Crafting Taiwan-Southeast Asian Relations with Halal Tourism

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto oleh tunjukjalan.his.com.my

Tulisan ini membahas pariwisata halal sebagai jembatan strategis untuk membawa Taiwan lebih dekat dengan negara-negara Asia Tenggara. Unsur strategis pariwisata halal tidak hanya terletak pada keuntungan material tetapi juga pada banyak faktor politik-strategis dan sosial budaya. Presiden Tsai Ing-wen telah menempatkan Asia Tenggara sebagai prioritas Taiwan dalam New Southbound Policy (NSP) yang diadopsinya pada tahun 2016. Kami berpendapat bahwa dalam kasus Taiwan, pariwisata halal tidak hanya menarik pariwisata tetapi juga berfungsi sebagai kekuatan lunak (soft power) untuk lebih meningkatkan visibilitas Taiwan di Asia Tenggara dan dunia Muslim. Pariwisata Halal adalah cara Taiwan untuk menghadapi Cina yang semakin berpengaruh di Asia Tenggara. Pariwisata halal juga menjadi alat ampuh bagi Taiwan untuk menunjukkan identitasnya kepada orang Asia Tenggara. Ketiga, NSP memungkinkan pariwisata halal menjadi peluang pasar yang berkembang baik bagi Taiwan, walaupun banyak tantangan yang dihadapinya.

Salah satu masalah utama yang dihadapi Taiwan dalam hubungan luar negerinya yang sulit adalah karena “Kebijakan Satu China.” Meskipun kebijakan tersebut memungkinkan Taiwan untuk terlibat dalam hubungan di luar masalah politik dan militer, dalam praktiknya, kekuatan dan pengaruh Tiongkok yang tumbuh secara bertahap menenggelamkan keberadaan Taiwan di dunia. Karena status politiknya yang unik, hanya 14 dari 193 negara anggota PBB yang masih mengakui kedaulatan Taiwan. Karena itu Taiwan harus memperluas hubungan ke negara lain untuk mendapatkan lebih banyak simpati dan mempromosikan dirinya untuk mengembangkan status kewarganegaraan internasional yang baik. Posisinya yang relatif lemah dalam politik global tidak menghalangi Taiwan untuk bergaul dengan negara lain melalui hubungan antar masyarakat. Masa depan Taiwan tergantung pada kemampuannya untuk keluar dari jebakan lingkungan internasional yang tidak menguntungkan. NSP merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan melalui diversifikasi hubungan.

Taiwan telah melakukan berbagai upaya untuk terus mempertahankan kelangsungan hidup dan eksistensinya sebagai sebuah negara. Jaminan kekuatan militer dari Amerika Serikat masih penting, namun China menunjukkan bahwa pihaknya tidak akan mewujudkan integrasi dengan Taiwan melalui kekuatan militer. Sebaliknya, China menggunakan pengaruh politik, ekonomi, dan budayanya untuk meminggirkan keberadaan, hubungan, dan pengaruh Taiwan secara tidak langsung. Dengan kata lain, China menggunakan soft power untuk mengesampingkan Taiwan

dalam politik global. Karena itu, Taiwan tidak punya pilihan selain memperkuat soft powernya untuk menunjukkan kehadirannya dalam hubungan luar negeri. Menyadari situasi ini, di bawah Presiden Tsai Ing-wen, Taiwan mengurangi ketergantungannya pada China dan kembali ke Kebijakan Go South 2016 dengan nama baru, New Southbound Policy (NSP).

NSP mendasari pariwisata sebagai sektor prospektif untuk menciptakan pasar baru di Taiwan. Kebijakan tersebut menyoroti keunggulan pariwisata halal dengan menekankan pentingnya bermitra dengan negara-negara Asia Tenggara untuk mengembangkan peluang di sektor bisnis. Dalam konteks itu, kami berpendapat bahwa Taiwan dapat memperoleh perhatian, keuntungan, dan visibilitas yang meningkat ketika memiliki lebih banyak pengetahuan tentang budaya Muslim Asia Tenggara. Dengan jumlah muslim yang hanya 0,2 persen dari total penduduknya, Taiwan perlu lebih mendekatkan diri pada Asia Tenggara untuk menjalankan pariwisata halal. Tren positif kedatangan wisatawan Muslim ke Taiwan memberi kesempatan Taiwan untuk meraup keuntungan besar dari wisatawan Asia Tenggara. Walaupun jumlah wisatawan Muslim ke Taiwan saat ini relatif kecil, baru-baru ini Taiwan dinobatkan sebagai tujuan terpopuler ketujuh (peringkat kesepuluh pada 2015 dan dari 130 tujuan non-OKI di seluruh dunia dalam Global Master Index. Bahkan pada tahun 2019, Taiwan menempati peringkat ketiga di antara tujuan wisata Muslim non-OKI, bersama dengan Jepang dan Inggris.

Mengembangkan industri halal dan fasilitas ramah Muslim di Taiwan dapat mendukung NSP merupakan salah satu bentuk soft power Taiwan. Melalui kebijakan ini, Taiwan akan menjadi pusat pariwisata ramah Muslim. Upaya ini tergolong baru dan berpeluang besar karena dapat menjadikan Taiwan sebagai daya tarik bagi turis muslim dan industri halal. Pariwisata halal juga dapat menyoroti kompatibilitas Taiwan dengan identitas multikultural, demokrasi, dan toleransinya yang kuat. Hal ini pada gilirannya akan mengkonfirmasi kehadiran Taiwan yang membedakannya dari China daratan yang condong ke arah otoritatif. Persepsi wisatawan Muslim yang kuat tentang sebuah negara dibentuk oleh pengalaman perjalanan mereka. Dengan mengakui peran wisatawan Muslim dalam membentuk citra publik Taiwan, konektivitas antar masyarakat dapat dicapai. Esensi NSP bertemu dengan tujuan Komunitas ASEAN ketika masyarakat Taiwan dan Asia Tenggara saling mengenal dan memahami, dan terdapat peluang untuk bekerja sama secara positif.

Penulis: Baiq Lekar Sinayang Wahyu Wardhani, Dra., MA., Ph.D

Link Jurnal: https://www.proquest.com/openview/7363db6b1f1b8c2be6066f20b2b0bee3/1?pq-origsite=gscholar&cbl=2042768

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp