FIB UNAIR Kemas Perkenalan Fakultas dengan Konsep Tur Virtual dalam AEE 2021

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Salah satu adegan dari tur virtual FIB UNAIR yang memperkenalkan prodi Studi Kejepangan pada hari keenam AEE 2021. (Foto: SS YouTube UNAIR)

UNAIR NEWS – Perhelatan akbar tahunan UNAIR yakni Airlangga Education Expo (AEE) 2021 kini telah memasuki hari keenamnya, atau hari ketiga dari rangkaian kegiatan faculty info session. Sesi perkenalan seluk beluk fakultas kini dibuka oleh pengenalan FIB UNAIR pada Kamis pagi (18/2/2021). Alih-alih memperkenalkan kampusnya mereka dengan konsep webinar atau talkshow biasa, mereka menggunakan konsep virtual tour gedung FIB UNAIR untuk mengeksplor apa saja yang ditawarkan oleh fakultas tersebut dan bagaimana atmosfer perkuliahan disitu.

Setelah dibuka oleh sambutan dari Prof. Dr. Purnawan Basundoro S.S., M.Hum., dan ludruk kilat oleh Moch. Jalal, audiens langsung disuguhkan oleh video tur virtual yang dipandu oleh dua mahasiswa FIB UNAIR, yakni Aldi dan Putri. 

Dalam ruang green screen yang digunakan untuk merekam perkuliahan daring, Putri bertemu dengan Gesang Manggala Nugraha Putra S.S., S.A., M. Hum., seorang pengajar dari program studi Sastra Inggris. Disitu Gesang menceritakan bahwa prodi ini dibagi menjadi tiga bentuk peminatan, yakni Linguistik, Literatur, dan Studi Budaya.

“Tentunya, di prodi Sastra Inggris kita tak hanya belajar bahasa inggris saja, melainkan juga pengkajian literatur juga budaya yang berputar dari bahasa inggris tadi. Jangan lupa juga, prodi Sastra Inggris sudah terakreditasi internasional oleh FIBAA,” tutur alumni UNAIR itu.

Aldi mengajak audiens untuk memasuki ruang Departemen Sastra Indonesia (Sasindo). Disitu, ia bertatap dengan Bramantio S.S., M.Hum. Ia menjelaskan bahwa terdapat banyak sekali yang dapat dipelajari dalam Sasindo, seperti dari segi linguistik dan sastrawinya, dan bahkan ada ilmu pengkajian naskah-naskah kuno.

“Prospek karir yang dimiliki oleh mahasiswa Sasindo juga bukan jadi penulis saja. Mereka dapat berkarir dalam apa saja yang berhubungan dengan kebahasaan, seperti menjadi jurnalis, penyiar, redaktor, dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Naik ke lantai dua, gedung FIB UNAIR memiliki museum sejarah sendiri yang digunakan sebagai media pembelajaran mahasiswa prodi Ilmu Sejarah. Disitu, Putri bertemu dengan Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, S.S., M.A., selaku pengajar dari prodi tersebut. Ia mengatakan bahwa fokus dari prodi Ilmu Sejarah UNAIR adalah terkait sejarah perkotaan. 

FIB UNAIR juga menawarkan prodi Studi Kejepangan UNAIR dimana departemennya bertepatan di lantai dua. Dipandu oleh Rahaditya Puspa Kirana, S.Hum., M.Hum., ia menuturkan bahwa prodi ini mempelajari bahasa dan kultur klasik juga kontemporer dari negeri Jepang. Tak hanya itu, mahasiswa yang menempuh pendidikan tingginya di prodi Studi Kejepangan bakal juga menelaah literatur dari negeri Sakura itu dari segi linguistik dan kesastraannya.

“Mahasiswa juga dapat berkesempatan untuk berinteraksi dengan mahasiswa native speaker yang datang ke FIB UNAIR tiap tahunnya. Ditambah juga, prodi ini telah menggandeng banyak sekali universitas di Jepang seperti Kansai University dan Hiroshima University,” ujarnya

Gedung fakultas FIB UNAIR ini juga menawarkan berbagai fasilitas lainnya demi pengembangan mahasiswa seperti laboratorium bahasa, ruang gamelan, ruang resensi, Ruang Baca Ronggowarsito, dan Unit Layanan Terpadu.

Penulis: Pradnya Wicaksana

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu