Tantangan Mewujudkan Kota Berkelanjutan yang Waspada dan Tanggap Bencana di Bagian Selatan Pulau Jawa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto by Korankusut

Salah satu bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs) adalah mewujudkan pembangunan kota yang berkelanjutan. Membangun suatu kota yang inklusif, aman, kuat, dan berkelanjutan merupakan cita – cita seluruh negara di dunia. Oleh sebab itu, banyak konsep pembangunan berkelanjutan yang diterapkan di berbagai kota untuk mewujudkan kota yang baik dan kota yang hijau. Selain itu, kota tersebut harus dibangun dengan konstruksi yang waspada dan tanggap terhadap bencana. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia.

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng utama dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik sehingga Indonesia dikenal sebagai wilayah cincin api. Hal ini menyebabkan bencana alam seperti gempa bumi dan gunung meletus sering terjadi di Indonesia. Gempa bumi tersebut terjadi dengan tingkat kekuatan magnitudo yang berbeda – beda. Selain itu, kedalaman gempa yang terjadi juga bervariasi yang dapat diklasifikasikan sebagai gempa dalam, sedang, dan dangkal. Oleh sebab itu, dilakukan penelitian yang menggunakan kedalaman gempa sebagai faktor yang mempengaruhi besarnya magnitudo gempa.

Dalam hal ini, penelitian dilakukan dengan pendekatan analisis spasial yaitu analisis regresi spasial. Analisis tersebut merupakan pengembangan model regresi linier dengan melibatkan efek jarak antar lokasi pengamatan. Secara khusus, metode yang digunakan adalah Geographically Weighted Regression (GWR). Metode tersebut dapat mengakomodasi pengaruh dari variabel prediktor terhadap variabel respon. Variabel prediktor yang digunakan dalam penelitian ini adalah kedalaman gempa dan variabel respon yang digunakan adalah besarnya magnitudo gempa yang terjadi di bagian selatan Pulau Jawa.

Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa model GWR merupakan model yang sesuai untuk digunakan dalam pemodelan data magnitudo gempa yang terjadi di bagian selatan Pulau Jawa. Hal tersebut ditandai dengan hasil uji kesesuaian model yang signifikan secara statistik. Lebih lanjut, diperoleh bahwa kedalaman gempa berpengaruh signifikan pada besarnya magnitudo gempa yang terjadi di sejumlah wilayah pada bagian selatan Pulau Jawa. Wilayah tersebut meliputi bagian Samudera Hindia (dekat Pulau Sempu, Hutan, Tambakrejo, Sumbermanjing, Malang, Jawa Timur) dan bagian Samudera Hindia (dekat Pantai Kondang Merak, Sumberbening, Bantur, Malang, Jawa Timur).

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam membuat solusi mitigasi bencana gempa bumi khususnya di wilayah pesisir Pulau Jawa. Hal tersebut disebabkan gempa bumi sering terjadi di laut berdasarkan data yang diperoleh. Oleh sebab itu, hasil penelitian juga dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan lokasi pelabuhan dan bandar udara suatu daerah untuk menghindari bencana gempa yang dapat terjadi. Dengan perencanaan pembangunan yang baik, maka setiap kota di Indonesia dapat menjadi kota yang berkelanjutan, khususnya kota yang waspada dan tanggap terhadap potensi bencana di Indonesia.

Oleh: M. Fariz Fadillah Mardianto, S.Si., M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada artikel ilmiah berikut:

The Modelling of Earthquake Magnitudo in The Southern Part of Java Island Using Geographically Weighted Regression published in Communications in Mathematical Biology and Neuroscience Vol.2022 No.2022 (2022), 13 (Scopus Q3). Authors: Sediono, M. Fariz Fadillah Mardianto, Siti Maghfirotul Ulyah, Alvito Aryo Pangestu, Rita Susanti, Haydar Arsy Firdaus, dan Christopher Andreas dengan link sebagai berikut: https://doi.org/10.28919/cmbn/6753

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp