Kasus Difteri di Indonesia, Mungkinkah Akan Berdampak ke Eropa?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Beritagar

Cakupan vaksin yang menurun mengakibatkan munculnya kasus difteri di Indonesia, hal yang sama terjadi di Eropa. Penyebab utama dari meningkatnya kasus difteri yaitu perjalanan internasional yang tidak melaksanakan vaksinasi ulang rutin terhadap difteri sehingga menyebabkan penurunan antibodi spesifik difteri yang mengakibatkan negara bebas difteri dalam risiko.

Corynebacterium diphtheria merupakan bakteri gram positif berbentuk batang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Dokter di negara eropa akrab dengan patogen yang sering terjadi di masa program vaksinasi anak-anak. Setelah pengenalan vaksinasi di abad kedua puluh tujuh, kasus difteri turun drastis. Beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan kasus dan wabah dilaporkan di ProMED-mail sehingga cakupan vaksinasi ditingkatkan. Sejak 2017, terjadi peningkatan kasus difteri di Indonesia (Jumlah penduduk: 266 jiwa) yang diikuti dengan upaya peningkatan vaksinasi kepada dua juta anak-anak. Wabah yang terjadi tidak hanya penting untuk petugas kesehatan lokal tetapi juga internasional yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata.

Pada laporan ini dijabarkan kasus mengenai seorang wanita berusia 22 tahun tanpa catatan medis yang mengunjungi bagian IGD Rumah Sakit Universitas Airlangga di Surabaya dengan keluhan batuk dan disfagia. Gejala muncul empat hari sebelum masuk dengan disertai demam empat hari terakhir dan tidak ada stridor atau dispnea. Riwayat perjalanan sebelumnya ke Provinsi Jawa Barat untuk berkemah selama satu minggu sebelum onset pertama gejala. Anggota keluarga tidak memiliki gejala yang sama dan terakhir kali vaksinasi di masa kecil selama 20 tahun yang lalu.

Difteri merupakan penyakit yang sangat menular dengan keberadaan pseudomembran pada saluran nafas dan faring. Infeksi C. diphtheriae menyebabkan gejala pernapasan atau kulit atau ke karier asimtomatik. Selama masa inkubasi, infeksi saluran pernapasan bermanifestasi dengan gejala sakit tenggorokan, malaise, dan limfadenopati. Eritema faring kemudian berkembang menjadi bintik-bintik eksudat abu-abu dan putih. Komplikasi bisa terjadi karena pseudomembran di faring menyebabkan penyumbatan jalan nafas dengan tingkat kematian dilaporkan hingga 20%.

Komplikasi selanjutnya terjadi penyerapan dan penyebaran toksin yang menyebabkan miokarditis, gagal ginjal, dan toksisitas neurologis. Kasus yang dicurigai harus dikonfirmasi dengan spesimen klinis (misalnya swab) dengan kultur dan deteksi toksin. Kultur dilakukan pada medium telurit darah, diikuti dengan selektif kultur media cystinase (Tinsdale). Skrining dan uji biokimia dapat mengidentifikasi spesies. Konfirmasi didasarkan pada deteksi fenotipik toksin (Elek test). Pengobatan terdiri dari terapi antibiotik dan pemberian antitoksin. Manajemen jalan nafas penting untuk mencegah jalan nafas obstruksi dan fungsi jantung harus dipantau. Dalam kasus difteri pernafasan, isolasi droplet bisa mencegah penyebaran lebih lanjut.

Beberapa dekade terakhir, meskipun jumlahnya terbatas difteri telah dilaporkan di negara-negara Eropa. The European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) melaporkan 17 kasus difteri pada tahun 2017 di Eropa, tiga di antaranya dianggap berasal dari transmisi lokal.  Situasi ini menggambarkan pentingnya pencegahan dengan vaksinasi berulang, demikian juga dengan kesadaran tenaga kesehatan akan kondisi klinis difteri. Program vaksinasi rutin di negara Uni-eropa masih belum seragam dalam hal pengulangan dosis pada dewasa muda, dewasa dan pertengahan usia. Pemberian vaksinasi berulang sangatlah penting mengingat antibody spesifik terhadap difteri masih di bawah kadar proteksi dan efek perlindungan jangka panjang belum tercapai. Kurangnya efek proteksi terhadap C.diphteria dapat berakibat populasi di negara-negara yang bebas difteri ikut berisiko.

Kasus difteri di Indonesia dapat terjadi dib erbagai kalangan usia yang memiliki cakupan imunisasi rendah. Cakupan vaksinasi difteri perlu diperhatikan untuk mencegah kenaikan kasus difteri di Indonesia. Vaksinasi diwajibkan bagi seseorang yang akan melaksanakan perjalanan internasional. Tingginya kasus difteri di Indonesia berisiko kenaikan kasus di negara bebas penyakit difteri karena Indonesia merupakan tujuan utama wisata. 

Penulis: Tri Pudy Asmarawati

Link terkait tulisan di atas: A diphtheria case in Indonesia: a Future foe to Europe? http://www.njmonline.nl/njm/getarticle.php?v=78&i=1&p=41

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu