Hubungan Antara Kadar Adiponektin Darah dan Kelemahan Otot pada Lansing Pengidap Paru Obstruktif Kronik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh halodoc

Penyakit Paru Obstruktif Kronik adalah penyakit paru dengan gangguan hambatan aliran udara, sehingga pasien merasa sesak napas. PPOK merupakan penyakit pernapasan yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas utama di seluruh dunia. Penyakit ini menimbulkan beban sosial dan ekonomi yang tinggi dan cenderung meningkat. Data-data angka kejadian PPOK bervariasi di berbagai negara di dunia. Angka kejadian PPOK lebih tinggi pada perokok daripada bukan perokok, dan lebih tinggi pada kelompok umur > 40 tahun dibandingkan < 40 tahun, juga pada laki-laki lebih banyak dari pada perempuan. Penyakit ini  tidak dapat disembuhkan, tapi dapat dicegah dan diobati, penyebab utama adalah rokok, perjalanannya menahun , semakin lama semakin parah dan salah satu komplikasi yang berbahaya adalah kelemahan otot (frailty). Penelitian ini ditujukan untuk mencari petanda (yaitu Adiponektin) risiko terjadinya kelemahan otot, sehingga dapat dipakai sebagai upaya dini untuk mencegah supaya tidak terjadi kondisi tersebut.

Nama penyakit ini (PPOK) sulit dimengerti oleh masyarakat pada umumnya sehingga mereka sering menganggap jika merokok dan timbul sesak maka itu adalah gejala akibat merokok, sehingga pasien tidak segera mencari pertolongan dokter, kejadian ini menmbulkan pasien datang ke klinik dalam stadium yang parah, sehingga dokter kesulitan untuk mengobati. Dokter seringkali memberikan istilah yang lebih mudah diterima  untuk penyakit ini adalah , paru bapak/ibu “molor” sehingga oksigen tidak bisa masuk dengan sepenuhnya, akibatnya bila pasien melakukan aktivitas yang membutuhkan oksigen menjadi sesak. Diagnosis PPOK didasarkan pada riwayat gejala pasien, faktor risiko (polusi udara di dalam maupun di luar rumah) dan pemeriksaan kekuatan napas (dengan alat spirometri)

Kelemahan otot (frailty) adalah Frailty adalah kumpulan gejala (sindrom) pada lansia, ditandai dengan kelemahan, penurunan berat badan, dan aktivitas yang rendah dan berhubungan dengan kondisi kesehatan yang lemah. Angka kejadian  frailty pada populasi dewasa yang berusia 65 tahun atau lebih di Amerika Serikat berdasarkan kriteria berkisar 7% hingga 12% dan meningkat sesuai dengan kelompok usia, dengan didapatkan 3,9% pada kelompok usia 65 hingga 74 tahun dan semakin meningkat sehingga mencapai 25% pada kelompok usia di atas 85 tahun. Kriteria frailty yang divalidasi dan banyak digunakan untuk skrining yaitu kelelahan, kinerja yang lambat (dinilai dengan kecepatan berjalan), kelemahan (dinilai dengan genggaman tangan), penurunan berat badan yang tidak disengaja (4,5 kg dalam satu tahun terakhir), dan aktivitas fisik yang rendah. Empat faktor utama yang dianggap penting sebagai penyebab  frailty yaitu: (1) faktor genetik (keturunan), (2) penuaan, (3) faktor gaya hidup, dan (4) penyakit subklinis dan konsekuensi dari penyakit sementara dan trauma. Juga perubahan hormonal dan inflamasi. Selama dekade terakhir konsep frailty mulai mendekati beberapa konsensus: frailty adalah sindrom biologis menurun cadangan dan ketahanan terhadap stres, yang dihasilkan dari penurunan kumulatif di beberapa sistem fisiologis dan menyebabkan kerentanan terhadap hasil yang merugikan. Saat ini frailty tidak hanya dibatasi pada paradigma fisik, akan tetapi juga faktor psikologis, kognitif, emosional, sosial dan spiritual juga perlu diperhitungkan dalam definisi frailty

Adiponektin adalah bahan yang diproduksi jaringan lemak  yag berfungsi terutama adalah anti peradangan. Adiponektin adalah protein spesifik diproduksi jaringan lemak. Fungsi protein ini tidak sepenuhnya diketahui. Adiponektin merupakan protein anti peradangan.  Kadar adiponektin darah sangat meningkat pada non-obesitas dibandingkan obesitas (kegemukan) Kadar adiponektin lebih dari 3 kali lipat lebih tinggi pada PPOK yang kambuh dan stabil pada  berat badan normal dibandingkan obesitas. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa gangguan pernapasan yang disebabkan oleh PPOK, dan peningkatan kadar adiponektin darah mungkin menjadi salah satu faktor penyebab malnutrisi dan kakeksia pada PPOK, yang mungkin terjadi di kemudian hari sebagai komponen respons inflamasi tubuh. Kenaikan lebih lanjut serum adiponektin pada menunjukkan bahwa adiponektin merupakan petanda inflamasi pada pasien PPOK selama kambuh.

Pada penelitian saya, Berdasarkan komponen frailty, kelelahan merupakan komponen yang terbanyak didapatkan yaitu pada 23 dari 38 subjek PPOK, disusul penurunan berat badan 11 dari 38 subjek PPOK, kelambatan 11 dari 38 subjek PPOK. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan kadar adiponektin pada beberapa komponen frailty. Pada subjek yang mengalami kelelahan, penurunan berat badan, penurunan kecepatan berjalan memiliki kadar adiponektin serum yang lebih tinggi, namun tidak demikian dengan komponen kekuatan otot dan aktivitas fisik yang rendah Pada penelitian ini didapatkan perbedaan kadar adiponektin yang lebih tinggi secara bermakna pada status gizi kurang dan normal dibandingkan status gizi lebih. 

Penulis : Erika Marfiani

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di : https://e-journal.unair.ac.id/IJTID/article/view/16027/11624

Erika Marfiani, Jusri Ichwani, Novira widajanti, Daniel Maranatha, Muhammad Amin (2020). Relationship Between Level of Serum Adiponectin and Frailty in Elderly Patients with Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease, 8(2). Doi: 10.20473/ijtid.v8i2.16027

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu