Profil Bakteri Penderita Infeksi Saluran Kemih

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi infeksi saluran kemih. (Sumber: SehatQ)

Infeksi saluran kemih (ISK) disebabkan oleh mikoorganisme pathogen yang ditemukan pada saluran urin hingga ke ginjal. Infeksi saluran kemih ini biasanya bersifat asimptomatis. Dan prevalensi kejadian ISK ini meningkat seiring bertabamhnya usia. Infeksi saluran kemih ini termasuk infeksi yang sangat umum terjadi tapi pada kondisi tertentu bisa menyebakan morbiditas dan mortalitas. Jika digolongkan berdasarkan jenisnya ISK ini dibagi menjadi ISK rumit dan tidak rumit. Yang dimaksud tidak rumit adalah kondisi ISK yang tidak berkaitan dengan abnormalitas struktur ataupun neurologis saluran kemih. Jenis ISK ini bisa dijumpai pada kondisi sistitis, pyelonephritis (infeksi pada ginjal). Sedangkan jenis ISK rumit ini melibatkan kondisi obstruksi atau retensi urin dikarenakan oleh kondisi seperti imunosupresi, penyakit saraf, kehamilan, transplantasi ginjal, gagal ginjal dan penggunaan kateter.

Diagnosis ISK ini menggunakan kultur urin untuk melihat ada tidaknya bakteri yang tumbuh pada urin. Setelah ditemukan bakteri pada urin untuk menentukan jenis bakteri tersebut maka perlu dilakukan uji biokimia untuk mengidentifiaksinya. Pengobatan infeksi ini masih menggunakan terapi antibiotik. Penggunaan antibiotik dewasa ini perlu mendapatkan perhatian dikarenakan adanya resistensi antibiotic. Sehingga pada pasien dengan infeksi saluran kemih biasanya akan dilakukan uji resisttensi terlebih dahulu untuk menentukan terapi yang tepat bagi pasien.

Studi yang dilakukan ini menggunakan metode cross-sectional, di mana kita melihat data populasi pada waktu tertentu yakni periode januari 2019 hingga maret 2020. Kasus ISK yang dipelajari pada studi ini adalah ISK tanpa komplikasi dan ada pula kasus ISK yang berulang. Hasil bakteri yang paling dominan ditemukan pada penderita ISK adalah Escherichia coli dari golongan gram negatif. Uropatogenik Escherichia coli sering ditemukan sebagai bakteri penyebab sistitis dan pyelonephritis. Selain itu pada kasus ISK (menyerang saluran kemih bagian bawah) ditemukan juga bakteri lain seperti Enterococcus sp., Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, Staphylococcys haemolyticus, Staphylococcus non haemolyticus, Proteus mirabilis, Acinetobacter sp., Staphylococus saprophyticus dan Staphylococcus epidermidis. Setelah bakteri penyebab infeksi ini diidentifikasi selanjutnya dilakukan uji resistensi dan sensitifitas antibody. Dari hasil uji ini diketahui hampir sebagian besar resisten terhadap antibiotic yang diberikan. Seperti pada Escherichia coli ayng diketahui resisten terhadap golongan trimethoprim-sulfamethoxazole dan golongan quinolone dalam hal ini levofloxacin. Tetapi pada bakteri lain selaiin Escherichi coli masih sensitive terhadap golongan quinolone (levofloxacin dan ciprofloxacin), Fosfomycin dan nitrofurantoin.

Sedangkan dari hasil penelitian ini juga diketahui bahwa tidak hanya yang berusia di atas 46 tahun saja yang rentan terhadap infeksi saluran kemih tetapi pada individu dengan rentang usia 26-45 tahun juga sering ditemukan dengan ISK. Pada studi ini tidak ditemukan hubungan signifikan antara perbedaan usia dengan prevalensi ISK. Gejala yang sering dialami oleh penderita antara lain urgensi untuk berkemih, peningkatan atau penurunan frekuensi buang air kecil. Kebanyakan pasien yang dideteksi positif pada kultur urinnya (ditemukan bakteri pada kultur urin) adalah pasien yang didiagnosa sistitis. Sistitis ini adalah peradangan di kandung kemih yang menimbulkan rasa nyeri saat buang air kecil. Dan bertabamhanya usia meningkatkan prevalensi ISK yang berulang.

Pada ISK yang menyerang saluran kemih bagian bawah pengobatan antibiotic yang direkomendasikan adalah trimethoprim-sulfametoksazol (TMP-SMX) selama tiga hari, nitrofurantoin selama lima hari atau fosfomisin. Selain itu dapat pula digunakan alternatif ciprofloxacin selama tiga hari, levofloxacin selama tiga hari atau antibiotic beta-laktam seperti amoxicillin clavulanate. Dengan mengetahui tingkat resistensi bakteri yang ditemukan pada kasus ISK, dokter dapat menentukan pengobatan antibiotic yang tepat bagi penderita ISK tersebut. Dari data studi ini menunjukkan bakteri yang ditemukan pada kasus ISK menunjukkan adanya resistensi pada golongan TMP-SMX. Sehingga untuk terapi dapat disarankan penggunaan antibiotic lain seperti nitrofutantoin dan fosfomicin dalam pengobatan sistitis tanpa komplikasi seperti yang ditemukan pada studi ini.

Penulis: Dwi Wahyu Indriati

Artikel selengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2020123012520804_2020_0781.pdf

Link jurnal https://medic.upm.edu.my/jurnal_kami/malaysian_journal_of_medicine_and_health_sciences_mjmhs-9255

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu