Meninjau Gambaran Status Gizi Ibu Hamil dengan Kacamata Transkultural Nursing

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI gizi ibu hamil. (Foto: alodokter.com)
ILUSTRASI gizi ibu hamil. (Foto: alodokter.com)

Masalah gizi buruk yang dialami pada ibu sebelum dan selama kehamilan mempunyai akibat yang serius. Baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tidak hanya pada ibu, tapi juga pada bayi.

Sampai saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami  Kekurangan Energi Kronis (KEK). Banyak faktor yang berpengaruh pada kondisi tersebut. Salah satunya adalah pola makan yang kurang beragam dan porsi yang kurang. Penyebab kurang beragamnya pola makan serta kurangnya porsi asupan makanan itu adalah budaya tabu terhadap makanan (food taboo). Banyak ibu hamil menganut kepercayaan dan pantangan mengonsumsi beberapa jenis makanan yang sebenarnya sangat dibutuhkan. Budaya yang bertentangan dengan kesehatan tentu akan berdampak pada status kesehatan.

Latar belakang budaya dan tata kehidupan sosial yang berbeda mempengaruhi sistem tingkah laku dan tindakan dari suatu komunitas masyarakat tertentu. Beberapa komunitas masih memiliki budaya pantangan makanan untuk ibu hamil yang secara tidak sengaja menghilangkan nutrisi penting yang seharusnya dikonsumsi oleh ibu. Pantangan makanan yang dipercayai mengakibatkan ibu menjadi kekurangan gizi dan berat badan bayi yang dilahirkan rendah. Diperlukan analisis masalah dengan menggunakan pendekatan budaya. Pendekatan teori Transcultural Nursing diharapkan mampu menyelesaikan masalah secara holistik.

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah ibu hamil yang melakukan kunjungan antenatal care K1 di Puskesmas Tanah Kali Kedinding Surabaya. Seleksi  sampel  penelitian menggunakan  teknik consecutive sampling  didapatkan  besar sampel sebesar 104 responden ibu hamil. Alat ukur variabel penelitian berupa kuesioner  yang terdiri atas data demografi, variabel 7  (tujuh)  komponen faktor trankultural tersing meliputi faktor pemanfaatan teknologi, religiusitas, dukungan keluarga, nilai budaya, politik dan legal, ekonomi, serta pendidikan.

Pengukuran status gizi ibu hamil berdasar hasil pemeriksaan lingkar lengan atas menggunakan pita LILA divalidasi dengan data buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)  yang menjadi pegangan ibu hamil. Kuesioner diberikan dalam bentuk pertanyaan close ended, yaitu dischotomy questions (kuesioner pemanfaatan teknologi dan politik & legal) dan pertanyaan yang diukur menggunakan skala likert (kuesioner religiusitas, dukungan keluarga, nilai budaya).  

Status gizi ibu hamil merupakan salah satu indikator dalam mengukur status gizi masyarakat. Jika konsumsi gizi untuk ibu hamil tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh dapat menyebabkan terjadinya defisiensi zat gizi. Kekurangan zat gizi pada ibu hamil masih sangat tinggi di Indonesia, hal ini ditandai dengan tingginya AKI yang disebabkan oleh KEK selama masa kehamilan. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian  ibu hamil mengalami status gizi yang kurang dengan ukuran lingkar lengan atas  kurang dari 23,5 cm.

Sebagian besar ibu hamil memiliki pemanfaatan teknologi yang baik sehingga cenderung memiliki status gizi baik. Paparan teknologi  berupa informasi, sarana prasarana, dan pelayanan kesehatan akan menghasilkan status kesehatan yang lebih baik. Tidak ada hubungan antara religiusitas dengan status gizi pada ibu hamil. Hal ini disebabkan hampir seluruh ibu hamil memiliki keyakinan yang sama, yang menyebabkan tidak adanya perbedaan mengenai tingkat religius dari ibu hamil.

Seseorang dikatakan religius tidak hanya mengaku mempunyai agama, tapi juga harus memiliki pengamalan ritual agama, dan perilaku (moralitas agama). Religiusitas memberikan motivasi yang sangat kuat untuk mendapatkan kebenaran, yang membuat  seseorang bersifat rendah hati dan membuka diri. Meskipun religiusitas mempengaruhi cara pandang terhadap kesehatan, namun kepercayaan seseorang terhadap agama tertentu tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap status gizi selama kehamilan.

Mayoritas ibu hamil mendapatkan dukungan keluarga yang baik. Ibu hamil dengan dukungan keluarga yang baik cenderung tidak mengalami status gizi yang kurang. Sistem dukungan keluarga berfungsi untuk meningkatkan kesehatan dan proses adaptasi. Dukungan keluarga yang kurang dapat menyebabkan ibu memiliki sifat negatif dalam menentukan bentuk dan cara perawatan kesehatan bagi dirinya, terutama berkaitan dengan pemenuhan asupan gizi. Sebagian ibu hamil memiliki  keyakinan salah yang berkaitan dengan pemenuhan gizi.  Ibu hamil  yang tinggal bersama keluarga besar, cenderung memegang teguh keyakinan  keluarga  secara turun-temurun. Seseorang cenderung untuk mempertahankan budaya walaupun  kurang baik, perilaku ibu hamil ini didukung oleh lingkungan yang merupakan sarana pemersatu dalam masyarakat. Negosiasi budaya merupakan intervensi dan implementasi keperawatan yang tepat perlu dilakukan untuk membantu ibu hamil beradaptasi budaya tertentu yang lebih menguntungkan dan mengacu pada kesehatan. Sebagian besar ibu hamil memiliki pengetahuan terhadap politik & legal baik.  Hal ini terkait alokasi dana dan makanan gizi seimbang yang dianjurkan selama hamil. Mayoritas ibu hamil mengerti akan peraturan dan kebijakan tentang makanan gizi seimbang.  Lebih dari separuh ibu hamil berstatus ekonomi kurang. Faktor ekonomi erat kaitannya dengan pekerjaan ibu hamil. Sebagian besar ibu hamil  sebagai ibu rumah tangga yang  tergantung pada penghasilan suami. Sebagian besar ibu hamil memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Rata-rata ibu hamil yang mendapatkan pendidikan  SMA ke atas  mengalami status gizi baik. Semakin tinggi pendidikan maka individu tersebut dapat belajar beradaptasi  dengan  budaya untuk menjaga kondisi kesehatannya. (*)

Penulis: Ni Ketut  Alit Armini

Informasi detail dari  artikel  ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://e-journal.unair.ac.id/JNERS/article/view/21388

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu