Pencemaran Sungai, Mahasiswa FPK Teliti Brantas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MAHASISWA FPK UNAIR melakukan penelitian di Sungai Brantas. (Foto: FPK UNAIR)
MAHASISWA FPK UNAIR melakukan penelitian di Sungai Brantas. (Foto: FPK UNAIR)

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga teliti pencemaran Sungai Brantas melalui Ecoton Foundation. mereka mewujudkan itu dengan mengelar webinar bertajuk ‘Konservasi Sungai Di Kawasan Suaka Ikan Kali Surabaya’, berlangsung secara daring pada Jumat (27/8/2021). Tiga mahasiswa prodi akuakultur angkatan 2018 Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR sekaligus peserta magang Ecoton Foundation berkesempatan menjadi narasumber webinar kali ini, yakni Ayu Wanda Dewantari, Aisyah Mahirah Sulthanadia, dan Dita Adriana Agatha.

Khawatir Tercemar Pabrik

Penelitian itu menjawab kekhawatiran atas kondisi perairan sungai yang sudah tercemar oleh limbah pabrik maupun domestik. Berfokus pada kandungan mikroplastik, plankton, dan bentos di sepanjang sungai Brantas (Surabaya-Gresik) dengan pengambilan sampel di tiga tempat berbeda. Ketiga titik tersebut yakni terletak di daerah Mlirip (hulu), Wringinanom (tengah), dan Legundi (hilir). 

Menurut Dita, sungai Brantas mengandung hasil proses degradasi sampah plastik. Beberapa faktor mempengaruhi proses degradasi mutu plastik, yakni radiasi sinar matahari, radiasi termal, proses oksidasi, pertumbuhan bakteri, dan gelombang laut. 

“Proses ini (degradasi plastik) menyebabkan perubahan warna, bentuk dan ukuran, densitas, serta perubahan kristalinitas,” terangnya.

Mahasiswa FPK Teliti Pencemaran Sungai Brantas.
Mikroplastik

Melihat hasil penelitian sampel air, bagian hulu sungai terbanyak memiliki kandungan mikroplastik berbentuk fiber. Pada bagian daerah tengah terbanyak mengandung mikroplastik berbentuk film. Sedangkan mikroplastik di daerah hilir berupa fragmen dalam jumlah paling banyak di antara tiga tempat lainnya. 

“Mikroplastik pada suaka ikan kali Surabaya yang paling banyak saya temukan, yaitu ukuran tiga puluh hingga seribu meter dengan jumlah 626 partikel. Bisa dibayangkan ini ukurannya sangat kecil, sehingga ukuran (kecil) seperti ini dapat dengan mudah termakan oleh biota perairan,” jelasnya.

Rata-Rata Plankton

Hasil riset jumlah plankton menemukan karakteristik yang hampir sama di ketiga titik pengambilan sampel. Sampel pada daerah hulu memiliki jumlah plankton paling tinggi berjenis Melosira sp. dengan rata-rata 22.77. Daerah tengah juga terdapat plankton Melosira sp. dengan jumlah rata-rata 11.37. Sedangkan di daerah hilir mendapatkan hasil yang sedikit berbeda, yakni memiliki jenis plankton Oscillatoria sp. yang mendominasi perairan tersebut dengan jumlah rata-rata 5.37. 

Setelah menghitung jumlah rata-rata plankton, ketiga mahasiswa melakukan kalsifikasi dengan menggunakan indeks keanekaragaman dan tingkat pencemaran. Menurut Wanda, hasil penrlitian setelah menggunakan indeks tersebut menunjukkan bahwa kondisi perairan sungai Brantas memiliki keanekaragaman yang sedang dan pencemaran sedang (tingkat menengah). 

Menghitung bentos memerlukan cara perhitungan biotilik untuk menentukan kriteria pencemaran air. Hasil identifikasi sampel air menmukan bentos yang cukup beragam di ketiga tempat. Pada daerah hulu terdapat 12 jenis bentos dengan dominasi spesies Aytidae sebanyak 192. Daerah tengah mendapatkan delapan jenis bentos dengan dominasi yang masih sama, yakni Aytidae sebanyak 240. Sedangkan daerah hilir hanya mendapatkan lima jenis bentos dan dengan dominasi yang masih sama, yakni Aytidae sebanyak 141.

“Dapat disimpulkan bahwa jumlah famili maupun kelimpahan EPT mengalami penurunan dari area hulu hingga hilir suaka perikanan,” ucap Aisyah.

Dominasi Mikroplastik

Wanda menyimpulkan meskipun masih terdapat plankton dan bentos perairan, jumlah dari mikroplastik masih sangat mendominasi. Sehingga sungai Brantas tersebut mengalami pencemaran dengan intensitas yang sedang. Ia mengajak masyarakat untuk ikut menjaga konservasi sungai dengan tidak membuang sampah plastik di sungai dan mengurangi penggunaannya.

“Upaya yang lebih efektif untuk dilakukan yaitu mengedukasi masyarakat. Jika hanya melarangnya saja,maka masyarakat tidak akan tahu kenapa (membuang sampah plastik di sungai) dilarang. Hal itu yang membuat harapan kita sulit untuk diwujudkan,” tutup Wanda.  

Penulis Muhammad Ichwan Firmansyah

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp