Mahasiswa FTMM UNAIR Sabet Silver Medal di Ajang Internasional YIC 2021

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Aisyah Afnan di ajang Youth Inventors Challenge (YIC) 2021. (Foto: dokumen pribadi)

UNAIR NEWS – Ksatria Airlangga kembali menorehkan prestasi di kompetisi internasional. Aisyah Afnan, mahasiswi baru Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga (FTMM UNAIR) berhasil bersaing dengan 1700an peserta dan menyabet silver award dalam kompetisi Young Inventors Challenge (YIC) 2021. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Association of Science Technology and Innovation (ASTI) dari Malaysia, secara virtual.

Titik fokus dari YIC 2021 yakni inovasi dan penelitian. Sehingga kemudian Sassya, sapaan akrabnya, berinovasi melalui karya alat yang ia beri nama Smanu (Smart Nurse): Digital Vital Signs and Intravenous Drip Monitor. Smanu merupakan alat untuk memantau suhu, detak jantung, saturasi oksigen, volume, dan flowrate (laju alir, Red) pada infus. 

“Alat yang saya ciptakan menerapkan sistem Internet of Things (IoT) sehingga, SMANU terintegrasi dengan gawai atau komputer. Saya berharap dengan alat ini, tenaga kesehatan dapat dengan mudah untuk memantau kondisi pasien dan mengurangi kontak langsung dengan mereka yang terkena virus Covid-19,” terang Sassya. 

Lebih lanjut, Sassya menuturkan bahwa perjuangannya dalam kompetisi tersebut tidak mudah. “Sejak bulan April tahun 2021 hingga Oktober 2021, saya berkutat dengan kompetisi YIC ini. Itu berarti bahwa saya telah berjuang di kompetisi ini sejak SMA,” imbuhnya.

Perjuangan Sassya dimulai dari tanggal 8 April 2021 dengan tahapan menyusun proposal. Setelah dinyatakan lolos, pada September 2021 ia mengumpulkan laporan dan video karya. Selanjutnya Sassya terpilih menjadi finalis yang melakukan presentasi dan wawancara pada Oktober 2021, hingga kemudian ia diumumkan sebagai salah satu pemenang pada tanggal 20 November 2021.

“Alhamdulillah perjuangan saya selama enam bulan itu tidak sia-sia. Prestasi ini telah mewujudkan mimpi saya untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Meskipun di tengah proses pembuatan Smanu juga menemui banyak kendala, seperti mencari subjek penelitian,serta pembagian waktu antara akademik dan lomba,” ungkapnya.

Namun Sassya bersyukur, bahwa banyak yang mendukungnya di tengah kendala yang dihadapi. “Saya bersyukur karena banyak yang mendukung saya, seperti pendampingan dari tim Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), guru-guru SMA saya terutama kepala sekolah yakni Bapak Sutardi, S. Pd, M. Pd, dosen-dosen di Unair terutama dosen wali saya yakni ibu Dr. Eng. Intan Nurul. S. Si. M.T, hingga teman-teman robotika yakni Kakarobot. Mereka membantu saya untuk bisa melalui kendala-kendala tersebut,” tuturnya. 

Terakhir, Sassya juga mengatakan bahwa tidak ada kata terlambat untuk meraih mimpi. “Jangan pernah ragu untuk memulai hal baru, coba gali potensi, dan tentukan tujuan. Saya juga mengingat pesan pembina saya yakni ‘tidak ada hasil yang sia-sia dan penyesalan ketika kita memaksimalkan usaha,’” tutup mahasiswi Program Studi Rekayasa Nanoteknologi ini. 

Penulis: Fauzia Gadis Widyanti

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp