Mengenal Egg Freezing, Berikut Penjelasannya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
dr Jimmy Yanuar Annas SpOG(K) (Submer foto: Web RSIA Kandangsari Surabaya)

UNAIR NEWS – Teknologi kesehatan terus berkembang. Selain aplikasi kesehatan, berbagai teknologi di bidang kesehatan juga lahir untuk mempermudah pasien. Salah satunya adalah pada bidang obstetri dan gynecology (OBGYN). Baru-baru ini, aktris Luna Maya menjadi sorotan karena mengaku telah melakukan pembekuan sel telur (egg freezing) atau dalam istilah medis dikenal dengan mature oocyte cryopreservation.

dr Jimmy Yanuar Annas SpOG(K) kepada UNAIR NEWS (18/3), menyebut bahwa egg freezing adalah proses pembekuan sel telur, dimana dalam metode ini sel telur wanita diambil dari ovarium, selanjutnya dibekukan saat tidak dibuahi dan disimpan untuk digunakan ketika wanita tersebut telah siap untuk memiliki anak.

Ketika seseorang tersebut telah siap, sambungnya, maka proses akan dilanjutkan dengan fertilisasi in vitro atau bayi tabung. Yakni sel telur dibuahi dan kemudian ditanamkan pada rahim wanita tersebut.

“Sebenarnya tujuan dari egg freezing ini bermacam-macam. Utamanya dibagi menjadi dua yaitu dari indikasi medis dan indikasi sosial,” ujar staff pengajar Divisi Fertilitas Endokrinologi Reproduksi FK UNAIR itu.

Indikasi medis, lanjutnya, dapat berupa adanya keganasan (kanker) pada sel di bagian organ reproduksi wanita, utamanya pada ovarium. “Pada stadium tertentu masih dapat dilakukan kriopreservasi kesuburan,” ungkapnya.

dr Jimmy menekankan bahwa kriopreservasi yang dilakukan saat program egg freezing oleh wanita bukan tanpa resiko. Beberapa terapi kanker, tandasnya, seperti kemoterapi, radiografi dapat memicu terjadinya menopause.

“Selain kanker ganas, penanganan yang dapat menurunkan jumlah sel telur juga menjadi pilihan untuk egg freezing adalah wanita yang mengidap endometriosis,” jelas dr Jimmy.  

Lebih lanjut, dr Jimmy menuturkan bahwa indikasi medis berikutnya adalah kelainan bawaan atau kongenital. Namun hal tersebut, tandasnya, juga masih menjadi kontroversi di dunia medis. Sebab masih ada indikasi kelainan kromosom, yang mana jika tetap dilakukan kriopreservasi sel telur, angka keberhasilan untuk hamil sangat rendah.

“Untuk indikasi sosial bisa dari kesibukan wanita yang sangat padat, sehingga belum sempat menikah di usia produktif. Namun masih tetap ingin memiliki keturunan nantinya,” papar dr Jimmy.

Selain itu, tambahnya, perlu diingat bahwa proses egg freeing  ideal adalah sebelum usia  40 tahun atau bahkan sebelum 35 tahun. Alasannya adalah pada rentang usia tersebut sel telur masih sehat.

Dengan perkembangan teknologi bidang reproduksi, dr Jimmy  berharap masyarakat  harus lebih kritis menyikapi masalah kesehatan, utamanya adalah hal egg freezing. “Masyarakat yang ingin melakukan egg freezing harus memikirkan secara matang dan harus rutin berkonsultasi dengan dokter,” pungkasnya. (*)

Penulis : Muhammad suryadiningrat

Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS