Mahasiswa FEB Raih Award di Malaysia

UNAIR NEWS – Civitas akademika Universitas Airlangga (UNAIR) tidak pernah miskin prestasi. Misalnya, dalam event  ICAEW (The Institute of Chartered Accountants in England and Wales) Regional Business Challenge di Kuala Lumpur, Malaysia, 24 Mei lalu. Sejumlah enam mahasiswa berlaga dalam kompetisi business case, didampingi salah satu dosen bernama Aria Auliandri MSc. Mereka adalah Tantyo Permadi Utomo, Mochammad Rasyid Poedjijanto, Adelia Yulma Budiarto, Avi Diesta Wardhani, Adelia Widiyanti, dan Qintara Sarah Delany.

Delegasi dari program studi S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) itu sukses membawa pulang award (penghargaan) melalui Adelia Yulma. Mahasiswi angkatan 2013 itu meraih predikat The Best Presenter.  Capaian tersebut tidak lepas dari bimbingan dan arahan seluruh dosen akuntansi. Khususnya, Ade Palupi PhD, ketua program studi tersebut,  yang selama ini memberi dukungan penuh bagi para mahasiswa untuk berprestasi.

Lomba kali ini merupakan lingkup regional Asia. Selain dari Indonesia, terdapat peserta dari Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Total, ada tiga puluh tim. Kompetisi ini diadakan untuk mengasah bakat dan bibit unggul terbaik di bidang akuntansi. Juri dalam kompetisi ini berasal dari kantor akuntan terbaik di dunia. Antara lain, EY, Deloitte, KPMG, dan PwC. Teknis lombanya, peserta ditantang untuk memberi solusi bisnis terhadap suatu kasus rumit yang disampaikan panitia.

Rangkaian acara delegasi UNAIR pada hari H adalah menyaksikan pameran yang diisi oleh beraneka kantor akuntan dunia. Setelahnya, barulah kompetisi dimulai (panitia membagikan soal berupa case study yang langsung dikerjakan oleh tim). Lantas, peserta mempresentasikan jawaban atau solusi hasil buah pikiran mereka. Beberapa saat kemudian, diumumkan pemenangnya.

“Kegiatan seperti ini membuka wawasan global mahasiswa. Semoga raihan ini membuat mereka lebih bersemangat berkarya dan memberi inspirasi bagi yang lain,” kata Aria Auliandri, dosen yang mendampingi delegasi UNAIR dalam acara internasional tersebut. Yang tak kalah penting, mereka juga berkesempatan melakukan interaksi dengan pakar Akuntansi kelas dunia. (*)

Penulis: Rio F. Rachman




AcSES Motivasi Entrepeneur Muda Melalui Seminar Bisnis

UNAIR NEWS – Mental menjadi wirausahawan harus dibangun sejak dini, itulah yang menjadi landasan Organisasi Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, AcSES (Association of Sharia Economics Studies) menggelar Seminar Bisnis yang bertajuk “Bright Your Future Become Moeslem Entrepreneur”, Sabtu (21/05). Bertempat di Aula Fadjar FEB UNAIR. Acara tersebut dihadiri oleh dosen sekaligus pengusaha, Dr. Muhamad Nafik Hadi Ryandono, SE., M.Si, Owner Jatinom, Indah  Hidayatur Rahman, dan Owner Falle Corporation, Andy Suryansyah, S.ST.

Dosen Ekonomi Islam UNAIR, Dr. Muhamad Nafik Hadi Ryandono, SE., M.Si, menjelaskan bawa kiblat bagi muslim yang ingin menjalankan bisnis tentunya adalah Nabi Muhammad, konsep kejujuran dan profesionalitas selalu diterapkannya. Selain itu, berwirausaha adalah profesi yang digeluti oleh Nabi Muhammad SAW sejak masih muda, bahkan Rasulullah sudah dikenal di belahan dunia berkat keahlian dan kejujurannya dalam berdagang.

“Berbisnis merupakan jalan yang ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW bahkan sejak dari umur 6 tahun, Rasulullah sudah mengembala kambing milik pamannya dengan menggunakan sistem bagi hasil. Ketika umur 18 tahun, Nabi sudah menjadi konglomerat tingkat dunia,” tuturnya.

Menambahkan pernyataan Nafik, Owner Jatinom Hidayatur Rahman menjelaskan bahwa dalam menjalankan sebuah bisnis, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengawalinya dengan niatan ibadah. Baginya niat menjalankan bisnis untuk beribadah kepada Allah SWT akan menemui banyak kelebihan, ketika bisnis yang dijalankan mengalami kerugian maka tidak akan kecewa apalagi putus asa, jika untung tentu syukur akan menyertai.

“Sebelum menjalankan bisnis, kita harus niatkan hanya untuk beribadah kepada Allah, karena dengan demikian bisnis yang kita jalankan akan selalu dalam penjagaan-Nya,” ujarnya.

Owner Jatinom yang akrab disapa Dayat tersebut juga menambahkan, bahwa yang terpenting di dalam berbisnis adalah harus dimulai dari pasar. Ia menekankan, bahwa dengan mengetahui pasar akan memudahkan pebisnis untuk tahu produk yang dinginkan dan dibutuhkan oleh masyarakat, dengan demikian produk tersebut dapat terjual.

“Jangan memulai bisnis dengan membuat produknya tanpa survei pasarnya, hal itulah yang membuat produk tidak laku terjual,” tandasnya.

Melengkapi penjelasan kedua pemateri yang hadir, Pungkas Andy Suryansyah, S.ST selaku Owner Falle Corporation, menjelaskan bahwa kendala yang dialami oleh para mahasiswa untuk berbisnis biasanya terkait dengan modal. Namun, baginya hal tersebut dapat diatasi dengan mengikuti berbagai perlombaan seperti Business Plan atau PKM yang diselenggarakan oleh Dikti.

“Masalah klasik yang dialami oleh para mahasiswa yang ingin berbisnis pastinya adalah terkait modal. Hal itu mudah sekali, apalagi kita sebagai kaum mahasiswa yang terdidik. Ikut saja Bisnis Plan atau PKM yang dilaksanakan oleh Dikti. Jika menang hadiahnya dapat digunakan sebagai modal,” tegasnya. (*)

Penulis : Pito Budi Prasetyo
Editor    : Nuri Hermawan




Mahasiswa FKp Adakan Pengabdian Masyarakat di Tambaksari

UNAIR NEWS – Pengabdian masyarakat sekarang banyak diwujudkan oleh mahasiswa dalam berbagai bentuk kegiatan. Salah satunya adalah GBGC (Gelar Bakti  GEN Corps) yang dilaksanakan oleh BSO GEN Corps dari Fakultas Keperawatan (FKp) UNAIR. Kegiatan GBGC ini merupakan salah satu progam kerja yang diadakan oleh GEN Corps setiap tahunnya. Tahun 2016 ini, GBGC berhasil dilaksanakan di Jalan Bogen kelurahan Ploso kecamatan Tambaksari RT.07 RW.04, Surabaya.

Daerah Bogen menjadi salah satu sasaran pada kegiatan ini karena rerata masyarakat di daerah tersebut adalah golongan ekonomi menengah kebawah. Selain itu, angka kejadian Diabetes Mellitus, Asam Urat dan Hipertensi di daerah tersebut termasuk tinggi.

“GBGC adalah kegiatan pengabdian masyarakat tahunan dan merupakan pengaplikasian dari pembelajaran di organisasi kami. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk selangkah lebih dekat dengan masyarakat, saling membantu dan berbagi,” ungkap Amalia Khasanah selaku ketua GEN Corps.

Kegiatan ini berlangsung Selama dua hari pada tanggal 21- 22 Mei 2016. Hari pertama, kegiatan yang diadakan yakni penyuluhan mengenai “Hidup sehat bebas hipertensi, asam urat dan diabetes melitus”. Materi ini disampaikan oleh Ery Yannata S.Kep.,Ns. Pada penyuluhan tersebut,  sekitar 93 warga Bogen turut hadir dan aktifnya bertanya pada pemateri maupun fasilitator tentang materi yang disampaikan. Kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan gratis yang terdiri dari pemeriksaan gula darah, asam urat dan juga pendididkan kesehatan. Warga juga terlihat mengantri dengan sabar untuk mendapatkan pemeriksaan dan juga pendidikan kesehatan.

“Antusias warga terlihat dari banyaknya yang bertanya mengenai hasil pemeriksaaan dan juga pendidikan kesehatan yang diberikan sewaktu acara berlangsung,” imbuhnya.

Di hari kedua,  GEN Corps bersama warga Bogen melaksanakan Jalan Sehat. Kegiatan ini diikuti hampir semua warga Bogen termasuk anak kecil pun ikut meramaikan kegiatan jalan sehat. Endri, salah satu warga Bogen menyampaikan bahwa  kegiatan yang diadakan oleh Anak GEN Corps FKp UNAIR ini sangat bermanfaat bagi warga, baginya dengan adanya penyuluhan dan pemeriksaan gratis warga bisa tahu tanda gejala penyakit yang sering dialami warga.

“Kalau kami sudah tahu gejala dari awal kan bisa segera periksa ke rumah sakit,” jelasnya.

Mewakili RT.07 Endri juga menyampaikan bahwa semisal jika ada kegiatan lagi, ia berharap dilakukan disini lagi. Hal ini dikarenakan warga Bogen merasa senang dengan adanya kegiatan tersebut.

“Saya selaku perwakilan RT 07 mengucapkan terimakasih kepada GEN Corps atas dua hari acara di daerah kami,” ungkapnya. (*)

Penulis : Winahyu, Mahasiswa Fakultas Keperawatan UNAIR
Editor    : Nuri Hermawan




Juarai Pekan Seni Mahasiswa Daerah, Siap Berlaga ke Tingkat Nasional

UNAIR NEWS – Pekan Seni Mahasiwa Daerah (Peksimida) sedang berlangsung. Ada berbagai macam kategori yang dilombakan pada ajang ini. Pada Selasa (17/5) lalu, bertempat di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Brawijaya (UB), puluhan mahasiswa UNAIR ikut berkompetisi dengan mahasiswa dari perguruan tinggi se-Jawa Timur untuk memperebutkan gelar juara. Pemenang pada tiap kategori, nantinya akan mewakili Jawa Timur untuk mengikuti Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2016 yang akan diselenggarakan di Kendari, Sulawesi Tenggara, pertengahan September nanti.

Ada puluhan bidang seni yang dilombakan pada Peksimida ini. Minggu lalu, kompetisi bidang Keroncong berlangsung di UMM, sedangkan tangkai penulisan cerpen, lakon, dan puisi dilangsungkan di UB. Chendra Mitra Affandi mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) memperoleh juara I untuk kategori tangkai penulisan puisi. Selain Chendra, tim dari Unit Kegiatan Tari dan Karawitan (UKTK) memperoleh Juara III untuk kategori tari, dan Elly Raheliyawati memperoleh Juara Harapan I untuk kategori penulisan cerpen.

“Pada lomba penulisan puisi lalu, disediakan waktu 4 jam dengan tema ‘lingkungan’. Tema diberikan panitia pada saat hari H pelaksanaan lomba,” ujar Cema.

Peksiminas merupakan program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang diadakan tiap dua tahun sekali. Airlangga Got Talent yang diselenggarakan oleh Direktorat Kemahasiswaan UNAIR merupakan ajang kompetisi bagi mahasiswa UNAIR sebelum seleksi menuju Peksimida. Chendra atau yang lebih akrab disapa Cema, menjadi perwakilan UNAIR sekaligus perwakilan Jawa Timur pada cabang tangkai penulisan puisi yang akan mengikuti Peksiminas nanti.

“Yang saya persiapkan untuk Peksiminas nanti adalah melatih kepekaan, memperbanyak bacaan, latihan menulis setiap hari,” ujar Cema.

“Cabang lain yang akan menyusul dalam Peksimida adalah cabang komik strip, baca puisi, monolog, vocal grup, dan seriosa,” ujar M. Aminuddin Ghufron Ali Musmar selaku Ketua Forum Komunikasi UNAIR 2016. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor    : Nuri Hermawan




Ide Menarik dari Kampus Unggulan Negeri Kanguru

UNAIR NEWS – Kampus tua yang kaya dengan nilai historis menarik untuk diceritakan. Termasuk keberadaan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Universitas of Western Australia (UWA). Sebagai kampus tua yang sama-sama telah berumur lebih dari seabad ini, kedua kampus tersebut menyimpan pesona tersendiri.

Baru-baru ini, Wakil Dekan III FK UNAIR Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, dr., MS., Sp.MK(K) bersama Ketua Unit International Office and Partnership (IOP) FK UNAIR Linda Dewanti, dr., MKes., MHSc.,  Ph.D berkesempatan berkunjung ke Universitas of Western Australia.

Selama di sana, mereka berkeliling ke sejumlah tempat penting. Menariknya, ada banyak fasilitas akadamik dan penunjang aktivitas belajar di sana yang dapat diadaptasi di UNAIR. Kesemuanya mereka abadikan dalam sebuah catatan perjalanan. Berikut cerita pengalaman Prof. Mertaniasih dan dokter Linda selengkapnya:

Cerita dari Universitas Australia Barat (UWA)

Sebagaimana kampus lainnya, Universitas Airlangga dipandang sebagai mitra yang potensial bagi Universitas Australia Barat (UWA). Dalam kesempatan khusus, UWA mengundang delegasi FK UNAIR sebagai perwakilan delegasi dari Indonesia bersama sepuluh delegasi lainnya dari Inggris, Jerman, Spanyol, Brazil, Jepang  untuk berkunjung dan bergabung dalam ‘partnersday program’ di UWA, Perth, Australia.

Kedatangan kami di UWA rupanya bebarengan dengan perayaan O’Day Festival. Yakni sebuah event seperti pesta selamat datang terbesar yang diselenggarakan oleh sebuah perkumpulan untuk mahasiswa baru. Ada satu tempat berkumpulnya klub dari berbagai fakultas dan berbagai komunitas. Di sana, mereka menyediakan informasi dan pameran seputar program kegiatan yang bisa diikuti oleh mahasiswa.

Acara tersebut memang diperuntukkan bagi para mahasiswa baru sebelum memulai kuliah semester pertama. Para mahasiswa dari berbagai latar belakang budaya, bahasa dan ras dapat menikmati acara pameran yang dikemas menarik diiringi penampilan grup musik, wisata kuliner, dan bagi-bagi hadiah.

Berkeliling menikmati sekitaran kampus UWA memberikan keasyikan tersendiri. Dalam sejarahnya, kampus tua yang berdiri sejak tahun 1911 itu memiliki pesona bangunan klasik. UWA memelihara bangunan kuno dengan ukiran arsitektur yang eksotis. Ruang terbuka UWA ditumbuhi banyak pepohonan rindang sehingga tercipta suasana sejuk. Pemandangan elok kian lengkap karena mereka juga memelihara binatang khas seperti burung merak di salah satu bangunan, dan angsa di kolam depan utama gedung kampus.

Konsep lingkungan asri yang dipertahankan di UWA membawa keuntungan dari segala aspek. Meskipun UWA terletak di daerah pinggiran kota Perth, hal itu justru menguntungkan bagi para mahasiswa yang mendambakan suasana belajar yang tenang, nyaman, serta jauh dari keramaian. Bayangkan betapa menyenangkannya belajar sembari menikmati semilir sejuknya angin perbukitan, kicauan burung, serta sejuknya pemandangan hijau di sekitar.

Fasilitas umum terbaik

Dalam perkembangannya, UWA memiliki sembilan fakultas, termasuk fakultas kedokteran. Sekadar informasi, UWA merupakan perguruan tinggi pertama di Australia Barat dan menduduki peringkat perguruan tinggi top 100 dunia.

Pencapaian tersebut tak lepas dari kualitas berbagai aspek pendukung. Seperti penyediaan fasilitas dan akomodasi yang dirancang agar dapat menunjang segala keperluan mahasiswa dan para tamu. Dan tampaknya, UWA telah menyediakan berbagai fasilitas tersebut secara memadai.

Di gerbang utama UWA, para pengunjung UWA akan menemukan mesin ‘Help Point’ yang terhubung dengan pusat informasi. Dengan mesin itu, para tamu dapat bertanya dan memperoleh informasi secara langsung melalui ‘Help Point’.

Di setiap perempatan atau persimpangan jalan, ada banyak rambu dan peta untuk menuju setiap bangunan, departemen bahkan fakultas. Ruang terbuka kampus juga begitu luas. Hijau, nyaman dan bersih sehingga semua orang merasa nyaman berada disana.

Di pintu masuk perpustakaan, ada pusat informasi dengan tanda ‘ASK’ untuk menyambut setiap orang yang membutuhkan informasi. Di dekat pintu keluar, ada kotak khusus untuk pengembalian buku yang dianggap sebagai ‘Koleksi buku yang paling dicari’ untuk menghindari salah taruh buku.

Perpustakaan itu menerapkan “mobile shelving” (rak bergerak) yang berarti semua rak buku bisa dipindahkan dengan mudah sehingga lebih banyak rak bisa disimpan. Dengan demikian, maka pemanfaatan area ruangan perpustakaan jadi lebih efisien. ‘Parents room’ juga tersedia di perpustakaan.

Selain kenyamanan di area perpus, kantin di sana juga menawarkan kenyamanan serupa. Dengan area bangunan yang cukup luas, kantin di sana menyediakan bermacam menu yang menggugah selera, pelayanan mandiri, dan menerapkan sistem satu harga untuk semua menu makanan. Fasilitas menyenangkan semacam itu menjadikan kantin sebagai tempat favorit berkumpul para mahasiswa sambil bersantap siang. Sekeliling kantin juga didesain meriah. Disekelilingnya dipasang banyak bendera dari negara-negara mitra atau asal negara dari setiap mahasiswa UWA.

UWA juga menyediakan tiga jenis asrama untuk mahasiswanya. Mulai dari asrama yang paling sederhana hingga mewah dengan kapasitas hingga 500 mahasiswa. Asrama berlokasi di kampus dan dilengkapi dengan fasilitas hiburan sepeti biliar, games, dan tenis meja. Ada pula fasilitas olahraga yang disediakan oleh UWA.

Di seberang kampus, berdiri sebuah hotel kampus yang menyediakan akomodasi untuk para tamu universitas dan keluarga mahasiswa. Staf hotel UWA adalah para mahasiswa UWA yang sedang bekerja paruh waktu.

Di UWA juga terdapat banyak tempat-tempat lainnya yang menarik, seperti museum seni, gedung teater, fasilitas olahraga, pojok alumni, dan social groups. Alumni dan pendonor yang berjasa cukup dihargai. Nama mereka dicatat di dalam ataupun di luar bangunan kampus. Termasuk tiga peraih nobel Laureate seperti Professor Barry Marshall di bidang Fisiologi (tahun raih 2015), Professor Brian Schmidt di bidang Fisika (2011), dan Robin Warrem di bidang Kedokteran (2005).

Satu lagi yang menarik. Keberadaan bangunan kampus yang klasik di sana juga dikelola dan dibuka untuk umum. Oleh karenanya unit bisnis UWA menyediakan paket pernikahan bagi masyarakat umum.

Gedung klasik yang telah berusia ratusan tahun ini memang tampak begitu menarik. Koridor gedung dikelilingi pilar tinggi nan menjulang menjadikannya sebagai lokasi favorit pemotretan acara pernikahan. Karena keindahan bangunan tersebut, menjadikan kampus UWA sebagai tempat paling terkenal sebagai tempat penyelenggarakaan pernikahan di Perth. (*)

Penulis: Sefya Hayu, Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, dr., MS., Sp.MK(K) dan Linda Dewanti, dr., MKes., MHSc.,  Ph.D.
Editor: Defrina Sukma S




Tadabbur Kebangsaan Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng di UNAIR

UNAIR NEWS – Sebagai bagian dari pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan, Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat (PIH) Universitas Airlangga akan menghadirkan tadabbur kebangsaan bersama budayawan Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng, Kamis (26/5). Budayawan yang akrab disapa Cak Nun beserta rombongan didaulat untuk mengisi pengajian dan pertunjukan seni musik di halaman depan Kantor Manajemen UNAIR.

Ketua PIH UNAIR, Drs. Suko Widodo, M.Si, mengatakan, kehadiran Cak Nun dan Kiai Kanjeng merupakan bagian dari merekatkan kedekatan UNAIR dengan masyarakat Surabaya. Artinya, UNAIR bersama-sama dengan masyarakat turut aktif dalam proses pencarian kebenaran (tadabbur) mengenai kebangsaan.

“Acara ini terbuka untuk sivitas akademika, baik itu mahasiswa, pimpinan, dan alumni UNAIR. Masyarakat Surabaya dan sekitarnya juga dipersilakan untuk datang ke Kampus C UNAIR, Kamis malam,” tutur Suko.

Acara akan dimulai dengan penampilan musik akustik yang dimeriahkan oleh musisi lokal Sapto. Dilanjutkan dengan mukadimah oleh Kiai Kanjeng, sambutan dari Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak, dan tadabbur kebangsaan oleh Cak Nun. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor: Nuri Hermawan




Menjadi Pemimpin Bukan Sekedar Pemimpi

UNAIR NEWS – “Pemuda Hari Ini adalah Pemimpin Masa Depan”. Ungkapan tersebut merupakan gagasan besar yang menyadarkan pentingnya langkah pemuda hari ini untuk menentukan masa depan bangsa. Berbagai  langkah dan persiapan dilakukan melalui beragam hal, salah satunya adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga.

Bekerja sama dengan PT. XL Axiata Tbk., BEM UNAIR menggelar Talkshow bertajuk “Leadership and Scholarship XL Future Leader”, Sabtu (21/5). Acara yang dilangsungkan di Aula Excellence with Morality, Fakultas Psikologi (FPsi) UNAIR tersebut, bertujuan untuk mencari pemuda yang punya mimpi untuk diajak mewujudkan mimpinya.

Ahmad Pradipta, mewakili PT. Xl Axiata Tbk. yang datang ke UNAIR, menuturkan bahwa acara yang telah berlangsung untuk kali kelima ini sengaja diadakan untuk mencari potensi pemuda, terkhusus mahasiswa UNAIR.

“Sudah beberapa kali acara seperti ini  dilakukan di UNAIR. Selain strategis, UNAIR memiliki mahasiswa yang berpotensi cukup besar di bidang kepemimpinan,” jelasnya.

Dipta, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa acara talkshow ini merupakan sosialisasi kepada para mahasiswa. Setelah talkshow berakhir, ada beberapa tahapan seleksi dan pembinaan bagi mahasiswa yang lolos hingga tahap akhir. Ia juga menambahkan bahwa pemilihan tema “Jalan Pemimpi Jadi Pemimpin” merupakan tema besar yang ada sejak tahun pertama.

“Kegiatan ini merupakan media bagi pemuda yang mempunyai mimpi besar untuk mewujudkan mimpinya, namun belum tahu caranya. Makanya kami adakan acara semacam ini,” imbuhnya.

Senada dengan Dipta, mewakili BEM UNAIR, Ratna Dewi Kumalasari menuturkan bahwa kegiatan kerja sama ini merupakan kegiatan yang memiliki banyak keuntungan, terlebih bagi mahasiswa. Mahasiswa yang menjabat sebagai Menteri Hubungan Luar BEM UNAIR tersebut menegaskan bahwa selain pemberian beasiswa, program tersebut juga memberikan beragam pelatihan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan.

“Keuntungannya bagi mahasiswa yaitu selain mendapat beasiswa juga ada pembinaan untuk kepemimpinan,” jelasnya.

Acara tersebut juga mengundang siswa SMA se-Surabaya. Hal ini dimaksudkan juga sebagai media bagi BEM untuk mengenalkan beragam beasiswa dan jalur masuk yang ada di UNAIR.

“Kami juga membuka stan mengenai informasi penerimaan mahasiswa baru di UNAIR dan berbagai beasiswa yang ada di UNAIR untuk adik-adik SMA,” paparnya.

“Menjadi pemimpin bukanlah mimpi,” tegas Ratna diakhir wawancara. (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor    : Binti Q. Masruroh




Dua Kali Gagal Seleksi, Lutvy Arsanti Wakili UNAIR di Ajang Mawapres Nasional

UNAIR NEWS – Pernah gagal dalam seleksi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres), tidak jadi penghalang bagi Lutvy Arsanti untuk mencapai harapannya. Dua kali gagal dalam ajang seleksi, kini mahasiswa jurusan D3 Bahasa Inggris Fakultas Vokasi UNAIR tersebut berkesempatan untuk mewakili UNAIR dalam ajang Mawapres tingkat Nasional.

Ditanya mengenai tekat untuk menjadi Mawapres, mahasiswa yang akrab disapa Lutvy tersebut mengungkapkan bahwa langkahnya ingin menjadi Mawapres bermula saat mengikuti  PPKMB di awal mahasiswa baru. Mahasiswa yang mulanya tidak memiliki minat dalam organisasi tersebut akhirnya mulai menjajaki dan mencoba untuk mengikuti ajang melatih kepemimpinan sebagai salah satu syarat untuk menjadi Mawapres.

“Awalnya penasaran saat ada pemateri mengenai Mawapres waktu PPKMB dulu, dari itu saya mulai pahami persyaratannya apa saja yang diperlukan, salah satunya harus aktif organisasi yang mulanya hal yang kurang saya minati,” jelasnya.

Tekat untuk menjadi Mawapres tidak dilaluinya dengan mudah, berbagai tantangan telah ia hadapi. Terlebih saat berkesempatan untuk maju ke tingkat nasional kali ini harus diterima saat tengah menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat meraih gelar Ahli Madya. Ia mengaku, sempat ada keinginan untuk menolak tawaran Garuda Sakti untuk melanjutkan langkahnya ke ajang nasional.

“Awalnya setelah dapat kabar dari garuda sakti ya mau mundur, karena takut bentrok dengan TA,” imbuh mahasiswa yang hobi menulis dan mendengarkan musik tersebut.

Rasa ingin mundur mahasiswa kelahiran Mojokerto, 8 Agustus 1995 dari ajang Mawapres Nasional bukan tanpa sebab. Pasalnya, selepas lulus dari D3 Bahasa Inggris, ia berencana akan alih jenis ke program Strata 1.

“Karena setelah lulus Diploma saya mau lanjut ke S1, jadi butuh persiapan yang matang juga,” tegasnya.

Dibalik berbagai hal yang memberatkan langkah untuk maju ke tingkat nasional, mahasiswa peraih IPK 3.72 tersebut memiliki trik dan cara tersendiri untuk membagi berbagai tugasnya tersebut. Selain lihai dalam mengatur waktu, Lutvy juga memiliki motivasi bahwa kesempatan itu tidak datang untuk yang kedua kalinya.

“Kesempatan itu hanya sekali, ya harus dimaksimalkan,” tegasnya.

Tidak hanya motivasi dan kecerdasan dalam manajemen waktu, baginya mental juga perlu dipersiapkan. Berbekal dari cerita seniornya yang memiliki pengalaman yang sama, tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk mundur dari Mawapres demi tugas akhir. Sebab itulah di akhir perbincangan ia menegaskan betapa pentingnya untuk mempersiapkan segala hal sejak dini termasuk untuk menjadi Mawapres.

“Berbekal pengalaman tersebut, penting untuk menyiapkan semua hal sejak dini, semua memang tidak bisa dadakan, termasuk untuk menjadi seorang Mawapres,” pungkasnya.        (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor : Dilan Salsabila




Banyak Istilah Yang Melecehkan Masyarakat Adat

UNAIR NEWS – Indonesia adalah negara yang paling kaya dengan ragam kebudayaan. Pernyataan itu dilontarkan oleh Abdun Nababan selaku Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada diskusi publik bertema “Tantangan Eksistensi Masyarakat Adat dalam Pusaran Industrialisasi”, pada Selasa (24/5).

Abdun menyatakan, walaupun Indonesia punya beragam budaya, namun ada saja makna miring terhadap masyarakat adat. “Di kongres masyarakat adat nusantara pada tahun 1999, masih banyak pelecehan bagi masyarakat adat dalam bentuk istilah, misalnya istilah “Rehabilitasi Budaya”. Nah, masyarakat adat dianggap belum berbudaya sehingga perlu direhabilitasi,” ujar Sekjen AMAN dalam diskusi yang dihelat di Aula B. Soesetijo Fakultas Hukum Universitas Airlangga tersebut.

Abdun juga menyayangkan maraknya kasus pelanggaran hak asasi manusia masyarakat adat di daerah-daerah yang kaya sumber daya alam. “Kalau ada aktivis dari masyarakat adat, tidak lama pasti hilang, entah kemana orangnya,” terang Abdun.

Selain Abdun, anggota komunitas tradisional Sedulur Sikep atau Samin dari Pati, Gunritno, juga hadir dalam diskusi yang sama. Menurutnya, masyarakat adat merupakan tonggak perlawanan dalam menghadapi perdagangan bebas. Ia menyayangkan sikap banyak pihak yang menganggap tindakan masyarakat adat merupakan bentuk pengkhianatan terhadap negara.

“Alasan kami (Suku Samin) untuk tidak membayar pajak adalah karena kami yang memiliki, lalu kenapa harus ada yang mengatur. Sedangkan, semua orang yang tidak mengikuti peraturan pemerintah di-PKI- kan (dianggap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia). Kami Sedulur Sikep tidak seperti itu, kami hanyalah menjunjung tinggi kejujuran,” jelas Gunritno.

Dalam kesempatan yang sama, Gunritno juga bercerita tentang perlawanan Suku Samin terhadap pembangunan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah. Gunritno menjelaskan, secara legal formal terdapat kesalahan dalam rencana pembangunan itu. Pasalnya, sebagian besar lokasi pendirian pabrik sebagaimana yang tertera pada surat perijinan, merupakan daerah khusus industri pertanian.

“Kami sudah mengadakan evaluasi bersama Gubernur Jateng untuk mendiskusikan, mana yang dianggap dapat mensejahterakan masyarakat, apakah itu dari sektor pertambangan atau dari sektor pertanian,” terang Gunritno.

Joeni Arianto Kurniawan, S.H., M.A., selaku Ketua Pusat Studi Pluralisme Hukum FH UNAIR mengungkapkan, masyarakat adat dianggap memiliki sifat autochthonous, yaitu tatanan asli. Masyarakat adat dianggap sebagai identitas dari Bhineka Tunggal Ika dan salah satu sumber filosofi bangsa.

“Jadi, bisa saya tekankan bahwa sebuah suku itu memiliki hukum sendiri, namun mereka menamai hukum tersebut sesuai dengan adat mereka sendiri,” terang Joeni.

Dengan dihelatnya diskusi itu, Joenie berharap agar mahasiswa sebagai penerus bangsa dapat mendekatkan diri dengan masyarakat adat. “Mereka kelak akan jadi hakim, jaksa, lawyer dan para penegak hukum. Di mana hak-hak masyarakat adat kan bagaimanapun juga dilindungi oleh hukum. Nah, penegakkannya itu tergantung pada para penegak hukum,” pungkasnya. (*)

Penulis : Dilan Salsabila
Editor : Defrina Sukma S




Delegasi UNAIR Raih Juara Kompetisi Studi Ekonomi Islam

UNAIR NEWS – Delegasi Universitas Airlangga berhasil memperoleh juara pada kompetisi SELF (Sharia Economic Learning Forum) Student Converence Sustainable Development yang diadakan oleh Kelompok Studi Ekonomi Islam – Islamic Economist Society (KSEI ICON!) Universitas Udayana, Bali. Kompetisi tingkat nasional tersebut diselenggarakan pada 12-15 Mei lalu.

Kompetisi yang telah berjalan ke-13 kali ini mengangkat tema “Pengoptimalan Sumber Daya yang Adil dan Seimbang untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia”. Ada lima subtema bahasan, yakni pariwisata, industri kreatif, agrokomplek, sosial politik, dan kelautan.

Dengan paper berjudul “BERAGAM (Beras Analog Gembili): Upaya Pemanfaatan Gembili (Dioscorea esculenta) sebagai Pengganti Beras Konvensional untuk Mendukung Indonesia Sehat dan Sejahtera” Zuhairoh Naily S., Aprila Dila P., dan Ahmad Farid A. berhasil meraih juara I pada subtema agrokomplek. Ketiganya merupakan anggota dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran UNAIR.

Selain itu, tim lain yang beranggotakan Zakka Farisy B, Lusi Sulistyaningsih, dan Khaula Qurrata’ayun berhasil meraih juara I pada subtema kelautan. Paper yang mereka bawakan berjudul “Strategi Peningkatan Produktivitas Nelayan Gerbangkertosusila Melalui Sistem Tanggung Renteng Pada Koperasi Berbasis ITQS”. Ketiganya merupakan mahasiswa semester empat pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR.

“Yang mendasari kelompok kami mengambil judul itu karena keinginan kami untuk dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sektor kelautan dan perikanan Indonesia, dengan menggunakan koperasi sebagai medianya,” ujar Zakka Farisy yang juga mendapatkan penghargaan sebagai Best Delegate.

Ada tiga sesi pada kompetisi ini, terdiri dari presentasi paper, Focus Group Discussion (FGD), dan terakhir konferensi. Pada tahap presentasi dan FGD ditentukan pemenang pada masing masing subtema. Sedangkan tahap konferensi menentukan satu orang delegasi terbaik dari seluruh delegasi yang mengikuti rangkain acara kegiatan SELF hingga selesai.

“Kami berharap semoga kedepannya dapat memotivasi teman-teman mahasiswa UNAIR yang lain untuk terus mengembangkan riset menurut keilmuannya masing-masing, sehingga mampu membawa nama Airlangga menjadi semakin baik,” pungkas Zakka. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor    : Nuri Hermawan