Potensi HDPSCs untuk Menghambat Penurunan Maxillary Alveolar Ridge pada Geriatri dengan Osteoporosis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh liputan6.com

Osteoporosis merupakan penyakit yang menyebabkan resorpsi tulang yang diderita pada usia lanjut. Pada tahun 2006, lebih dari 7.5 juta orang di Eropa, Amerika Serikat dan Jepang menderita osteoporosis yang menyebabkan 8.9 juta fraktur setiap 3 detiknya. Di Indonesia, diungkapkan bahwa 1 dari 4 perempuan di Indonesia dengan rentang usia 50-80 tahun memiliki risiko terkena osteoporosis. Terjadinya osteoporosis banyak terjadi pada usia lanjut atau pada golongan geriatri. Osteoporosis pada geriatri dapat dikaitkan dengan menurunnya maxillary alveolar ridge. Maxillary alveolar ridge yaitu tulang penyangga gigi utama pada rahang atas.

Banyak penelitian mulai dikembangkan mengenai terapi berbasis stem cells yag dapat digunakan untuk perbaikan tulang. Stem sel merupakan sel-sel yang belum berdiferensiasi sehingga dapat berkembang menjadi sel yang diinginkan. Sel ini mampu berdiferensiasi menjadi jaringan apa saja, seperti osteoblas, adiposit, kondroblas, odontoblas, kardiomiosit, hepatosit, sel endotelial dan lainnya. Jenis stem sel yang digunakan pada perbaikan tulang adalah mesenchymal stem cells (MSC) yang diambil dari pulpa gigi yaitu Human Dental Pulp Stem Cells (HDPSCs).

HDPSCs memiliki kemampuan untuk memproduksi osteoblast dalam perbaikan tulang. Menurut Morad pada tahun 2013 menyatakan bahwa stem sel pada HDPSCs mampu meningkatkan jaringan keras tulang yang berperan dalam menghambat terjadinya penurunan maxillary alveolar ridge pada geriatri dengan osteoporosis. Pencegahan penurunan maxillary alveolar ridge menggunakan stem cells yang berasal dari HDPSCs yang dikombinasikan ke dalam bone scaffold. HDPSCs mampu berdiferensiasi menjadi sel osteoblas dan berinteraksi dengan bone scaffold. Bone scaffold digunakan dalam HDPSCs karena mampu memberikan efek biologis dan mampu menentukan apakah rekayasa jaringan materi dapat disesuaikan dengan baik dan mencapai tujuan perbaikan setelah diaplikasikan di dalam tubuh.

Kandungan HDPSCs berupa basic fibroblast growth factor dan Vascular Endothelial Growth Factor dapat memicu perbaikan vaskularisasi dan pembentukan tulang. Selain itu, kombinasi HDPSCs dalam bone scaffold ini menunjukan tingkat mineralisasi, sehingga tulang yang mengalami kerusakan sudah sepenuhnya mengalami regenerasi dalam bulan ke tiga. Kombinasi ini juga berguna untuk memicu proliferasi yang tinggi. Hal ini ditunjukan dari tingginya aktivitas sekresi penanda biokimia dari osteoblas dan mineralisasi yaitu ALP. Setelah 2 minggu, mulai terlihat pembentukan dari osteoblas menjadi mineral tulang, sehingga ketika pemberian HDPSCs dalam bone scaffold setelah dilakukan pencabutan gigi dapat memicu regenerasi tulang. Hal ini dapat mencegah penurunan maxillary alveolar ridge pada penderita osteoporosis.

Penulis: Gofur, A.R.P, Kusumo, A.D

Link jurnal terkait tulisan di atas:

https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-85091370313&doi=10.35124%2fbca.2020.20.S1.2891&origin=inward&txGid=22b6b5da078cd76c1e28431377443aab

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu