Bersama Warga, KKN UNAIR Wonogiri Dorong Digitalisasi Pemasaran Batik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MAHASISWA bersama pemuda desa melakukan pelatihan mebuat batik. (Foto: tim KKN)
MAHASISWA bersama pemuda desa melakukan pelatihan mebuat batik. (Foto: tim KKN)

UNAIR NEWS – Pilar “Sustainable Education for All “ diwujudkan tim KKN BBM Ke-63 Kelompok 24 Universitas Airlangga. Tepatnya di Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Sebanyak sebelas mahasiswa lintas fakultas tergabung dalam kelompok KKN tersebut. Mereka adalah Azhari Athaillah Sulaiman (FKH), Gilberto Timothy Providentia Kalangie (FEB), Khairillah Fathin (FKM), Leonardo Reza Srimaryanto (FKH), Reza Ramadhana R (FKP), Sabila Devita Tika Anjani (FKH), Dina Marga Hidayati (FISIP), Azizah (FKH), Friscia Ratu Sanda (FKH), Raihania Aleyda Pangesti (FPK), dan Mahfudz Dzotul Hasanah (FPK).

Pilar itu berwujud kegiatan belajar bersama dan pelatihan membuat batik bagi anggota PKK Mekarsari di desa tersebut. Selain itu, mahasiwa membantu terkait branding UMKM di desa.

”Diharapkan semua mahasiswa UNAIR bisa belajar di mana saja, dari siapa saja, atau dengan siapa saja, belajar kapan saja, dan belajar secara terus menerus,” ungkap Rektor UNAIR Prof. Mohammad Nasih, SE., M.T., Ak., CMA saat melepas mahasiswa KKN UNAIR.

Penanggung jawab kegiatan Mahfudz menyebutkan bahwa potensi Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, sangat beragam. Tim KKN-nya juga melakukan survey di sembilan RW di lima Dusun.

”Di Dusun Bendungan, ibu PKK-nya punya minat bagus di batik hingga sekarang masih berkembang. Hanya keterbatasan SDM dan orderan hanya terbatas di lingkup kabupaten,” ungkapnya.

Batik Wonogiri ternyata bukan sumber penghasilan utama ibu-ibu di Desa Jendi. Mereka juga menjadi petani.

“Kalau banyak orderan ya bakal lanjut orderannya. Selama kita di sini alhamdulillah banyak orderan,” sebut Mahfudz.

Produksi batik di Desa Jendi sudah berlangsung sejak 2 tahun yang lalu. Desa Jendi selalu memberikan pelatihan batik. Namun, pemasaran batik di sana masih terbilang sederhana. Yakni, mengandalkan relasi dan belum ada platform pemasaran yang pasti.

“Untuk pemasaran terkendala perijinan. Karena, ini produk rumahan belum ada perijinan yang resmi. Hal ini berimbas pada pemasaran yang hanya berlingkup di kawasan Wonogiri sendiri,” katanya.

Tim KKN juga memesan sebelas kain batik yang nanti dibuat sendiri oleh tim yang didampingi Ibu-Ibu. Mahasiswa belajar membatik sekaligus membuat style batik karya mereka sendiri. Batik yang mereka buat menggunakan teknik ciprat dan cap.

“Batik khas Wonogiri diliat dari motifnya dan warnanya cenderung cerah. Kita itu mau nge-style batik karya sendiri sehingga menarik minat anak-anak muda pada batik,” ucapnya.

KKN Wonogiri melakukan pemasaran batik melalui Instagram @kkn63unair.wonogiri. Tim juga mengandalkan fitur IG TV untuk menunjukkan video pembuatan batik Wonogiri. Bukan hanya itu, di Instagram, mereka memuat postingan hasil karya batik Desa Jendi.

Mahfud berharap pemasaran UMKM Batik Wonogiri lebih luas dan dikenal masyarakat luas. “Dan yang pasti, anak muda tidak menganggap batik menjadi hal kuno, melainkan dijadikan ajang kreativitas. Salah satunya batik ciprat ini,” pungkasnya. (*)

Penulis: Dimar Herfano

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu