“Bojonegoro” Perkebunan, Pertambangan Minyak Bumi, dan Lahirnya Europeesche Lagere School

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto by Tugujatim

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam membangun intelektualitas bangsa. Dalam perkembangan sejarahnya, pendidikan di Indonesia melalui tiga fase yaitu masa tradisional (Husain, 2001), masa kolonial, dan masa kemerdekaan. Pada setiap fase tersebut tentunya sistem pendidikan yang digunakan juga berbeda-beda. Pengaruh masuknya bangsa Barat ke Indonesia menyebabkan dampak yang cukup besar, khususnya pada bidang pendidikan. Kehadiran pemerintah kolonial Belanda memiliki dampak positif untuk memajukan peradaban bangsa Indonesia, terutama penyelenggaraan pendidikan. Pada awal abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda mulai berfikir untuk mendirikan sekolah untuk anak-anak bumiputera dengan tujuan untuk mengisi jabatan pemerintah, terutama di kantor residen (Kartodirdjo, 1987:23).

Artikel ini menggunakan berbagai sumber yang diperoleh dari berbagai tempat seperti Delpher, website KITLV, Digitalcollections Universitas Leiden, Perpustakaan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Jawa Timur dan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Timur. Dengan menganalisis sejumlah bahan yang ditemukan tersebut, tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi perkembangan pendidikan dasar Eropa dan kontribusinya dalam memunculkan embiro elit pribumi. 

Pusat Perkebunan, Industri, dan Pembukaan ELS

Sejak awal pemerintahan kolonial Belanda, Bojonegoro dikembangkan menjadi pusat pemerintahan dan pusat industri perkebunan, seperti tembakau, jagung, tebu, kapuk, dan lain-lain. Selain itu, di Bojonegoro juga terdapat pertambangan minyak bumi. Terkait dengan hal tersebut, banyak pihak asing yang menanamkan modalnya di Bojonegoro. Oleh karena itu, di Bojonegoro terdapat banyak penduduk Eropa, baik sebagai pengusaha maupun aparatur pemerintah. Dengan demikian, dirasa perlu untuk mendirikan fasilitas pendidikan untuk anak-anak mereka. Berdirinya sekolah di Bojonegoro didorong oleh banyaknya orang-orang Eropa yang bermukim di wilayah ini. Penduduk Eropa yang menetap di Bojonegoro merupakan orang-orang Eropa yang memiliki perusahaan di Bojonegoro, pegawai kehutanan serta ada pula yang bekerja di pertambangan minyak bumi atau BPM (Bataafsche Petroleum Maatschapij). Sebagian dari mereka menetap di pedesaan yang terdapat wilayah perusahaan perkebunan dan sebagian besar dari mereka menetap di pusat kota Bojonegoro.

Pada tahun 1892 telah dibuka ELS di Bojonegoro, tepatnya di Distrik Bojonegoro dengan kepala sekolah bernama H. Sonius. Pada awal pembukaan sekolah, terdapat 27 murid, yang terdiri atas 17 murid anak Eropa dan 10 bumiputera. Pada tahun 1892, sekolah ini hanya memiliki satu orang tenaga pengajar, L. H. Van Deun yang diangkat pada tanggal 5 Februari 1892. Kemudian diangkat lagi tenaga pengajar yang berasal dari Belanda untuk ditempatkan di ELS Bojonegoro yaitu W. F. Fels dan seorang staf pengajar atau guru pembantu, J. J Van de Geijn (Algemeen Verslag van het Middelbaar en Lager Onderwijs voor Europeanen en Met Dezen Gelijkgestelden in Nederlandsch-Indie over 1892, 1893:174). Lama belajar di sekolah ELS adalah 7 tahun dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Adapun pelajaran yang diajarkan dalam sekolah ELS meliputi membaca, menulis, berhitung, dasar-dasar bahasa Belanda, sejarah negeri Belanda dan Hindia Belanda, ilmu bumi, ilmu alam, bernyanyi, dan latihan menulis halus. Kemudian ada mata pelajaran lanjutan yang diajarkan di ELS yaitu dasar-dasar bahasa Perancis, dasar-dasar bahasa Inggris, bahasa Belanda lanjutan, ilmu pasti, sejarah umum, dan menulis halus, sementara itu untuk pendidikan jasmani tidak diajarkan sebagaimana di tempat lain.

Selain itu, tenaga pengajar sekolah ELS ini juga didatangkan langsung dari Belanda. Fasilitas sekolah ini juga jauh lebih baik karena setiap tahunnya dilakukan perbaikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Adanya perbedaan yang sangat menonjol dengan sekolah bumiputera pada umumnya ini menyebabkan sekolah Eropa diminati oleh banyak orang yang menginginkan anak mereka mendapatkan pendidikan yang bermutu tinggi. Setelah berlakunya poltik etis pada awal abad ke-20 semakin banyak anak- anak Bumiputera yang dapat masuk ke ELS. Setiap tahunnya jumlah murid merangkak naik. Sebagian masyarakat bumiputera di Bojonegoro menganggap kebijakan politik etis ini sangat menguntungkan, terutama dalam bidang pendidikan. Lulusan dari sekolah ELS ini juga dapat lanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Lulusan dari sekolah ini juga dapat menduduki posisi pegawai pemerintahan maupu perusahaan swasta. Selain itu, lulusan dari sekolah rendah Eropa ini juga melahirkan kelompok elit intelektual baru dari golongan bumiputera. Sekolah Rendah Eropa ini juga menjadi cikal bakal lahirnya tokoh elit intelektual yang kemudian menjadi penggerak bangsa Indonesia dalam melawan kekuasaan kolonial. Golongan ini menjadi pelopor adanya berbagai organisasi pergerakan yang ada di Indonesia, dengan tujuan untuk memerdekakan bangsa mereka.

Penulis:Evita Pratiwi dan Sarkawi B. Husain

Informasi detail tentang riset ini dapat dilihat dalam tulisan kami di: https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/paramita/article/view/30512/pdf

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp