Mahasiswa Vokasi UNAIR Siapkan Perangkat Iot untuk Distribusi Vaksin Aman

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prototype Iot untuk distribusi vaksin. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Prestasi mengesankan datang dari tim mahasiswa program studi Otomasi Sistem Instrumentasi (OSI) Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (UNAIR). Tim Astrai Next gen berhasil meraih juara III dalam ajang Olimpiade Vokasi Indonesia (Olivia) 2021 kategori lomba industri bidang piranti cerdas. Tim mencetuskan ide mengenai safety monitoring dan tracking untuk transportasi distribusi vaksin.

Halid Misfal selaku ketua tim memaparkan bahwa vaksin Covid-19 menjadi sebuah kebutuhan yang krusial untuk mengatasi pandemi. Ia ingin memastikan proses distribusinya aman melalui perangkat IoT yang dibuatnya bersama tim.

“Jadi kita menciptakan sebuah perangkat IoT untuk monitoring suhu dan kelembapan saat pendistribusian vaksin,” terangnya. Dalam hal ini, tim menawarkan sensor temperatur suhu pada cold chain Thermo king sehingga bisa terbaca kualitas vaksin selama perjalanan.

Pasalnya, sambung Halid, sifat vaksin Covid-19 sendiri sangat sensitif terhadap suhu udara. Sebagai contoh vaksin Covid-19 dari Pzifer yang harus disimpan dalam suhu -25 sampai -15◦C.

Sementara untuk memantau keberadaan vaksin agar tujuannya terarah hingga ke tempat pelaksanaan vaksinasi, Halid dan tim juga menawarkan fitur lain.

“Kami juga menambahkan fitur Tracking GPS untuk pelacakan cold chain (rantai dingin)secara realtime, dan semua bisa dipantau melalui aplikasi android yang telah kami development,” imbuhnya.

Tim Astrai Next gen berhasil meraih juara III dalam ajang Olimpiade Vokasi Indonesia (Olivia) 2021 kategori lomba industri bidang piranti cerdas. (Dok. Pribadi)

Selanjutnya mengenai terbentuknya tim, Halid menyebutkan bahwa mereka sebelumnya memang tergabung dalam satu komunitas bernama Astrai Robotic Team.

“Saya ditemani Riyan Ramadhan dan Nadheta Maulidia, teman satu komunitas. Jadi, kita sama-sama memiliki ketertarikan di bidang tersebut,” ucap Halid.

Meskipun satu ketertarikan, tak menutup kemungkinan mereka mendapati hambatan. Kendala saat koordinasi pembuatan perangkat dan aplikasi IoT pada android sempat terjadi.

“Jadi ketika lomba sudah dekat, kita (tim, Red) ada perbedaan maksud dalam proses menyusun fitur dan pemrograman. Yah, untungnya itu teratasi berkat support lingkungan termasuk dosen,” ungkapnya.

Mengakhiri percakapan saat dihubungi tim UNAIR NEWS, Halid menyampaikan harapan atas inovasinya tersebut.

“Kedepannya kita bakal melakukan upgrade sensor yang benar-benar untuk industrial dan juga membuat simulasi perangkat IoT, yang kemudian bisa dipasangkan ke truck cold chain jadi visualisasi-nya bisa terlihat jelas,” tutup mahasiswa vokasi itu.

Sebagai informasi, UNAIR sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia yang mendukung mahasiswanya untuk berprestasi di skala nasional dan internasional. (*)

Penulis : Viradyah Lulut Santosa

Editor  : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp