Antibiotik Tepat, Nyawa Selamat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh cnnindonesia.com

Antibiotik merupakan obat yang sering digunakan  untuk mengobati suatu penyakit infeksi, khususnya infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau kuman. Menggunakan antibiotik secara tepat adalah memberikan antibiotik kepada penderita tepat sesuai dengan jenis penyakitnya,  tepat sesuai dengan dosis yang dianjurkan, serta memilih yang efek sampingnya paling minimal. Penggunaan antibiotik  yang   sembarangan dapat menimbulkan resistensi terhadap antibiotik. Berdasarkan penelitian  Amrin Study(2005), di surabaya didapatkan sekitar 45- 76%  pemberian antibiotik yang tidak didasarkan indikasi , demikian pula yang terjadi di Jakarta dan Semarang, antara 30- 80% penggunaan antibiotik tidak didasarkan indikasi adanya infeksi.

Pemberian antibiotik ditujukan untuk mematikan bakteri yang diderita, tetapi pada kondisi  terjadinya resisten antibiotik bakteri tidak dapat dimatikan, sehingga pemberian antibiotik menjadi sia sia dan tidak ada gunanya serat hanya menambah mahal biaya perawatan. Resistensi antibiotik sudah menjadi masalah dunia kesehatan di seluruh dunia, dampak dari resistensi antibiotik ini dapat menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap pemberian antibiotik, sehingga penderita infeksi tidak dapat sembuh bahkan dapat berakibat kematian. Untuk mencegah atau setidaknya mengurangi angka resistensi antibiotik ini, salah satunya adalah dengan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pemberian antibiotik .

Pemberian antibiotik pada pasien yang  menderita infeksi bakteri dapat dilakukan pemberianya secara empiris, atau sebagai terapi definitive. Pemberian secara empiris yaitu antibiotik diberikan bila dokter sudah yakin pasiennya menderita infeksi tetapi belum ada hasil laboratoriun jenis bakteri dan antibiotik yang sesuai. Sedangkan Pemberian antibiotik  secara definitif diberikan setelah hasil pemeriksaan mikrobiologi sudah ada hasil jenis kuman dan antibiotik yang sensitif terhadap kuman tersebut.

Salah satu cara untuk menyembuhkan penyakit akibat infeksi, terutama infeksi bakteri adalah dengan pemberian antibiotik kepada pasien yang menderita penyakit infeksi. Tanda seseorang menderita infeksi secara umum adalah suhu badannya meningkat, bahkan pada anak anak terkadang sampai disertai dengan kejang. Yang sering disebut dengan istilah kejang demam. Tetapi tidak semua suhu badan yang meningkat pada pasien adalah disebabkan infeksi bakteri, infeksi karena virus juga dapat menimbulkan gejala  panas badan. Disinilah peran seorang dokter untuk menentukan apakah pasien ini menderita infeksi bakteri atau virus, atau penyakit yang lain. Pemberian obat berupa antibiotik pada pasien yang mengalami demam karena infeksi bakteri adalah salah satu langkah yang tepat atau di sebut juga rasional, tetapi apabila karena virus, maka pemberian antibiotik menjadi tidak rasional. Untuk menyakinkan dokter apakah pasien menderita demam karena infeksi bakteri atau infeksi virus, adalah dengan bantuan pemeriksaan darah dan pemeriksaan mikrobiologi untuk melihat jenis bakteri dan obat antibiotik yang sesuai dengan jenis bakterinya sehingga disebut sebagai tepat indikiasi.

Selain tepat indikasi, pemberian antibiotik secara rasional harus memenuhi persyaratan lain yaitu harus tepat obatnya, tepat dosisnya, tepat penderitanya serta harus waspada terhadap efek samping obatnya. Pemberian antibiotik empiris umumnya didasari dengan  pola kuman yang  ada di unit kesehatan masing masing yang dievaluasi tiap enam bulan sampai satu tahun.pemberian antibiotik empiris ini umumnya ditujukan untuk mencegah terjadinya   infeksi  yang lebih berat atau diperkiran akan muncul misalnya pada pasien dengan luka bakar. Pasien yang menderita luka bakar sangat beresiko terjadi infeksi bakteri hal ini disebabkan karena pada luka bakar terjadi kerusakan kulit, dimana kulit yang berfungsi sebagai barrier masuknya kuman atau bakteri ke dalam tubuh  gagal menjalankan fungsinya.

Beberapa pertimbangan dalam Pemberian antibiotik empiris  yaitu jenis bakteri yang sering menimbulkan infeksi pada penderita luka bakar, jenis antibiotik yang sering masih sensitif terhadap kuman tersebut,  pola resistensi kuman  atau antibiogram pada tempat atau rumah sakit dimana penderita dirawat. Semua hal diatas dilakukan dalam rangka mengurangi angka resitensi  antibiotik, yang saat ini masih menjadi masalah kesehatan global  dan menjadi perhatian seluruh dunia.

Pemberian antiniotik secara empiris harus selalu dilakukan evaluasi dan monitoring baik secara kualitatatif dengan menilai penggunaan antibiotik dengan menggunakan metode Gyssent. Maupun secara kuantitatif. Pada penelitian ini kami akan mengevaluasi pemberian antibiotik secara empiris terhadap kadar C reaktif Protein dan beberapa marker inflamasi pada penderita luka bakar.

Pada Penelitian ini dilakukan evaluasi penggunaan antibiotik  secara empiris  pada penderita luka bakar yang dirawat di rumah sakit RSUD  Dr, Soetomo-Surabaya. Variabel yang diteliti pada riset ini adalah kadar leukosit, kadar neutrophil, kadar lymphosit  sebagai tanda adanya infeksi, sert kadar CRP sebagai penanda berat ringannya infeksi. Antibiotik empiris yang digunakan pada pasien luka bakar di RSUD Dr. Soetomo adalah Ceftacidim (antibiotik golongan chepalosporin  generasi 3)

Hasil dari penelitian ini bahwa pemberian antibiotik empiris  pada kasus luka bakar di RSUD Dr. Soetomo, yaitu Ceftacidim terbukti dapat menurunkan level CRP dan menurunkan  kadar leukosit, kadar neutrophil, kadar lymphosit.

Penulis : Dr. Iswinarno DS,dr. SpBP-RE(K)

Informasi detail dari penelitian ini dapat dibaca di di link berikut: http://www.medbc.com/annals/review/vol_33/num_1/text/vol33n1p20.htm

(Effects of Empirical Antibiotic Administration on the Level of C-Reactive Protein and Inflammatory Markers in Severe Burn Patients)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu