Tetes Mata Topikal Secretome Sel Punca Mesenkimal Warthon’s Jelly Terkondisi Resveratrol sebagai Terapi Regenerasi Terkini pada Dry Eye Disease

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi sel punca. (Sumber: liputan6.com)

Dry eye disease (DED) merupakan salah satu masalah yang sering dijumpai pada pasien mata, umumnya pada kelompok pasien usia lanjut atau pasien yang mengalami penyakit kronis. DED merupakan penyakit multifactor disertai disfungsi unit lakrimal yang mengakibatkan gangguan pada lapisan air mata yang dapat berpotensi menimbulkan rasa ketidaknyamanan pada mata, penglihatan kabur yang dapat mempengaruhi nilai astigmatisme pada mata, hingga kerusakan pada permukaan mata yang dapat menimbulkan cacat permanen apabila tidak ditangani dengan baik.

Proses radang atau inflamasi dapat mengganggu regulasi Growth Factor (GF) yang terlibat dalam sistem pemelihara permukaan air mata, selanjutnya hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan permukaan mata. Beberapa GF yang terlibat dalam proses ini adalah Epidermal Growth Factor (EGF), Hepatocyte Growth Factor (HGF), Basic Fibroblast Growth Factor (bHFGF), sedangkan pada DED, ditemukan peningkatan Vacular Endothelial Growth Factor-A (VEGF-A).

Resveratrol merupakan agen phytoalexin, yang dapat menurunkan sekresi VEGF pada sel, serta meningkatkan kadar EGF dan HGF. SPM-WJ diisolasi dari tali pusar, yang didapatkan dari bayi baru lahir sehat, dilahirkan dengan metode aseptic section caesaria. Tali pusar diambil sepanjang 3 cm, yang kemudian diisolasi secara enzimatis menggunakan metode oleh Azandeh et al (2013) yang dimodifikasi.

Penelitian ini adalah in vivo, menggunakan hewan coba kelinci, yang dikondisikan menjadi hewan model DED dengan cara modifikasi anatomi yaitu reseksi Sebagian kelenjar produksi air mata, serta modifikasi farmakologis dengan injeksi concanavalin pada kelenjar yang tersisa. Hewan coba tersebut diberikan tetes mata secretome SPM-WJ tiap 8 jam selama 7 hari. Tidak dilakukan modifikasi maupun terapi pada kelompok control normal hewan coba.

Parameter yang digunakan dalam pemeriksaan klinis DED adalah produksi air mata menggunakan Schirmer tear test (STT), mengetahui evaporasi lapisan air mata dengan Tear break-up time (TBUT), integeritas epitel kornea dengan pewarnaan fluorescein. Pemeriksaan histopatologi juga dilakukan untuk melihat sel inflamasi dan densitas sel goblet. Pengukuran kadar Growth Factor VEGF-A menggunakan enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) berdasarkan protocol oleh Bioassay Technology Laboratory. Analisis statistik dengan Kruskal-Wallis, Mann-Whitney post-hoc, ANOCA serta Games-Howell post-hoc menggunakan perangkat lunak SPSS versi 19.0

Produksi air mata mengalami peningkatan yang signifikan setelah pemberian tetes mata secretome SPM-WJ, dengan hasil STT menunjukan peningkatan produksi hingga 3x lipat pada hari ketujuh pemberian tetes mata secretome SPM-WJ bila dibandingkan kondisi setelah modifikasi namun sebelum terapi atau hari nol. Peningkatan juga didapatkan pada skor TBUT, namun tidak bermakna. Keadaan klinis permukaan mata juga dinilai membaik dengan pemberian tetes mata secretome SPM-WJ, dilihat dari penurunan klinis radang di mata yaitu berkurangnya kemerahan mata, berkurangnya kekeruhan kornea, serta penurunan area pada kornea yang terwarna fluorescein, yang dibandingkan dengan kelompok terapi Balanced Salt Solution (BSS)

Pemeriksaan histopatologi dengan Hematoxylin and Eosin (HE), membuktikan bahwa pemberian tetes mata secretome SPM-WJ terbukti dapat mengembalikan jumlah sel goblet hingga 3x lipat bila dibandingkan dengan kelompok BSS. Sel goblet merupakan bagian dari permukaan mata, berfungsi untuk menghasilkan mucous, yang merupakan komponen penting dalam permukaan air mata. Terdapat penurunan hingga 2.5x pada infiltrasi sel radang permukaan mata dengan pemberian tetes mata secretome SPM-WJ apabila dibandingkan kelompok BSS, namun infiltrasi sel radang pada kelompok perlakuan tetes mata secretome SPM-WJ didapatkan masih lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kelompok control normal.

Kadar VEGF-A pada air mata mengalami penurunan secara signifikan pada pemberian tetes mata secretome SPM-WJ hingga seperempat kadar VEGF pada kelompok BSS, namun tetap lebih tinggi bila dibandingkan kelompok control normal.

Sel punca mesenkimal memiliki potensi yang besar terhadap terapi regenerasi permukaan air mata dan DED. Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan secretome SPM-WJ dapat memberikan perbaikan pada keadaan inflamasi klinis maupun selular, sehingga diharapkan dapat mengurangi keluhan maupun kerusakan pada mata akibat penyakit DED. Penggunaan SPM secretome untuk mencegah efek samping penggunaan sel punca yang tidak diinginkan  seperti reaksi imunologis, timbulnya jaringan teratoma atau keganasan, serta tramisi agen infeksius

Penulis: Diandra Astaridewi, Evelyn Komaratih, Yuyun Rindiastuti, Yohanes Widodo Wirohadidjojo, Djoko Legowo, Ni Made Inten Lestari, I. Made Satya, Fedik A. Rantam, Cita R. S. Prakoeswa

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjM5f29wpznAhWnH7cAHV6DDDcQFjAAegQIBBAB&url=http%3A%2F%2Fwww.jpad.com.pk%2Findex.php%2Fjpad%2Farticle%2Fdownload%2F1336%2F1294&usg=AOvVaw3RkKcQF0X2Nxq8D0-1QJIa

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu