Kartu Kesehatan Gigi Inovasi Mahasiswa FKG UNAIR untuk Kota Surabaya

UNAIR NEWS – Indonesia saat ini berada di posisi yang cukup mengkhawatirkan jika berbicara masalah karies gigi anak. Saat ini, Indonesia menduduki peringkat sebagai negara dengan angka karies gigi anak 12 tahun ke bawah yang tinggi (DMF-T di atas 3,5) berdasarkan data WHO-SEARO 2016.

Sikap dan perilaku orang tua, terutama ibu, dalam pemeliharaan kesehatan gigi memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap perilaku anak. Seorang ibu seharusnya memiliki pengetahuan, sikap, dan tindakan yang baik terhadap kesehatan gigi dan mulut agar dapat memberikan pendidikan kesehatan mulut kepada anaknya.

Namun sayangnya, ternyata kebutuhan akan kendali orangtua, khususnya ibu, dalam memantau dan mengawasi keadaan gigi anaknya tidak didukung dengan kesiapan sang ibu.

Sebagai contoh, berdasarkan temuan sekelompok mahasiswa Praktik Kuliah Lapangan (PKL) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga di wilayah Puskesmas Mulyorejo pada hasil penelitian Agustus-September 2018 lalu, ternyata hanya 9 ibu hamil yang melakukan perawatan di poli gigi dari 424 ibu hamil yang datang ke Puskesmas. Hal ini merupakan sesuatu yang disayangkan oleh para mahasiswa. Ibu hamil merupakan awal dari masa kehidupan. Namun, ternyata rendah sekali perilaku dan minatnya menuju dokter gigi.

Temuan ini menginspirasi mereka untuk membuat sebuah inovasi untuk memicu peningkatan kunjungan ibu hamil ke poli gigi.

“Bersama dengan pimpinan dan dokter gigi Puskesmas Mulyorejo, kami merancang sebuah media pemandu ibu sejak masa kehamilan, agar dapat memantau secara mandiri kondisi kesehatan gigi dan mulutnya, sekaligus anaknya kelak,” Papar Amalia Wimarizky, S.KG, ketua tim kelompok PKL Mulyorejo.

“Kami menawarkan kemudahan dalam penggunaan kartu GIAT ini, dengan disisipkan pada buku KIA yang berwarna pink. Ibu Hamil dan tenaga medik terkait dapat dengan mudah melakukan pemeriksaan dan pencatatan kesehatan gigi dan mulut kelak,” tambah Amalia yang sedang menjalani stase terakhirnya sebagai co-ass di FKG UNAIR.

Di sisi lain, pihak Dinas Kesehatan Kota Surabaya juga memiliki concern yang sama dengan rencana inovatif para mahasiswa ini. Ditemui di sela-sela kegiatannya di Puskesmas, Drg. Fabia Yustiaputri, dokter gigi Puskesmas Mulyorejo turut memberikan apresiasinya.

“Puskesmas di Kota Surabaya di tahun depan memang ditarget untuk dapat memiliki alat atau media untuk mencatat kesehatan gigi sejak masa hamil, semacam kartu menuju sehat, namun versi gigi dan mulut,” terangnya.

“Setelah para mahasiswa menunjukkan kartu GIAT ini, sekaligus dicobakan pada para ibu hamil dan kader, ternyata sesuai dengan harapan kami sebagai pelaksana medik di Puskesmas. Bahwa ada alat bantu serupa dengan kartu menuju sehat yang memang dibutuhkan oleh kami,” tambah Drg. Febi panggilan akrabnya.

Kartu GIAT ini, didesain untuk dapat digunakan sebagai media pencatatan gangguan kesehatan gigi dan mulut pada masa kehamilan, khususnya pada kasus gingivitis pada masa kehamilan. Dilengkapi dengan tabel, grafik, dan kolom sederhana khas kartu menuju sehat, kartu GIAT ini dapat diisi dengan mudah untuk para ibu hamil dan kader.

“Kartu GIAT ini saat ini sedang dalam tahapan pengembangan menuju penciptaan Kartu Menuju Gigi Sehat (KMGS) Kota Surabaya, bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Berikutnya kartu GIAT ini akan disosialisasikan di wilayah Ketabang, dan beberapa wilayah lain di Kota Surabaya. Ini berkat inovasi para anak didik kami di lapangan,” ucap Drg. Gilang Rasuna Sabdho Wening, M.Kes, Dosen Departemen  Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGM) FKG UNAIR selaku dosen pembimbing tim PKL. (*)

Penulis: Irma Josefina Savitri

Editor: Binti Q. Masruroh




Mahasiswa UNAIR Kembangkan Penelitian LIPI, Implan Tulang Mampu Luruh Alami

UNAIR NEWS – Kanker tulang merupakan suatu penyakit ganas sistemik yang terjadi pada anak-anak dan remaja. Pengobatan kanker tulang dapat dilakukan melalui operasi pemasangan implan. Tetapi setelah sembuh, perlu dilakukan operasi pemasangan operasi lanjutan guna mengambil implan tersebut. Tentu saja, itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, mahasiswi jurusan Fisika Universitas Airlangga berinisiatif untuk mengembangkan penelitian yang dilakukan oleh Annur Dkk dari Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) tentang Mg-Zn-Ca sebagai bahan baku material yang mampu luruh alami.

Mahasiswi UNAIR yang melakukan penelitian kembangan ini adalah Desty Praditia bersama dua orang anggotanya yaitu Putri Sulystianti dan Saint Willy. Mereka merupakan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE).

”Desty dan kawan-kawan berinisiatif untuk memodifikasi atau mengembangkan penelitian dari LIPI tadi dengan cara penambahan foaming agent MgCO3 pada paduan Mg-Zn-Ca,” kata Desty menjelaskan kepada unair.news.

Di bawah bimbingan dosen FST Drs. Djonny Izak R., M.Si., proposal penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan penelitian yang telah dibuat oleh Annur dkk dari Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia, ini berhasil lolos didanai oleh Kemenristek Dikti.

Guna memaksimalkan penelitian kembangan tersebut, Desty Dkk melakukan pengujian yaitu SEM (Scanning Electron Microscope) untuk mengetahui kekuatan paduan. Uji Kuat Tekan untuk mengetahui kekuatan paduan. Uji Porositas untuk mengetahui seberapa ruang kosong yang telah terbentuk pada paduan. Juga Uji Densitas untuk mengetahui kerapatan paduan, dan Uji Korosi untuk mengetahui laju korosi pada paduan, jelas Desty mengabarkan.

”Karena itu dalam kesempatan ini kami selaku salah satu tim PKM di UNAIR meminta permohonan maaf dikarenakan pada artikel publikasi sebelumnya yang dimuat unair news pada tanggal 15 Juli 2018, kami alpa tidak mencantumkan bahwa Pusat Metalurgi dan Material LIPI sebagai peneliti pertama yang telah memperoleh HAKI. Sekali lagi kami selaku tim meminta maaf yang sebesar-besarnya,” kata Desty. (*)

Editor : Bambang Bes




Dosen UNAIR Kenalkan Khasiat Temulawak untuk Pakan Ternak

UNAIR NEWS – Tim pengabdian masyarakat (pengmas) program studi D3 Paramedik Veteriner Fakultas Vokasi Universitas Airlangga melakukan alih teknologi kepada masyarakat Desa Brangkal dan Desa Cengkong, Kecamatan Parengan, Sabtu (4/8). Pengmas kali ini merupakan program kemitraan masyarakat (PKM) dengan tema ‘Pembuatan Dodol Temulawak sebagai Upaya Penggemukan Sapi Potong’.

Ketua pelaksana program Retno Sri Wahjuni mengatakan, potensi sumber daya lokal yang tersedia akan lebih bermanfaat untuk masyarakat dengan sentuhan teknologi tepat guna. Pemanfaatan temulawak dikarenakan mudah diperoleh dan mempunyai banyak manfaat bagi ternak, seperti anti cacing dan penambah nafsu makan.

Tujuan pengabdian masyarakat PKM ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan peternak setempat dengan inovasi dodol yang terbuat dari temulawak (Temulawak Mollases Blok/TMB) sebagai pakan tambahan ternak yang bergizi tinggi.

Selama ini, sebagian besar peternakan rakyat hanya memberikan pakan berupa hijauan atau jerami tanpa memberi pakan tambahan. Padahal, nilai nilai gizinya relatif rendah.

Melalui program PKM ini, diharapkan peternak dapat membuat produk dodol temulawak dengan bahan yang murah dan tersedia di daerah setempat.

Sementara nara sumber lain Tri Nurhidajati dosen Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR mengatakan bahwa sapi potong selain hijauan atau rumput juga membutuhkan pakan tambahan, yaitu konsentrat atau bahan pengganti konsentrat. Bahan pengganti konsentrat salah satunya dodol temulawak sebagai produk yang berbasis bahan herbal lokal yang mudah di dapatkan di daerah.

Kelebihan dari dodol temulawak adalah praktis dalam pemberianya, bergizi lengkap, angka kecernaan tinggi, menambah nafsu makan, sebagai obat cacing serta bahan yang diperlukan mudah didapat dan harganya relatif murah.

Di samping itu, untuk mengatasi masalah musim rawan pakan atau paceklik, peternak dilatih membuat pakan fermentasi yang bahan bakunya menggunakan jerami padi serta jagung dibantu dengan probiotik, sehingga menghasilkan pakan yang bergizi tinggi. Program PKM ini juga membahas masalah penanganan kesehatan reproduksi ternak dan cara pengukuran body scoring pada sapi.

Peserta program PKM ini adalah Kelompok Ternak Desa Brangkal dan Desa Cengkong Kecamatan Parengan Kabupaten Tuban dengan total 50 peserta. Pengmas PKM ini juga dihadiri oleh aparat pemerintah setempat didampingi oleh Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Kamtibmas).

Retno Sri Wahjuni (kiri) menyampaikan materi tentang khasiat temulawak di Desa Brangkal Kecamatan Parengan, Sabtu (4/8). (Dok. Pribadi)

Zaenal Muttaqin selaku Kepala Desa Brangkal mengatakan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan yang sangat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat karena sebagian besar masyarakat adalah peternak sapi potong tradisional.

“Pakan yang diberikan kepada ternak adalah pakan ala kadarnya sehingga dengan pelatihan dan pengembangan sumber daya masyarakat di bidang peternakan, khususnya di Desa Brangkal dan Desa Cengkong, diharapkan dapat  meningkatkan pengetahuan dan skill peternak, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi peternak dan masyarakat pada umumnya,” terang Zainal.

Zaenal Muttaqin juga mengimbau agar kerjasama ini tetap berjalan dengan baik.

Pengmas PKM di Kecamatan Parengan Kabupaten Tuban ini terdiri dari 5 dosen dan 2 mahasiswa prodi D3 Paramedik. Untuk keberlanjutan program ini akan dilakukan monitoring terhadap pertambahan berat badan sapi selama 30 hari pasca pelatihan. (*)

Penulis: Siti Eliana Rochmi

Editor: Binti Q. Masruroh




Aplikasi ‘Siaga Plus’ Dukung Kesehatan Ibu Hamil di Indonesia

UNAIR NEWS – Menurut data dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2015, Angka Kematian Ibu (AKI) berada di angak 305 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini terbilang tinggi walau telah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan 2012, yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup.

Penurunan ini bisa dibilang sangat lambat dan tidak signifikan, sehingga AKI masih sangat membutuhkan perhatian. Empat penyebab utama AKI adalah pendarahan, eklamsia, infeksi, serta komplikasi dari aborsi ataupun persalinan.

Jika ditinjau dari Ilmu Kesehatan Gigi, pada ibu hamil dengan periodontitis (radang jaringan penyangga gigi) yang parah, agen infeksi dan produknya dapat mengaktifkan jalur sinyal inflamasi lokal sampai ke ekstra-oral, termasuk pada unit janin-plasenta.

“Jika Ibu hamil dengan mengidap periodontitis yang parah, bisa saja dampak keradangannya tidak hanya menginduksi persalinan premature, tetapi juga menyebabkan preeklamsia dan membatasi pertumbuhan intrauterine,” ungkap Irma Josefina Savitri, drg., Ph.D., Sp.Perio (K), seorang dokter gigi spesialis konsultan yang juga dosen ahli periodonsia.

Sebagai salah satu terobosan dan inovasi, FKG membuat sebuah aplikasi berbasis sistem android berdasarkan data kesehatan gigi dan mulut ibu hamil. Data-data itu telah dihimpun Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga sejak Juli 2017 hingga kini.

“Data kesehatan dan perilaku ibu hamil yang kami himpun sejak tahun 2017 yang lalu sampai saat ini, menyimpulkan adanya kebutuhan berupa perlunya social support yang baik dari lingkungan, dan juga layanan kesehatan. Agar, ibu hamil memiliki kesehatan paripurna sebelum-saat-setelah kehamilan,” papar Gilang R. Sabdho Wening, drg., M.Kes, dosen Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGM) FKG UNAIR.

Bersama para mahasiswa koas, departemen IKGM meluncurkan sebuah aplikasi berbasis android dengan nama ‘Siaga Plus’ yang bertujuan ‘mempersenjatai’ para masyarakat agar dapat memantau dan mengingatkan ibu hamil agar tetap sehat.

Aplikasi ini dirancang untuk memudahkan para ibu hamil dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya, sebelum masa kehamilan, selama masa kehamilan, dan sesudah masa kehamilan.

Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur berupa Geotagging. Fitur ini untuk memudahkan para petugas kesehatan dalam meninjau keberadaan para ibu hamil dan melihat agenda.

Sementara untuk ibu hamil, fitur ini untuk memudahkan dalam mengetahui jadwal kunjungan ke tenaga kesehatan, checklist, mengetahui tes laboratorium yang harus dilakukan selama masa kehamilan, dan artikel sebagai upaya meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut selama kehamilan.

“Aplikasi ini sudah digunakan bahkan disosialisasikan oleh para ibu hamil beserta kadernya di beberapa lokasi di Kota Surabaya. Seperti wilayah kerja Puskesmas Pucangsewu, Dupak, Kalijudan, dan yang terbaru di Mulyorejo,” terang Gilang.

“Upaya ini juga sejalan dengan tujuan Millennium Development Goals (MDGs) pada poin 5 yaitu memperbaiki dan meningkatkan kesehatan gigi dan mulut ibu hamil. Ini dikarenakan kesehatan gigi dan mulut yang buruk pada ibu hamil dapat memberi efek terhadap janin seperti bayi prematur dan berat badan lahir rendah di samping terhadap kesehatan gigi dan mulut bayi nantinya,” papar Gilang menutup.

Penulis: Larasati R. Putri

Editor: Binti Q. Masruroh




pasca strok

Mahasiswa UNAIR Menciptakan Inovasi Alat Rehabilitasi Paska Stroke

UNAIR NEWS – Kelumpuhan tangan sebagai dampak dari stroke menjadi masalah utama. Stroke merupakan gangguan kesehatan yang cukup serius, baik di negara maju maupun di negara berkembang.

Berdasarkan permasalahan tersebut mahasiswa Universitas Airlangga berinovasi mencari solusi dengan membuat F-ONE (Finger Eksoskeleton portable) alat bantu gerak jari tangan berbasis sinyal otot sebagai rehabilitasi pasca stroke.

Demikian dikatakan Afni Unaizah, selaku ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) yang melakukan inovasi tersebut bersama anggotanya yaitu Muwaffaq Izaz dan Adhe Rahmatullah. Dengan arahan dosen pembimbingnya, proposal PKM-KC berjudul “F-ONE (Finger Eksoskeleton portable) alat bantu gerak jari tangan berbasis sinyal otot sebagai rehabilitasi pasca stroke”, lolos seleksi dan meraih dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM 2018.

”Kami memberikan sebuah alternatif dalam bidang PKM-KC dengan inovasi alat rehabilitasi F-ONE (Finger Exoskeleton Portable). Alat ini memanfaatkan exoskeleton yang akan membantu jari tangan untuk melakukan gerakan-gerakan dasar sesuai pola pergerakan sebagai sarana terapi,” kata Afni Unaizah.

Alat ini juga memanfaatkan sensor EMG yang dapat menyadap sinyal otot. Sinyal otot akan diproses dengan sistem cerdas menggunakan Artificial Neural Network (ANN) untuk melakukan pembelajaran dari sinyal otot yang diterima, sehingga dapat ditemukan pola untuk gerakan tertentu sebagai terapi. Alat ini bersifat portabel yang dapat meningkatkan efektifitas terapi pasien karena dapat digunakan kapan saja dan dimana saja sesuai keinginan pasien.

Ditanya mengapa berinovasi dengan F-ONE? Dikutipkan oleh Afni bahwa berdasarkan World Health Organization (WHO) sebanyak 15 juta orang terserang stroke setiap tahunnya, dan lima juta diantaranya menderita kelumpuhan, atau cacat permanen. Indonesia merupakan negara berkembang dengan berbagai macam pola hidup masyarakatnya juga menjadi bagian dari banyaknya kasus kelumpuhan tangan yang dialami.

Dijelaskan juga, bahwa kelumpuhan tangan yang dialami oleh pasien pasca stroke menyebabkan ketidaknormalan pada fungsi kerja dari tangan. Penderita akan kesulitan dalam melakukan gerakan-gerakan tangan dasar. Namun, kelumpuhan ini dapat diminimalisir dengan melakukan rehabilitasi untuk memberikan perawatan pemulihan.

Metode rehabilitasi sudah banyak dilakukan dengan melatih daerah alat gerak yang mengalami kelumpuhan dengan mengajarkan pola gerakan atau memberikan dukungan sehingga dapat menunjukkan gerakan tertentu dan dipandu dengan petugas rehabilitasi. Metode saat ini membutuhkan pasien untuk pergi menuju rumah sakit atau tempat terapi, lalu menemui fisioterapis, dan itu dilakukan rutin selama masa rehabilitasi paska stroke.

”Berdasarkan peristiwa itu, membutuhkan waktu lebih lama dan biaya lebih banyak untuk melaksanakan rutinitas tersebut. Metode yang saat ini digunakan juga sangat bergantung pada ketersediaan waktu pasien melakukan terapi di rumah sakit atau tempat terapi, sehingga menyebabkan rutinitas terapi kurang maksimal,” tambah Muwaffaq, anggota tim.

Dengan adanya alat ini, Afni Unaizah dan kawan-kawan berharap dapat memberikan kontribusi di bidang kesehatan di Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para penderita lumpuh tangan untuk dapat menunjang pemulihan fungsi tangan yang lebih baik. (*)

Editor: Bambang Bes




petambak

Meminimalisir Kerugian Petambak Udang, Mahasiswa UNAIR Ciptakan Detektor ’Real Time’

UNAIR NEWS – Kematian massal udang tentu meresahkan petambak, karena akan menyumbang kerugian yang besar. Salah satunya disebabkan oleh meningkatnya kadar H2S. Terlebih pada saat musim hujan, kadar H2S dapat meningkat pesat akibat terjadinya turbulensi perairan.

“Karena saat hujan, bahan-bahan organik yang berada di dasar perairan akan teroksidasi dan akibatnya membentu H2S yang berlebih,” kata Angga Bagus Prasetyo, mahasiswa Universitas Airlangga, ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC).

Guna mengatasi masalah tersebut, tim PKM-KC UNAIR yang juga beranggotakan Ainur Dwiky Setyawan dan Gita Istiqfarrani, dibawah bimbingan Franky Chandra Satria Arisgraha, ST., MT., staf pengajar di UNAIR membuat inovasi berupa alat deteksi kadar H2S. Alat tersebut diberi nama  yang diberi nama “i-Turbul”. Alat ini dapat mendeteksi kadar H2S di perairan tambak udang intensif dan memberikan informasi apabila kadarnya sudah diambang batas.

“Saat kadar H2S sudah diambang batas, yaitu 1 ppm, maka i-Turbul akan langsung mengirim informasi kepada petambang melalui SMS (real timei). Sehingga petambak dapat segera memberikan treatment agar kadar H2S kembali normal,” kata Angga, Ketua Tim PKM-KC ini.

i-Turbul adalah inovasi modern yang mudah, murah, dan estetik. Desainnya disesuaikan dengan lingkungan pemanfaatannya. Alat ini nantinya akan dilengkapi dengan menggunakan kapal agar lebih estetik. Sehingga selain ada manfaatnyajuga ada estetikanya.

“Harapan kami, dengan adanya i-Turbul ini dapat meminimalisir kerugian para petambak udang karena adanya kematian massal. Jadi, i-Turbul ini berpotensi dalam mendukung perkembangan ekonomi di Indonesia,” tambah Gita Istiqfarrani, anggota tim lainnya.

Manfaat besar yang diberikan i-Turbul ini, mengantarkan kreator penciptanya, kelompok PKM-KC ini lolos seleksi dan memperoleh dana hibah dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun anggaran 2018. (*)

Editor: Bambang Bes




pulau kelor

’Grand Launching’ Sentra Usaha ‘Pulau Kelor’, Binaan PKM Mahasiswa UNAIR

UNAIR NEWS – Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) Universitas Airlangga dengan tema “KELOR” meluncurkan Grand Launching Sentra Usaha Pulo Kelor, hari Sabtu (14/7) lalu.

Perlu diketahui bahwa manfaat kandungan gizi yang ada pada  daun kelor bagi tubuh manusia, sangat banyak. Akan tetapi masih sedikit orang yang memanfaatkan daun kelor tersebut sebagai sebuah produk makanan.

Tepatnya di Perumahan Puri Brawijaya Permai, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi, terdapat “Pulo Kelor”. Mendapatkan julukan Pulo Kelor dikarenakan terdapat banyak tumbuhan daun kelor yang dibudayakan disana, serta lokasi perumahan yang diapit oleh sungai.

Dengan kondisi banyaknya tumbuhan kelor yang ada, warga “Pulo Kelor” tidak memiliki inovasi  untuk mengolah daun kelor tersebut menjadi olahan bermanfaat. Bahkan sampai ada pihak dari luar yang ikut mengambil (memetik) dan membeli daun kelor tersebut. Apabila warga “Pulo Kelor” mau mengolah daun kelor tersebut menjadi produk, maka produk tersebut akan mampu meningkatkan perekonomiannya.

Dibawah bimbingan Dian Santoprayoga, S.KM., M.Kes., dosen FKM UNAIR Banyuwangi, tim PKM-M yang tediri dari Ayu fitri lestari, Intan puspita Sari, Intan Ayu Kusuma Wardani, Rahmasuciani Putri dan Meirna Mega Rizki dari prodi Kesehatan Masyarakat PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi, berhasil lolos pandaan Dikti tahun 2018 dalam program PKM. Judul karya mereka adalah ”KELOR Kelas Enterpreneurship Pemanfaatan Daun Kelor Sebagai Branding Pulo  Kelor untuk Meningkatkan Perekonomian Warga”.

pulau kelor
PARA undangan, pengurus RT, perwakilan Dinas di Pemkab banyuwangi, mahasiswa UNAIR dan dosen pembimbing PKM, hadir dalam peresmian “Sentra Usaha Kelor” di “Pulau Kelor” Banyuwangi. Berikut display produk yang dibikin dengan bahan daun kelor. (Foto: Tim PKMM)

“Program ini bertujuan untuk memberdayakan ibu-ibu di ‘Pulo Kelor’ dalam membuat produk olahan dari daun kelor. Kami memiliki inovasi untuk membuat tiga produk, yaitu kerupuk, pia dan brownis,” ujar Intan Puspita Sari, ketua tim PKMM tersebut.

Tahapan program yang telah dilakukan berupa pendekatan pada sasaran, pemilihan kader dengan musyawarah bersama, penyuluhan akan pentingnya kandungan daun kelor untuk tubuh manusia, pendampingan pembuatan produk olahan, penyuluhan mengenai kewirausahaan, sampai membantu grand launching produk.

Adanya dalam kegiatan ini, ibu-ibu juga memiliki inovasi lebih mengenai produk olahan kelor, yang awalnya hanya tiga produk, kini berhasil mengembangkan menjadi sembilan produk. Produk tersebut antara lain pia, kerupuk, brownis, salad kelor, siomay, nugget, cilot, peyek dan seblak kelor.

”Tidak hanya ibu-ibu yang termotivasi membuat produk, para remaja juga terinovasi untuk membuat produk juga. Dengan adanya inovasi untuk mempromosikan produk ke media sosial ibu-ibu Pulo Kelor mendapatkan pesanan 30 kg kerupuk,” ujar Ayu Fitri Lestari, anggota tim PKM ini.

Pada kesempatan sama, Intan menambahkan, “Setelah tahap demi tahap telah kita lalui, kami juga membantu ibu-ibu di Pulo Kelor melakukan grand launching produk yang diadakan 14 Juli 2018.”

Grand Launching tersebut dihadiri beberapa instansi, antara lain Dinas Lingkungan Hidup, Bappeda, Dinas Upaya Pemberdayaan Perempuan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta pengusaha kelor di Banyuwangi serta warga Pulo Kelor. Acaranya dibuka oleh Ketua RT setempat, dilanjutkan sambutan dosen pembimbing PKM dan kader, juga dari salah satu instansi yang diwakili Dinas Lingkungan Hidup.

Sentra usaha tersebut disahkan dengan potong pita oleh kader, Ketua RT , dosen pembimbing, serta perwakilan dinas. Keberhasilan yang diraih adalah usai grand launching produk ini menarik perhatian dari sentra oleh-oleh di Banyuwangi, sehingga produk krupuknya bisa terjualnya 30 kg sekaligus.

Keberlanjutan program ini adalah menggencarkan promosi produk, terjalinnya kerjasama dengan dinas serta bisa memudahkan dalam upaya pengembangan sentra usaha, melakukan PIRT produk. Kemudian yang paling penting adalah semakin berkembangnya dan dikenalnya sentra usaha produk olahan daun kelor, tidak hanya dikenal warga setempat bahkan warga Banyuwangi dan turus asing. (*)

Penulis : Siti Mufaidah

Editor : Bambang Bes.




inovatif matematika

(M-art Magic) Pop Art Mathematics Book, Pembelajaran Inovatif Matematika untuk Tuna Grahita

UNAIR NEWS – Pasca melakukan survey tentang permasalahan pembelajaran di sekolah luar biasa (SLB), tim mahasiswa Universitas Airlangga membuat sebuah terobosan baru berupa pemberdayaan guru-guru di SLB serta pihak keluarga untuk mengajarkan kepada siswa (anak) salah satu materi dasar yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, yakni matematika menggunakan Pop Up Book.

Tim mahasiswa UNAIR tersebut adalah Indira Syahraya, Iqbal M, Lelyana S.A, Muqsith A.R, dan Ainur Rahmah, yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM). Inovasinya tersebut bahkan sudah berhasil lolos dalam seleksi, sehingga mendapatkan dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2018.

Menurut Indira Syahraya, pemilihan Pop Up Book pada pembelajaran matematika ini dipilih karena selain sifatnya yang portable, buku tersebut juga menarik karena menampilkan gambar tiga dimensi yang tidak hanya dapat dilihat namun dapat disentuh dan dimainkan oleh anak-anak, sehingga meningkatkan keaktifan mereka sekaligus diharapkan mampu mengurangi tingkat kejenuhan dalam proses pembelajaran.

”(M-art Magic) Pop Art Mathematics Book diharapkan mampu membawa angin segar di tengah mereka yang membutuhkan suasana baru dalam proses pembelajaran matematika dasar. Dalam pemberian pembelajaran pada kader guru juga memberikan dampak yang baik dengan nilai post test siswa yang lebih baik dari pre test yang diberikan,” kata Indira Syahraya, ketua tim PKMM ini.

Urgensi pencarian upaya solusi dari masalah pembelajaran seperti ini, karena pendidikan merupakan salah satu ujung tombak terpenting dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM). Mengutip pendapat Ki Hajar Dewantara, “Bapak Pendidikan” kita, pendidikan adalah sebuah proses pembudayaan sebagai usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generai muda yang tidak hanya bersifat pemeliharaan, namun juga untuk memajukan dan mengembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusian.

Besarnya peranan pendidikan dalam kemajuan suatu bangsa membuat berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan masyarakatnya. Dilihat dari segi kualitas pendidikan, Indonesia masih berada di bawah Palestina, Samoa dan Mongolia. Tercatat hanya 44% penduduk Indonesia menuntaskan pendidikan menengah. Sementara 11% murid gagal menuntaskan pendidikan alias keluar dari sekolah (UNESCO, 2017).

Menghadapi kenyataan tersebut, pemerintah berupaya memperbarui kurikulum pendidikan yang semula KTSP 2006 menjadi K13 (Kurikulum 2013). Perubahan kurikulum ini juga berlaku untuk sekolah-sekolah luar biasa (SLB) di Indonesia.

Merujuk pada survei dan wawancara tim PKMM dengan tenaga pengajar di beberapa SLB di Jawa Timur, terutama di Kota Surabaya, menunjukkan rendahnya dampak signifikan dari perubahan kurikulum KTSP 2006 ke Kurikulum 2013. Mengapa? Karena pada dasarnya cara penyampaian materi dari guru ke siswa tidak berubah.

Selain itu karena minimnya jumlah tenaga pengajar di beberapa sekolah, juga keterbatasan jumlah buku-buku penunjang dari pemerintah, sehingga pembelajaran utamanya hanya bisa dilakukan di lingkungan sekolah dengan guru. Sedangkan peran orang tua di rumah sebagai pihak yang diharapkan mampu meningkatkan tingkat pemahaman siswa sangat terbatas.

”Siswa-siswa akhirnya mudah bosan dengan sistem pembelajaran yang diterapkan karena penyampaian materinya butuh waktu lebih lama dari yang seharusnya. Anak-anak cenderung bosan, kemudian marah-marah karena ingin bermain di kelas yang menurut mereka lebih seru,” kata Indira.

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tunagrahita adalah anak yang memiliki kemampuan di bawah rata – rata anak lainnya (anak normal). Dalam dunia pendidikan, anak tunagrahita membutuhkan metode belajar berbeda dengan anak normal, meskipun mereka memiliki tingkat intelektual dibawah normal, namun mereka masih bisa dilatih dengan metode-metode khusus seperti kinestetis dan hal lain yang dapat menarik perhatian mereka.

”Berdasarkan definisi inilah kami percaya bahwa mereka masih mampu dilatih, yang nantinya diharapkan menjadi sosok mandiri walaupun dalam keterbatasan dan mampu melalui aktivitas sehari-hari layaknya anak-anak yang normal seusia mereka,” kata Indira Dkk optimis. (*)

Editor : Bambang Bes




losion kulit

Mahasiswa UNAIR Produksi Losion Perawatan Kulit dari Ekstrak Teripang dan Pisang

UNAIR NEWS – Lima orang mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga yaitu Raihan Anando, Veredita Rusydiana, Izzatidiva Khairunnisa, Zilvana Nurul Iza dan Diana Permata Sari berhasil berinovasi membuat losion berbahan dasar ekstrak teripang dan ekstrak pisang.

Memilih dari ekstrak teripang atau gamat dan ekstrak pisang? Dikatakan Raihan Anando, ketua tim peneliti, karena teripang punya potensi untuk memutihkan kulit dan sebagai anti kerut. Sedangkan ekstrak pisang berpotensi untuk memudarkan noda bekas luka.

Dibawah bimbingan Ir. Elly Ana, M.Si, staff pengajar FST Universitas Airlangga, kelima mahasiswa berhasil menuangkan penelitiannya pada proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK). Mereka bersyukur bahwa proposal ini berhasil lolos seleksi Dikti, sehingga memperoleh hibah dana pengembangan dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2018.

Ditambahkan oleh Raihan, ide awal pembuatan losion ini bermula dari adanya keprihatinan terhadap pola pikir masyarakat yang berasumsi bahwa dirinya merasa tidak berharga karena kurangnya kepercayaan diri atau pede. Mereka merasa kurang sempurna terutama dalam hal berpenampilan.

”Selain itu, inovasi ini juga karena melimpahnya teripang dan pisang di Indonesia, sehingga perlu adanya pemanfaatan untuk menjadikan bahan baku teripang dan pisang menjadi produk yang berguna untuk meningkatkan kepercayaan diri masyarakat dalam menjaga penampilan kulit mereka,” katanya.

losion kulit
PARA personil PKMK yang l menawarkan losion berbahan dasar ekstrak teripang dan ekstrak pisang. (Foto: Dok PKMK)

Dikutipkan sebuah hasil Litbangkan (1998), hasil penelitian di China menunjukkan teripang merupakan makanan yang mempunyai khasiat medis. Teripang dapat menjaga kesehatan dan kecantikan kulit karena mengandung banyak senyawa yang dibutuhkan untuk perawatan kulit agar kulit tetap sehat dan tampil lebih cantik.

Senyawa-senyawa tersebut adalah kolagen, Gamapeptide, Mukopolisakarida serta Cell Growth Factor. Manfaat yang dapat dirasakan adalah kulit menjadi lebih elastis dan lebih cerah karena proses regenerasi sel mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.

Efek farmakologi dari tanaman pisang adalah anti-ulcer, penyembuh luka, antioksidan, penangkal untuk gigitan ular, hipoglikemik, aterogenik dan augmentasi otot rangka.

”Jadi sangat penting untuk merasa nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari dengan kulit sehat terawat. Bahkan di zaman modern ini, semua manusia sangat memperhatikan penampilan. Kalian tidak ingin ketinggalan dalam menjaga penampilan bukan? Lagi pula orang yang memperhatikan penampilannya dinilai sebagai orang yang berkepribadian baik,” tambah Raihan.

Karena itu, penampilan harus diperhatikan baik-baik. Dalam dunia kerja penampilan merupakan salah satu indikator kinerja yang diharapkan. Namun apabila dalam berpenampilan tetapi ada sebuah bekas luka di tubuh pada area yang terlihat, maka bisa mengurangi penampilannya.

Ditambahkan oleh Veredita Rusydiana, anggota tim, losion ini mampu membantu rasa percaya diri dalam menjalani aktivitas. Losion juga dibuat dari bahan dasar yang mempunyai beragam potensi, apalagi dijual dengan harga Rp 33.000,00/buah yang sangat terjangkau.

”Harga ini lebih terjangkau bila dibandingkan dengan produk sejenis yang mempunyai manfaat serupa. Jadi, buat kamu yang ingin merasakan khasiat dari Losion Terangkanlah dapat menghubungi kami, antara lain di Line: @aoh4438z atau WA: 087851188217,” kata Rusydiana, seraya menjelaskan selama ini sudah terjual 283 buah. (*)

Editor: Bambang Bes




bakteri

Ekstrak ’Bougenville’ Efektif Hambat Pertumbuhan Bakteri yang Menyerang Lele

UNAIR NEWS – Budidaya lele tergolong mudah dan banyak diminati oleh berbagai kalangan masyarakat. Baik dari kalangan pembudidaya ikan yang hanya sekedar hobi hingga sector wiraswasta komersil yang memanfaatkannya untuk komuditas dagangan secara besar-besaran.

 

Namun perlu di waspadai, penyakit yang seringkali menginfeksi lele seperti penyakit borok atau yang dikenal dengan nama motile aeromonas septicemia (MAS) dapat mengganggu pertumbuhan ikan. Menyebabkan lele menjadi kembung, mengambang dan mengalami kematian. Maka perlu adanya pemanfaatan bahan-bahan alami, dalam hal ini bunga Bougenville.

Hal tersebut menarik perhatian tiga mahasiswa dari program studi Budidaya Perairan PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi, yaitu Rina Suliestyana, Diyas Kamila Alif, dan Ayu Nur Imaniy. Mereka mencoba mencari alternatif penyelesaian masalah tersebut dengan menyusun proposal PKM Penelitian Eksakta (PKM-PE).

Dibawah bimbingan Mohammad Faizal Ulkhaq, S.Pi., M.Si., staf pengajar UNAIR di Banyuwangi, penelian mereka yang berjudul ”Studi In Vivo Ekstrak Bougenville (Bougainvillea Glabra) Sebagai Anti Aeromonas Hydrophila Pada Ikan Lele (Clarias Gariepinus)” berhasil lolos pendanaan dari Dikti dalam program PKM tahun 2018.

”Penyakit MAS dapat menginfeksi ikan lele dan juga dapat menyerang semua jenis ikan air tawar. Penyakit MAS diakibatkan terutama oleh Aeromonas hydrophila. Kematian ikan lele yang terinfeksi A. hydrophila dapat mencapai 100%. Pengobatan yang biasa digunakan adalah antibiotik,” tutur Rina Suliestyana, ketua PKM-PE ini.

Salah satu upaya dalam rangka mengatasi kejadian MAS yang dapat dilakukan adalah dengan pemanfaatan bahan alami yang memiliki khasiat tertentu sebagai obat tradisional.

Ditambahkan oleh Rina Suliestyana, ketua tim PKM tersebut, tujuan penelitian ini untuk menganalisis kandungan senyawa antibakteri pada ekstrak bougenville dan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak Bougenville terhadap nilai kelangsungan hidup ikan lele yang terinfeksi Aeromonas hydrophila.

Peneltian ini dilakukan selama lima bulan, yaitu mulai Maret hingga Juli 2018, berlokasi di ruang laboratorium PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Parameter yang diamati yaitu pertambahan berat, laju pertumbuhan, konversi pakan, dan tingkat kelulushidupan.

”Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji pemberian ekstrak Bougenfill sebagai anti bakteri Aeromonas hydrophila dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada ikan lele yang telah diberikan bakteri Aeromonas hydrophila. Sedang pemberian ekstrak bougenfill dengan konsentrasi 100% dinilai lebih efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri,” ujar Rina.

Dengan adanya penelitian mengenai antibakteri yang berasal dari tanaman Bougenville ini, kelak diharapkan dapat digunakan sebagai antibakteri alternatif yang mudah penggunaannya.

Kedepannya antibakteri ekstrak Bougenville yang sudah diaplikasikan pada kegiatan budidaya ini akan diajukan untuk mendapatkan hak paten, sehingga dapat diedarkan kepada masyarakat sebagai antibakteri alternatif yang lebih terjangkau harganya. (*)

Penulis : Siti Mufaidah

Editor : Bambang Bes