Ekstrak Buah Belimbing Wuluh sebagai Pembunuh Larva Aedes aegypti yang Berasal dari Surabaya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Buah belimbing wuluh setelah 24 jam dengan LC50; 1061.275 ppm; LC90: 1461.255ppm. keterangan : sel kolumnar (SK) mengalami vakuolalisai, lumen (L), sitoplasma mengalami penonjolan ditunjukan panah, vesikel (V), nucleus (N), microvilli (mv) mengalami degenerasi, membran basal (MB). 1000x, 10 bar.

Buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) telah dikaitkan dengan pemanfaatan dan aktivitas biologis. Buah ini dikeringkan kemudian dipekatkan dengan rotary eveporator sampai didapatkan ekstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktifitas metabolit sekunder dan primer yang dihasilkan oleh ekstrak buah Averrhoa bilimbi terhadap midgut atau usus tengah pada larva nyamuk Aedes aegypti secara histopatologi.

Menurut Sudarmo (1989) larvasida merupakan golongan dari pestisida yang dapat membunuh serangga belum dewasa atau sebagai pembunuh larva. Larvasida berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 2 suku kata, yaitu Lar berarti serangga belum dewasa dan Sida berarti pembunuh. Larvasida merupakan golongan dari pestisida yang dapat membunuh serangga belum dewasa atau sebagai pembunuh larva. Jadi larvasida dapat diartikan sebagai pembunuh serangga yang belum dewasa atau pembunuh ulat (larva). Pemberantasan nyamuk menggunakan larvasida merupakan metode terbaik untuk mencegah penyebaran nyamuk.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan larva instar III Ae. aegypti yang diperoleh dari Surabaya, yang terpapar ekstrak buah belimbing wuluh pada konsentrasi yang berbeda. Setelah 24 jam, larva diawetkan dan diwarnai dengan hematoxylin-eosin (HE). Analisis statistik dilakukan uji korelasi Rank Spearman untuk mengetahui derajat kerusakan secara histopatologi pada midgut larva Ae. aegypti.

Konsentrasi minimum yang mengakibatkan kematian larva Ae. aegypti (LC50) adalah 0,977g/L; LC90 adalah 1,38g/L. Kerusakan parah pada midgut larva yang terpapar ekstrak setelah 24 jam pengamatan, pada konsentrasi 2000 mg/mL. Efek kerusakan yang paling khas adalah terjadi degenerasi mikrovili, vakuolisasi sel kolumnar midgut, pemisahan sel epitel dari membran basal, dan kerusakan membran peritrofik (gambar 1). Vesikel yang mengalami kerusakan, nampak menonjol ke dalam lumen, sel sitoplasma di dalam sel epitel terbuka (like the bubble) dari tonjolan ini mungkin menunjukkan efek toksik dari metabolit primer yaitu asam dalam sel kolumnar.

Ekstrak buah ini menyebabkan kerusakan pada midgut instar III dari Ae. aegypti oleh metabolit sekunder dan primer yang dihasilkan sehingga menghambat perkembangan larva.

Penelitian ini adalah laporan pertama dari efek histopatologis dari buah belimbing wuluh sebagai larvasida pada midgut larva Ae. aegypti dan data yang diperoleh dapat berkontribusi untuk pemahaman yang lebih baik dari pembuatan ekstrak kasar tanaman ini yang nantinya digunakan sebagai larvasida alami terhadap larva Ae. aegypti. Perbedaan sangat signifikan kematian larva Ae. aegypti instar III yang berasal dari daerah Surabaya, memiliki sig.0.000 < 0.01 pada setiap kelompok perlakuan setelah terpapar ekstrak buah belimbing wuluh dengan konsentrasi berbeda. Dari hasil penelitian ini, pada perlakuan uji larvasida dengan buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) menunjukkan bahwa setiap konsentrasi mempunyai daya bunuh (toksisitas) yang berbeda terhadap jumlah mortalitas larva Ae. aegypti instar III, kota Surabaya.

Buah belimbing wuluh mengandung senyawa saponin. Senyawa ini berpotensi sebagai larvasida dan merupakan racun perut (stomach poissoning) bagi larva Ae. aegypti dengan cara menurunkan tegangan permukaan selaput mukosa traktus digestivus larva sehingga dinding traktus digestivus larva menjadi mudah rusak. Kerusakan terjadi pada bagian midgut larva karena pada bagian tersebut merupakan tempat terjadinya pencernaan, absorbsi nutrisi, transport ion, dan osmoregulasi, dan dibentuk oleh lapisan sel epitel yang melapisi bagian tengah yang didukung oleh membran basalis. Seperti serangga lainnya, daerah perut serangga, selain fungsi pencernaannya, menyediakan fungsi pertahanan kimia, perlindungan mekanis, dan pertahanan terhadap pathogen.

Hasil penelitian ini menunjukkan perubahan histopatologi pada midgut larva Aedes aegypti setelah terpapar selama 24 jam ekstrak buah belimbing wuluh dapat disimpulkan bahwa ekstrak tanaman tersebut dapat dimanfaatkan sebagai larvasida. Dengan konsentrasi 0,977g/L dari ekstrak sudah mampu menghasilkan lethal concentration (LC50), konsentrasi 1,38g/L ekstrak terlihat pada midgut larva mengalami kerusakan secara permanen.

Penulis : Etik Ainun Rohmah

Informasi detail riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.hindawi.com/journals/jpr/2020/8866373/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu