Daun Semanggi, Tanaman Lokal yang Berpotensi Mencegah Kerusakan Sel Saraf

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dauh semanggi. (Sumber: http://rohmatchemistry.staff.ipb.ac.id/)

Marsilea crenata Presl. atau yang biasa dikenal dengan nama lokal semanggi. Merupkan tanaman yang sudah tidak asing di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya daerah Surabaya, Jawa Timur. Tanaman ini dimanfaatkan sebagai bahan utama dalam kuliner khas kota pahlawan yang legendaris, yakni pecel semanggi. Setelah dipelajari lebih lanjut melalui beberapa penelitian, tanaman air ini ternyata memiliki banyak manfaat yang besar di bidang kesehatan. Khususnya untuk menangani masalah kesehatan yang muncul disebabkan karena terjadinya penurunan estrogen, pada wanita yang memasuki masa menopouse.

Estrogen merupakan sekelompok hormon steroid yang paling tinggi kadarnya dalam tubuh seorang wanita. Hormon ini memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan tubuh wanita, dengan meregulasi perkembangan dan pertumbuhan beberapa organ penting seperti otak. Pada otak, estrogen berperan penting dalam menjaga kesehatan fungsi otak karena ia bersifat neuroprotektif, melindungi sel saraf dari berbagai jenis kerusakan yang dapat menyebabkan kematian pada sel saraf.

Namun seiring berjalannya waktu, wanita akan mengalami salah satu tahapan kehidupan yakni menopouse, masa di mana terjadinya fase transisi dari masa reproduktif menjadi non reproduktif karena menurunnya jumlah hormon estrogen dalam tubuh. Menopause terdiri dari beberapa tahapan, yakni pre menopause, menopause, dan post menopause. Penurunan estrogen pada masa ini, menimbulkan berbagai keluhan dan permasalahan pada wanita yang berdampak terhadap penurunan kualitas hidup dan ketidaknyamanan dalam aktivitas harian. Beberapa keluhan yang sering dikeluhkan oleh wanita pasca menopause ialah seperti penurunan daya ingat (defisit memori) dan gangguan konsentrasi.

Salah satu terapi yang tersedia saat ini untuk meningkatkan kembali jumlah hormon estrogen dalam tubuh ialah terapi sulih hormon (TSH), sayangnya terapi ini dapat menimbulkan efek samping masalah kesehatan yang baru seperti, kanker payudara. Oleh karenanya, dibutuhkan terapi alternatif yang lebih aman untuk meningkatkan kembali jumlah hormon estrogen dalam tubuh. Salah satu terapi yang kini tengah diteliti ialah, terapi menggunakan fitoestrogen. Yakni, golongan senyawa dari tumbuhan yang strukturnya mirip dengan estrogen dan diduga kuat dapat menggantikan peran estrogen dalam tubuh.

Tanaman semanggi diduga mengandung fitoestrogen, karena pada penelitian sebelumnya pada mencit betina yang diinduksi mengalami penurunan hormon estrogen dan diterapi dengan pemberian semanggi, mampu meningkatkan kepadatan tulang pada hewan tersebut. Penelitian lebih lanjut dilakukan secara komputasi, di mana kandungan senyawa yang telah dianalisis dari daun semanggi menggunakn instrumen UPLC-QToFMS/MS dilakukan penambatan dengan estrogen reseptor-β (ERβ). Yakni, salah satu reseptor hormon estrogen yang mengikat estrogen agar teraktivasi untuk melakukan fungsinya.

Daun semanggi terlebih dahulu diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96%, kemudian difraksinasi menggunakan pelarut etil asetat untuk mendapatkan kandungan senyawa yang lebih murni. Fraksi etil asetat kemudian dilarutkan dalam dua pelarut, yakni DCM dan metanol untuk mewakili pemrofilan senyawa yang polar dan non polar. Kandungan senyawa dari daun semanggi selanjutnya dianalisis menggunakan instrumen UPLC-QToFMS/MS, untuk mendapatkan profil dari fraksi etil asetat senyawa daun semanggi. Senyawa-senyawa yang sudah dianalisis kemudian diproses menggunakan software Masslynx 4.1 untuk mendapatkan data dari peak yang terbentuk.

Berdasarkan hasil pemrofilan senyawa menggunakan UPLC-QToFMS/MS, fraksi etil asetat daun semanggi dalam pelarut DCM mengandung 56 senyawa dan 72 senyawa dalam pelarut metanol. Dari semua peak yang yang dihasilkan, hanya 84 peak yang dapat diidentifikasi. Peak yang teridenttifikasi kemudian diskrining menggunakan WebTool SwissADME, untuk memprediksi kemampuan senyawa dalam menembus sawar darah otak. Dari analisis yang dilakukan, terdapat 35 senyawa yang mampu menembus sawar darah otak. Senyawa yang lolos skrining, selanjutnya ditambatkan dengan reseptor estrogen-β dengan kode protein 3OLS.

Proses penambatan dilakukan menggunakan program PyRx 0.8 dengan metode AutoDock Vina. Setelah dilakukan penambatan, hasilnya ditampilkan menggunakan Discovery Studio Visualizer. Berdasarkan hasil penambatan 35 senyawa ini, ditemukan bahwa terdapat 7 senyawa yang diprediksi sebagai agonis reseptor ER-β. Artinya, ketujuh senyawa ini mampu berikatan dengan ER-β dan diprediksi memiliki aktivitas yang serupa dengan hormon estrogen. Suatu senyawa dikatan agonis reseptor ER-β apabila senyawa tersebut mengikat asam amnio His475 dan berinteraksi dengan asam amino Glu305 atau Arg346. Asam amino ini merupakan jenis asam amino yang diikat oleh hormon estrogen dalam tubuh, yang dikenal dengan 17β-estradiol.

Berdasarkan hasil penelitian secara komputasi tersebut, maka dapat diprediksi bahwa daun semanggi mengandung senyawa fitoestrogen. Sehingga memiliki potensi besar dalam mengembalikan fungsi hormon estrogen dalam tubuh, salah satunya ialah fungsinya sebagai agen neuroprotektif, pelindung sel saraf dari berbagai kerusakan. Penelitian lebih lanjut secara in vivo dapat dilakukan untuk membuktikan hal ini.

Penulis: Hening Laswati

Informasi lengkap tulisan ini dapat diakses pada laman :

https://rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2020-13-8-36

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu