTQ UNAIR.

Perlombaan MTQ sendiri didasari oleh dua agenda penting yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali, yakni MTQ Regional Jawa Timur dan MTQ Nasional. Adapun jumlah peserta sesuai cabang lomba yang diikuti meliputi Karya Tulis Ilmiah Alquran 8 tim, Tilawatil Quran 20 peserta, Tartilil Quran 76, Kaligrafi (Khottil Quran) 23 peserta, Fahmil Quran 68 peserta, Hifdzil Quran 1 Juz 40 peserta, Hifdzil Quran 5 juz 7 peserta, Syarah Alquran 18 peserta, Sari Tilawah 33 peserta, Debat Bahasa Inggris Kandungan Isi Alquran 5 tim, Debat Bahasa Arab, Kandungan Isi Alquran 10 peserta, dan desain aplikasi Alquran 3 peserta. Diantara perlombaan tersebut, terdapat pula 19 peserta yang mengikuti lebih dari 1 cabang lomba.

“Tidak menutup kemungkinan, kedepan kafilah UNAIR lebih baik dan berkualitas. Dibidang tilawah saja, banyak peserta yang punya potensi luar biasa, tinggal dipoles dan dibina sebaik mungkin,” Ujar KH. Abdul Wahhab Hussein, salah juri sekaligus pembina kafilah MTQ.

Prestasi yang didapat oleh kafilah  UNAIR pada ajang MTQ Nasional ke XIV di Universitas Indonesia Agustus lalu, menjadi pelecut masifnya keikutsertaan peserta dan yang mendorong kafilah UNAIR untuk memperoleh prestasi yang lebih baik lagi nantinya.

Penulis : M. Ahalla Tsauro
Editor    : Nuri Hermawan