Urtikaria pada Pasien COVID-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto oleh Apotheken Umschau

COVID-19 atau coronavirus disease 2019 adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada bulan Desember tahun 2019. Penyakit ini dapat menular dengan cepat antar manusia yang menyebabkan penyebarannya cepat meluas ke berbagai negara di dunia hingga Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan situasi pandemi global COVID-19 sejak tanggal 11 Maret 2020. Kasus COVID-19 yang ditemukan di berbagai negara terus bertambah hingga bulan Juni tahun 2020 diperkirakan telah ditemukan lebih dari 9 juta kasus COVID-19 di dunia. Di Indonesia sendiri, pemerintah memberlakukan berbagai upaya pembatasan kegiatan masyarakat untuk menekan laju penyebaran virus ini. Hingga bulan Juni tahun 2020 terdapat sekitar 47 ribu kasus COVID-19 dan lebih dari dua ribu kasus kematian akibat COVID-19.

Gejala yang sering ditemukan pada penderita COVID-19 adalah demam, batuk, dan produksi dahak yang banyak. Selain itu bisa didapatkan sejumlah gejala yang tidak khas seperti mudah lelah, nyeri kepala, nyeri otot, mual/muntah, diare, hidung tersumbat, hilangnya kemampuan mengecap, hilangnya kemampuan mencium bau, atau timbul ruam di kulit. Sebuah penelitian mendapatkan 20,4% dari 88 pasien COVID-19 yang diteliti mengalami keluhan pada kulitnya berupa ruam, biduran/urtikaria, atau muncul bintil/plenting pada kulit yang menyerupai penyakit cacar air. Namun belum ada kepastian apakah keluhan kulit tersebut muncul dikarenakan oleh penyakit COVID-19 itu sendiri atau merupakan efek dari obat-obatan yang diberikan.

Sampai saat ini belum ada terapi yang pasti untuk penyakit COVID-19. Pengobatan pada pasien COVID-19 diberikan atas dasar bukti-bukti ilmiah pada penyakit serupa dan beragam penelitian pun dilakukan untuk mengetahui efek dan manfaat obat-obatan tersebut terhadap penyakit COVID-19. Salah satu obat yang lazim diberikan pada pasien COVID-19 adalah obat antivirus. Obat antivirus yang digunakan untuk mengobati HIV/AIDS atau disebut dengan obat antiretroviral juga lazim diberikan kepada pasien COVID-19, antara lain Lopinavir/Ritonavir. Salah satu efek samping pengobatan antiretroviral pada pasien HIV/AIDS yang telah terlaporkan adalah munculnya keluhan kulit seperti bercak dan bintil-bintil kemerahan pada kulit serta urtikaria. Pada pengobatan dengan Lopinavir/Ritonavir efek samping yang umum ditemukan adalah munculnya ruam dan bintil kemerahan, namun belum ada yang melaporkan munculnya urtikaria setelah konsumsi obat tersebut dan belum ada laporan kasus yang menemukan efek samping yang serupa pada pasien COVID-19 akibat pemberian terapi antiretroviral.

Sebuah kasus COVID-19 dilaporkan adanya gejala urtikaria di mana pasien tersebut juga mendapatkan terapi antiretroviral yaitu Lopinavir/Ritonavir. Gejala urtikaria pada pasien tersebut muncul pada bagian tangan dan menyebar ke kedua kaki beberapa jam setelah pemberian Lopinavir/Ritonavir. Urtikaria atau yang lebih dikenal dengan istilah biduran adalah sebuah reaksi peradangan sementara pada kulit atau mukosa berupa ruam kemerahan yang menimbulkan benjolan dan terasa gatal. Munculnya urtikaria dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain infeksi, reaksi obat, reaksi gigitan serangga, dan makanan. Infeksi pada saluran pernapasan sering dikaitkan dengan munculnya urtikaria.

Urtikaria pada kasus COVID-19 dapat terjadi bersamaan atau sebelum muncul gejala COVID-19 yang umum seperti demam atau batuk. Urtikaria juga dapat muncul seiring dengan progresi penyakit COVID-19 yaitu beberapa hari sampai beberapa minggu setelah terdiagnosa COVID-19. Belum ada penyebab pasti dari munculnya gejala urtikaria pada pasien-pasien COVID-19 tersebut, namun ada kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh penyakit COVID-19 melalui pengaktifan zat-zat peradangan di dalam tubuh selama progresi penyakitnya, terutama pada kasus COVID-19 dengan demam.

Kemungkinan penyebab lain yang patut diperhatikan adalah reaksi kulit yang diinduksi oleh obat yang juga dapat menyebabkan gejala urtikaria. Beberapa laporan kasus yang menemukan gejala urtikaria pada pasien COVID-19 juga melaporkan pemberian beberapa macam obat yang masih ada kemungkinan menjadi penyebab munculnya urtikaria pada kasus tersebut. Dengan adanya dua kemungkinan penyebab urtikaria pada kasus COVID-19, maka dibutuhkan studi kasus yang lebih mendalam untuk dapat mengetahui penyebab dan proses terjadinya keluhan kulit pada pasien COVID-19.

Penulis: Prof.Dr.Cita Rosita Sigit Prakoeswa,dr.,Sp.KK(K)

Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:

https://jpad.com.pk/index.php/jpad/article/view/1773

Urticaria in COVID-19 Patient Treated with Lopinavir/ Ritonavir

C.R.S. Prakoeswa, Damayanti, S. Anggraeni, M.A. Umborowati, M.D. Alinda, N. Tanojo, J.M.R. Tamba, B. Yogatri, Soedarsono*, A. Permatasari*, B.P. Semedi

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp