Rujukan yang Cepat dan Tepat akan Menurunkan Angka Kematian Ibu dalam Proses Melahirkan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi ibu melahirkan. (Sumber: dream.co.id)

Angka Kematian Ibu (AKI) di Surabaya dalam 3 tahun terakhir mengalami penurunan yang cukup signifikan, namun masih cukup tinggi yaitu 72,99 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2018. Meski sudah menunjukkan kemajuan yang baik, Surabaya tetap menempati AKI kedua terbesar di Provinsi Jawa Timur. Nyoman Anita Damayanti yang merupakan PIC GELIAT (Gerakan Peduli Ibu dan Anak Sehat) UNAIR menyatakan “Salah satu penyebab kematian ibu dalam proses melahirkan antara lain 3 terlambat yaitu: terlambat mengambil keputusan, terlambat datang ke fasilitas kesehatan dan terlambat menerima bantuan medis”.

Hal ini juga didukung dengan hasil wawancara mendalam di 6 Puskesmas di Surabaya dengan Kepala Puskemas dan Bidan Keluarahan, yang menyebutkan “Salah satu masalah yang berisiko menyebabkan kematian ibu adalah dalam proses rujukan ibu melahirkan, karena Puskesmas kesulitan mendapatkan rumah sakit dengan sumber daya yang tersedia untuk menerima kondisi ibu hamil yang dirujuk”. Focus Groups Discussion (FGD) yang dilakukan dengan beberapa bidan juga menyebutkan antara lain:

  1. Ketika merujuk pasien, pihak Puskesmas harus menelpon Rumah Sakit (RS) satu per satu (dalam hal ini RS adalah fasilitas pelayananan kesehatan tingkat lanjut).
  2. Seringkali saat merujuk ke RS pemerintah, rujukan sering ditolak karena RS beranggapan bahwa masih bisa ditangani di Puskesmas.
  3. Pasien yang dirujuk sering kali dikembalikan ke Puskesmas. Kebanyakan pasien tersebut adalah pasien pre-eklamsi ringan dan post date yang sebenarnya Puskesmas tidak mampu menangani pasien dengan keadaan tersebut. Selain itu, RS swasta tidak mau menerima pasien BPJS jika tidak benar-benar emergency sehingga sering kali pasien dikembalikan ke Puskesmas.
  4. Banyak pasien yang tidak mengetahui bahwa persalinan normal harus dilaksanakan di FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama).
  5. Ketika ada rujukan, Puskesmas biasanya menghubungi RS dengan tipe terendah dulu, jika tidak ada respon akan langsung dirujuk ke RSUD dr. Soetomo. Dengan demikian dapat terjadi penumpukan pasien di RSUD Dr. Soetomo yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap kualitas pelayanan pada ibu melahirkan.

Masalah komunikasi rujukan antara Puskesmas dan RS menjadi hal yang sangat penting untuk diselesaikan, salah satunya dengan mengembangkan sistem aplikasi mobile dalam mencari rumah sakit yang tersedia untuk sumber daya mereka dalam menerima kondisi ibu hamil yang akan dirujuk. Fungsi utama aplikasi seluler ini adalah untuk mengurangi risiko kematian ibu dalam proses persalinan. Pengguna aplikasi seluler ini adalah bidan Puskesmas dan petugas IRD RS rujukan. Aplikasi mobile ini disusun berdasarkan hasil FGD bersama bidan, dokter dan kepala puskesmas tentang regulasi sistem rujukan yang terdapat di Kota Surabaya dan FGD dengan dokter kandungan yang menyepakati beberapa indikator kondisi ibu yang harus diperhatikan dalam proses rujukan dan rujuk balik.

Aplikasi seluler ini dikembangkan dengan media komunikasi internet dan media SMS dengan media internet sebagai defaultnya. Jadi jika gadget diluar jangkauan internet, maka pesan rujukan akan dibroadcast menggunakan fitur SMS. Otomatisasi ini dikembangkan agar tidak menghambat pengiriman pesan dalam keadaan darurat. Alur komunikasi dari aplikasi mobile ini adalah mengirimkan pesan kondisi darurat di Puskesmas ke RS dibroadcast melalui sistem aplikasi mobile, RS dengan sumber daya yang tersedia berdasarkan kondisi pasien yang dibroadcast akan menanggapi pesan melalui sistem aplikasi seluler, pasien dirujuk dan dirawat di RS tersebut. Prosesnya akan diakhiri dengan rujuk balik ke Puskesmas sebagai layanan kontrol pasca melahirkan. Proses alurnya adalah:

  1. Puskesmas melapor (broadcast memakai format yang telah disepakati) akan merujuk ke RS. Jika RS tidak segera ada respon, ada tombol bisa langsung telepon
  2. Pada RS target akan terdapat notification berupa alarm bahwa ada permintaan rujukan. Pada notifikasi ada pilihan tombol menerima atau menolak
    1. Proses menerima dan menolak tidak pada semua RS, ada yang hanya tombol terima saja. Hanya ada 1 RS yang memiliki satu tombol menerima (RS Soetomo)
    1. Ketika menekan tombol tolak, akan ada memo deskripsi mengapa menolak rujukan.
    1. Pihak RS akan merespon rujukan tersebut dengan memilih menerima atau menolak. Statement menerima atau menolak akan dikirim melalui server. Ketika menekan tombol tolak, ada memo deskripsi mengapa menolak rujukan
  3. Perujuk memilih RS mana yang akan dituju, kemudian perujuk menekan tombol telepon untuk berkomunikasi dengan RS yang dipilih. RS lain tahu bahwa perujuk sedang berkomunikasi dengan RS tersebut (RS yang dipilih oleh perujuk).                                           
  4. Jika perujuk memilih ya (tombol ya), artinya mengirim pasien. Jika memilih tidak, maka pelapor bisa berpindah ke RS lain sisanya untuk berkomunikasi dan kembali ke poin 3
  5. Pasien diterima. Dilakukan oleh RS, dengan menekan tombol terima saat pasien datang. Notifikasi penerimaan pasien rujukan akan dikirim ke tiga RS lain

Diah Indriani (Ketua Peniliti) dalam penelitian ini menyebutkan “Aplikasi seluler ini telah melalui proses uji coba di Puskesmas dan RS, namun saat ini sedang dalam proses penataan aplikasi seluler berdasarkan bug yang terjadi di sistem, selain itu saat ini juga sedangkan dikembangkan menyesuaikan dengan kondisi pandemi COVID-19 karena akan terdapat perbedaan proses rujukan menyesuaikan kondisi ibu hamil sedang terinfeksi COVID-19 atau tidak”.  

Penulis: Diah Indriani

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini :

https://www.jphres.org/index.php/jphres/article/view/1813

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu