ITD Lakukan Riset Herbal Atasi Virus Hepatitis C

UNAIR NEWS – ITD (Institute of Tropical Disease) bekerja sama dengan Kobe Universiy Jepang dibawah SATREPS Project (Science and Technology Research Patnership for Sustainable Development Program), melakukan riset tentang obat herbal anti virus Hepatitis C. Program aplikatif ini mendapat hibah dari JICA (Japan International Coorperation Agency) dan JST (Japan Science and Technology Agency).

Menurut Dr. Ahmad Fuad Hafid, Ms., Apt selaku Division of Natural Medicine Research Development ITD, program ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman aktif di Indonesia sebagai anti virus hepatitis C. Walaupun masih dalam tahap laboratorium hasil ini sudah dipublisakan secara internasional.

Bahan-bahan anti virus ini didapat dari beberapa tanaman yang ada di Taman Nasional Alas Purwo Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati aktivitas virus hepatitis C di dalam sel hepar dengan pemberian 20 ekstrak dari 10 jenis tanaman.

“Ini memang belum sampai diuji pada manusia. Karena memang, untuk jadi sebuah produk, hasil penelitian memerlukan waktu yang panjang bahkan hingga puluhan tahun,” katanya.

Adita Ayu Permatasari S.Si, salah satu anggota tim riset, mengatakan, untuk pengaplikasian terhadap manusia membutuhkan beberapa tahap dan harus dilakukan oleh ahlinya. Walaupun herbal, bukan berarti bisa digunakan secara sembarangan. Perlu melalui tahap uji klinis.

Hepatitis C adalah salah satu penyakit yang dapat menyerang hati. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini dapat memicu infeksi dan inflamasi pada hati. Menurut WHO, jumlah penderita hepatitis C di dunia mencapai 130-150 juta jiwa dan menyebabkan kematian pada sekitar 350-500 ribu penderitanya.

Virus hepatitis C berkembang dalam darah. Penularannya, melalui kontak dengan darah penderita (jarum suntik atau donor darah). Virus ini tidak akan menular melalui air susu ibu, makanan, minuman, atau bersentuhan. (*)

Penulis: Lutfi Marzuki
Editor: Rio F. Rachman




Gara-Gara Update Status, Kumpulan Artikel S2 Medkom Banjir Pesanan

UNAIR NEWS – Pekan lalu, S2 Media dan Komunikasi (Medkom) UNAIR merilis dua buku kumpulan artikel. Yakni, Komunikasi Profesional dan Media & Politik. Tak kurang sebanyak 59 penulis dari seluruh Indonesia berpartisipasi menyumbangkan tulisan.

Awalnya, tim penyusun mencetak 240 buah buku. Sebagian besar dibagikan untuk para penulis, akademisi, praktisi, kampus, serta pegiat media dan komunikasi. Sisanya, dijadikan stok dan dijual untuk umum.

“Mulanya, stok buku yang kami sediakan untuk dijual hanya beberapa. Namun, ternyata peminatnya banyak. Kami bahkan harus melakukan cetak ulang,” ujar anggota tim penyusun Azza Abidatin Bettaliyah saat diwawancara Sabtu (13/2).

Pengagum budaya Madura itu mengatakan, hingga saat ini tercatat sudah ada puluhan orang yang memesan. Dipredikisi, jumlahnya akan terus meningkat. Terlebih, harga buku relatif terjangkau. Yakni, Rp 70 ribu untuk  Komunikasi Profesional (252 hal) dan Rp 90 ribu untuk Media & Politik (432 hal).

Tim penyusun dari S2 Medkom saat melakukan diskusi penerbitan buku beberapa waktu yang lalu (foto: dokumentasi UNAIR)
Tim penyusun dari S2 Medkom saat melakukan diskusi penerbitan buku beberapa waktu yang lalu (foto: dokumentasi UNAIR)

Azza menuturkan, pihaknya masih belum melakukan langkah promosi khusus. Sebab, tujuan utama penerbitan buku ini adalah memperkaya khazanah keilmuan media dan komunikasi.

“Kalau ada yang beli, itu sekadar imbas atau ekses dari keberadaan buku ini. Kan, tidak mungkin kami menolak orang yang berniat ingin belajar lewat literatur tersebut,” papar Rizma Dewi, anggota tim penyusun di bidang tata letak.

Rizma menduga, hobi kawan-kawannya yang kerap update status di media sosial (medsos) telah menjadi sarana promosi tidak langsung. Sejumlah rekan, kata penyuka kucing tersebut, melakukan update status plus foto di medsos ketika memeroleh dua kumpulan artikel tersebut.

Foto dua buku itu ditampakkan di medsos beserta sejumlah tulisan seperti, Alhamdulillah, buku kami akhirnya terbit atau Mudah-mudahan kenang-kenangan ini bisa bermanfaat di kemudian hari, aamiin. Nah, dari sana, pesanan buku berdatangan.

“Sejumlah orang yang suka pada buku kami langsung inbox atau mengirim pesan pribadi pada kawan-kawan tersebut. Mereka langsung mentransfer uang, dan kami segera melakukan pengiriman. Tapi, karena harus cetak ulang, sebagian pemesan terpaksa harus menunggu terlebih dahulu,” kata dia. (*)

Penulis : Rio F. Rachman




Di Tengah Isu LGBT dan Efek Negatif Internet, Mental Anak Perlu Diperkuat

UNAIR NEWS – Belakangan ini, isu tentang LGBT menyeruak. Pun demikian, problem terkait efek negatif internet. Termasuk di dalamnya, soal pornografi yang bisa dengan mudah terakses di dunia maya.

Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa mesti dilindungi dari dampak dekonstruktif dua hal tadi. Orang tua dan guru mesti memiliki formula khusus yang sifatnya fundamental. Pakar Psikologi Anak Dr. Dewi Retno Suminar M.Si menyatakan, penguatan mental sejak dini adalah kunci utama membentengi anak dari ekses jelek kemajuan zaman.

Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UNAIR ini menyatakan, kalau di masa lalu, orang tua berpikir bahwa kebutuhan anak-anak adalah sandang, papan, dan pangan. Di zaman sekarang, hal-hal tadi relatif sudah bisa teratasi. Maka itu, kebutuhan yang mestinya harus ikut diperhatikan adalah penguatan mental.

Dia mengutarakan, mental merupakan kondisi psikis seseorang saat menghadapi sesuatu di sekitarnya atau yang terjadi terhadapnya. Bila seorang anak memiliki mental yang baik, dia akan menghadapi persoalan dengan tepat. Mental yang kuat akan mampu memfilter pengaruh dari luar. Pengaruh tidak baik, pasti bisa ditolak.

Bagaimana cara menguatkan mental anak? Pertama, dengan mengajarkan disiplin bersama alasan kenapa dia harus melakukan itu. Misalnya, saat anak diminta disiplin bangun pagi, dia harus pula dijelaskan mengapa harus bangun pagi. “Nalar mereka dibentuk. Logika diasah sehingga mulai dapat berpikir sebab dan akibat. Baik dan buruk,” ungkap dia.

Kedua, melatih anak-anak bertindak dengan orientasi Problem Solving. Contohnya, saat kendaraannya rusak, orang tua tidak langsung memperbaiki. Tapi, memberikan dia pertanyaan pancingan yang bisa melatih kemampuan berpikirnya. “Tanyakanlah, apa yang harus dilakukan jika kendaraan rusak. Biarkan anak menggunakan nalarnya untuk menyelesaikan masalahnya,” ungkap Dewi.

Dengan melatih kedisiplinan dan bertindak dengan orientasi Problem Solving, mental anak-anak dilatih untuk menjadi kuat. Kekuatan mental itu bakal membantu pertumbuhannya di masa datang. Khususnya, dalam mengatasi persoalan di sekitar dan membentengi diri dari pengaruh negatif dari luar. (*)

Penulis: Rio F. Rachman




Peringati Hari Gizi Nasional, Sivitas Gizi UNAIR Adakan Baksos

UNAIR NEWS – Sivitas akademika Ilmu Gizi FKM UNAIR mengadakan kegiatan bakti sosial di Mulyorejo Surabaya Jum’at (12/2). Kegiatan ini adalah lanjutan dari acara seminar nasional yang diadakan oleh Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR dan PERGIZI.

Bakti sosial ini terdiri dari tiga kegiatan. Yaitu, penyuluhan makanan pendamping air susu ibu (MPASI), pengukuran tumbuh dan kembang anak, dan pemeriksaan kesehatan. Seluruh kegiatan bakti sosial ini dilaksanakan secara gratis. Sekitar 30 batita (bayi tiga tahun) beserta ibu masing-masing hadir.

Koordinator Program Studi Ilmu Gizi FKM UNAIR Lailatul Muniroh, S.KM., M.Kes, mengatakan, kegiatan bakti sosial ini dilaksanakan agar keberadaan UNAIR bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Pada acara ini, setiap batita mendapat menu kudapan berupa makaroni schotel dan puding buah. Setiap ibu bisa menyajikan menu-menu tersebut secara rutin.

Terlihat tenang, saat salah satu panitia memeriksa pernapasan dari si balita (Foto: UNAIR NEWS)
Terlihat tenang, saat salah satu panitia memeriksa pernapasan dari si balita (Foto: UNAIR NEWS)

“Orang dari kalangan ekonomi lemah juga bisa membuatnya. Di sisi lain, menu ini bisa disubstitusi dengan persediaan makanan di rumah. Kreativitas dan kemauan ibu untuk membuat menu MPASI perlu terus dikembangkan,” tutur pengajar pada Departemen Gizi bidang Penyakit Metabolik.

Riana, salah satu kader Posyandu di kelurahan setempat, mengatakan bahwa dirinya mengaku senang dengan adanya acara tersebut. Dia juga bercerita bahwa keadaan gizi anak-anak di Mulyorejo cukup variatif. Sebagian diantaranya berstatus gizi baik, dan sebagian lagi berstatus gizi kurang. Riana juga menuturkan bahwa pihak Posyandu setempat rutin mengadakan acara serupa selama dua minggu sekali.

Tak henti-hentinya menangis melihat sang ibu mengukur tensi darahnya (Foto:UNAIR NEWS)
Tak henti-hentinya menangis melihat sang ibu mengukur tensi darahnya (Foto:UNAIR NEWS)

“Di sini ada banyak sekali ibu yang bekerja di luar rumah. Sehingga, anak-anaknya banyak yang dititipkan. Masalahnya, kalau dititipkan itu asupan gizinya belum tentu terjamin. Oleh karena itu, kami terbantu dengan acara penyuluhan yang diselenggarakan oleh UNAIR ini,” tutur Riana.

Binti, salah satu ibu yang hadir terlihat antusias. “Saya akan coba mempraktikkan apa yang sudah disampaikan tadi terkait menu MPASI di rumah,” terang Binti.(*)

Penulis: Defrina Sukma Satiti
Editor: Rio F. Rachman




Ahli Hukum UNAIR Jadi Penguji Disertasi di Belanda

UNAIR NEWS – Dr. M. Hadi Subhan, SH., MH., CN., dipercaya oleh sivitas akademika Universitas Leiden, Belanda, untuk menjadi penguji disertasi mahasiswa doktoral di sana. Hadi bersama tujuh penguji lainnya yang berasal dari lintas negara, menguji disertasi dengan judul “Labour Law and Development in Indonesia”. Ia merupakan satu-satunya penguji dari Indonesia yang ditunjuk oleh Leiden untuk menjadi penguji pada sidang disertasi pada Kamis, (4/2).

“Mahasiswa calon doktor ini menulis tentang hukum perburuhan di Indonesia. Karena ia menulis tentang hukum perburuhan di Indonesia, maka Universitas Leiden memerlukan ahli hukum perburuhan di Indonesia. Dari beberapa nama yang masuk ke Universitas Leiden, saya adalah salah satunya,” tutur Hadi ditemui disela-sela aktivitas di ruang kerjanya.

Hadi ditunjuk sebagai salah satu penguji karena berbagai pengalaman, rekam jejak, kiprah, sekaligus karya yang telah ia dihasilkan di Indonesia, khususnya di bidang perburuhan. Ujian terbuka disertasi tersebut dihadiri oleh kurang lebih seratus sivitas akademika Universitas Leiden, baik mahasiswa jenjang S-3 maupun profesor.

Pada mulanya, promotor calon doktor mengirim surat kepada Hadi untuk bergabung menjadi komite pengujian doktor. Komite penguji tersebut bertugas untuk membaca dan mengevalusai, serta menilai naskah disertasi. Dari catatan dan review yang telah dilakukan, maka semua masukan dari komisi dipertahankan untuk ujian terbuka, yang disebut dengan Ph.D Defence.

Dari tujuh penguji dari lintas negara tersebut, Hadi mendapatkan penghargaan sebagai penanya pertama untuk calon doktor, sekaligus satu-satunya penguji yang mendapatkan kesempatan untuk mengajukan dua pertanyaan. Penghargaan sebagai penanya pertama tersebut dilihat berdasarkan substansi dan relevansi pertanyaan terhadap materi disertasi.

“Ini menunjukkan bahwa UNAIR sudah mendapat tempat di universitas besar di Eropa. Leiden adalah universitas nomor satu di Belanda,” tutur Hadi yang juga Direktur Kemahasiswaan UNAIR tersebut.

Kualifikasi lain yang menjadi penilaian Universitas Leiden sehingga Hadi dipilih menjadi penguji disertasi dari Indonesia diantaranya adalah karena kiprahnya di dunia akademik, kebiasaan menjadi pembicara pada forum-forum yang berkaitan dengan hukum perburuhan, keaktifan menulis di media massa, serta advokasi yang telah dilakukan terhadap buruh.

Disertasi mahasiswa S-3 yang diujikan adalah milik Surya Tjandra, salah satu dosen dari Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta. Disertasi tentang perburuhan di Indonesia tersebut mengkaji peran serikat pekerja dalam memperjuangkan kebijakan-kebijakan yang memberikan afirmasi kepada buruh. Dari penelitian tersebut, ditemukan bahwa terdapat korelasi positif tentang perjuangan buruh terhadap kebijakan pemerintah.

“Semakin serikat pekerja memperjuangkan semakin kuat, maka kebijakan yang ditelurkan semakin berafirmasi kepada buruh. Contohnya, upah minimum dan jaminan sosial. Jadi, BPJS yang sekarang dinikmati seluruh rakyat Indonesia, BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan tersebut adalah buah dari perjuangan buruh. Ketentuan upah minimum juga buah dari perjuangan dari serikat pekerja,” papar Hadi.

Sebelumnya, banyak dari penelitian Hadi yang berkaitan dengan perburuhan di Indonesia. Beberapa diantaranya yang telah dipraktikkan di masyarakat ialah upah minimum sektoral (UMS) kabupaten dan kota. Jawa Timur mengadopsi penerapkan upah minimum sektoral di Jatim berdasarkan pemikiran Hadi tersebut.

Selain itu, Hadi juga meneliti tentang produk yang harus dikeluarkan oleh gubernur di dalam menetapkan upah minimum. Sebelumnya, penentuan tersebut dalam bentuk SK Gubernur. Penelitian Hadi yang kemudian diterapkan kepada masyarakat adalah penetapan upah minimum dilakukan dengan peraturan gubernur. Dua hal itu adalah yang telah nyata diadopsi oleh masyarakat.

Banyak pelajaran dan pengalaman yang dipetik Hadi setelah menjadi penguji disertasi di Leiden. Salah satunya adalah kajian hukum di Belanda sangat memperhatikan kemanfaatannya secara langsung untuk masyarakat.

“Penelitian hukum di Leiden tidak hanya berbasis pada norma, namun juga berbasis pada masyarakat. Itu hal yang bagus untuk kita adopsi. Untuk apa dibentuk hukum tapi tidak melihat masyarakat? Toh yang akan dijadikan objek dan subjek dari hukum adalah masyarakat itu sendiri,” pangkas Hadi. (*)

Penulis: Binti Q Masruroh.
Editor: Defrina Sukma S.




33 Tahun Fakultas Psikologi Buka Dies Natalis dengan Berbagi

UNAIR NEWS – 12 Februari 2016, Fakultas Psikologi (FPsi) UNAIR tepat berusia 33 tahun. Bertempat di Auala Excellence With Morallity, keluarga besar FPsi membuka acara dies natalis tersebut dengan tasyakuran. Selain itu, tasyakuran juga diberangi dengan acara “Berbagi Kasih dan Cerita Bersama Anak Panti Asuhan”. Sebanyak 33 anak asuh Panti Asuhan Himatun Ayat Dukuh kupang Surabaya tersebut larut dalam suasana syukur dan bahagia.

Mengangkat tema “Psikologi untuk Kemanusiaan”, Primatia Yogi Wulandari, S.Psi., M.Si., psikolog. Selaku ketua panitia menuturkan, bahwa tema yang diangkat tidak lepas dari hadirnya MEA yang sudah berlangsung di tahun ini. Pakar psikologi perkembangan tersebut juga menilai, bahwa perlunya pengembangan kompetensi profesionalisme sekaligus pengembangan karakter bagi manusia Indonesia di era MEA saat ini, meski demikian orientasi pada nilai-nilai kemanusiaan harus tetap jadi prioritas. Menurutnya hal-hal tersebut yang perlu dimiliki oleh ilmuan dan praktisi psikologi

“Tema Psikologi untuk Kemanusiaan ini sebagai usaha mengangkat nilai-nilai kemanusiaan untuk menjadi bagian dari karakter dan integritas keilmuan psikologi di Indonesia,” jelasnya.

Para Pimpinan dan Panitia Dies Natalis ke-33 FPsi UNAIR Berpose Bersama Puluhan Anak Panti Asuhan Himatun Ayat. (Foto: Nuri Hermawan)
Para Pimpinan dan Panitia Dies Natalis ke-33 FPsi UNAIR Berpose Bersama Puluhan Anak Panti Asuhan Himatun Ayat. (Foto: Nuri Hermawan)

Pada usia ke-33 tahun, perayaan dies natalis FPsi memiliki beragam acara seperti bazar seminar, kelas inspirasi alumni, talkshow dan gebyar karya psikologi serta temu ilmiah nasional. Salah satu agenda terdekat ini adalah senam harmoni psikologi yang akan digelar besok hari Minggu (14/2) di lingkungan FPsi UNAIR.

“Melalui rangakaian dies natalis ini, saya harap FPsi UNAIR tidak hanya berdiri berpangku tangan di bawah menara gading akademik, tapi juga berproses dalam perbaikan sosial dan bermanfaat untuk perkembangan manusia,” imbuhnya.

Dijumpai pada kesempatan yang sama, Sahid selaku salah satu pengasuh panti asuhan menuturkan, bahwa kehadiranya bersama anak asuh yang terdiri dari anak yatim piatu, anak terlantar, dan anak kaum duafa ke FPsi UNAIR, bisa menjadi salah satu jalan kesuksesan acara dan FPsi UNAIR ke depannya. Sembari mendampingi anak panti asuhan yang terlihat begitu menikmati dongeng yang diberikan oleh Teater Boneka FPsi, Sahid juga berharap ke depannya kiprah FPsi UNAIR untuk masyarakat bisa ditingkatkan lagi.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih sekali, saya harap pengabdian seperti ini terus dilanjutkan dan semoga FPsi UNAIR ke depannya bisa lebih sukses,” pungkasnya.(*)

Penulis : Nuri Hermawan




Peserta Dentine Membludak, Jadi Sarana Peningkatan Kualitas Input FKG

UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (BEM FKG) UNAIR menyeleggarakan Dentistry Intellectual Challenge (Dentine). Gelaran tahunan yang sudah dilaksanakan tujuh kali ini adalah lomba nasional kemampuan dasar di bidang kedokteran gigi bagi siswa-siswi SMA.

Rangkaian acara Dentine dilaksanakan di lingkungan kampus UNAIR sejak 18 Januari hingga 21 Februari 2016 mendatang. Dua cabang utama yang dipertandingkan adalah penulisan esai dan Olimpiade kedokteran gigi. Khusus tahun 2016 ini, cabang lomba diperkaya. Ada tiga lomba tambahan. Yakni, futsal, basket dan desain grafis.
Ketua Dentine 2016 Rahmad Rifqi Fahreza (FKG 2013) mengatakan, tujuan dari acara tahunan yang sudah dimulai sejak tahun 2009 ini adalah menarik minat calon mahasiswa dari SMA seluruh Indonesia. Diharapkan, terjadi peningkatan kualitas input FKG UNAIR di tahun 2016. Sebab, ajang ini dipastikan memiliki banyak unsur pengetahuan di bidang kedokteran gigi.

Di luar dugaan, jumlah peserta Dentine 2016 membludak dan melebihi target yang ditetapkan panitia. Dari 1.200 tim yang tercatat mengikuti cabang olimpide kedokteran gigi pada Dentine 2015, meningkat hingga 2.100 tim pada Dentine 2016.
Cabang esai yang diikuti oleh 240 tim. Sebagai cabang baru yang diperlombakan pada Dentine 2016, lomba Desain grafis diikuti oleh 95 orang, kompetisi basket 48 tim dan futsal 16 tim.

Suasana lomba dalam ajang Dentine 2016 (foto: humas FKG)
Suasana lomba dalam ajang Dentine 2016 (foto: humas FKG)

Penyisihan olimpiade kedokteran gigi akan dilaksanakan di 18 kota besar di Indonesia pada 14 Februari. Semifinal dan grand final Nasioanl akan diseleggarakan pada tanggal 20 dan 21 februari 2016 mendatang.

Dentine 2016 mendapatkan perhatian dari seluruh civitas akademika. Termasuk, pimpinan FKG UNAIR. “Saya sangat mengapresiasi BEM FKG. Angka 2.000 sudah menyamai prestasi acara yang sama yang diadakan oleh BEM FK. Kalau FK hanya olimpiade kedokteran saja, maka panitia Dentine 2016 berhasil menambah cabang lomba olahraga dan desain grafis. ” ujar Dekan FKG, Dr. R. Darmawan Setijanto, drg, M.Kes. (*)

Penulis : Humas FKG
Editor: Rio F. Rachman




DPD-RI Kaji Hubungannya dengan Pemerintah Daerah di FH UNAIR

UNAIR NEWS – Pusat Perancangan Kebijakan dan Informasi Hukum Pusat Daerah (Law Center) Dewan Perwakilan Daerah RI menyelenggarakan diskusi terbatas di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Senin (11/2). Diskusi terbatas bertema “Merancang Mekanisme Hubungan antara DPD RI dan Pemerintahan Daerah” ini merupakan sarana untuk menghimpun masukan yang didapat dari kajian, pandangan, serta pendapat dari berbagai pakar dan pemerintah untuk dijadikan paper policy.

Diskusi ini merupakan hasil kerjasama antara DPD RI dengan Departemen Hukum Tata Negara FH UNAIR. Diskusi ini dihadiri oleh 14 anggota DPD RI, perwakilan dari pemerintah kota/kabupaten, pejabat kantor wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Jawa Timur, Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi negara, serta mahasiswa UNAIR.

Dalam diskusi terbatas ini, ada beberapa poin permasalahan yang dikemukakan oleh berbagai pihak antara lain tentang penguatan hubungan DPD dan pemerintah daerah, serta pemerataan anggaran pendapatan belanja negara yang dialokasikan untuk pembangunan daerah. Selain itu, DPD RI juga harus memainkan peran yang lebih besar agar keberadaannya dikenal publik.

Haris Nasiroedin, SH.,MH, M.Kn., selaku Kepala Sub Bidang Fasilitasi Pembentukan Produk Hukum Daerah Provinsi Jatim mengatakan bahwa DPD perlu memperhatikan hubungan dengan pemerintah daerah.

”DPD RI perlu kembali memperhatikan hubungan fungsi fasilitasi, konsultasi, dan agregasi,” papar Haris.

Sementara itu, Radian Salman selaku Ketua Pusat Konstitusi dan Lingkungan FH UNAIR membahas tentang hubungan DPD dengan lembaga negara dan daerah.

“Secara kewenangan konstitusional, hubungan DPD RI dengan DPR RI, dan DPD dengan daerah dalam konteks representasi teritori masih menjadi permasalahan,” tutur Radian yang juga Wakil Dekan III FH UNAIR.

Dari acara diskusi terbatas itu, ada tiga rumusan yang dihasilkan. Pertama, memperbaiki hubungan kelembagaan antara DPR dan pemerintah daerah dalam sistem NKRI.

Kedua, membentuk format mekanisme hubungan antara DPD dan pemerintah daerah dalam perancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumberdaya ekonomi lainya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.

Ketiga, membentuk format mekanisme hubungan antara DPD dan pemerintah daerah dalam menjalankan tugas pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam, dan sumber daya ekonomi lainya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan dan agama.

Penulis: Ahalla Tsauro
Editor: Defrina Sukma S




Seimbangkan Antara Keterampilan Akademik dengan Vocational Skill

UNAIR NEWS –  Staf khusus Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) RI, Drs. Abdul Wahid Maktub, Kamis (11/2) kemarin memberikan orasi ilmiah pada acara pengukuhan mahasiswa baru program Doktor, Magister, Spesialis, dan Profesi Universitas Airlangga semester genap 2015/2016.

Orasi dengan tema “Revolusi Mental untuk Sumber Daya Manusia Handal di Era Global” ini dimaksudkan sekaligus sebagai motivasi kepada para mahasiswa baru yang dikukuhkan sebagai bekal menjalani perkuliahan di UNAIR.

Dalam orasinya, Maktub menjelaskan saat ini sedang terjadi persaingan dan pertarungan yang mengharuskan kita untuk bisa menjawab segala tantangan baru yang muncul di berbagai bidang. Ilmu sebagai kunci sukses, sehingga sekolah bukan hanya untuk sekolah, namun juga untuk kemaslahatan dan keberkahan bersama.

“Perguruan tinggi akan memberi atmosfir positif untuk mengeluarkan potensi mahasiswa,” tegas Maktub.

Pada kesempatan ini, Staf Khusus Kemenrintek Dikti itu mendorong agar UNAIR memiliki relasi dan bisa bersinergi dengan masyarakat dan lembaga lain, sehingga bisa menjadi inspirasi untuk perguruan tinggi yang lain.

Ketika ditemui wartawan sesusai acara pengukuhan, Maktub menjelaskan bahwa tantangan paling penting dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah keseimbangan antara keterampilan akademik dengan vocational skill, atau ketrampilan kejuruan. Sehingga, mahasiswa tidak hanya memiliki pengetahuan belaka, tetapi juga memiliki kompetensi.

“Selama ini publik masih fokus mengejar sesuatu yang sifatnya simbolik. Seperti sertifikat dan gelar. Tapi dia lupa aspek-aspek lain bahwa dibalik gelar itu punya tanggungjawab. Selama ini orang nulis dan riset untuk sekadar formalitas, untuk mendapatkan gelar. Dia tidak berpikir hanya berhenti disitu,” kata Duta Besar Indonesia untuk Qatar tahun 2003 itu.

Untuk menjawab tantangan itu, ia menegaskan saat ini ada konektivitas antara riset dan teknologi dengan pendidikan tinggi. Supaya ada keterkaitan antara basic research dan applied research. Konektivitas itu agar ada keterkaitan antara penelitian dan kebutuhan di dunia nyata.

“Orientasinya sekarang harus berubah. Bagaimana intelektual harus mulai memberikan jawaban terhadap kebutuhan. Misalnya riset di bidang infrastruktur, pangan, energi, ketidakadilan, ekonomi. Semua harus kesana, sehingga ada keberlanjutan. Supaya mereka saling bersinergi satu sama lain,” kata Maktub.

Maktub juga menuturkan hawa hasil riset para peneliti saat ini terasing. Ia menegaskan harus ada satu respon baru. Pertama, soal mutu, kedua soal akses, ketiga relevansi, dan keempat daya saing. Hal-hal itu adalah kemampuan kompetensi untuk bisa memberikan jawaban terhadap kebutuhan masyarakat. (*)

Penulis: Binti Quryatul Masruroh
Editor: Bambang Bes




Mahasiswa Yaman Lanjutkan Studi Doktoral di UNAIR

UNAIR NEWS – Dari sekian banyak mahasiswa baru jenjang master dan doktoral yang dikukuhkan oleh Rektor Universitas Airlangga, Prof. Dr. Moh Nasih, MT., Ak, Kamis kemarin, ada satu mahasiswa asing asal Yaman yang turut dilantik menjadi mahasiswa jenjang doktoral. Dia adalah Abdulrahman Taresh Abdulghani, S.E., M.SE.

Abdul, sapaan akrabnya, turut dilantik menjadi mahasiswa doktoral pada program studi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UNAIR, pada Kamis (11/2). Mahasiswa baru asal negara Yaman itu juga merupakan penerima beasiswa Unggulan dari Biro Perencanaan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN), Pemerintah RI tahun 2015.

Abdul memaparkan bahwa UNAIR merupakan salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia, sekaligus kampus terbaik di Jawa Timur, hal itulah yang menjadi alasanya untuk memilih studi di UNAIR. Ia juga merasa betah untuk melanjutkan studi tingkat doktoral karena selama ini ia memiliki segudang pengalaman, baik selama menjalani kuliah jenjang magister yang juga di UNAIR.

“Saya merasa bahwa pendidikan dan manajemen pelayanan di UNAIR ini bagus, mulai dari staf hingga direktur yang menangani bidang pendidikan. Mereka sudah melayani mahasiswa asing dengan baik. Dosen-dosen di UNAIR sabar dalam memberikan penjelasan materi kuliah kepada saya. Saya juga sudah belajar bahasa Indonesia, jadi sekalian saja ambil studi S-2 dan S-3 disini,” tutur Abdul yang dulunya merupakan penerima beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB).

Selama di UNAIR, Abdul mengerjakan tesis penelitian studi tentang ASEAN+5. Nantinya, selama studi doktoral, ia akan berkonsentrasi tentang perencanaan dan pembangunan di Indonesia. “Saya merasa percepatan pembangunan di Indonesia ini unequal,” terang mahasiswa baru S-3 Ilmu Ekonomi FEB UNAIR ini. (*)
Penulis: Binti Quratul Masruroh
Editor: Bambang ES.