Tanda dan Manajemen Pengobatan Stenosis Aorta

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi stenosis aorta. (Sumber: halodoc)

Stenosis aorta adalah penyakit katup jantung yang paling umum dijumpai pada orang dewasa dan merupakan penyebab penyakit kardiovaskular ketiga setelah hipertensi arteri dan penyakit arteri koroner. Berdasarkan Euro Heart Survey pada penyakit katup jantung, stenosis aorta merupakan penyakit primer katup tunggal yang paling sering dijumpai (43,1%), dan mayoritas berupa stenosis aorta degeneratif pada individu dengan usia lanjut.

Stenosis pada katup aorta umumnya terjadi pada dewasa tua, dimana 3-5% dari orang berusia lebih dari 65 tahun menderita penyakit ini. Stenosis aorta memiliki morbiditas dan mortalitas yang lebih besar dibandingkan dengan penyakit katup jantung yang lain. Saat ini, stenosis aorta adalah penyakit katup jantung paling sering pada negara dan prevalensinya meningkat dengan bertambahnya usia. Oleh karena itu, dengan bertambahnya angka harapan hidup, maka populasi pasien dengan stenosis pada katup aorta akan bertambah banyak di masa yang akan datang.

Diagnostik untuk stenosis aorta makin maju seiring dengan berkembangnya teknik dalam penggunaan echocardiography. Begitu pula dengan guidelines, approach, serta indikasi aortic valve replacement berubah seiring dengan berkembangnya ilmu di bidang anestesi dan pembedahan. Katup aorta bicuspid adalah kelainan kongenital tersering dari stenosis katup aorta. Sedangkan pada dewasa tua, sekitar 2% orang dengan usia lebih dari 65 tahun, s3% orang dengan usia lebih dari 75 tahun, dan 4% orang dengan usia lebih dari 85 tahun mengidap penyakit ini.

Diskusi

Prevalensi stenosis dari katup aorta meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Berdasarkan Euro Heart Survey pada penyakit jantung katup, proses degenerative adalah etiologi stenosis aorta yang paling dominan (81,9%), diikuti oleh akibat penyakit rematik (11,2%). Endokarditis menyumbang 0,8% dari kasus stenosis aorta, stenosis aorta kongenital dengan katup bicuspid aorta terjadi pada 5,4% pasien, sedangkan 0,6% adalah akibat penyebab lain. Penyebab yang jarang dari stenosis aorta meliputi sindroma metabolic (penyakit Fabry), penyakit menular nonspesifik, lupus eritematous, penyakit Pagani, hiperuresemia, perubahan karena obat-obatan, dan pasca terapi radiasi.Kalsifikasi stenosis aorta berkembang pada pasien dengan stadium akhirpenyakit ginjal.

 Pada pasien dewasa tua, stenosis aorta terjadi akibat kalsifikasi dan degenerasi yang progresif dari ketiga kuspis aorta. Komisuranya tidak menyatu seperti pada rhemautic aortic stenosis. Dulu, stenosis aorta diperkirakan sebagai suatu penyakit pasif degeneratif “wear and tear” yang terkait usia tua. Selain itu, faktor klinis seperti penyakit jantung coroner, hipertensi, obesitas, diabetes mellitus, merokok, dislipidemia, dan penyakit ginjal kronis diperkirakan terkait dengan terjadinya stenosis aorta. Namun, penelitian dari Otto CM et al mendukung bahwa dari aspek histopatologis dari penyakit katup aorta yang terkalsifikasi menunjukkan suatu proses aktif yang memiliki beberapa persamaan dengan proses terjadinya atherosclerosis, dimana melibatkan penumpukan lipid, infiltrasi makrofag dan sel T limfosit, kerusakanmembran basal, serta kalsifikasi mikroskopis.

Gejala klasik yang khas pada stenosis aorta meliputi sesak saat aktivitas dan gejala lain pada gagal jantung, angina, serta sinkop. Gejala tersebut dapat muncul baik dalam pada stenosis aorta ringan, sedang, maupun berat. Timbulnya gejala ini menandakan gangguan hemodinamik yang signifikan dan merupakan saat kritis untuk membuat keputusan dalam tatalaksana. Manifestasi ini seringkali tidak terjadi hingga kondisi lanjut. Karena periode tanpa gejala yang laten dan berkepanjangan, banyak pasien tidak menyadari kondisi mereka hingga terdeteksi murmur sistolik pada pemeriksaan fisik, firbilasi atrium onset baru, atau saat kateterisasi jantung pada penyakit arteri koroner dengan gejala.

Pada dewasa tua, gejala paling sering muncul adalah nyeri dada, sesak, penurunan toleransi latihan, dan pusing berputar, dimana gejala-gejala ini bisa berasal dari banyak penyebab lainnya sehingga seringkali stenosis aorta luput dari diagnosis banding. Gejala bisa saja tidak muncul pada orang tua yang jarang bergerak atau tidak aktif dalam kegiatan sehari-hari. Banyak pasien tidak menyadari manifestasi awal dari stenosis aorta karena perubahan bertahap dalam status hemodinamik.

Pada stenosis aorta bisa didapatkan perbedaan tekanan darah antara lengan kiri dan kanan sebesar lebih dari 10 mmHg. Pada pemeriksaan auskultasi dapat ditemukan paradoxal/reverse splitting dimana terjadi penutupan yang tertunda dari katup aorta. Dapat pula intensitas dari A2, yang seharusnya lebih keras dari P2, berkurang. Stenosis aorta seringkali terdiagnosis dengan adanya murmur mid-diastolik pada pemeriksaan fisik ataupun pemeriksaan echocardiographic. Pada stenosis aorta didapatkan murmur ejeksi sistolik yang kasar crescendo-decresendo dengan puncak terkeras terdengar pada ruang interkostal kedua sisi sternum kanan yang menjalar hingga ke leher (arteri karotis), dimana seringkali disertai dengan adanya thrill

Kesimpulan

Setelah menentukan gejala stenosis aorta, prognosis tanpa intervensi bedah sangat buruk. Ada studi menunjukkan bahwa rata-rata waktu mulai dari gejala sampai kematian adalah 2 tahun untuk pasien dengan keluhan sinkop pada aktivitas, 3 tahun untuk mereka dengan gejala gagal jantung, dan 5 tahun untuk mereka yang menderita angina. Gejala yang lebih parah akan menyebabkan hasil yang lebih buruk.

Penulis: Nanda Rachmad Putra Gofur

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.actascientific.com/ASCR/pdf/ASCR-02-0095.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu