Temukan Metode Baru untuk Deteksi Kebuntingan Dini Sapi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Tita Damayanti Lestari, drh., M.Sc., guru besar aktif ke-33 dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) saat pengukuhan guru besar pada Kamis (8/4/2021). (Foto: Agus Irwanto)

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga resmi mengukuhkan sebanyak lima orang guru besar pada Kamis (08/04/2021). Salah satu guru besar yang dikukuhkan yaitu Prof. Dr. Tita Damayanti Lestari, drh., M.Sc., guru besar aktif ke-33 dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH). Pengukuhan bertempat di Aula Garuda Mukti Kampus C UNAIR.

Prof Tita mengatakan, sebagian besar peternakan sapi perah di Indonesia adalah peternakan rakyat skala kecil. Dibutuhkan perhatian dalam pengelolaan agar produksi maupun reproduksinya efektif. Hal itu ia sampaikan dalam orasi ilmiah berjudul “Peran Pregnancy Associated Glycoprotein (PAG) sebagai Marker dalam Mendukung Peningkatan Populasi Bibit Unggul Sapi Melalui Deteksi Kebuntingan Dini”.

Saat ini, tuturnya, kebutuhan susu sapi di Indonesia lebih dari 4,3 juta ton. Sementara itu, produksi susu nasional hanya sekitar 0,99 juta ton dengan populasi sapi perah 561.061 ekor. Angka itu berdasarkan data dari data statistik peternakan dan kesehatan hewan tahun 2019.

“Pemenuhan kebutuhan susu sapi yang hanya 18 persen itu sebagian besar ditopang usaha peternakan sapi perah rakyat yang memiliki pertumbuhan populasi di bawah 2,8 persen. Kebutuhan susu bagi masyarakat meningkat seiring dengan kesadaran akan gizi, terutama di masa pandemi Covid-19. Hal itu terlihat dari maraknya kafe dadakan yang menyediakan susu segar,” papar Prof. Tita.

Sumber Vitamin Saat Pandemi

Susu juga menjadi salah satu sumber vitamin D yang amat dibutuhkan saat pandemi. Menurut Prof Tita, Nutrition Data juga menunjukkan bahwa susu mengandung antara lain vitamin A, B1, B2, B3, B5, B6, B12, D, E, dan K. Selain itu, di dalam susu terdapat mineral calcium, magnesium, fosforus, potasium, selenium, dan zinc yang mendukung sistem imun tubuh.

“Secangkir susu atau 244 gram dapat menyumbang sekitar 25 persen kebutuhan harian vitamin tersebut,” tandasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pertumbuhan populasi sapi perah dan produksinya belum mampu mengimbangi kenaikan konsumsi masyarakat. Karena itu, diperlukan manajemen pemeliharaan yang efisien demi mendorong produksi susu dan memenuhi kebutuhan nasional.

“Efisiensi reproduksi merupakan faktor penting agar hewan ternak dapat mencapai produksi yang optimal. Umumnya, peremajaan ternak sapi perah dilakukan peternak dengan menjual ternak-ternak yang sudah tua. Sapi dara yang dibeli dalam keadaan bunting akan mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus dapat menjamin bahwa ternaknya tidak majir,” ujar alumnus University of Edinburgh, Scotland itu.

Metode Deteksi Kebuntingan Dini

Metode deteksi secara imunologis dengan melibatkan protein spesifik hasil produksi blastosis pada awal implantasi bisa menjadi dasar penentuan kebuntingan dini. Deteksi protein spesifik dalam serum darah sapi betina setelah perkawinan atau IB dapat dijadikan indikator kebuntingan menjelang implantasi embrio. Protein itu dikenal sebagai pregnancyassociated substances atau protein spesifik yang mampu memberikan sinyal pada sistem maternal tentang adanya konsepsi. Salah satu protein tersebut adalah pregnancy-associated glycoprotein (PAG).

“PAG adalah substansi molekul glikoprotein yang diproduksi sel-sel trophoblast blastocyst menjelang implantasi dan bersifat imunogenik. Setelah diinjeksikan pada hewan coba, PAG dapat menstimulasi terbentuknya antibodi terhadap protein itu sendiri,” jelas Prof. Tita

Anti-PAG itulah, lanjutnya, yang digunakan sebagai penciri dalam deteksi kebuntingan dini pada sapi. Terdeteksinya PAG dalam sistem darah maternal bisa menjadi indikator kebuntingan kurang dari satu siklus berahi.

“Saya berusaha mengisi makna huruf “M” dalam UNAIR menuju SMART University,  yaitu meaningfull resarch and community service dengan melakukan riset yang dapat dijadikan produk bermanfaat bagi masyarakat, dalam hal ini peternak,” pungkasnya. (*)

Penulis : Muhammad Suryadiningrat

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu