Evaluasi Uji Keamanan Ekstrak Batang Pisang Ambon pada Sediaan Kultur Sel Fibroblas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Getah batang pisang ambon dan serbuk hasil ekstrak yang dikeringkan (freezedry). (Dok. Pribadi)

Pengobatan menggunakan tanaman tradisional telah menghasilkan banyak dokumen ilmiah pada berbagai kondisi kesehatan, yang berasal dari tanaman dengan struktur kimiawi dan bioaktivitas yang kompleks. Masalah umum pada pengobatan herbal/ jamu adalah terbatasnya informasi tentang aktivitas farmakologis dan senyawa aktifnya. Negara-negara seperti Cina, India, Nigeria, Amerika Serikat, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan investasi besar pada obat-obatan herbal kuno. Penggunaan jamu sebagai obat harus didasarkan secara historis dan telah lolos pada diagnosis ilmiah. Bahan tumbuhan telah digunakan secara konsisten di bidang kesehatan untuk tujuan preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Oleh karena itu, penggunaan tanaman untuk pengobatan meningkat secara gradual dalam bidang kedokteran dan kedokteran gigi.

Penyakit gigi juga dianggap sebagai permasalahan kesehatan masyarakat yang kronis dan menghabiskan sistem perawatan kesehatan di seluruh dunia. Pada orang dengan diabetes, penyakit periodontal merusak regulasi glikemik, dan diabetes yang tidak diatur dengan baik dapat memperburuk penyakit periodontal. Acacia catechu, Aloe vera, Azadirachta indica, Glycyrrhiza glabra, Cinnamomum zeylanicum, Allium sativum, Propolis, Mikania laevigata, Mikania glomerate, Droserapeltata, Helichrysumitalicum, Coptidis rhizome, Pipergium indaticum, Azadirach oil sering digunakan sebagai herbal pada pengobatan periodontitis.

Identifikasi yang benar dari spesies tanaman dan pemilihan bagian yang sesuai untuk digunakan dalam obat herbal, merupakan langkah penting untuk memastikan keamanan, kualitas, dan khasiat obat herbal. Oleh karena itu, keamanan dan kualitas obat herbal pada setiap tahapan proses produksi menjadi perhatian penting bagi otoritas kesehatan, penyedia layanan kesehatan, industri herbal, dan masyarakat. Lidah buaya dan getah dari musa paradisiaca merupakan bahan alami yang dikenal sebagai biogenic stimulator dan modulator aktivitas hormonal selama penyembuhan luka.

Salah satu bahan alami yang diketahui berkhasiat menyembuhkan luka adalah getah batang pisang (Musa paradisiaca). Pemberian esktrak dapat meningkatkan kadar hidroksiprolin, asam heksuronat, heksosamin, superoksida dismutase, dan penurunan glutathione pada jaringan granulasi, serta telah terbukti bermanfaat untuk pengobatan ulkus. Getah batang pisang ambon juga telah dimanfaatkan untuk mempercepat penyembuhan luka, karena adanya saponin (antibiotik), antrakuinon (penghilang rasa sakit), dan kandungan lektin untuk merangsang pertumbuhan sel kulit. Lebih jauh lagi, perawatan kesehatan gigi dan mulut seringkali berkaitan dengan cedera, bila tidak ditangani dengan tepat, akan menyebabkan infeksi. Oleh karena itu, diperlukan obat-obatan untuk mencegah terjadinya hal tersebut.

Keunggulan getah pisang antara lain pemberian efek estetik dengan memperbaiki struktur kulit yang rusak, mempercepat reepitelisasi jaringan epidermis, pembentukan pembuluh darah baru (neokapilerisasi), pembentukan jaringan ikat, dan infiltrasi sel inflamasi pada area luka. Getah batang pisang diketahui dapat menjadi obat luka karena dapat mempercepat proses penyembuhan dan meningkatkan pertumbuhan jaringan ikat. Namun demikian, pengobatan dengan bahan alami harus memiliki justifikasi ilmiah, baik dari segi manfaat maupun keamanannya.

Pengujian keamanan suatu obat dapat dilakukan secara in vitro yaitu menggunakan kultur sel. Sel fibroblas sering digunakan dalam kultur cell lines yaitu sel BHK-21 yang berasal dari fibroblas ginjal bayi hamster. Sel BHK-21 lebih banyak digunakan untuk menguji sitotoksisitas bahan dan obat-obatan di kedokteran gigi. Sel fibroblas merupakan sel terpenting dan komponen terbesar dari pulpa, ligamen periodontal dan gingiva. Keuntungan dari penggunaan sistem kultur adalah lebih mudahnya mengontrol lingkungan (pH, temperatur, tekanan osmosis, O2 dan CO2) serta kondisi fisiologis.

Berdasarkan uraian bahwa getah batang pisang ambon telah dimanfaatkan oleh masyarakat dan dapat meningkaatkan akselerasi penyembuhan luka, maka perlu dilakukan uji sitotoksisitas secara in vitro untuk mendapatkan data biokompatibilitas terhadap sel fibroblas menggunakan Baby Hamster Kidney-21 (BHK-21).

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas dan keamanan getah batang pisang ambon melalui uji sitotoksisitas pada kultur sel fibroblas Baby Hamster Kidney-21 (BHK-21). Penelitian ini dilakukan pada tiga kultur sel fibroblas BHK-21 yaitu media dan kontrol sel, serta getah batang pisang ambon dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70 %, 80%, 90%, dan 100% diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC dan 5% CO2. Kemudian MTT diberikan secara merata pada media untuk mendapatkan nilai optical density yang akurat. Semua data kuantitatif dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA satu arah dan Uji HSD Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan nilai densitas optik antar kelompok dengan p = 0,000 (p <0,05). Tidak ada perbedaan yang nyata antara kontrol sel dan kelompok getah batang pisang ambon dengan konsentrasi 90%, 80%, 70%, 60%, 50%, 30%, 20% dan 10%. Getah batang pisang ambon tidak toksik terhadap sel fibroblas, karena nilai viabilitasnya lebih dari 60%.

Penggunaan getah batang pisang ambon dari konsentrasi 10% hingga 100% tidak menimbulkan efek toksik terhadap sel fibroblas, berdasarkan penggunaan metode uji MTT.

Penulis: Hendrik Setia Budi, Wisnu Setyari Juliastuti, Winda Ariani.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.journal.tchequimica.com/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu