Peneliti FPK UNAIR Duga 4 Faktor Sebabkan Kematian Paus di Bangkalan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
KERUMUNAN warga melihat dari dekat dan berusaha memberikan pembasuhan pada permukaan tubuh paus pilot yang terdampar. (Foto: Istimewa)
KERUMUNAN warga melihat dari dekat dan berusaha memberikan pembasuhan pada permukaan tubuh paus pilot yang terdampar. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Dua hari sebelum peringatan World Whale Day, Minggu (21/2/2021), kawasan selat Madura digegerkan dengan kematian massal paus yang teridentifikasi sebagai paus pilot sirip pendek atau Short fin pilot whale (Globicephala macrorhynchus) di perairan Bangkalan.

Petugas BKSDA melakukan evakuasi hampir 12 jam. Sebanyak 49 paus pilot tersebut mati dan dikuburkan secara massal di dekat lokasi kejadian dengan bantuan alat berat. Pemantauan dengan drone juga dilakukan. Melalui foto udara, didapatkan fakta sebanyak 52 paus mati, sementara hanya ada 1 paus yang masih hidup.

Peneliti sekaligus Wakil Dekan Penelitian, Publikasi, Kolaborasi, dan Relasi Publik Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T., menyebutkan, sekawanan paus pilot tersebut diduga mati karena cuaca ekstrim. Mengingat, cuaca ekstrim terjadi beberapa minggu terakhir. Yakni, La Nina yang menyebabkan badai di kawasan selatan pulau Jawa atau Samudera Hindia.

WAKIL Dekan Penelitian, Publikasi, Kolaborasi, dan Relasi Publik Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T. (Foto: Istimewa)

Selain cuaca ekstrim, imbuh Dr Sapto, kematian paus itu diduga disebabkan sejumlah hal terkait kondisi lingkungan terkini. Terutama akibat perilaku dan perubahan alam yang terjadi. Menurutnya, ada kemungkinan empat hal yang menyebabkan paus tersebut mati.

1. La Nina dan El Nino

“Fenomena alam La Nina dan El Nino juga memungkinkan perubahan magnetik di laut. Perubahan itu dapat berpotensi mengubah sistem sonar pada paus,” ungkap dosen mata kuliah biologi laut tersebut.

Dengan asumsi fenomena alam itu, sekawanan paus pilot bermigrasi ke wilayah yang lebih tenang dan berusaha berteduh dari kondisi badai laut di kawasan ini. Namun, dugaan disorientasi ke wilayah yang semakin dangkal menyebabkan sekawanan paus justru berenang ke arah perairaan selat Madura yang lebih dangkal.

Kejadian serupa terjadi pada Juni 2016. Menurut Dr. Sapto, kejadian tersebut sangat mungin terjadi dengan kondisi yang sama dengan kasus di Bangkalan. Namun, sekawanan paus pilot itu mengarah ke selatan selat Madura, hingga akhirnya merapat di Perairan Probolinggo. Dari kasus saat itu, dilaporkan 10 paus mati dari kawanan paus yang berjumlah 32 ekor.

2. Tingkah Laku, Umur dan Penyakit

Selain cuaca, Dr. Sapto menegaskan bahwa kematian paus memiliki beragam aspek yang masih perlu mendapatkan kajian secara mendalam. Baik dari sisi habitat tempat hidupnya, behavior-nya yang hidup dalam kelompok, maupun kemungkinan penyakit pada paus Alpha (pemimpin) yang menyebabkan anggota kelompok paus tersebut ikut mati.

”Ini kami juga terus meneliti terkait itu,” katanya

3. Pencemaran di Laut

Masalah pencemaran di daratan serta banyaknya pencemaran sampah plastik yang terus meningkat juga menyebabkan kualitas perairan pesisir laut semakin menurun. Di sisi lain, paus melakukan migrasi ke daerah itu dalam rangka mencari kawasan yang tenang dan aman.

“Dengan kondisi sedimentasi yang tinggi dan pencemaran domestik berupa sampah dan plastik yang juga tersebar,ini  menjadikan tingkat stres paus-paus yang terdampar sangat tinggi,” sebutnya.

4. Aktivitas Manusia

Dr. Sapto mengomentari beberapa video amatir yang tersebar di sejumlah media online. Terlihat masyarakat yang tengah asyik berfoto-foto dan bahkan menaiki paus yang dalam kondisi yang semakin stres.

Menurutnya, kesadaran masyarakat terkait ekosistem laut perlu menjadi perhatian dan kajian ke depan. Terutama terkait dengan pengetahuan terhadap biota dan ekosistem laut. Fenomena itu juga menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi dalam upaya kampanye ekosistem laut ke depan.

“Belum lagi warga yang berkerumun di sekitar ikan paus yang mencoba memberikan pembasahan, namun kemungkinan dilakukan pada bagian dekat blow hole (Lubang pernapasan terletak berdekatan dengan bagian depan kepala dan condong ke kiri, Red). Ini malah menyebabkan mamalia laut stres akibat sulit bernafas,” katanya.

Pada akhir, Dr. Sapto mengungkapkan bahwa upaya perbaikan kualitas lingkungan laut masih menjadi tugas besar bagi kita bersama. “Intinya, mari kita memperbaiki lingkungan laut sekaligus menjaga keanekaragaman hayati laut Indonesia,” Pesannya. (*)


Penulis: Dimar Herfano

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

Feri Fenoria Rifai

Feri Fenoria Rifai

Leave Reply

Close Menu