Analisis Hubungan Beban Kerja dan Posisi Kerja dengan Kelelahan Kerja pada Pekerja Bagian Sub Unit Ekspedisi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto oleh lancuchzycia.eu

Beban kerja merupakan salah satu risiko yang dihadapi oleh setiap tenaga kerja dalam jangka waktu pendek maupun panjang, khususnya pada pekerja yang membutuhkan aktivitas fisik. Beban kerja pada pekerja yang melebihi ambang batas dapat menyebabkan kelelahan fisik dan psikis yang berdampak pada produktivitas dari pekerja. Kelelahan fisik dapat ditandai dengan peningkatan kadar asam laktat di dalam darah pekerja, serta dapat dinilai dari perhitungan posisi kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara beban kerja dan posisi kerja dengan kelelahan pada tenaga kerja di sub unit ekspedisi di PT. Kerta Rajasa Raya.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional, yang dilaksanakan pada bulan juli –  agustus 2020. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pekerja di sub bagian ekspedisi circular loom dan jumbo bag. Sampel penelitian adalah total populasi di sub bagian ekspedisi circular loom dan jumbo bag PT. Kerta Rajasa Raya yaitu 36 orang. Metode yang di gunakan untuk menilai beban kerja dan posisi kerja dengan kelelahan kerja dengan menggunakan SNI 7269-2009,kuisioner, alat Accutrend Plus Merk Roche.

Data dianalisis, menggunakan uji statistik untuk melihat hasil koefisien asosiasi guna menganalisis hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik individu dan beban kerja fisik memiliki hubungan yang lemah terhadap kelelahan fisik. Beban kerja fisik memiliki hubungan yang lemah terhadap kelelahan fisik dengan nilai koefisiensi asosiasi 0.232 Beban kerja mental memiliki hubungan sangat lemah terhadap kelelahan mental dengan nilai koefisien asosiasi 0.058. Posisi kerja memiliki hubungan yang lemah terhadap kelelahan fisik dengan nilai koefisiensi asosiasi 0.354. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kelelahan kerja  memiliki hubungan dengan berbagai faktor, diantaranya adalah faktor individu, jenis pekerjaan dan juga posisi dalam bekerja. Disarankan kepada manajemen perusahaan untuk memberikan alat bantu manual handling, edukasi pelatihan dan sosialisai ergonomi, pemeriksaan kesehatan berkala, peningkatan status gizi melalui program gizi kerja, konseling dan pelatihan fisik ringan untuk peregangan otot kepada pekerja.

Penulis: Dr. Noeroel Widajati, S.KM, M.Sc

Link Jurnal: https://e-journal.unair.ac.id/IJOSH/article/view/22938

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp