Deteksi Myocardial Bridge Pada Kasus Takikardi : Tantangan pada Pemeriksaan CT Cardiac

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi CT Scan. (Sumber: YouTube)

Peningkatan kasus penyakit kardiovaskular dan penatalaksanaannya menjadi salah satu hal yang mendasari perkembangan teknologi dan inovasi CT Scan Cardiac. Deteksi kelainan dengan lebih detail dan akurat sangatlah dibutuhkan untuk menentukan prognosis maupun penatalaksanaan yang tepat. Termasuk di antaranya kemampuan mendeteksi beberapa variasi anatomi yang seringkali disalah artikan sebagai suatu kelainan.

Namun tantangan dalam scanning dan rekonstruksi citra CT Cardiac pada pasien takikardi (denyut jantung >65 beat/min) yaitu kemungkinan timbulnya motion artifact pada hasil citra tinggi, sehingga hasil rekonstruksi kurang maksimal terutama pada arteri koroner. Penggunaan obat betabloker dalam persiapan CT Cardiac bertujuan untuk menurunkan denyut jantung sehingga kualitas citra optimal. Namun, penggunaan golongan obat ini pada pasien dengan takikardi harus dalam pengawasan ketat dokter jantung dan sering kali kurang maksimal dalam menurunkan denyut jantung. Rekonstruksi citra dinyatakan mempunyai kualitas citra yang baik dengan mengukur nilai SNR (signal to ratio) dan CNR ( contrast noise ratio).

Pada studi ini,  22 pasien CT cardiac dengan myocardial bridge dan denyut jantung 66-74 kali permenit dilakukan pada fase systole dan diastole. Hampir seluruh myocardial bridge berada di left anterior descenden  artery (LAD) dan tidak ditemukan pada cabang arteri koronaria lainnya. Untuk menilai perbandingan kualitas citra antara kedua fase secara kuantitatif harus berdasarkan pada kenaikan dan penurunan nilai CNR. Semakin tinggi nilai CNR kualitas citra semakin optimal.

Faktor  yang mempengaruhi nilai atenuasi atau penyangatan kontras terbagi menjadi tiga kategori yaitu: faktor pasien, media kontras (dosis), dan protokol CT-Scan (laju aliran kontras). Faktor pasien yang mempengaruhi nilai atenuasi adalah berat badan dan cardiac output (CO).

Kenaikan  denyut jantung menyebabkan meningkatnya cardiac output dan menurunkan nilai atenuasi. Pasien  dengan denyut jantung rendah fase end-diastol lebih panjang dan pergerakan arteri koroner lebih lambat daripada fase end-sistol. Pada enddiastole juga bagus untuk pengambilan citra CCTA karena minimalnya motion artifact. Ketika denyut jantung meningkat, end-diastol memendek dan pergerakan arteri koroner menjadi lebih cepat.

Pada studi ini Myocardial Bridge pada fase diastol lebih panjang daripada fase sistol dengan perbedaan yang tidak signifikan (pvalue>0,05), hal tersebut sesuai dengan penelitian Leschka et al. (2008), Kim et al. (2011), Niu et al. (2013), dan Shabestari et al. (2016) yang menyebutkan bahwa tidak ada hubungan antara panjang Myocardial Bridge dengan kompresi dinamik  ketika fase sistol. Namun, hal tersebut berbeda dengan penelitian Ma, et al. (2013) dan Yu et al. (2017) yang menunjukkan hasil bahwa semakin besar kompresi sistolik pada jantung maka semakin panjang ukuran Myocardial Bridge.

Meski demikian cardiac output   pasien tidak menjadi hal yang perlu dikontrol pada studi ini. Cardiac  output akan mempengaruhi intensitas sinyal pada arteri koronaria terutama di bagian diastole.

Tidak ada perbedaan kualitas citra yang signifikan antara fase sistol dan diastol pada pasien myocardial bridge dengan takikardi, sehingga dapat dilakukan rekonstruksi CCTA fase sistol maupun diastol. Berdasarkan ukuran panjang myocardiac bridge, fase diastol lebih besar dari pada fase sistol dengan perbedaan yang tidak signifikan. Sedangkan berdasar kedalaman myocardiac bridge,  fase sistol lebih besar daripada fase diastol dengan perbedaan yang signifikan. Diameter pada fase diastol lebih besar daripada fase sistol dengan perbedaan yang signifikan.

Takikardia yang menjadi hambatan terbesar pemeriksaan CT Cardiac, mampu diatasi dengan inovasi teknologi dan Teknik pemeriksaan yang tepat. Terutama untuk mengidentifikasi variasi normal yang jarang terjadi (myocardiac bridge).

Penulis: Lailatul Muqmiroh

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link jurnal berikut ini,

https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2020123012571412_2020_0992.pdf

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS

Leave Reply

Close Menu