Osteoporosis, Seandainya Saya Tahu lebih Dulu

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Media Indonesia

Banyak orang tidak menyadari mengidap osteoporosis. Itulah sebabnya osteoporosis dijuluki penyakit yang senyap, yang saat ini makin tersamar oleh hiruk-pikuknya pandemi COVID-19. Hari Osteoporosis Sedunia pada setiap tanggal 20 Oktober merupakan momentum untuk melakukan kampanye global untuk menyentakkan kita semua akan bahayanya. 

Tulang yang mengalami osteoporosis menjadi keropos secara pelahan tanpa menimbulkan gejala. Bahkan menyusutnya tinggi badan dan makin bongkok tulang belakang yang pada kelompok lansia, dianggap sebagai bagian yang “wajar” untuk proses menjadi tua. Sampai terjadinya malapetaka patah tulang, bahkan hanya karena kejadian sepele seperti bersin. 

Dari angka kejadiannya saja kita akan dikejutkan akan seriusnya osteoporosis. International Osteoporosis Foundation (IOF) mengungkapkan 1 dari 4 perempuan di Indonesia dalam rentang usia 50-80 tahun berisiko osteoporosis. Angka ini 4 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena faktor menurunnya hormon estrogen setelah menopause. Dan menjelang 2050 diperkirakan akan meningkat lebih tinggi lagi karena memanjangnya umur harapan hidup. Begitu tingginya angka osteoporosis kita, maka sebenarnya tidak sulit menemukan orang dekat kita yang mengidap osteoporosis. 

Ras Asia, seperti kita, mendapatkan warisan genetika yang membuatnya rentan terhadap osteoporosis. Sama rentannya dengan orang kulit putih. Lebih beruntung ras hispanik dan ras kulit hitam yang tulangnya lebih padat dari kita. Bencana osteoporosis itu adalah patah tulang. Tulang yang paling sering patah adalah pergelangan tangan, tulang panggul dan tulang belakang.Pada 2020 diperkirakan kasus fraktur osteoporosis di Indonesia akan mencapai 426.300. Dampak patah tulang panggul sangat serius terhadap kesehatan dan kualitas hidup pasien. Sepuluh sampai 20 persennya membutuhkan asuhan orang lain dalam proses penyembuhan yang panjang. Sepertiga dari mereka tidak akan pernah lagi bisa hidup mandiri. Hampir seperlima dari mereka akan meninggal dalam kurun waktu satu tahun setelah kejadian. Jadi osteoporosis bukan saja penyakit yang senyap, tetapi juga pembunuh yang senyap. Malangnya, bila ada keluarga atau orang tua kita yang mengalami patah tulang akibat osteoporosis, maka kemungkinan kita juga mengalaminya ikut meningkat.

Berita baiknya adalah osteoporosis dan patah tulang dapat dicegah. Alih-alih menyiapkan dana yang besar untuk mengobati osteoporosis dan komplikasinya, lebih tepat mencegahnya. Caranya: “menabung” tulang dan mencegah jatuh. Tulang kita bertumbuh dengan cepat sampai usia 16-18 tahun, lalu melambat kemudian berhenti pada puncaknya. Untuk orang Indonesia puncak itu berkisar di umur 20-39 tahun. Kemudian masa tulang menurun secara perlahan dengan bertambahnya usia, dan menurun cepat setelah menopause. Semakin tinggi puncak masa tulang kita, semakin kecil kemungkinan menderita osteoporosis. 

Seandainya saya tahu lebih dulu, maka saya akan menabung tulang dengan latihan fisik teratur. Dengan latihan fisik tulang kita akan menjadi lebih padat. Mari akui bahwa kita memang kurang suka beraktifitas fisik. Penelitian The Stanford University menempatkan penduduk Hongkong sebagai penduduk yang paling aktif secara fisik dengan rata-rata 6880 langkah sehari. Sedangkan Indonesia di peringkat paling bawah di urutan ke 53 dengan angka 3513 langkah. Pasti ini menambah angka osteoporosis kita. Seandainya saya tahu lebih dulu, maka saya akan berupaya mencegah jatuh untuk mencegah patah tulang. Latihan fisik dan olahraga teratur meningkatkan performa fisik dan keseimbangan tubuh, sekaligus mencegah jatuh. Pengidap osteoporosis yang lanjut usia disarankan untuk menjalani pemeriksaan penglihatan dan pendengaran secara teratur. Ciptakan rumah dan lingkungan aman dengan memindahkan perabot yang berpotensi menyebabkan jatuh. Memakai alas kaki yang aman. Bila risiko jatuh dikurangi, maka kemungkinan patah tulang pun akan berkurang. 

Seandainya saya tahu bahwa osteoporosis terjadi karena berbagai faktor risiko lain, maka saya akan mengurangi atau menghentikan merokok dan minuman beralkohol. Berhati-hati dalam pemakaian obat-obatan jangka panjang – seperti kortikosteroid, yang menurunkan kekuatan tulang. Saya akan melakukan aktifitas fisik di luar rumah untuk mendapatkan vitamin D dari sinar matahari pagi. Saya juga akan memeriksakan kesehatan tulang saya pada dokter khususnya untuk meneliti berbagai faktor risikonya. Dan bila perlu memeriksakan diri dengan alat pengukur kerapatan tulang (bone densitometry) yang menjadi pemeriksaan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu Dual-Energy X-ray Absorbtiometry yang disingkat DXA. Alat ini juga menghitung berapa persen kemungkinan saya akan mengalami patah tulang osteoporosis dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan. 

Jelas saya tidak bisa mengubah genetika saya, tetapi saya bisa mulai melakukan anjuran IOF dan berbagai organisasi lainnya seperti Perhimpunan Osteoporosis Indonesia, untuk mulai melakukan gaya hidup sehat buat tulang saya. Saya berharap Anda juga. 

Penulis AIP OPINI: Dr. Paulus Rahardjo, Sp.Rad(K), CCD

  • Dosen/ Staf Dept. Radiologi FK UNAIR/ RSUD Dr. Soetomo
  • Wakil Indonesia dalam Panel Asia-Pasifik untuk International Society of Clinical Densitometrist
  • Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Muskuloskeletal Indonesia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu