Potensi Cacing Kepala Duri pada Tubuh Katak Konsumsi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Erabaru

Indonesia sebagai salah satu pengekspor utama kaki katak, tetapi saat ini masih minimya  informasi  tentang penyakit  zoonosis dari katak konsumsi terhadap masyarakat luas. Penyakit yang dapat menginfeksi katak dan menular ke manusia adalah acanthocephaliasis , siklus hidupnya berlangsung dalam  tubuh katak , yang bertindak sebagai inang definitif, paratenik, atau inang antara, demikian  halnya membuat menjadi menarik karena kehidupan katak melibatkan metamorfosis. Sebagai negara dengan diversitas amphibian yang luas diantara kehidupan alam liarnya, tetapi informasi tentang katak  masih sangat sedikit.

Beberapa hal yang perlu diketahui sebelumnya tentang, acanthoephala adalah cacing yang memiliki kait  berduri, digunakan untuk menempel di inangnya, memiliki siklus hidup yang kompleks, melibatkan dua inang   (amfibi dan mamalia).

Demikian pula halnya tentang perbedaan katak  ( kulit halus berlendir,hidup di perairan, kaki belakang panjang dan kuat,bentuk tubuh lentur, serta ada gigi di rahang atas) dan kodok  (kulit kering tebal, sebagian hidupnya di luar perairan, kaki belakang pendek,bentuk tubuh gemuk,dan tidak mempunyai gigi). Katak, sebagai salah satu komponen dari komoditas sumber pangan memiliki  kandungan protein, asam lemak Omega-3, Vitamin A, Kalium dan nutrisi tinggi, olahan asal katak sebagai sajian yang populer dalam bentuk matang atau mentah, terutama negara-negara di benua Eropa dan Amerika. Di wilayah Asia Tenggara, Indonesia mempunyai riwayat sebagai eksportir terbesar kaki katak , sejumlah 5600 ton (Kusrini dan Alford,2006).

Skala perdagangan katak  mengalami peningkatan, namun industri pengolahannya belum terdata  dengan baik. Belum adanya standar baku  pemantauan untuk industri ini, tidak seperti daging konsumsi lainnya dengan standar operasional dan prosedur pemantauan rutin, tentang pengolahan daging katak  masih belum memiliki pedoman standar yang berlaku untuk industri, seperti pendataan keberadaan penyakit yang dapat ditularkan dari katak konsumsi ke manusia. Berdasarkan kajian dari  katak  yang diambil dari persawahan, kolam ikan, dan  rawa berlumpur, cacing  Acanthocephala diperoleh dari bagian dalam  rongga tubuh (abdominal) dengan prevalensi 56% dan menurut kategori prevalensi cacing yang merujuk pada Williams (Williams dan Williams, 1996), termasuk dalam kategori frequent.

Sebagai  inang antara pertama dari Acanthocephala adalah artropoda, biasanya kelompok udang, dan ketika dimakan oleh vertebrata yang merupakan inang definitif yang bukan semestinya, ia dapat menembus usus dan membentuk kista di beberapa lokasi untuk bertahan hidup tanpa perkembangan lebih lanjut. Sebagai katak pemakan kepiting, kemungkinan besar terinfeksi dari kepiting yang dikonsumsinya. Semua kelas vertebrata dapat berfungsi sebagai inang definitif dari Acanthocephala seperti ikan, burung, amfibi, reptil, anjing, babi, tikus, termasuk manusia.

Adanya Inang paratenik terjadi karena cystacanth yang dikonsumsi oleh inang definitif yang tidak sesuai (tinggal tanpa perkembangan),sampai dimakan oleh inang definitif yang sesuai dan berlanjut ke stadium perkembangan lebih lanjut menjadi cacing dewasa. Menurut Kennedy,2006, inang paratenik ditemukan pada beberapa siklus hidup Acanthocephala. Saat mencapai inang tersebut, sebagian cystacanth akan melakukan migrasi ke dalam rongga tubuh vertebrata, dan sering ditemukan melekat pada mesenterium dalam bentuk kista.  Karena kajian  ini dilakukan dengan hewan yang juga menghabiskan hidupnya di sekitar perairan, cemaran air juga dianggap sebagai sumbernya. Jika sumber air berisi  katak  atau kecebong di dalamnya, akan berpotensi menyebabkan akantosefaliasis,  pada manusia atau hewan jika air tersebut digunakan untuk minum dan tidak diolah dengan baik.

Selanjutnya akan menjadi  lebih penting lagi untuk melakukan pendataan pada katak  yang dijual di pasar lokal maupun internasional untuk melakukan pencegahan terhadap penularan acanthocephaliasis, beserta dampaknya, sehingga perlu adanya pengawasan dengan seksama, terutama dengan diterbitkannya aturan baku, dilengkapi dengan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan beserta sanksi  bagi pelaku industri yang melanggar. Semua piranti tersebut berfungsi sebagai jaminan kemanan pangan bagi konsumen atau semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam kegiatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM),  dan untuk skala industri.

Penulis: Setiawan Koesdarto

Link Jurnal: Acanthocephala worm detection in cavity body of frog (Fejervarva cancrivora) in Surabaya, Indonesia

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu