Kriopreservasi Penyelamat Plasma Nutfah Ikan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Elshinta

Seperti kita ketahui bersama Indonesia memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Keanekaragaman hayati adalah kekayaan hidup dibumi, tumbuhan, hewan, mikroorganisme, genetika yang dikandungnya, dan ekosistem yang dibangunnya  menjadi  lingkungan  hidup. Dengan demikian keanekaragaman hayati adalah keseluruhan gen, spesies dan ekosistem yang terdapat di dalam suatu wilayah. Sehingga satwa akuatik merupakan suatu bagian dari kenaekaragaman hayati. 

Tercatat oleh Fishbase, spesies ikan yang ada di Indonesia berjumlah 4629 spesies dan Indonesia menduduki peringkat ketiga dengan keanekaragaman spesies ikan air tawar terbanyak di dunia. Ikan endemik adalah ikan yang keberadaannya hanya ada pada satu tempat tertentu, dan tidak ada di tempat lain. Ikan endemik di Indonesia berjumlah sekitar 133 spesies. Namun diperkirakan 1275 spesies ikan di Indonesia telah terancam punah. Jenis ikan tersebut antara lain: ikan balashark (Balantiocheilos melanopterus), ikan botia (Botia macracnthus), semua jenis ikan tor (Tor spp.), beberapa jenis ikan rasbora, dan ikan arwana (Scleropages formosus) dan sudah terdaftar dalam CITES (Convention on International Trade for Endangered Species) sebagai ikan yang dilindungi.

Terdapat berbagai macam faktor yang menyebabkan terancamnya plasma nutfah satwa akuatik di Indonesia, diantaranya yaitu penangkapan yang tidak terkendali serta perubahan iklim. Kepunahan spesies menyebabkan berkurangnya stok ikan sehingga berdampak pada kerugian secara ekologis dan ekonomis, khususnya bagi jenis ikan yang memiliki nilai komersial tinggi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan kriopreservasi. Kropreservasi pada dasarnya adalah teknik pelestarian sel dan jaringan baik dalam bentuk sperma, ovum ataupun embrio dengan penyimpanan beku untuk jangka waktu yang lama tanpa mengurangi fungsi fisiologis. Keuntungan dari kriopreservasi meliputi: sinkronisasi ketersediaan gamet jantan dan betina, ekonomi spermatozoa, penyederhanaan manajemen induk, transportasi gamet antara pembudidaya ikan yang berbeda wilayah dan penyimpanan plasma nutfah untuk program seleksi genetik atau konservasi spesies langka. 

Di Indonesia sendiri sudah terdapat beberapa penelitian yang menerapkan metode kriopreservasi sperma pada ikan-ikan lokal asli Indonesia diantaranya, ikan baung (Mystus nemurus), gabus (Channa striata), botia (Chromobotia macracanthus), batak (Tor soro), bader putih (Barbonymus gonionotus), gurami (Osphronemus gourami), nilem (Osteochilus basseltii atau Osteochillus rittatus), kawan (Poropontius tawarensis), dan depik (Rasborus tawarensis). Proses kriopreservasi ikan, secara umum terbagi dalam beberapa tahapan yaitu koleksi sperma, penilaian mikroskopis kualitas sperma awal, pengenceran dengan larutan pengencer (extender) dan penambahan bahan pelindung (cryoprotectant), pembekuan dan penyimpanan, pencairan kembali (thawing), dan penilaian kualitas sperma pasca penyimpanan. Oleh karena itu studi mengenai kriopreservasi sperma, ovum ataupun embrio ikan perlu ditingkatkan untuk konservasi plasma nutfah ikan endemik Indonesia.

Penulis: Nindya M. Usuman

Mahasiswa Magister Program Studi Ilmu Biologi Reproduksi Universitas Airlangga

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu