Variasi Nilai B Menggunakan Teknik Adc Mapping untuk Membedakan Keganasan Tumor Muskuloskeletal

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hello Sehat

Tumor muskuloskeletal memiliki dua sifat, yaitu jinak atau ganas. Tumor tulang adalah kelainan pada sistem muskuloskeletal neoplastik. Diperlukan alat diagnostik untuk mendeteksi tumor muskuloskeletal, untuk menunjang keberhasilan suatu diagnosis dan mencegah prosedur invasif seperti pembedahan dan biopsi. Oleh karena itu, MRI memainkan peran penting dalam menentukan karakteristik tumor muskuloskeletal karena kontras jaringan lunaknya yang sangat baik dan kemampuannya untuk membuat rekonstruksi multiplanar. Diffusion Weighted Imaging (DWI) merupakan salah satu sekuens yang dimiliki oleh MRI yang dapat digunakan sebagai metode non-invasif untuk mendeteksi sifat histologis tumor, untuk membedakan karakteristik tumor jinak dan tumor ganas. DWI telah diterapkan secara luas pada tumor jaringan lunak dan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.

Difusi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pergerakan molekul dalam jaringan karena gerakan termal acak. Nilai B merupakan parameter yang digunakan saat DWI sequence diaktifkan pada jaringan lunak tumor dan menjanjikan. Nilai B digunakan parameter ketika DWI sequence diaktifkan dan menggambarkan bagaimana difusi mempengaruhi intensitas sinyal dalam persamaan berikut b = γ2G2δ2 (Δ-δ / 3) di mana γ adalah rasio gyromagnetik, G adalah kekuatan gradien, δ adalah durasi gradien difusi dan Δ adalah waktu antara pulsa gradien difusi. Nilai b menggambarkan parameter akuisisi dan dinyatakan sebagai detik per milimeter persegi.

Penelitian dilakukan di RSUD Dr Soetomo Unit Radiologi antara bulan Agustus sampai Oktober 2018. Sebanyak 8 klasifikasi tumor muskuloskeletal dari 15 pasien (6 laki-laki dan 9 perempuan, usia rata-rata 37,92 ± 23,55) diperiksa. Komite etika telah disetujui dan informed consent telah dilakukan. Data pasien dirahasiakan dan hanya digunakan untuk proyek penelitian. Semua pasien dipelajari menggunakan MRI GE Optima 1,5T. Protokol pencitraan standar terdiri dari urutan berikut: aksial T1WI, koronal dan sagital dengan TR / TE (500-700 / 15-30), aksial T2W, koronal, sagital dengan TR / TE (3000-4500 / 85-120), STIR aksial, koronal, sagital dengan TR / TE (4000-5500 / 20-40), bidang pandang 20-35 dan sudut balik 300.

Subjek diperiksa dengan MRI menggunakan dua parameter nilai b yang berbeda yaitu nilai b masing-masing 800 s / mm2 dan 1000 s / mm2. Data yang dihasilkan dari penelitian ini adalah kuantitatif dari Pemetaan ADC dengan menggunakan dua parameter nilai b yang berbeda. Hasil subjek dari pemeriksaan MRI, kemudian menempatkan ROI pada area terlarang selama post processing untuk menghasilkan nilai ADC Mapping. Jika terdapat beberapa komponen tumor (padat vs kistik, nekrotik), pengukuran ROI dilakukan pada bagian padat tumor.

Terdapat perbedaan nilai ADC yang dihasilkan oleh nilai b 800 s / mm2 dan 1000 s / mm2. Nilai mean ADC pada nilai b 800 s / mm2 adalah 2.50 ± 0,04×10-3 sedangkan pada nilai b 1000 s / mm2 adalah 1,96 ± 0,03×10-3. Nilai ADC saat menggunakan nilai b 800 s / mm2 lebih tinggi dibandingkan menggunakan nilai b 1000 s / mm2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan nilai b yang kecil akan menghasilkan nilai ADC yang lebih besar. Namun, menggunakan nilai b pada area terbatas 800 s / mm2 lebih jelas dibandingkan dengan nilai b 1000 s / mm2.

Pada penelitian ini nilai ADC kelompok tumor jinak memiliki rentang nilai 2.24×10-3 – 6.21×10-3 pada nilai b 800 s / mm2, sedangkan nilai b 1000 s / mm2 memiliki rentang nilai 2.21×10-3 – 4.28×10-3 masing-masing. Sedangkan kelompok tumor ganas memiliki nilai 1.22×10-3 – 9.59×10-3 pada nilai b 800 s / mm2 sedangkan penggunaan nilai b 1000 s / mm2 memiliki nilai range 1.11×10-3 – 6.75×10- 3. Oleh karena itu nilai mean ADC pada kelompok tumor jinak pada nilai b 800 s / mm2 adalah 280.72 ± 4.22×10-3 sedangkan nilai b 1000 s / mm2 adalah 146.37 ± 3.24×10-3. Selanjutnya kelompok tumor ganas pada nilai b 800 s / mm2 adalah 238.04 ± 2.12×10-3 sedangkan pada nilai b 1000 s / mm2 berturut-turut 160.12 ± 1.77×10-3.

Nilai ADC tumor jaringan lunak dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk seluleritas tumor, matriks tumor, dan degenerasi nekrotik atau kistik. Faktor lain yang mempengaruhi ADC adalah komponen lemak di dalam tumor dan penempatan ROI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter nilai b yang optimal untuk membedakan tingkat keganasan tumor muskuloskeletal adalah menggunakan nilai b 800 s / mm2 yang dibuktikan dengan menggunakan statistik uji T berpasangan.

Penulis: Dr. Rosy Setiawati, dr., Sp.Rad(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: 

https://medic.upm.edu.my/jurnal_kami/malaysian_journal_of_medicine_and_health_sciences_mjmhs/mjmhs_vol_16_supp_16_december_2020-59898

Celine Catharina Rosari, Rosy Setiawati, Didik Soeharmanto, Lailatul Muqmiroh, Amillia Kartikasari. Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences Vol. 16 SUPP 16 (62-66)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu