Faktor yang Memengaruhi Kepatuhan Minum Obat pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto by Mayapada Hospital

Diabetes melitus adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemi kronik sehingga terjadi perubahan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang diakibatkan oleh gangguan sekresi insulin atau aktifitas insulin. Indonesia menempati urutan ke-7 untuk prevalensi penderita diabetes melitus dengan jumlah 10 juta setelah urutan negara Cina, Amerika Serikat, Brazil, Rusia, dan Meksiko. Pada penderita diabetes melitus dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi komplikasi seperti penyakit retinopati yang menyebabkan kebutaan, nefropati dengan potensial gagal ginjal, dan neuropati serta terdapat risiko ulkus kaki dan amputasi dan juga disfungsi saraf otonom.

Pengobatan lini pertama pada penderita diabetes melitus tipe 2 adalah dengan pemberian obat oral antidiabetes untuk mengontrol kadar gula dalam darah. Kepatuhan dalam minum obat pada penderita penyakit kronis seperti diabetes melitus adalah salah satu faktor penting untuk melihat keberhasilan terapi, meskipun kenyataannya hanya 50% pasien dengan penyakit kronis yang patuh dalam terapi pengobatan. Ada banyak faktor yang menyebabkan penderita diabetes melitus tidak patuh pada pengobatannya seperti rasa tidak nyaman dalam menggunakan obat yang menyebabkan pasien berhenti minum obat. Selain itu, merasa kondisinya lebih baik, beberapa pasien menghentikan terapi tanpa berkonsultasi dengan dokter dan tenaga kesehatan yang lain. Kepatuhan itu sendiri bisa dipengaruhi oleh faktor dari pasien, penyakit, jenis pengobatan dan hubungan atau interaksi pasien dengan tenaga kesehata.

Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk melihat faktor dan hambatan apa saja yang menyebabkan ketidakpatuhan minum obat pada penderita diabetes melitus. Penelitian yang dilakukan di tahun 2019 di 63 puskesmas di Surabaya bertujuan untuk melihat faktor apa saja yang menghambat penderita diabetes melitus untuk patuh dalam terapi yang dijalaninya. Sebanyak 266 penderita diabetes melitus tipe 2 dengan rata – rata usia 61 tahun yang sedang berkunjung ke puskesmas untuk berobat, ikut berpartisipasi dalam penelitian ini. Responden diminta untuk mengisi kuesioner secara langsung yang berkaitan dengan hambatan yang mereka rasakan yang dapat memengaruhi kepatuhan mereka dalam menjalankan terapi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya 30% responden patuh kepada terapi pengobatan diabetes melitus. Hambatan paling besar yang dirasakan oleh pasien adalah bahwa mereka khawatir dengan efek samping dari obat anti diabetes yang mereka konsumsi sehingga Sebagian besar dari mereka berhenti minum obat secara rutin. Hal ini dilakukan tanpa berkonsultasi dengan dokter atau apoteker yang merawatnya. Ketidakpatuhan paling besar juga terlihat dari banyak nya pasien diabetes melitus yang tidak menebus obat antidiabetes nya secara rutin dan teratur sesuai waktu yang telah disampaikan oleh dokter yang merawatnya. Hambatan yang dialami pasien terkait terapi ini berkorelasi secara langung dengan ketidakpatuhan pasien diabetes melitus tipe 2. Tentu saja, situasi ini membutuhkan perhatian penuh terutama dari tenaga kesehatan dan pembuat kebijakan.

Mengingat bahwa responden di penelitian ini adalah meraka yang termasuk orang tua, pemerintah dan penyedia layanan kesehatan harus memberikan perhatian khusus kepada populasi yang rentan termasuk  lanjut usia dan mempunya penyakit lain selain diabetes melitus. Peran aktif dar tenaga kesehatan termasuk apoteker dalam memberikan edukasi terkait pentingnya kepatuhan dalam menjalani terapi pengobatan untuk penyakit kronis seperti diabetes melitus sangat diperlukan. Pemahaman tentang pentingnya menjalani terapi secara rutin dapat meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien dengan penyakit kronis. Pemberian jaminan kesehatan terkait ketersediaan obat yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat juga merupakan langkah penting untuk mengoptimalkan kepatuhan terapi pengobatan pada pasien dengan penyakit kronis. Ke depan, diperlukan penelitian yang lebih mendalam terkait tindakan atau intervensi apa yang paling efektif untuk meningkatkan kepatuhan dalam pengobatan pada pasien diabetes melitus tipe 2 atau penyakit kronis lainnya. Hasil penelitian ini secara lengkap dapat dibaca pada Journal of Diabetes & Metabolic Disorders yang terbit di bulan Januari, 2022.

Ditulis oleh: Elida Zairina, Gesnita Nugraheni, Arie Sulistyarini, Mufarrihah, Catur Dian Setiawan, Sunil Kripalani dan Safira Indah Lestari

Judul Artikel: Factors related to barriers and medication adherence in patients with type 2 diabetes mellitus: a cross-sectional studyLink Artikel: https://link.springer.com/article/10.1007/s40200-021-00961-6

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp