Upaya Peningkatan Resiliensi Masyarakat Melalui Penguatan Desa Tangguh Bencana Bersama Pemuda

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kabupaten Purbalingga

Bencana merupakan fenomena yang terjadi secara langsung maupun tidak langsung dan mengganggu aktivitas kehidupan manusia. Salah satu jenis bencana yang marak terjadi adalah bencana alam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia melaporkan bahwa selama tahun 2017 terjadi 2.341 kejadian bencana dengan rincian kejadian bencana tersebut terdiri dari banjir sebesar 787, puting beliung sebesar 716, tanah longsor sebesar 614, kebakaran hutan dan lahan sebesar 96, banjir dan tanah longsor sebesar 76, kekeringan sebesar 19, gempa bumi sebesar 20, gelombang pasang dan abrasi sebesar 11, dan letusan gunung api sebesar 2.  Tanggung jawab penanggulangan dan penanganan bencana menjadi peran bersama, bukan hanya secara individu melainkan seluruh lapisan masyarakat yang ada di daerah rawan ataupun terdampak bencana. Upaya penanggulangan dan manajemen pencegahan serta penanganan bencana salah satunya dapat dilakukan dengan menciptakan dan mempersiapkan masyarakat yang tanggap bencana. Pemberian edukasi dan pelatihan tanggap darurat bencana pada masyarakat dapat membentuk suatu tatanan sosial dimana mesyarakat di dalamnya resiliens atau tahan dan mampu menghadapi bencana.

Hal di atas inilah yang menjadi alasan bagi tim akademisi dari Universitas Airlangga yaitu Martono, Ferry Efendi dan tim untuk menyelenggarakan aktivitas pemberdayaan masyarakat di Desa Kahuman, Kecamatan polanharjo, Kabupaten Klaten untuk membentuk Kawasan disana sebagai Desa Tangguh Bencana melalui upaya pemberdayaan dan penguatan peran pemuda dalam penanganan triase kuning menggunakan metode andragogi pra bencana yang mengkhususkan pendidikan dan pelatihan dilakukan pada kelompok dewasa. Program yang kami lakukan di Kahuman menggunakan metode andragogi pra bencana dimana pemuda kami ajak untuk mengorientasikan segala bentuk kemungkinan yang terjadi saat pra  bencana untuk identifikasi risiko yang dapat diminimalisir. Pemuda disana juga kami ajak untuk mengenali tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani kasus triase kuning.

Tahap pelaksanaan dibagi menjadi tiga proses utama yaitu tahap persiapan untuk mengurus perizinan dan pengkondisian sasaran pengmas serta persiapan materi dan bahan pelatihan. Tahap yang kedua yaitu tahap pelaksanaan yang dilakukan melalui pelaksanaan pretest, pelatihan dan Pendidikan pemuda, pemberian modul serta simulasi penanganan triase kuning. Tahap yang terakhir yaitu tahap evaluasi melalui pelaksanaan posttest kemampuan pemuda dalam penanganan bencana pada triase kuning serta melakukan analisis data untuk menyimpulkan hasil pelaksanaan pengmas.

Hasil yang didapatkan dari pelaksanaan riset di Kahuman menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan kemampuan pemuda  dalam penanganan triase kuning dengan metode andragogi pra bencana. Pelaksana juga mengharapkan adanya penyusunan perencanaan yang sistematis agar semua lapisan masyarakat memperoleh Pendidikan dan pelatihan tentang penanganan bencana triase kuning. Kami harapkan di masa mendatang, akan ada lebih banyak program atau intervensi yang menyentuh aspek seluruh lapisan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia karena seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang rawan sekali terjadi bencana.

Penulis: Ferry Efendi S.Kep.Ns., M.Sc., PhD.

Link jurnal terkait tulisan di atas: Penguatan Desa Tangguh Bencana Melalui Optimalisasi Pemuda Pada Penanganan Triase Kuning Menggunakan Metode Andragogi Pra Bencana (2020) Martono Martono, Ferry Efendi, Novita Kamaruddin (http://jurnal.unpad.ac.id/mkk/article/view/25924)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu