Lonjakan Kasus Demam Berdarah Dengue di Balik COVID-19 di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi demam berdarah dengue. (Sumber: merdekacom)

Memasuki awal tahun 2020, dunia dikejutkan dengan ditemukannya kasus penyakit akibat virus yang menyebar dengan cepat dan masif. Wabah tersebut diidentifikasi sebagai COVID-19 dan organisasi dunia (WHO) segera menetapkan COVID-19 sebagai pandemi setelah ditemukan lebih dari 118.000 kasus yang tersebar di lebih dari 110 negara. Di Indonesia kasus pertama COVID-19 terkonfirmasi pada Maret 2020 dan terus meningkat setelahnya hingga pemerintah menetapkan sebagai bencana nasional pada 13 April 2020. Sejak saat itu, semua lini pelayanan kesehatan terfokus pada penanganan kasus COVID-19. Indonesia adalah negara beriklim tropis dan memiliki penyakit endemis salah satunya yaitu dengue hemorrhagic fever (DHF) atau yang lebih dikenal dengan demam berdarah (DBD). Di Indonesia, penyakit DBD biasanya menunjukkan peningkatan sekitar bulan Maret dimana merupakan masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Tercatat selama masa pandemic COVID-19 kasus DBD juga mengalami peningkatan lebih dari 71.663 kasus dengan 459 kematian tercatat dari bulan Januari hingga Juli 2020. Beban ganda penyakit dapat membingungkan petugas kesehatan karena virus DBD dan COVID-19 mungkin memiliki gejala yang sama pada tahap awal gejala. Hal ini menarik minat tim peneliti dari Universitas Airlangga untuk melakukan kajian literatur ilmiah untuk mengkaji imunopatogenesis infeksi DBD dan COVID-19, serta strategi pencegahannya.

Virus penyebab COVID-19 adalah jenis Corona Virus yang menyerang manusia dengan menunjukkan gejala  pernafasan akut yang parah. Jenis virus ini mirip dengan jenis virus SARS-CoV dan MERS-CoV yang pernah teridentifikasi menyebabkan wabah pada tahun 2003 dan 2012. Wabah SARS-CoV yang muncul pada tahun 2003 dan wabah MERS-CoV pada tahun 2012 berasal dari kelelawar. Seiring waktu, terjadi mutasi yang menyebabkan kemungkinan penularan antara kelelawar ke unta dan inang perantara lainnya, kemudian penularan berlanjut dari hewan ke manusia (transmisi zoonosis) dan terakhir dari manusia ke manusia. Salah satu ciri utama dari infeksi SARS-CoV-2 adalah munculnya pelepasan sitokin proinflamasi dan kemokin oleh sel kekebalan yang menciptakan respons inflamasi sistemik yang tidak diatur. Badai sitokin ini menyebabkan respons peradangan ekstrem yang menyebabkan ARDS, kegagalan banyak organ hingga dapat menyebabkan kematian.

Berdasarkan dari gambaran di atas, peneliti dari dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu New Armenian Medical Journal. Penelitian tersebut membahas mengenai imunopatogenesis infeksi dengue dan COVID-19, serta strategi pencegahannya.

DBD dan COVID-19 mungkin memiliki gejala klinis yang serupa pada tahap awal dan gambaran laboratorium yang serupa. Hasil positif palsu pada pemeriksaan serologi DBD kemungkinan karena adanya kesamaan antigenik antara virus dengue dan SARS-CoV-2, sehingga mampu membentuk antibodi yang akan dideteksi dengan uji serologi cepat untuk virus dengue. Selain itu, karena kesamaan struktur antigenik, SARS-CoV-2 dapat memicu produksi antibodi anti-DENV dari memori imunologis sel T dan B yang berasal dari paparan sebelumnya terhadap virus DENV. Antibodi anti-DENV pada DBD dapat menyebabkan hasil positif palsu dari tes rapid dengue yang dapat menyebabkan kesalahan dugaan terhadap infeksi COVID-19, yang menyebabkan implikasi serius bagi pasien dan kesehatan masyarakat. Oleh karenanya penting untuk melakukan langkah-langkah pencegahan untuk melindungi diri dan keluarga dari kedua penyakit tersebut. Bagaimana langkah pencegahan DBD dan COVID-19?

Pencegahan dan penanggulangan DBD difokuskan pada pemutusan siklus hidup vektor nyamuk dengan pendekatan biologi, fisik, dan kimiawi yang telah menjadi bagian dari program kesehatan nasional dan diperkenalkan kepada masyarakat sejak tahun 1968. Pendekatan fisik pencegahan DBD yang populer di masyarakat adalah memberantas tempat perkembangbiakan nyamuk dengan menguras penampungan air seminggu sekali, menutup tandon air, dan mendaur ulang wadah bekas. Sebaliknya, COVID-19 dapat ditularkan terutama melalui kontak, tetesan pernapasan (diameter> 5-10 μm) dan droplet nuklei (diameter aerosol, ≤ 5 μm) ketika orang yang terinfeksi berbicara, batuk, bernyanyi atau bersin. Pencegahan COVID-19 didasarkan pada cara penularan dan pendekatan yang telah diperkenalkan kepada masyarakat. Protokol kesehatan telah diterapkan di tempat kerja, sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan, rumah, dan tempat umum lainnya di Indonesia, dan diharapkan masyarakat dapat menaati protokol kesehatan tersebut.

Informasi detail mengenai kajian ilmiah ini kami tuliskan pada https://ysmu.am/website/documentation/files/3bc19216.pdf

Penulis: Retno Budiarti, Wienta Diarsvitri, Brian Eka Rachman, Titong Sugihartono, Yoshio Yamaoka,  Muhammad Miftahussurur

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu