Perkembangan Vaksin HPV

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi vaksin HPV. (Sumber: Alodokter)

Vaksin Human papillomavirus (HPV) merupakan vaksin untuk mencegah kanker serviks yang pertama kali mendapat persetujuan food and drug administration (FDA) di amerika serikat pada tahun 2006. Sebagaimana kita ketahui bahwa penyebab kanker serviks adalah infeksi HPV tipe risiko tinggi. Terdapat 2 tiope HPV risiko tinggi yaitu tioe risiko rendah dan risiko tinggi. HPV risiko rendah tidak menyebabkan kanker serviks sedangkan HPV risiko tinggi dapat menyebabkan kanker serviks.

Virus HPV menginfeksi mulut/leher rahim yang kita kenal pula sebagai serviks. Bila serviks terifeksi HPV tipe risiko tinggi maka bisa kemungkinan berkembang menjadi kanker serviks. Sebagian besar infeksi HPV risiko tinggi akan tereliminasi dari serviks dengan daya tahan tubuh yang baik, namun bila menetap bisa mengubah serviks normal menjadi kanker serviks. Perubahan serviks normal menjadi kanker serviks berlangsung dalam waktu yang lama, sehingga bila seorang perempuan melakukan pemeriksaan pap smear rutin, maka perubahan dini pada serviks bisa terdeteksi, belum sampai pada tahap kanker sehingga bisa dilakukan pengobatan untuk mengembalikan serviks ke normal.

Dalam perkembangannya, sejak 2009, vaksin HPV disetujui oleh FDA dipakai pada pria usia 11-26 tahun untuk mencegah penyakit kutil pada kelamin (kondiloma akuminata). Pemberian vaksin HPV pada pria bukan bertujuan mencegah kanker serviks pada perempuan. Di Amerika serikat vaksin HPV direkomendasikan diberikan pada pria usia 11-26 tahun. Pemberian vaksin HPV pada pria diatas usia 26 tahun  belum direkomendasikan untuk diberikan secara rutin

Pada saat vaksin HPV disetujui dipakai pada perempuan untuk mencegah kanker serviks, jadwal pemberiannya adalah 3 kali suntik. Untuk vaksin HPV bivalensi diberikan dengan interval 0-1-6 (pemberian kedua berjarak 1 bulan dari suntik pertama dan pemberian ketiga berjarak 6 bulan dari suntikan pertama). Untuk vaksin HPV kuadrivalensi diberikan dengan interval 0-2-6 (pemberian kedua berjarak 2 bulan dari suntik pertama dan pemberian ketiga berjarak 6 bulan dari suntikan pertama). Dalam perkembangannya, penelitian menunjukkan vaksin HPV yang diberikan hanya 2 kali suntik pada anak perempuan usia dibawah 15 tahun (9-14 tahun) menunjukkan efektivitas yang sama dengan pemberian 3 kali suntik. Rekomendasi saat ini untuk anak perempuan dibawah 15 tahun cukuo diberikan 2 kali suntik, tidak perlu 3 kali suntik. Pemberian dua kali suntik pada anak perempuan diberikan dengan interval 6 bulan antara suntikan pertama dengan suntikan kedua

Saat ini di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin HPV, bivalensi (merangsang terbentuknya antibodi terhadap HPV 16 dan 18) dan kuadrivalensi (merangsang terbentuknya antibodi terhadap HPV 6,11, 16 dan 18). Di Amerika Serikat vaksin kuadrivalensi digantikan dengan vaksin HPV nanovalensi yang bisa memberikan proteksi terhadap 9 jenis HPV (6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, 58). Vaksin kuadrivalensi dalam waktu dekat juga akan masuk di Indonesia.

Kombinasi antara skrining rutin kanker serviks dengan melakukan pap smear dan vaksinasi HPV diharapkan dapat menurunkan kejadian kanker seriks di Indonesia.

Penulis: Brahmana Askandar Tjokroprawiro

Jurnal bisa diunduh di link di bawah ini:

https://e-journal.unair.ac.id/MOG/article/view/20257

Berita Terkait

Binti Q. Masruroh

Binti Q. Masruroh

Alumnus Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga

Leave Reply

Close Menu