UNAIR Gelar Grand Opening Pembinaan Baca Alquran 2016

UNAIR NEWS – Kegiatan “Grand Opening Pembinaan Baca Alquran” yang dilaksanakan di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR pada Minggu (11/9), menjadi pembuka dari program rutin tahunan yang diperuntukan untuk mahasiswa baru yang beragama Islam.

Hadir di tengah mahasiswa baru yang mengenakan pakaian putih, Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA., bersama Direktur Kemahasiswaan Dr. M. Hadi Shubhan., S.H., M.H., CN., pembina Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) Dr. Mustofa Helmi Effendi., DTAPH., drh., dab Ketua Penanggung Jawab Mata Kuliah (PJMK) Agama Islam I Sunan Fanani, S.Ag., M.Pd.I., Pada sambutannya, Prof. Nasih menyatakan bahwa dengan adanya program PBA ini, nantinya Alquran tidak sekedar menjadi bacaan saja, namun juga diaplikasikan dalam kehidupan. Prof. Nasih juga menyebutkan bahwa mahasiswa baru yang hadir sudah terbilang sebagai santri.

“Mulai hari ini kalian telah menjadi santri Airlangga yang harus terus-menerus mempelajari Alquran,” ungkpanya.

Tidak hanya dari kalangan sivitas akademika UNAIR saja yang datang pada acara tersebut, ketua Yayasan Nurul Falah Surabaya, Drs. H. Umar Jaeni., M.Pd., yang hadir dan turut memberikan sambutan pada acara tersebut menyampaikan, betapa pentingnya Alquran dalam kehidupan sehari-hari, mengingat mahasiswa merupakan calon pemimpin bangsa di masa depan.

Insya Allah kalian yang masuk menjadi mahasiswa Universitas Airlangga akan menjadi pemimpin, dan jadilah pemimpin yang berlandaskan Alquran,” tegasnya.

Acara “Grand Opening Pembinaan Baca Alquran” juga diisi dengan beragam kegiatan, mulai Talkshow, hiburan seni banjari, bazar, pelantikan 627 mentor, konfigurasi gambar-gambar sosialisasi PBA, dan serta tes awal serentak oleh 6267 mahasiswa baru yang hadir. Selain itu, acara tersebut juga dimeriahkan dengan datangnya Muzammil Hazballah., ST. yang merupakan imam muda masjid Salman Institut Teknologi Bandung.

Penulis: Akhmad Janni
Editor: Nuri Hermawan




12 Mahasiswa UNAIR Bertanding dalam PON XIX Jawa Barat

UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga memang memiliki segudang prestasi. Buktinya, ada sederet mahasiswa UNAIR yang berkesempatan untuk berlaga pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX. Hal tersebut diungkapkan oleh Deni Yasmara, M.Kep, selaku Koordinator Unit Kegiatan Mahasiswa, Direktorat Kemahasiswaan, Universitas Airlangga.

“Beberapa atlet PON dari beberapa cabang olahraga berasal dari Universitas Airlangga mereka juga tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa di UNAIR” ujar Deny.

Ajang PON XIX rencananya akan digelar di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 17 – 29 September. Pada PON XIX, sebanyak 44 cabang olahraga (cabor) dengan total nomor pertandingan, dan peserta memperebutkan 756 medali emas, 756 medali perak, dan 954 medali perunggu.

Sebelum berlaga pada ajang PON XIX, para peserta telah mempersiapkan dan menempa diri mereka dengan berbagai latihan. Lama dan lokasi persiapan bergantung cabor dan perwakilan wilayah masing-masing. Samudra Anggra Dwi, salah satu anggota UKM Basket UNAIR yang akan berkompetisi pada PON mendatang, mengatakan bahwa proses seleksi tim basket di Kalimantan Timur sudah dimulai sejak tahun 2014.

Atlet PON Ghazy Asyraf Chrisna
Atlet perenang UNAIR Ghazy Asyraf Chrisna yang akan berlaga di PON XIX. (Sumber: Istimewa)

“Untuk persiapan PON sendiri sudah dilakukan Oktober 2015 sampai Februari 2016 bulan lalu. kami persiapannya masih disini (Surabaya), latian di kampus bareng sama yang lain. Kebetulan waktu itu kami juga ada pertandingan LIMA (Liga Mahasiswa) bela UNAIR, jadi sekalian latihan buat PON” ujar Samudra.

Sama halnya dengan Samudra, Aditya Aulia Rahman mahasiwa Fakultas Psikologi yang juga anggota dari UKM Softball UNAIR ini juga mempersiapkan dirinya untuk PON XIX dari jauh hari tepatnya sejak Januari 2016 lalu. Aditya mengikuti kompetisi di cabor softball mewakili Jawa Timur.

“Harapan untuk PON tahun ini bisa memberikan yang terbaik untuk Jawa Timur dan bisa mendapatkan target yaitu medali emas” ujar Aditya.

Selamat berjuang, ya!

Berikut nama-nama atlet UNAIR yang berlaga pada PON XIX:

Tim Basket Putri Jawa Timur:
Annisa Widyarni (FISIP/2013)

Tim Basket Putra Jawa Timur:
Komang Septian (Fakultas Vokasi/2013)

Tim Basket Putra Kalimantan Timur:
Samudra Anggra Dwi (Fakultas Vokasi/2013)
Vanodya Talatov (Fakultas Vokasi/2015)
M. Zulhiyana Akbar (FISIP/2012)

Tim Renang Putra Jawa Timur:
Ghazy Asyraf Chrisna (FEB/2014)

Tim Baseball Jawa Timur:
Widiananto Nanda Prasetya (FH/2015)

Tim Softball Putra Jawa Timur
Aditya Aulia Rahman (Psikologi/2012)

Tim Softball Putri Kalimantan Timur:
Desy Anwar Kusumawardhani (Keperawatan/2014)

Tim Kempo Putra Jawa Timur:
M. Ilham Naufal (FEB/2012)

Tim Panahan Jawa Timur:
Tiara Sakti R (FISIP/2015)
Della Adisty Handayani (FEB/2015)

Penulis: Faridah Hari
Editor: Defrina Sukma S.




FKG Terima Enam Mahasiswa Asal Jepang

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga kembali menerima enam mahasiswa asal Jepang dalam program pertukaran mahasiswa. Keenam mahasiswa asal Jepang itu menjalani studi di FKG pada tanggal 4 – 16 September 2016. Pada Rabu (7/9) lalu, diselenggarakan penyambutan keenam mahasiswa Jepang oleh mahasiswa, dosen, dan pimpinan FKG.

Mahasiswa itu berasal dari dua kampus di Jepang yakni Tohoku Dentistry University, dan School of Dentistry Hiroshima University. Keenam mahasiswa itu adalah Kanako Okada, Honoka Nambu, Xuezhu Mao, Naoko Sugihara, Rioka Sakamoto, dan Tappei Morimura.

Pada program yang berlangsung selama dua belas hari itu mahasiswa pertukaran diajak untuk mengikuti perkuliahan aktif di kelas dan laboratorium, observasi klinik, kunjungan ke rektorat, Rumah Sakit UNAIR, Institute of Tropical Disease, International Office and Partnership, Puskesmas Wates Mojokerto, dan kegiatan kebudayaan.

Pada awal acara penerimaan, Wakil Dekan II FKG Dr. Agung Sosiawan, drg., M.Kes, mempersilakan perwakilan mahasiswa asing untuk memperkenalkan diri. Kegiatan dilanjutkan dengan acara welcome party pada sore hari di Aula Garuda Muka FKG. “Saya harap mahasiswa FKG bisa membantu teman-teman dari Jepang selama belajar di sini. Selain bertukar ilmu juga bertukar kebudayaan,” tutur Agung.

Setelah perkenalan, acara dilanjutkan presentasi hal-hal umum seputar Jepang, seperti keadaan geografis, makanan tradisional, dan kebudayaan. Acara dijeda dengan makan malam bersama. Di kesempatan itu, para mahasiswa FKG mencoba mengakrabkan diri dengan berceloteh bersama mahasiswa Jepang. Mereka bertukar cerita seputar kehidupan di Indonesia, terutama di Surabaya. Selain itu, mereka juga menjelaskan tentang makanan dan minuman yang menjadi hidangan makan malam saat itu.

Usai makan malam, mahasiswa Jepang menunjukkan kebolehan dengan memakaikan kimono pada mahasiswa FKG, melakukan atraksi, menari seperti anggota grup vokal J-Pop lengkap dengan kostumnya, dan tarian tradisional Jepang.

Mahasiswa FKG pun tak mau kalah menarik. Mereka menampilkan tarian Saman dari Aceh. Selama pertunjukan tari Saman berlangsung, mahasiswa Jepang dibuat terperangah. Mereka tak ingin ketinggalan momen yang belum mereka saksikan sebelumnya sehingga langsung mengeluarkan ponsel untuk merekam dari awal sampai akhir.

Tappei, salah satu mahasiswa Jepang, ketika diwawancarai mengatakan bahwa ia menyukai makanan dan keramahan orang Indonesia. “Di sini sangat berbeda dengan di Jepang. Makanannya enak-enak. Orang-orang di sini sangat keren. Saya berharap bisa membaur dengan yang lainnya,” pungkas mahasiswa asal Hiroshima.

Dengan adanya pertukaran mahasiswa dari Jepang ke UNAIR, mereka berharap wawasannya mengenai keilmuan dan budaya bisa bertambah. Mao, misalnya. Ia berharap bisa menambah ilmu kedokteran gigi untuk diterapkan di negaranya.

“Saya sangat berharap setelah belajar di Universitas Airlangga, saya bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapat di luar. Ini adalah impian saya sejak dulu, belajar di orthodontic, terutama di negara orang lain sehingga saya memiliki kesempatan mengenal kebudayaan negara mereka,” tutur Mao.

Penulis: Lovita Martafabella




Salat Ied Adha dan Kurban di Rektorat Berlangsung Khidmat dan Lancar

UNAIR NEWS – Pelaksanaan Salat Ied Adha 1437 H di Kampus C Universiras Airlangga (UNAIR) berjalan khidmat dan lancar, Senin pagi (12/8). Hadir sebagai imam Ali Tamam,S.Ag. Sedangkan khotib adalah Prof. Dr. H. Muhamad Nuh, DEA. Mantan Mendikbud itu menyampaikan khutbah dengan topik “Idul Qurban 1427 H: Berkorban Melawan Kemiskinan”.

Jamaah yang datang berasal dari kalangan sivitas akademika dan masyarakat sekitar kampus. Mereka memadati halaman Masjid Ulul Azmi hingga halaman gedung rektorat. Tampak Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak., bersama para wakilnya. Terlihat pula beberapa dekan, Direktur Lembaga, dan para dosen serta mahasiswa.

Prosesi penyembelihan di Kampus C UNAIR. (Foto: Bambang Bes)
Prosesi penyembelihan di Kampus C UNAIR. (Foto: Bambang Bes)

Setelah Salat Ied, dilaksanakan prosesi penyembelihan hewan kurban. Yang terdiri dari, 12 ekor sapi dan 19 ekor kambing. Daging kurban dibagikan kepada sivitas UNAIR gol 1 dan 2, tenaga honorer, tenaga kontrak, dan para petugas kebersihan di lingkup kampus. Total, ada 1.020 penerima. Plus, ratusan paket lain yang diantar langsung ke masyarakat sekitar kampus yang berhak menerima.

Hewan kurban yang disembelih berasal dari individu. Ada juga yang berasal dari lembaga rektorat dan dekanat. Hal ini, kata Rektor, akan ditradisikan dalam setiap tahun. “Mari kita mencontoh Nabi Muhammad SAW. Di mana dulu, Beliau juga berkurban untuk umat. Di sini, kita mengartikan bahwa lembaga berkurban untuk sivitas,” kata Rektor Prof. Nasih. (*)

Penulis: Bambang Bes
Editor: Rio F. Rachman.




UNAIR Godok Rencana Pelayanan Satu Atap

UNAIR NEWS – Untuk meningkatkan kemudahkan pelayanan dan segala urusan birokasi di lingkungan universitas maupun fakultas, Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak., berencana untuk membentuk unit pelayanan terpadu satu atap. Unit ini dibentuk agar mahasiswa dan para tamu mendapatkan kepuasan dengan layanan birokrasi di UNAIR.

Rektor mengungkapkan hal itu usai acara presentasi “Draft Organization Capital Universitas Airlangga” di ruang 301, Jumat (9/9). Acara presentasi itu dihadiri oleh para pimpinan tingkat fakultas dan universitas.

Inovasi birokrasi di lingkungan UNAIR ini dibentuk mengingat ada sejumlah pelayanan yang perlu mendapatkan peningkatan kualitas. Menurut Prof. Nasih, kualitas pelayanan perlu ditingkatkan agar proses berjalan efektif dan efisien.

“Selama ini masih sendiri-sendiri ya. Ada unit bagi mahasiswa untuk mengurus KTM (kartu tanda mahasiswa), ada unit untuk mengurus foto, keuangan, izin kemahasiswaan, dan sebagainya. Itu kurang efektif dan efisien. Ke depan, kita ingin ke depan pelayanan yang cepat, murah, sehingga lebih memuaskan customer,” tutur Prof. Nasih.

Konsep pelayanan satu atap yang tengah dikembangkan oleh pimpinan adalah pembentukan koordinator akademik di setiap fakultas. Rencananya, kepala bagian akademik akan berganti struktur dan fungsi dengan menjadi koordinator yang bertanggung jawab atas pelayanan terpadu setiap fakultas.

“Kalau di fakultas, kita sudah mengubah kepala bagian akademik menjadi koordinator di dekanat. Koordinator di dekanat itu nantinya yang akan mendorong pelayanan terpadu di masing-masing fakultas. Semua urusan tidak perlu ke masing-masing bagian. Cukup di satu loket yang memang menangani apapun kebutuhan mahasiswa. Begitu pula di rektorat, harus ada satu pusat pelayanan terpadu,” terang Rektor.

“Yang paling gampang, ketika alumni mengurus legalisir masih mengurus pada lebih dari satu unit. Legalisirnya di bagian akademik, bayarnya di bagian keuangan. Kenapa harus begitu kalau dengan pelayanan satu atap kebutuhan legalisir bisa selesai. Itu yang akan kita dorong, jadi tidak perlu ke sana ke sini,” imbuh Prof. Nasih.

Menanggapi instruksi Rektor UNAIR terkait pelayanan satu atap, Ketua Pusat Informasi dan Humas Drs. Suko Widodo, M.Si, mengatakan bahwa dirinya siap untuk melakukan meningkatkan kualitas manajemen di bidang pelayanan pelanggan sesuai amanah Rektor. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor: Nuri Hermawan




Pakar Kebudayaan Austronesia dari Hamburg University Sampaikan Wawasan Literasi

UNAIR NEWS – Unit Kajian Kebudayaan Jawa Timur (UK2JT) mendatangkan pakar studi Austronesia dari Belanda yaitu Prof. Dr. Jan Van Der Putten untuk memberikan orasi tradisi dan keberaksaraan dalam sejarah kebudayaan Indonesia.

Kegiatan yang diadakan di Ruang WS. Rendra Fakultas Ilmu Budaya UNAIR, Rabu (7/9) tersebut merupakan kegiatan yang diadakan secara rutin. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang keberaksaraan dalam sejarah kebudayaan yang ada di Indonesia yang biasanya tidak bisa didapatkan oleh mahasiswa biasa.

“Selamat datang dan semoga nantinya kita akan mendapat wawasan lebih mengenai literasi,” sambut Ketua UK2JT Dra. Adi Setijowati, M.Hum. “Selain orasi kebudayaan, kami juga mengadakan seminar serta penelitian kebudayaan,” imbuhnya.

Adrian Perkasa sebagai moderator dalam orasi kebudayaan, memberikan pembukaan tentang bagaimana keberaksaraan budaya dan literasi didapat dengan cepat dari mana saja. “Siapa yang tidak tahu cerita mukidi, bahkan cerita mukidi bisa dijadikan skripsi” tutur pria yang juga menjadi staf pengajar di FIB tersebut.

Prof. Putten sendiri menyampaikan orasinya kepada mahasiswa dari berbagai latar belakang bidang ilmu dan juga pemerhati kebudayaan. Dalam penyampaiannya, Prof. Putten mengatakan bahwa keberaksaraan yang keramat, budaya tulis, serta literasi pascakolonial sangat berharga.

“Batu saja itu sangat berharga, terbukti bahwa batu digunakan untuk bukti sejarah melalui pahatan tulisan,” ungkapnya.(*)

Penulis : Akhmad Janni
Editor : Dilan Salsabila




Angka Bebas Jentik Rendah? Geliti-in Aja!

UNAIR NEWS – Dalam rangka mengaplikasikan teori-teori perkuliahan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR kembali mengadakan kegiatan Praktik kerja Lapangan (PKL). Tahun ini Kabupaten Bojonegoro terpilih sebagai wilayah yang akan dijadikan sasaran intervensi. Salah satu desa yang menjadi wilayah kerja mahasiswa PKL adalah Desa Payaman. Berdasarkan pengumpulan dan analisis data ditemukan salah satu permasalahan yang urgent untuk segera ditangani adalah Angka Bebas Jentik  (ABJ) yang masih rendah. Mengingat Desa Payaman merupakan salah satu daerah endemis DBD (Demam Berdarah Dengue) dan cikungunya dengan kondisi lingkungan sebagian besar adalah hutan jati dan rawa.

Beragam pencegahan pun dilakukan, karena selama ini upaya fogging setiap tahunnya belum mampu melindungi masyarakat dari ancaman DBD dan Chikungunya, mahasiswa yang tergabung dalam tim PKL Desa Payaman Kelompok lima membentuk  sebuah program pencegahan dengan nama GELITIK (Gerakan Libas Jentik-Jentik).

Program ini bertujuan untuk meningkatkan angka bebas jentik dimasyarakat yang masih rendah yaitu 41% dengan cara sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat. Sosialisasi pun  dilakukan di salah satu rumah kader saat kegiatan Posyandu balita dan lansia, sementara  pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan menempelkan kartu pemeriksaan jentik di rumah-rumah masyarakat dan memilih salah satu anggota keluarga untuk menjadi Jumantik (Juru Pemantau Jentik) yang bertanggung jawab mengecek tempat penampungan air dan mengisi kartu pemeriksaan jentik setiap minggunya.

Selain itu gerakan ini juga memberdayakan siswa-siswi SDN Payaman dan MI Matholi’ul Falah untuk menjadi jumantik (Juru Pemantau Jentik). Hal ini dilakukan karena sekolah berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, pasalnya anak-anak mengahabiskan sebagian waktunya belajar dan bermain. Wakil Kepala Sekolah SDN Payaman I, Rahman menyambut kegiatan ini dengan baik.

“Saya senang sekali adik-adik mahasiswa UNAIR mengadakan kegiatan di sekolah kami, anak-anak perlu untuk diajarkan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sedini mungkin, terutama tentang pemantauan jentik nyamuk di sekolah, ini adalah program yang bermanfaat,” ungkapnya.

Pendekatan dengan berbagai pihak telah dilakukan demi suksesnya program ini. Tidak terlewatkan sosialisasi ke  pemuda Desa Payaman yang cukup berperan aktif dalam berbagai kegiatan desa. Integrasipun   dilakukan dengan pihak PONKESDES beserta kader yang perannya sangat penting dalam pemantauan dan kesinambungan program. Kerjasama juga dilakukan  dengan puskesmas untuk penyediaan bubuk abate bagi rumah-rumah yang berpotensi menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.

Perangkat desa, melalui Lurah Desa Payaman juga menyampaikan dukungannya terhadap program GELITIK ini, menurutnya program ini sudah tepat sasaran dan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Dari pihak kesehatan, Harry Niken K, Amd., Keb., selaku Bidan PONKESDES Payaman menyampaikan sangat terbantu dengan ada program ini.

“Kegiatan ini sangat membantu program kesehatan di PONKESDES khusunya masalah PSN. Karena desa ini tergolong daerah Endemik. Setiap tahun selalu ada kejadian DBD, jadi kegitan ini sangat bermanfaat dan saya berharap semua pihak bisa membantu keberlanjutan program ini”, tegasnya.

Menurut Ketua PKL Kelompok 5, Nova Mega kegiatan ini mendapat respon yang sangat baik. “Kami membuat program ini agar masyarakat lebih sehat dan peduli terhadap lingkungan rumahnya supaya tidak menjadi tempat sarang perkembangbiakan nyamuk. Alhamdulillah direspon baik oleh masyarakat, PONKESDES, Perangkat dan adik-adik SD dan MI yang mengikuti kegiatan dengan semangat,” paparnya.

Melihat Antusias dari masyarakat kami Optimis bahwa jika program ini terus dilanjutkan maka target pencapaian Angka bebas Jentik yakni 95% akan tercapai. Maka, jika angka bebas jentik rendah ? GELITIK-in aja. (*)

Penulis:  Nelsa Kurnia, Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR
Editor: Nuri Hermawan




Ajak Mahasiswa Berfikir Kritis Melalui Film Dokumenter Jihad Selfie

UNAIR NEWS – Tentu publik masih ingat, beberapa remaja Indonesia menyatakan dukunganya dan bergabung dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syiria (NIIS) beberapa bulan lalu. Hal ini tentu saja menjadi persoalan tersendiri, mengapa para remaja mau untuk mendukung dan bergabung dengan kelompok terorisme tersebut?

Untuk membahas permasalahan tersebut, CSGS (Cakra Studi Global Strategis) Lecture Series mengundang Noor Huda Ismail dan Teuku Akbar Maulana. Melalui diskusi yang diadakan di Aula Soetandyo FISIP UNAIR, Kamis (8/9)  tersebut, keduanya menjelaskan melalui sebuah  film dokomenter berjudul “Jihad Selfie”.

Film tersebut mengupas pengalaman pribadi Teuku Akbar Maulana dan teman-temanya yang akan bergabung dengan ISIS melalui informasi yang beredar di Facebook. Akan tetapi, Akbar tidak sampai bergabung, lantaran tidak direstui oleh orang tuanya.

Pada titik ini, Noor Huda melihat celah dimana kondisi anak muda yang galau dan hubungan sosial yang kurang baik dengan orang tua dan teman sebayanya. Masa galau untuk menemukan jati diri itulah yang digunakan pihak jaringan teroris untuk merekrut anggotanya.

“Ketika teman-teman saya pergi ke Suriah, saya menelepon ibu, akan tetapi ibu tidak mengizinkan. Akhirnya saya tidak jadi bergabung (dengan ISIS,red),” ungkap pelajar yang mendapat kesempatan beasiswa sekolah menengah atas di Turki tersebut.

Akbar bercerita mengenai teman baiknya yang bergabung dengan ISIS telah mengikuti pelatihan militer dengan menenteng senjata AK-47. Bagi mereka, hal tersebut merupakan suatu hal yang keren. Bahkan ada juga yang mengunggah foto di media sosial dengan perasaan bangga.

“Teman-teman saya terlihat keren, foto membawa senjata diunggah di facebook, di-like sama ukhti-ukhti,” ujar Akbar.

Cerita singkat Akbar inilah yang akhirnya meyakinkan Noor Huda untuk membuat sebuah film dokumenter. Walaupun bukan pembuat film yang handal, akan tetapi ia memiliki pesan yang disisipkan melalui film tersebut. Noor Huda ingin menunjukkan sisi lain dari perekrutan ISIS, dimana dalam banyak kasus, para remaja sebagai korbannya.

Banyak pihak yang secara sukarela ikut membantu dalam proses produksi film, baik di Turki, Australia, maupun di beberapa kota di Indonesia. “Pembuatan film ini tidak dihitung berapa habisnya, kuncinya adalah trust dan kerja bareng” ujar peraih gelar master dalam Studi Keamanan Internasional dari St. Andrews University Inggris tersebut.

Menurut Noor Huda, tujuan film ini adalah untuk mengajak berfikir kritis. Berfikir bahwa untuk berjihad, tidak perlu bergabung dengan sebuah kelompok teroris. Mencintai dan patuh dengan orang tua pun merupakan jihad.

“Saya berharap, penikmat film dokumenter ini dapat berfikir kritis, kemudian berdiskusi bersama,” tutur pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian tersebut. “Syarat menonton film ini, harus ada diskusi bareng,” pungkasnya.(*)

Penulis: AhallaTsauro
Editor : Dilan Salsabila




Pengusaha, Artis, Musisi hingga Menteri Datang ke UNAIR

UNAIR NEWS – Upaya EMTEK MEDIA GROUP untuk memperkenalkan dan mendekatkan kepada generasi muda melalui kegiatan EMTEK Goes to Campus (EGTC), memasuki hari terakhir, Kamis (8/9). Tidak jauh berbeda dengan hari pertama, kegiatan dibuka dengan Campus Art Performing, lokakarya dari Karir.com dan HR SCM, serta Stand-up Comedy.

Dalam kegiatan EGTC yang dilangsungkan di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR, penyanyi kondang, artis peran, dan pejabat pemerintahan hadir meramaikan kegiatan serta memberi motivasi pada peserta EGTC.

Pada talkshow kewirausahaan, penyanyi dangdut asal Pasuruan Inul Daratista mengaku senang bisa berbagi pengalaman bagi mahasiswa. Inul mengungkapkan, bahwa ia bersekolah sampai tingkatan sekolah menengah pertama. Inul juga tak pernah bercita-cita jadi penyanyi terkemuka. Pengalamannya berjuang di dunia hiburan penuh asam garam.

Setelah berjuang untuk tetap eksis, Inul tak mau cepat berpuas. Ia ingin memiliki usaha sampingan. “Saya tidak mau sekedar dikenal menjadi penyanyi dangdut. Kita harus mandiri dengan wirausaha,” jelas Inul yang memiliki usaha karaoke.

Beberapa bintang sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) yang dihadirkan jadi buruan foto bareng peserta Emtek di UNAIR. Diantaranya Pak Jalal (Jarwo Kuwat), Kalila (Arta Ivano), Azzam (Agus Kuncoro). (Foto: Dilan Salsabila)
Beberapa bintang sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) yang dihadirkan jadi buruan foto bareng peserta Emtek di UNAIR. Diantaranya Pak Jalal (Jarwo Kuwat), Kalila (Arta Ivano), Azzam (Agus Kuncoro). (Foto: Dilan Salsabila)

Inul juga menegaskan bahwa masa depan perlu ditata dengan perencanaan-perencanaan. Ia pun berceletuk. “Kalau tidak ada rencana yang baik dalam menata hidup ke depan, ya matek o wae (mati sajalah, red),” tegas Inul.

Meski Inul tak pernah studi di universitas, ia tak patah arang untuk belajar. “Saya memang ndak sampai sekolah tinggi, tapi saya ingin pintar. Ya, ilmunya saya dapat dari orang lain yang lebih hebat,” tandas Inul.

Dari kalangan musisi, Ihsan jebolan ajang pencarian bakat Indonesian Idol, selepas menghibur hadirin, ia juga mengajak peserta agar senantiasa menggali potensi yang dimiliki. “Terus gali potensi kalian,” tegas Ihsan sembari meninggalkan panggung.

Dari kalangan perfilman, artis peran sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Agus Kuncoro, pemeran PPT, menjelaskan bahwa memerankan karakter adalah hal yang susah dalam bermain sinetron. Dalam bermain diperlukan kerja sama agar sinetron bisa dinikmati penonton. “Makanya dalam bermain kata tidak boleh salah dan titik komanya harus dijaga,” terang Agus.

Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi juga hadir untuk berbagi dengan mahasiswa. Dalam paparannya, Menhub mengajak peserta yang didominasi mahasiswa untuk mengisi kegiatan sehari-hari dengan hal-hal yang bermanfaat. “Saya dulu sewaktu kuliah juga mengikuti banyak kegiatan. Jadi isilah waktu selama kuliah ini dengan hal-hal yang bermanfaat,” tegasnya.

Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Defrina Sukma S.




Tingkatkan Publikasi dengan Bentuk Konsorsium Penelitian

UNAIR NEWS – Menguatkan jejaring peneliti di level internasional adalah cara untuk menguatkan kolaborasi dan meningkatkan kuantitas publikasi internasional. Jejaring peneliti itu dibentuk dalam konsorsium penelitian dan pengabdian masyarakat yang diawali dengan pembentukan forum-forum lulusan luar negeri.

Universitas Airlangga kini tengah gencar meningkatkan publikasi, baik di level nasional maupun internasional. Untuk memperlancar kegiatan riset dan publikasi itu, maka dibentuklah konsorsium penelitian dengan para peneliti dari universitas di luar negeri.

Menurut Wakil Rektor III UNAIR Prof. Ir. M. Amin Alamsjah, Ph.D., salah satu cara untuk menjalankan rencana konsorsium penelitian itu adalah dengan mengumpulkan dosen-dosen UNAIR yang lulus dari perguruan tinggi di luar negeri. Ia juga mengatakan, sebagian dosen UNAIR merupakan lulusan asal perguruan tinggi luar negeri. Maka, potensi itu dimanfaatkan untuk menjalin dan menguatkan jejaring demi melakukan kolaborasi penelitian dan publikasi.

“Pada posisi di mana kita berbicara tentang publikasi internasional baik di bidang penelitian maupun pengabdian masyarakat, yang akan kita gerakkan adalah membentuk konsorsium penelitian. Maka, saya melihat potensi di UNAIR yang bisa kita gerakkan. Setelah dianalisis, dari 1.600 dosen, sebagian adalah lulusan dari luar negeri, baik S-2 maupun S-3. Kita akan kumpulkan berdasarkan kawasan atau negara,” tutur Prof. Amin.

Para dosen lulusan universitas luar negeri terlebih dahulu dikumpulkan berdasarkan kawasan kampus saat berkuliah dulu. Kawasan atau lokasi kampus dibagi menjadi empat wilayah yaitu Eropa, Amerika, Asia, dan Australia. Dari setiap kawasan itu, telah dipilih dua orang yang bertugas sebagai koordinator dan wakil koordinator. Para dosen ini diharapkan untuk berkoordinasi secara intensif, berdiskusi seputar potensi kolaborasi riset antara UNAIR dengan kampus di luar negeri.

Pada tahun 2017, rencananya para anggota forum tersebut diminta untuk mengumpulkan proposal penelitian ataupun pengabdian masyarakat– kepada tim reviewer riset mandat UNAIR. Bagi proposal yang lolos, akan didanai menggunakan dana program World Class University (WCU) atau Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Syaratnya, tim dosen yang mengajukan proposal harus memiliki mitra penelitian di luar negeri, sudah bekerjasama, dan menyiapkan payung penelitian.

Tim yang menerima dana riset mandat internasional ditarget untuk menerbitkan jurnal bereputasi internasional. Begitu pula dengan bidang pengabdian masyarakat.

“Pada pengmas, tim diwajibkan untuk memublikasikan lima publikasi penelitian internasional per payung kegiatan. Misalnya, dosen Fakultas Psikologi intens bekerjasama dengan Australia untuk mengadakan pembinaan untuk anak dengan autisme. Itu bagus sekali dan bisa jadi wadah untuk menjadikan pengabdian masyarakat di tingkat internasional,” imbuh Prof. Amin. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor: Binti Q. Masruroh