Bank Indonesia Edukasi Mahasiswa dalam Dies Natalis Ke-60 FEB UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Solikin M. Juhro SE., MAE., MA. Kepala Bank Indonesia Institute saat memaparkan materi dalam Webinar Bank Indonesia Mengajar. (Foto : Istimewa)

UNAIR NEWS – Dalam gelaran Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univeristas Airlangga (FEB UNAIR) yang ke-60, FEB UNAIR berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) mengadakan Webinar Bank Indonesia Mengajar. Webinar tersebut menghadirkan Dr. Solikin M. Juhro SE., MAE., MA. Kepala Bank Indonesia Institute.

Dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom, Dr. Solikin menyampaikan materi yang bertajuk ‘Memperkuat Inovasi, Sinergi, dan Kepedulian Sosial Sebagai Kontribusi Bagi Pemulihan Ekonomi Nasional’ pada Senin (9/8/2021). Turut hadir dalam webinar tersebut Dekan FEB UNAIR, Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak., CMA., CA.

Dr. Solikin menerangkan bahwa pada mulanya BI ingin membangun paradigma bank sentral yang modern. BI kemudian hadir untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah Indonesia.

Kestabilan nilai rupiah dapat dilihat dari dua dimensi. Pertama adalah kestabilan nilai rupiah terhadap barang dan jasa yang diukur dengan  perkembangan laju inflasi. Kedua dengan melihat kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang negara lain yang diukur dengan perkembangan nilai tukar.

“Tujuan akhirnya adalah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang sehat, berkelanjutan, dan inklusif,” jelasnya.

Ketua Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA-UA) Jakarta tersebut kemudian menjelaskan tugas Pokok BI. Menurutnya, BI memiliki tugas untuk menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta menjaga stabilitas sistem keuangan (makroprudensial).

Negara maju dicerminkan dengan karakteristik produk yang dihasilkan oleh negara apakah sudah memiliki kompleksitas yang tinggi. Jika Indonesia mampu memproduksi produk yang kompleks dan memiliki value added tinggi, maka dapat dikatakan Indonesia telah menjadi negara maju.

“Dalam rangka menuju negara maju, Indonesia harus bisa mengelola sumber daya dan mengelola behaviour (gaya hidup, Red) masyarakat,” imbuhnya.

Lebih lanjut Dr. Solikin menuturkan bahwa kunci utama dalam strategi pembangunan adalah membangun optimisme pemulihan ekonomi dengan strategi 1+5, yaitu satu prasyarat dan lima strategi. Kondisi prasyarat yang harus terpenuhi adalah dengan vaksinasi dan disiplin protokol Covid-19.

“Sedangkan untuk lima respons kebijakan adalah pembukaan sektor produktif dan aman, percepatan stimulus fiskal, peningkatan kredit dari sisi permintaan dan penawaran, stimulus moneter dan kebijakan makroprudensial, serta digitalisasi ekonomi dan keuangan khususnya UMKM,” paparnya.

Pada akhir, Dr. Solikin memaparkan bahwa sinergi dan inovasi kebijakan yang dilakukan untuk pemulihan ekonomi dijabarkan menjadi lima hal. Ialah kebijakan moneter, relaksasi kebijakan makroprudensial, digitalisasi sistem pembayaran, pengembangan UMKM, dan pengembangan ekonomi syariah.

“Bank Indonesia harus menjadi regulator yang relevan dan tidak ketinggalan zaman. Dalam rangka memasuki era digital, Bank Indonesia harus menerapkan praktek-praktek baru yang lebih modern,” tutupnya. (*)

Penulis :  Sandi Prabowo

Editor :  Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

newsunair

newsunair

https://t.me/pump_upp