Petakan Faktor Resiko Kawin Berulang pada Sapi di Banyuwangi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Pemkab Banyuwangi

Upaya peningkatan hasil peternakan sapi potong saat ini masih mengalami banyak kendala yaitu masalah gangguan reproduksi yang dapat mengarah pada kemajiran atau kemandulan dari sapi induk betina potong yang dapat berpengaruh pada penurunan produktivitasnya. Gangguan reproduksi tersebut salah satunya adalah kawin berulang atau repeat breeding. Kawin berulang  adalah keadaan ternak betina yang pernah beranak dan memiliki siklus estrus normal yang dikawinkan dengan cara inseminasi buatan atau kawin alam sebanyak dua kali atau lebih tetapi tidak berhasil mengalami kebuntingan. Banyak kerugian dialami oleh peternak baik berkurangnya pendapatan yang cukup banyak maupun kerugian waktu pemeliharaan tanpa menghasilkan anak sapi. Peternakan sapi potong dikategorikan sehat jika induk sapi mampu melahirkan satu anak/pedet setahun sekali, tetapi dengan kejadian repeat breeding yang cukup sering mengakibatkan induk sapi calving internak atau jarak beranaknya jadi sangat panjang. Kawin berulang secara garis besar dapat disebabkan oleh dua faktor utama yaitu kegagalan fertilisasi dan kematian embrio dini, hal ini karena sistem perkandangan dan sanitasi kandang yang kurang baik, tidak tepatnya pengamatan estrus yang dilakukan oleh peternak, dan masalah kecukupan pakan dan air minum tiap hari di kandang.

Informasi dan pedoman untuk para peternak mengenai faktor resiko kawin berulang pada sapi potong sehingga dapat diupayakan sebagai langkah guna memperkecil kejadian kawin berulang, sehingga terjadi peningkatan efisiensi reproduksi dan pendapatan peternak. Riset telah dilakukan di kecamatan licin, kabupaten Banyuwangi sebagai salah satu daerah penghasil sapi potong yang cukup penting, dengan melakukan wawancara terhadap peternak dan petugas kawin suntik, serta melakukan pengamatan langsung terhadap 69 ekor sapi dari total 2331 ekor sapi. Kemudian dilakukan analisis untuk mengidentifikasi adanya hubungan antara kejadian dan penyebab  kawin berulang yang ditemukan.

Hasil penelitian menunjukkan 45 ekor sapi mengalami kawin berulang  dan 24 ekor tidak mengalami kejadian tersebut. Sapi potong betina yang mengalami kawin berulang  45 ekor di antaranya memiliki siklus sepanjang 21 hari, dua ekor dengan siklus 28 hari, satu ekor dengan siklus 30 hari dan satu ekor memiliki siklus 18 hari. Hasil survei menunjukkan bahwa peternak sapi potong di Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi, sudah mengetahui siklus estrus dengan baik seperti lama birahi sapi, lama satu siklus estrus sapi, tanda-tanda sapi estrus, kapan waktu yang tepat untuk melakukan inseminasi buatan, dan jika sapi menunjukkan tanda-tanda estrus peternak akan segera melaporkan kepada inseminator, dan jarak waktu antara penemuan dan pelaporan estrus kurang dari satu jam. Kandang milik seluruh peternak telah menyediakan tempat pakan dan air minum, sisa pakan dan kotoran sapi dibuang di tempat penampungan.  Pembersihan kandang rutin dilakukan tiap harinya hanya disapu dan tidak pernah dibersihkan dengan deterjen atau desinfektan. Peternak memberikan air minum untuk sapi potong tidak secara adlibitum, akan tetapi menggunakan dua timba air dengan ukuran kurang lebih 10 liter. Hasil penelitian ini menunjukkan peternak hanya memberikan hijauan berupa rumput gajah, rumput ilalang, dan sedikit jerami, tanpa pakan tambahan berupa konsentrat.

Para peternak masih memberikan pakan untuk ternaknya dengan kualitas rendah.  Pakan yang diberikan belum mampu memenuhi nutrisi yang diperlukan tubuh sapi. Kekurangan pakan dapat menyebabkan kesuburan ternak menurun dengan tingginya kejadian kawin berulang di Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kejadian kawin berulang pada sapi potong di Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi sebesar 64%. Kawin berulang dapat disebabkan karena kurangnya pengalaman berternak, ketidaktahuan siklus estrus, perkandangan yang tidak sesuai standar, pakan dan air minum yang tidak mencukupi kebutuhan. Semua faktor tersebut saling berkaitan dapat menyebabkan kawin berulang.

Penulis : Ragil Angga Prastiya, drh., M.Si.

Informasi lengkap tentang riset ini dapat diakses pada artikel di bawah ini:

Faktor-Faktor Risiko Kawin Berulang pada Sapi Potong di Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur | Jurnal Veteriner (unud.ac.id)

https://ojs.unud.ac.id/index.php/jvet/article/view/68470

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu