Mahasiswa UNAIR Tawarkan Nisa Kit, Mencegah Sejak Dini Ancaman Kanker

UNAIR NEWS – Makanan berpengawet nitrosamin ditengarahi banyak bertebaran di pasaran umum. Padahal, nitrosamin merupakan senyawa karsinogen (zat pemicu kanker). Berangkat dari keprihatinan itu dan ingin andil menyehatkan masyarakat, lima mahasiswa Universitas Airlangga berhasil membuat produk, namanya Nitrosamin Tes Kit (Nisa Kit), yang mudah dipakai untuk mendeteksi makanan itu mengandung nitrosamin atau tidak.

”Keunggulan produk ini, kami belum menemukan produk lain yang bisa mendeteksi nitrosamin dalam makanan. Kebanyakan produk yang dijual di luar adalah produk yang hanya bisa untuk mendeteksi nitrit, dan bukan nitrosamine,” ujar Yovilianda Maulitiva Untoro, Ketua kelompok Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR ini dalam siaran persnya.

Selain Yovilianda, keempat anggota tim PKMK yang lain adalah Krisnadewi Suciati, Arini Sabilal Haque, Anisa Maharani, dan Dwiki Rizaldi Wijaya. Mereka mengangkat inovasinya ini dalam proposan PKMK, dan telah berhasil lolos dari penilaian Dirjen Dikti, sehingga berhal atas dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2017.

kanker
KELOMPOK PKMK Nisa Kit menunjukkan produknya. (Foto: Ist)

Selain itu, lanjut Yovilianda, harga yang ditawarkan pada produk pendeteksi nitrit itu sangat mahal, mencapai ratusan ribu. Sedangkan produk Nisa Kit lebih murah dan sangat mudah dalam aplikasi penggunaannya. Sehingga para ibu rumah tangga dapat dengan mudah melakukan pecegahan kanker nasofaring, minimal dalam satu keluarganya.

Dijelaskan, di pasaran masih banyak ditemukan makanan yang diawetkan menggunakan nitrosamin. Diakui, proses mengawetkan makanan ini biasanya menggunakan nitrit, dan umumnya jenis makanan yang diawetkan dengan nitrit itu daging dan ikan asin. Nitrosamin terbentuk karena saat proses pengawetan makanan itu terjadi reaksi antara protein dengan nitrit yang menyebabkan terjadinya perombakan protein dalam makanan.

Nitrit sendiri lebih beracun dibandingkan dengan nitrat, karena itu konsumsi nitrit pada manusia dibatasi dari konsentrasi 10-200 ppm. Sehingga adanya nitrosamine dalam makanan juga sangat berbahaya, antara lain dapat menimbulkan tumor dan kerusakan organ lain. Bahkan yang paling fatal adalah dapat memicu berkembangnya kanker nasofaring.

Repotnya, banyak masyarakat yang belum mengenal, bahkan belum mengetahui apa itu kanker nasofaring. Bahkan belakangan penyakit ini sempat menjadi trending topic, gara-gara seorang aktor asal Korsel yang mengidap kanker nasofaring, yaitu kanker yang tumbuh pada nasofaring. Nasofaring adalah bagian sistem pernafasan yang terletak pada hidung bagian dalam hingga ke tenggorokan.

Berdasarkan pengamatannya, umumnya masyarakat tidak atau belum banyak yang mengetahui apa saja penyebab kanker, termasuk kanker nasofaring. Ketika kanker sudah menggerogoti tubuh dan telah mencapai fase kritis (stadium tinggi), masyarakat baru menyadarinya.

”Padahal sebenarnya masyarakat dapat melakukan pencegahan sejak dini, sehingga bisa meminimalisir berkembangnya suatu penyakit di dalam tubuh. Dengan kami buatkan Nisa Kit ini, kami berharap para ibu rumah tangga dapat dengan mudah mengetahui makanan apa yang terpapar nitrosamin, sehingga bisa melakukan pecegahan kanker nasofaring,” kata Yovi, panggilan akrabnya. (*)

Editor : Bambang Bes.




Mahasiswa UNAIR Tawarkan MIELLY, Jajanan Sehat dari Buah Biji Mangga

UNAIR NEWS – Ditangan-tangan terampil lima orang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, biji buah mangga (pelok –Jawa) yang selama ini hanya jadi limbah, dapat dijadikan tepung dan kemudian diolah menjadi Mie Jelly (Mielly).

Jajanan bergizi kaya karbohidrat, protein, lemak, dan kalsium ini, diolah tanpa menggunakan bahan pengawet dan pemanis buatan. Diharapkan Mielly akan menjadi alternatif baru jajanan ringan yang bisa dikonsumsi mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Kelima mahasiswa S-1 FKM UNAIR tersebut, yaitu Maharani Dyah Pertiwi (2016) ketua tim, Armita Mayang Sari (2016), Natasya Putri Audiena (2016), Ana Mariatul Ulfa (2016), Khusnatul Mar’atik (2015) melaksanakan inovasi tersebut dengan keinginan untuk membantu menghadirkan jajanan sehat baru yang dapat dijadikan solusi dari kekhawatiran saat ini.

Diterangkan oleh Maharani DP, selaku ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) FKM UNAIR, saat ini di pasaran masih banyak jajanan tidak sehat, yang tentu saja menghadirkan kekhawatiran tersendiri bagi setiap orang, terutama para orangtua yang masih memiliki anak dan duduk di bangku sekolah. Dengan semakin tingginya tingkat konsumsi masyarakat ikut dimanfaatkan bagi oknum yang tidak bertanggungjawab dengan menjual makanan yang tidak mementingkan aspek kesehatan seperti berpengawet, menggunakan pewarna berbahaya, dsb.

jajanan
JAJANAN “Mielly” sudah berada di genggaman seorang anak. (Foto: Istimewa)

Gagasan terkait jajanan sehat ini tertuang dalam proposal PKMK berjudul ”Pemanfaatan Tepung Biji Mangga untuk ‘MIELLY’ (Mie Jelly) Sebagai Jajanan Sehat yang Dapat Meningkatkan Gizi pada Anak”. Proposal ini telah berhasil lolos dan mendapat dana pengembangan dari Kemenristekdikti pada program PKM tahun 2017.

Ditambahkan oleh Maharani, Mielly yang berwujud jelly ini diharapkan dapat menarik perhatian, terutama anak-anak yang cenderung menyukai makanan manis seperti jelly. Karena itu Mielly dihadirkan dengan berbagai warna dan bentuk yang lucu. Hal ini diharapkan agar target utama (anak-anak) dapat tertarik untuk mencoba Mielly.

“Hingga saat ini sudah lebih dari 250 Mielly yang terjual di masyarakat,” kata Maharani.

Kedepan, Tim PKMK ini akan terus berinovasi mengembangkan Mielly, baik pada bentuknya, warnanya, termasuk rasanya dengan tanpa mengurangi kandungan gizi di dalamnya. Tetapi target utama kami dengan Mielly dapat mengurangi keresahan masyarakat termasuk para ibu dalam menyediakan konsumsi jajanan yang sehat pada anak-anaknya, kata Maharani. (*)

Editor: Bambang Bes




Tani Bule Farm, Solusi Budidaya Lele dan Tanaman Hidroponik

UNAIR NEWS – Keilmuan yang didapat selama berkuliah berhasil dimanfaatkan oleh lima mahasiwa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Dengan ilmunya, mereka menawarkan solusi budidaya tanaman hidroponik dan budidaya lele.

Gagasan tersebut dituangkan dalam proposal program kreativitas mahasiswa–kewirausahaan (PKM–K) berjudul “Tani Bule Farm (Tanaman Hidroponik dan Budidaya Lele), Solusi Budidaya Multi-Komoditas dengan Sistem Akuaponik untuk Efisiensi Lahan”.

Gagasan kelima mahasiswa yang beranggotakan M. Rijal Amiruddin, Nanang Ardianto, Muhamad Maslikhan, Heni Putriani, dan Irene Sugiarto tersebut berhasil lolos seleksi pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2017.

Menurut Nanang, timnya berhasil mengembangkan dan menjual produk berupa konstruksi akuaponik yang disesuaikan kebutuhan pelanggan. Selain itu, tim PKM–K Tani Bule Farm juga memberikan jasa konsultan demi pengembangan potensi perikanan.

Mengapa akuaponik? Nanang mengatakan, akuaponik merupakan solusi usaha alternatif bagi masyarakat perkotaan yang dihadapkan pada keterbatasan lahan.

“Konstruksi kolam dapat berupa terpal karet bulat berangka besi, kemudian kerangka konstruksi untuk peletakan tanaman hidroponik terbuat dari kayu yang dirangkai sesuai kebutuhan. Selain itu, tanaman diletakkan pada media pipa berlubang yang tersambung secara seri diposisikan sesuai keinginan dengan pertimbangan faktor teknis budidaya sehingga akan terhubung antarmedia dua komoditas yang berbeda,” tutur Nanang.

Produk akuaponik Tani Bule Farm tersebut dijual mulai harga Rp 3 juta. Keunggulan produk Tani Bule Farm lebih fleksibel karena disesuaikan permintaan pelanggan dan lebih terkontrol dibandingkan produk akuaponik sejenis.

“Pelanggan mendapatkan benefit berupa pendampingan dan konsultasi rutin selama satu siklus panen,” imbuh Nanang.

Selain itu, budidaya multikomoditas dengan sistem akuaponik dapat memberikan efisiensi produksi dari segi waktu dan biaya. Sebab, dalam satu siklus panen, pembudidaya dapat memproduksi dua komoditas tanaman dan ikan, hemat lahan dan air, serta tidak membutuhkan keahlian khusus.

“Jadi, masyarakat urban lebih tertarik pada alternatif usaha yang mudah dan murah, namun memiliki keuntungan yang prospektif. Selain itu, pendampingan rutin atas pembelian produk Kami sebagai bagian dari tanggungjawab moral atas socialpreneur yang dikembangkan,” terang Nanang.

Meski usaha Tani Bule Farm baru berjalan selama tiga bulan, para mahasiswa ini sudah kebanjiran pemesanan. Pelanggan berasal dari berbagai wilayah Jawa yang didominasi Jawa Timur yakni Sumenep, Surabaya, dan Lamongan.

Editor: Defrina Sukma S




Konsentrat Jantung Pisang, Turunkan Kolesterol pada Daging Kambing

UNAIR NEWS – Kreativitas dan inovasi mahasiswa Universitas Airlangga terus berlanjut. Kali ini mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR PSDKU Banyuwangi berhasil membuat ransum konsentrat, pakan tambahan ternak, yang terbuat dari jantung pisang dan bekatul sebagai feed additive. Hasilnya, kambing dan domba yang diberi konsentrat ini berat badannya cepat meningkat dan dagingnya lebih sehat untuk dikonsumsi karena rendah kolesterol, sehingga bisa untuk mengatasi masalah phobia masyarakat terhadap kolesterol tinggi.

”Itu keunggulan dari PKM kami. Tapi hasil itu akan didapatkan jika menambahkan konsentrat tepung jantung pisang dan bekatul sebagai feed additive pakan kambing atau domba dan diberikan secara rutin,” demikian penjelasan Dina Deviana, ketua tim peneliti Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) FKH UNAIR Banyuwangi.

Atas keberhasilan ini, Dina Deviana (FKH 2014) dan tiga anggota timnya, Nur Prabowo Dwi Cahyo (FKH 2014), Dwi Retna Kumalaningrum (FPK 2014), dan Widya Kusuma (FKH 2015), menuangkannya dalam proposal PKM bidang Penelitian Ekonomi. Setelah melalui penilaian ketat oleh Dirjen Pendidikan Tinggi, proposal ini lolos dan mendapatkan dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM 2017.

pisang
ANGGOTA tim mengiris jantung pisang (ontong) untuk dikeringkan dan dijadikan tepung. (Foto: Dok Tim)

pisang
Jantung pisang kering, siap dijadikan tepung. (Foto: Dok Tim)

Dina Dkk berinovasi pada produk ini karena ingin memanfaatkan melimpahnya bahan baku jantung pisang, dimana Banyuwangi merupakan sentra penghasil pisang di Jawa Timur. Selain itu perekonomian di kota yang dijuluki “Sunrise Of Java” ini banyak ditunjang oleh sektor perikanan, pertanian dan peternakan.

”Maka salah satu cara untuk peningkatan kualitas peternakan di Kabupaten Banyuwangi yaitu dengan meningkatkan kualitas pakan untuk ternak itu,” tambah Dina Deviana.

Apalagi, mayoritas peternak di Banyuwangi selama ini hanya mengandalkan rumput sebagai pakan ternaknya, tanpa adanya makanan tambahan lainnya. Malahan, pemberian rumput pun juga terbatas, sehingga kualitas daging yang dihasilkan dari ternaknya turun dan pertumbuhan ternak menjadi terganggu, tubuh kambing menjadi kurus.

Melihat kasusnya demikian, Tim PKMPE Dina Dkk mengevaluasi bahwa perlu adanya pemberian nutrisi dengan gizi yang seimbang untuk ternak di Banyuwangi. Makanan tambahan itu akan melengkapi kebutuhan nutrisi, dalam hal ini adalah konsentrat sebagai  makanan tambahan untuk kambing/domba. Caranya dengan menambahkan kandungan nutrisi seperti protein, energi, dan mineral.

Akhirnya ditemukan dalam penelitian tim ini bahwa konsentrat yang digunakan ialah bekatul padi yang dikombinasikan dengan jantung pisang sebagai feed additive. Dipilihnya jantung pisang karena mengandung banyak vitamin C, serat, dan saponin yang cukup tinggi. Jika “suplemen” ini secara rutin diberikan pada kambing/domba, maka kandungan unsur yang ada itu dapat menurunkan kolesterol pada dagingnya. Selain itu jantung pisang sangat bermanfaat bagi ternak kambing maupun manusia yang mengonsumsi daging kambing tersebut.

Diterangkan oleh mereka, membuatnya pun relatif mudah. Diawali dengan jantung pisang itu dibuat tepung dahulu. Jantung pisang basah digiling (cooper), lalu dilakukan penjemuran pada sinar matahari atau pengovenan hingga kadar airnya tersisa maksimal 14%. Selanjutnya dilakukan penggilingan.

Setelah itu dibuat ransum dengan bekatul sesuai persentase tertentu. Tim PKM ini kemudian menguji dan mempraktikan pada kambing/domba sesuai metode penelitiannya. Dari catatan dan pengamatan dalam pengujian, diperoleh hasil yang sangat baik, konsentrat bikinan Dina Dkk ini mampu menurunkan kadar kolesterol dalam daging kambing/domba serta mampu lebih cepat meningkatkan berat badan ternak.

”Daging kambing yang rendah kolesterol tentunya lebih sehat untuk dikonsumsi masyarakat, bagi mereka phobia terhadap kolesterol tinggi pun bisa mengonsumsinya,” katanya. (*)

Editor: Bambang Bes




Mahasiswa UNAIR Ciptakan Pengganti Massa Tulang dari Serpihan Terumbu Karang

UNAIR NEWS – Mahasiswa S1 Teknik Biomedik, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga Surabaya berhasil membuat bahan pengganti massa tulang yang hilang akibat pengangkatan massa tulang maupun amputasi dalam operasi pada kasus penderita kanker tulang atau osteosarcoma. Pengganti massa tulang, atau bone graft tersebut, dibuat dari serpihan terumbu karang.

Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE), Hana Zahra Aisyah menjelaskan, bersama empat temannya melakukan penelitian ini untuk menemukan alternatif atas permasalahan yang terjadi, dimana kasus kanker tulang di Indonesia semakin bertambah.

Kanker tulang atau osteosarcoma merupakan salah satu tipe kanker yang menyerang bagian tulang manusia. Gejala penyakit ini seringkali diabaikan, karena acapkali dianggap nyeri biasa. Penanganan dari kanker tulang dapat berupa pengangkatan massa tulang sampai amputasi.

Berangkat dari permasalahan itulah, Hana Zahra Aisyah, Juliani Nurazizah Setiadiputri, Agisa Prawesti, Danang Pristiono, dan Ferisya Kusuma Sari memanfaatkan kekayaan hayati laut Indonesia berupa terumbu karang untuk dimanfaatkan menjadi bahan pengganti massa tulang.

“Di luar negeri sudah ada yang memanfaatkan terumbu karang sebagai bahan bone graft, namun terumbu karang sendiri termasuk kekayaan hayati laut yang dilindungi dibalik potensinya yang besar. Untuk itu kami ingin memaksimalkan potensinya tanpa merusak kekayaan hayati laut, jadi kami gunakan serpihan terumbu karang hasil gerusan ombak yang banyak terdapat di pasir-pasir pantai,” kata Hana Zahra.

Dibawah bimbingan dosen Djoni Izak Rudyardjo, M.Si., penelitiannya diajukan dalam program PKM-PE dengan judul “Coral Grains sebagai Bahan Baku Pembuatan Hidroksiapatit – Alginat untuk Aplikasi Bone Graft pada Kanker Tulang (Osteosarcoma)”. Setelah melewati penilaian yang ketat, Durjen Dikti penelitian ini layak memperoleh dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam PKM 2017.

Ditambahkan oleh Hana, bahwa untuk meningkatkan kekuatan terumbu karang ini, kandidat bone graft ini juga ditambahkan dengan Alginat. Alginat merupakan bahan yang kompatibel dengan tulang dan berfungsi untuk meningkatkan kekuatan bone graft agar tidak rapuh.

“Kami ingin memberikan harapan bagi penderita kanker tulang bahwa kehilangan sebagian tulang bukanlah akhir dari segalanya. Mudah-mudahan inovasi kami ini bisa membantu mereka untuk beraktivitas kembali,” tambah Agisa Prawesti. (*)

Editor: Bambang Bes




Mahasiswa Cetuskan Ide Ketahanan Pangan di Kawasan Eks Lokalisasi

UNAIR NEWS – Mahasiswa lintas fakultas Universitas Airlangga mengubah citra kawasan eks lokalisasi Dolly yang terletak di Kecamatan Pakis Sidokumpul, Surabaya. Mereka melibatkan warga setempat untuk menyisihkan lahan untuk tanaman hidroponik di kawasan padat penduduk.

Keempat mahasiswa yang beranggotakan Fitria Budiarti, Nina Agustina, Enis Rezqi Maulida, dan Nelza Manora Veronica mengusung konsep Green Wall Training dalam proposal program kreativitas mahasiswa pengabdian masyarakat (PKM–M).

Proposal PKM–M berjudul “Green Wall Training sebagai Upaya Pengembangan Kampung Hijau untuk Mengubah Citra Masyarakat Dolly” tersebut berhasil lolos seleksi pendanaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2017.

“Masyarakat sudah mulai menyesuaikan diri terhadap keputusan penutupan lokalisasi Dolly. Namun, image negatif tentang Dolly belum berubah. Oleh karena itu, kami ingin mengembangkan kampung hijau sebagai upaya untuk mengubah citra terhadap Dolly,” tutur Fitria.

Akibat keterbatasan lahan di kawasan Pakis, mereka menggunakan metode hidroponik dalam menanam tanaman sayur dan buah-buahan. Dalam program green wall training, mereka membagi warga menjadi tiga kelompok penanam.

Kelompok pertama mendapat jatah menanam tanaman sayur bayam hijau dan bayam merah, kelompok kedua menanam sayur sawi dan selada, sedangkan kelompok ketiga menanam kangkung dan pakcoy.

“Pemilihan jenis sayuran sudah kami tentukan berdasarkan jangka waktu tercepat untuk panen tanaman. Keenam sayur tersebut ditargetkan akan siap dipanen dalam rentang waktu satu bulan mendatang,” imbuh Fitria.

Fitria menambahkan, rentang waktu tersebut sudah direncanakan berdasarkan masa panen tanaman. Pada minggu pertama, mahasiswa dan warga menyemai bibit hingga tumbuh. Satu bulan kemudian, akan dilakukan pindah tanam pada media yang ditentukan.

Media yang digunakan pun beragam sesuai kemampuan dan keinginan warga setempat di antaranya berupa ember, botol air mineral bekas, dan pipa paralon.

“Semua media memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada awal training kami sudah menjelaskan secara tuntas. Keputusan pun dipilih berdasarkan kemampuan ibu-ibu dalam merawat tanamannya kelak,” tutur Fitria yang juga mahasiswa Program Studi S-1 Ilmu Keperawatan.

Harapannya, dengan adanya program green wall training, warga setempat dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga secara mandiri. Selain itu, program green wall training bisa membantu pencapaian ketahanan pangan di Indonesia.

Editor: Defrina Sukma S




Lima Mahasiswa Olah Lidah Buaya Jadi Brownies

UNAIR NEWS – Melimpahnya tanaman lidah buaya (Aloe vera) di ujung selatan Jawa Timur, Trenggalek, berhasil dimanfaatkan oleh kelima mahasiswa Universitas Airlangga. Dengan mengandalkan partisipasi dari kelompok ibu rumah tangga, mereka telah berhasil mengolah tanaman lidah buaya menjadi brownies dan kerupuk.

Kelima mahasiswa tersebut adalah Rica Naudita Krisna Setioningrum, Kartini, Novia Yudiasari, Zsafidda Afa Mahardika, dan Anak Agung Wantini. Mereka tergabung dalam tim proposal Program Kreativitas Mahasiswa–Pengabdian Masyarakat berjudul “K2P (Kreativitas Ketahanan Pangan) Pemanfaatan Aloevera untuk Melatih Masyarakat Trenggalek dalam Bidang Kewirausahaan”.

Proposal tersebut berhasil lolos seleksi pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2017.

Dalam implementasinya, mereka menyasar anggota kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Desa Tumpuk, Kecamatan Tugu, Trenggalek.

“Kami memberikan kuesioner kepada ibu-ibu rumah tangga tentang potensi lidah buaya untuk dijadikan produk makanan. Dari hasil kuesioner tersebut, ternyata banyak dari responden yang belum mengetahui tentang manfaat Aloe vera untuk dijadikan produk makanan, padahal potensi tanaman tersebut di Desa Tumpuk sangatlah melimpah,” tutur Rica.

Setelah hasil kuesioner diketahui, mereka mengajak kelompok PKK setempat untuk mengikuti pelatihan kewirausahaan. Dari situlah, kelima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat ini membentuk kader-kader yang berasal dari kelompok PKK tersebut untuk menjadi pengurus program kewirausahaan ini.

Guna membentuk usaha yang berkelanjutan, anggota kelompok PKK diajak untuk melewati menerapkan tahapan program kreativitas dan ketahanan pangan. Yakni, go plant, go process product, dan go market.

Pada tahapan go plant, anggota PKK diajari cara menanam dan merawat lidah buaya. Selanjutnya, tahapan go process product, anggota PKK diajari mengolah lidah buaya menjadi brownies dan kerupuk.  Pada tahap pemasaran atau go market, kelompok sasaran diajari memasarkan produk melalui media sosial, termasuk offline.

“Kami menerapkan program K2P selama tiga bulan, mulai dari menanam lidah buaya di lahan dekat balai desa juga mempraktikan demo masak brownies dan kerupuk lidah buaya. Kami juga memberikan resep-resep olahan lidah buaya untuk menambah kreativitas ibu-ibu PKK sekaligus mengajari cara memasak yang higienis,” imbuh Rica.

Hasil olahan lidah buaya tersebut diberi merek Broalek (Brownies Aloevera Trenggalek) dan KAT (Kerupuk Aloevera Trenggalek). Harapannya, Broalek dan KAT dapat dijadikan sebagai oleh-oleh kekinian dari Trenggalek, apalagi wilayah yang berbatasan dengan Samudera Hindia itu memiliki destinasi pariwisata yang menarik.

Editor: Defrina Sukma S




Inovasi Mahasiswa FK UNAIR, Layani “Cek Gula Darah Drive Thru”

UNAIR NEWS – Meningkatnya prevalensi Diabetes Mellitus (DM) menjadikan beban negara untuk pemeliharaan penyakit yang berkaitan dengan “gaya hidup” ini semakin besar. Rendahnya kesadaran masyarakat yang sejak dini memeriksakan kadar gula dalam darahnya juga akan menjadikan diabetes baru terdeteksi ketika sudah terjadi komplikasi.

Guna mempermudah sekaligus menggugah kesadaran masyarakat itu, mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga, melaluyi Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) menjadikan keadaan diatas sebagai dasar pemikiran untuk menawarkan konsep “Cek Gula Darah Drive Thru”.

Anggi Dewi, Ketua Tim PKMK FK UNAIR menjelaskan, bahwa timnya terinspirasi dengan konsep drive thru yang dipraktikkan oleh sebuah makanan cepat saji.

“Pasti masyarakat lebih berminat untuk cek gula darah jika tidak perlu antri lama, biayanya murah, bahkan bisa sambil berkendara. Tidak perlu turun dari kendaraannya. Jadi semakin banyak yang sadar untuk cek gula darah sedini mungkin, maka akan semakin banyak pula yang terhindar dari diabetes. Karena diabetes, yang di masyarakat sering disebut ‘kencing manis’ itu, hanya bisa dicegah dan hingga saat belum ada obatnya,” kata Anggi Dewi kepada pers.

“Cek Gula Darah Drive Thru ini sangat cocok bagi warga Kota Surabaya dan kota besar lain yang memiliki intensitas kesibukan cukup tinggi. Mereka dapat memeriksakan kadar gula darah misalnya sambil berolahraga, berakhir pekan bersama keluarga, bahkan sambil berkendara sepeda motor maupun mobil, sehingga stigma masyarakat akan “ribetnya” cek gula darah di laboratorium berubah menjadi menyenangkan, cepat (hanya 10 detik) dan terjangkau.

”Hanya dengan biaya Rp 10.000 mereka sudah bisa memeriksakan kadar gula darah sekaligus memeriksakan tekanan darah secara gratis serta berkonsultasi langsung dengan tenaga kesehatan tentang pola hidup sehat,” tambah Anggi.

gula darah
SEORANG pedagang keliling, dengan tetap diatas sadel motornya, ia memeriksakan cek gula dalam darahnya. (Foto: Dok PKMK FK)

Usaha yang dijalankan oleh Tim PKMK-nya ini, setiap hari Sabtu dan Minggu, di lokasi jogging track Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, cukup ramai didatangi pengunjung. Sejak buka 1 April 2017 hingga 4 Juni 2017, sebanyak 1.298 orang melakukan pemeriksaan gula darah di stan yang dibuka ini.

Dari jumlah yang memeriksakan tersebut, sebanyak 42,9% pengunjung baru pertama kali melakukan cek gula darah, dan 105 orang dari jumlah tersebut baru mengetahui kadar gula darah mereka sudah di atas normal. Dari kajian berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa tim ini telah berhasil menggugah kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kadar gula darahnya sejak dini.

“Ramainya pelanggan itu karena kami selalu menjaga hubungan baik dengan mereka. Pelayanan yang ramah, harga murah, serta konsultasi yang kami sediakan menjadi nilai plus, sehingga banyak diantara mereka yang kembali periksa di tempat kami, bahkan sambil mengajak tetangga atau saudaranya. Bahkan ada juga yang memanggil untuk cek di rumah, karena orangtuanya terkena stroke. Alhamdulillah program kami sangat bermanfaat,” jelas Anggi.

Sebagai mahasiswa salah satu universitas terkemuka di Indonesia, mereka berlima yaitu Anggi Dewi, Nor Ain, Reskia, Ritje Paembonan, dan Rani Kusumawardani, tidak malu-malu untuk berdagang di kaki lima bersama pedagang-pedagang lainnya.

Tidak malu? “Untuk apa malu, justru ini adalah awal yang bagus untuk memicu jiwa kewirausahaan sejak dini. Kami justru sangat berterimakasih kepada Dirjen Dikti karena telah memberi kami kesempatan belajar berwirausaha,” kata Anggi.

“Selain ingin meraih Juara di PIMNAS, tujuan kami kedepan bisa memiliki banyak cabang ‘Cek Gula darah Drive Thru sehingga semakin banyak masyarakat yang terhindar dari diabetes sekaligus menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Karena lapangan pekerjaan banyak yang berebut, kami ingin menciptakan lapangan pekerjaan agar menjadi ksatria Airlangga meraih sukses,” tambahnya mantab. (*)

Editor: Bambang Bes




Pelet Kroto Diketahui Sebagai Pakan Ikan yang Mempercepat Pertumbuhan

UNAIR NEWS – Empat mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga di PSDKU (Pusat Studi Diluar Kampus Utama) Banyuwangi, dalam penelitiannya menemukan pelet kroto (Pelo) sebagai pakan ikan yang teruji efektif mampu mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan kelulushidupan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus).

Lele dumbo panjang 5-10 Cm dan berat 1-2 gram, dalam lima perilaku uji coba selama 30 hari, baik panjang dan berat badan semua meningkat. Namun peningkatan paling maksimal (berlipat) pada perilaku kelima (pemberian kroto murni tanpa pelet komersial), panjang badan lele bertambah 5,5 Cm dan berat badan lele bertambah hampir 4 gram.

Empat mahasiswa FPK UNAIR itu kemudian menuangkan penelitiannya dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) ini adalah Indra Wicaksono (ketua tim), dengan anggota Santika Dwi Christanti, Rina Suliestyana, dan Ayu Nur Imaniy. Dibawah bimbingan Mohammad Faizal Ulkhaq, S.Pi., M.Si., proposal berjudul “PELO (Pelet Kroto): Alternatif Pakan Ikan Buatan untuk Mempercepat Pertumbuhan Ikan Lele (Clarias gariepinus)” ini berhasil lolos seleksi untuk memperoleh dana pengembangan dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2017.

Diterangkan Indra Wicaksono, penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan yang terdiri dari pelakuan A (0% pelet komersial tanpa kroto). Perlakuan B (pemberian PELO dengan kombinasi 25% kroto dan 75% pelet komersial), perlakuan C (50% pelet dan 50% kroto), perilaku D (75% pelet dan 25% kroto), dan perilaku E (100% PELO murni tanpa pelet komersial). Pertambahan perkembangannya Lihat Diagram.

pakan ikan
DIAGRAM pertambahan berat badan dan panjang lele dumbo dari hasil uji coba dengan lima perlakuan. (Dok PKM-PE PELO)

Lele dumbo (Clarias gariepinus) yang dijadikan uji coba adalah lele dengan panjang 5-10 Cm dan berat 1-2 gram, sebanyak 20 ekor untuk masing-masing ulangan. Sedang parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik dan nilai kelulushidupan lele selama masa pemeliharaan (30 hari). Hasil penelitian ini menunjukkan kandungan protein pada kroto dan pelet yang digunakan yaitu bahan kering, abu, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, Ca, BETN, ME (Kcal/kg).

Menurut Indra Wicaksono, mengapa pihaknya meneliti ini, sebab nutrisi merupakan hal sangat penting bagi setiap makhluk hidup karena digunakan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. ”Tanpa nutrisi, perkembangan dan pertumbuhan akan terhambat bahkan akan mengalami kematian. Salah satu bahan pakan yang mengandung nutrien tinggi itu adalah kroto, yaitu kadar protein mencapai 47%,” kata Indra.

Sedangkan selama ini pemanfaatan kroto di Indonesia masih sebatas untuk pakan burung berkicau dan umpan memancing ikan. Selain itu kroto juga dimanfaatkan peternak ayam untuk mempercepat pertumbuhan ayam. Sedangkan masyarakat Thailand dan Filipina membudidayakan kroto tidak hanya untuk pakan burung atau ikan, tetapi juga sebagai bahan pangan manusia karena kandungan nutrien yang tinggi dan tekstur yang lembut seperti krim.

pakan ikan
ANGGOTA Tim PKMPE sedang memproses pelet kroto di Lab FPK UNAIR Banyuwangi. (Foto: Dok PKM-PE PELO)

Perikanan budidaya merupakan kegiatan yang banyak di Indonesia, karena memiliki prospek sangat menjanjikan. Namun, tingginya harga pakan sebagai biaya terbesar budidaya, menjadi kendala yang banyak dihadapi para pembudidaya. Karena itu perlu dicari alternatif bahan pakan yang murah, kandungan nutrient-nya sesuai kebutuhan ikan, dan mudah didapat (tidak musiman).

”Jadi kroto sebagai telur semut yang memiliki kandungan protein cukup tinggi bagus dikonsumsi oleh ikan, khusunya ikan karnivora, sebab kandungan protein kroto berasal dari protein hewani,” lanjut Indra Wicaksono.

Keunggulan dari PELO (pelet kroto) ini adalah, pertama: diperoleh produk pakan ikan dengan harga lebih terjangkau dan mudah didapat. Kedua, telah terbukti dalam uji coba sebagai pakan ikan alternatif yang mempercepat pertumbuhan ikan, dan ketiga: memiliki aroma yang relatif sedap dan khas. (*)

Editor: Bambang Bes




Mahasiswa UNAIR Banyuwangi Bikin Masker Cantik dari Limbah Kulit Pisang

UNAIR NEWS – Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu desa yang memiliki potensi tinggi penghasil pisang. Hasil olahan pisangnya pun beraneka ragam. Ada keripik pisang, sale, dan aneka yang lain. Sayangnya, produksi pengolahan pisang yang tinggi itu tidak diimbangi dengan pengolahan limbahnya. Jadilah limbah berupa kulit pisang berserakan diberbagai tempat.

Menurut Kepala Kelurahan Tamansari, Nursamsi, kebanyakan masyarakat Desa Tamansuruh cenderung membuang limbah kulit pisang. Limbah kulit pisang yang paling banyak adalah kulit pisang kapok. Ada beberapa yang memanfaatkannya sebagai pakan ternak, namun hasilnya belum mengatasi besaran limbah yang ada.

“Di Desa Tamansuruh sudah memiliki kelompok ibu PKK yang aktif dan sering mengadakan pertemuan dan membahas masalah limbah kulit pisang ini, namun dari pertemuan ke pertemuan toh belum bisa memberikan solusi yang nyata,” kata Lurah Nursamsi.

Bergegas dari kenyataan diatas dan berusaha untuk memberikan solusinya, lima mahasiswa Universitas Airlangga PSDKU Banyuwangi membuat inovasi untuk memberdayakan masyarakat dengan mengubah limbah kulit pisang menjadi barang yang bernilai ekonomis, yaitu masker wajah.

Dari lima mahasiswa prodi akuntansi PSDKU UA melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2017 dengan judul propsoal ”Optimalisasi Potensi Limbah Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca) Menjadi Kuping Macan (Kulit Pisang Masker Cantik ) sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Kreatif pada Kelompok PKK di Desa Tamansuruh, Kabupaten Banyuwangi.” Program ini berhasil menarik perhatian Dirjen Dikti dan dinyatakan lolos untuk mendapatkan dana pembinaan program PKM tahun 2017.

masker
Mahasiswa UNAIR Banyuwangi yang melaksanakan pengabdian untuk masyarakar Desa Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. (Foto: Dok PKMM)

Lima mahasiswa tersebut adalah Nilna Firdaus Anggraini (ketua/2016), Suaibatul Islamiyah (2016), Nur Jannah (2016), Miranti Nareswari (2014), dan Romzi Kharisanto(2014). Sasaran pengabdian kelima mahasiswa itu adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Tamansuruh, mengurangi tingkat pengangguran, memberikan fasilitas pelatihan kewirausahaan, meningkatkan kreatifitas mahasiswa, membantu mengangkat nilai jual limbah kulit pisang sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

Kegiatan yang dilaksanakan meliputi perencanaan program, sosialisasi pengenalan manfaat limbah kulit pisang menjadi masker kecantikan, pelatihan dan praktik pengolahan limbah kulit pisang menjadi masker kecantikan, pemanfaatan masker kecantikan dari limbah kulit pisang pada remaja di lingkungan Desa Tamansuruh serta ditutup dengan melakukan evaluasi kegiatan. (*)

Penulis : Siti Mufaidah

Editor : Bambang Edy Santosa