“Bumi Hijau” Dampak Emisi Karbon pada Industri Manufaktur di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Tempo.co

Masalah perubahan iklim dan keprihatinan publik atas isu-isu yang diakibatkan oleh perubahan iklim menyebabkan munculnya lingkungan baru dalam beberapa tahun terakhir dan membuat risiko yang serius bagi kehidupan dan memerlukan respon global untuk menghindari dampak bencana (Dietz, Hope, Stern, & Zenghelis, 2007). Perubahan ini fokus pada pengurangan gas rumah kaca di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Contoh komitmen yang dibentuk di Indonesia adalah Perpres 61 tahun 2011 dan Perpres 71 tahun 2011 dimana peraturan tersebut dibuat untuk memitigasi perubahan iklim dalam mengendalikan dan mengurangi risiko perubahan iklim. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (2017) mengeluarkan peraturan yang terkait dengan emisi karbon yang dihasilkan oleh kategori industri penghasil energi pada tahun 2016, Tiga subkategori industri yaitu pembangkit listrik, kilang minyak, dan pengolahan batubara.menghasilkan emisi karbon sebesar 247.422 Gg CO2e. Di antara tiga subkategori, penyumbang emisi paling signifikan adalah pembangkit listrik diikuti oleh kilang minyak lalu pengolahan batubara. Pada tahun 1957, pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan yang mendukung dan memperkuat keterlibatan personel militer dalam kegiatan ekonomi di Indonesia dan sejak itu muncul bisnis militer sebagai salah satu pemain penting dalam perekonomian Indonesia (Harymawan, 2018). Menurut Duffy (2006), CEO dengan latar belakang memiliki keterampilan kepemimpinan yang lebih komprehensif seperti kerja tim, kemampuan komunikasi yang baik, kemampuan organisasional, menetapkan tujuan khusus dan memberdayakan orang lain untuk mencapainya seperti rasa etika yang sangat berkembang dan kemampuan untuk menangani tekanan yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. 

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara pengungkapan emisi karbon dari perusahaan manufaktur yang terlibat sebagai produsen emisi gas yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini memberikan kontribusi sumber informasi tentang praktik pengungkapan lingkungan yang diharapkan dapat memperhatikan emisi karbonnya, kemudian hasil pengungkapan ini dapat memberikan kontribusi untuk mempertimbangkan aspek kinerja lingkungan perusahaan. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2013 hingga 2017. Sampel dalam penelitian ini adalah 53 perusahaan. Jumlah observasi sebanyak 265 perusahaan. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa rata-rata kinerja CEO perusahaan yang memiliki koneksi militer lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak terhubung militer. Perusahaan yang memiliki sertifikat ISO 14001 dengan koneksi militer memiliki rata-rata yang lebih tinggi dan secara signifikan dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki koneksi militer. Sehubungan dengan Ukuran Dewan, Komisaris Independen dan leverage perusahaan dengan koneksi militer secara signifikan lebih tinggi daripada perusahaan yang tidak terhubung dengan militer. 

Hasil pengujian menggunakan regresi menunjukkan bahwa jumlah direktur akan menentukan luasnya pengungkapan pada emisi karbon. Dewan komisaris independen berpengaruh negatif dan tidak signifikan. Artinya semakin banyak jumlah dewan komisaris independen di perusahaan justru berpengaruh negatif. Disis lain dewan komisaris independen belum efektif dalam menjalankan fungsi pengawasan khususnya dalam kinerja emisi karbon. Perusahaan yang memiliki sertifikat ISO 14001 mempunyai dampak yang positif karena mampu menangani jejak emisi karbon, selain itu juga menghasilkan informasi yang kredibel tentang emisi karbon. Koneksi militer ternyata tidak mendukung riset ini, artinya, CEO yang berlatar-belakang militer tidak serta merta menjadikan fokus terhadap laporan emisi karbon. Sebab sebagai CEO mereka juga mempunyai kewajiban untuk menjaga kinerja perusahaan yang lain, termasuk peningkatan profitabilitas. Hasil penelitian ini juga mendukung pentingnya peran tata kelola (GCG: Good Corporate Governance) perusahaan. Hal ini didukung oleh semakin terbukanya informasi mengenai emisi karbon pada perusahaan terbuka, Selain itu ISO 14001 juga dapat menjadi pemicu dalam mendorong strategi pengurangan emisi karbon menuju zero defects.

Penulis: Sri Iswati, Pikar Setiawan, Muslich Anshori, Iswajuni, Azizah Anshori

Link jurnal: https://journal.umy.ac.id/index.php/ai/issue/view/606

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu