Kecemasan dan Resiliensi Petugas Kesehatan Indonesia di Era Pandemi Covid 19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Resiliensi Petugas Kesehatan. (Sumber: kompascom)

Coronavirus Disease (COVID-19) pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Sejak saat itu, kasus COVID-19 telah menyebar luas secara cepat ke negara-negara lainnya hingga akhirnya WHO menetapkan COVID-19 sebagai public health emergency of international concern. Indonesia mengonfirmasi kasus positif pertamanya pada tanggal 2 Maret 2020 dan terus mengalami kenaikan jumlah kasus positif hingga saat ini yaitu sebesar 29.521 kasus dengan jumlah kematian sebesar 1.770 per tanggal 5 Juni 2020.

Pandemi COVID-19 ini berdampak pada kesehatan fisik dan mental . Penyakit COVID-19 ini merupakan penyakit baru sehingga peneliti masih terus berusaha mengidentifikasi karakteristik dari penyakit ini, seperti cara penularannya, terapinya, pencegahannya. Ketidakpastian akan hal yang dihadapi dapat meningkatkan kecemasan pada masyarakat.

Pandemi  COVID-19 menimbulkan dilema bagi tenaga kesehatan. Di satu sisi petugas kesehatan berkewajiban untuk memberikan pelayanan kesehatan namun di sisi lain dengan terbatasnya tenaga kesehatan dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang hidup sehat  dapat  menimbulkan stressor bagi petugas kesehatan.

Keterbatasan  sarana dan prasarana kesehatan, overload pekerjaan dan minimnya pengetahuan tentang Covid 19 dapat memperparah kecemasan peugas kesehatan.

Petugas kesehatan berada di bawah tekanan fisik dan psikologis karena beban kerja yang luar biasa, berupa dalam tugas shift yang panjang dan bekerja di lingkungan berisiko tinggi. Seseorang yang terpapar  dengan  stressor yang berkepanjangan dapat  mengalami kecemasan, depresi dan burn out sehingga menjadi mudah panik, mudah lelah, sulit tidur, dan memperburuk kondisi fisik dan mental. Sebagai pihak yang berperan dalam penanganan pandemi COVID-19, kesehatan mental pada  petugas kesehartan perlu diperhatikan karena akan berdampak pada penanganan pandemi ini.

Fasilitas kesehatan merupakan tempat kerja yang penuh dengan tantangan sehingga resiliensi merupakan aspek penting yang dibutuhkan dari para petugas kesehatan, terutama pada masa pandemi seperti ini. Dalam menghadapi stressor yang berat, diperlukan kemampuan untuk beradaptasi dan bangkit menghadapi tekanan yang ada. Resiliensi atau daya tahan sesorang dalam menghadapi tantangan kehidupan sangat diperlukan untuk meningkatkan kinerja dan menjaga kesehatan fisik dan mental. Resiliensi sangat bermanfaat  sebagai faktor protector kesehatan fisik dan menta.

Dukungan keluarga dan lingkungan sangat diperlukan untuk meningkatkan kinerja dan kesehatan tenaga kesehatan dalam menghadapi kondisi yang penuh ketegangan dan menimbulkan kecemasan.

Untuk mendapatkan data tentang hubungan antara kecemasan dan resiliensi petugas kesehatan diperlukan penelitian dengan tujuan  untuk untuk mengetahui tingkat kecemasan pada petugas kesehatan yang merupakan aspek penting dalam penanganan wabah COVID-19. Sehingga dapat dilakukan pendekatan psikologis bagi petugas kesehatan dan untuk mengetahui seberapa besar resiliensi petugas kesehatan di era pandem Covid 19 yang memerlukan penyesuaian sepanjang waktu serta untuk mengetahui  hubungan antara tingkat resiliensi dengan kecemasan pada petugas kesehatan di Indonesia selama masa pandemi COVID-19.

Metode penelitian yang dilakukan adalah  studi analitik dengan desain potong lintang pada sekelompok petugas kesehatan di rumah sakit rujukan tersier penanganan Covid 19 dengan pengisian kuesioner google form untuk menjamin kerahasiaan responden dan mengurangi risiko paparan Covid 19. Dengan pengisian kuesioner tersebut diharapkan dapat membantu untuk mengetahui kondisi kesehatan mental petugas kesehatan dan dapat dilakukan pendampingan fisikdan psikologis apabila diperlukan.

Dalam pelaksanaan penelitian petugas kesehatan menyambut dengan baik dan merasa terbantu dengan pelaksaan penelitian ini.

Hasil pengisian data  dari ari responden sebanyak 227 orang yang telah mengisi kuesioner secara online, yang terdiri dari 38 laki-laki (16,7%) dan 189 perempuan (83,3%)  didapatkan Sebanyak 75 responden (33%) memiliki high state anxiety dan 61 responden (26,9%) memiliki high trait anxiety.

Kesimpulan dari penelitian yang kami lakukan adalahdidapatkan korelasi negative antara kecemasan dan resiliensi dengan makna  semakin tinggi derajat kecemasan  semakin rendah total skor resiliensi.

Dari hasil penelitian ini menununjukkan bahwa kesehatan fisik dan mental sangat diperlukan dalam menunjang kinerja petugas kesehatan.

Penulis: Yunias Setiawati

Ulasan dan hasil penelitian secara rinci dapa dibaca pada link berikut ini:

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33442258/

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu